LOGINSivelle sedang berdiri di depan cermin kamar mandi, hampir seluruh tubuhnya ada jejak merah yang ditinggalkan Nero."Kenapa di dada dan bahuku justru lebih banyak sih? Padahal dia tidak meninggalkan bekas di leher. Apa mungkin leherku nggak menarik, ya?"Sejenak Sivelle menggeleng. "Bukan ini masalahnya, tapi gimana aku pakai gaunnya di pesta nanti? Padahal gaun yang aku beli terbuka semua di bagian atasnya," gumam Sivelle semakin panik.Sivelle kemudian buru-buru mandi, masih ada banyak waktu untuk belanja gaun lagi, jadi ia tidak boleh menyia-nyiakan waktu.Pintu kamar mandi dibuka, Sivelle melihat Nero masih duduk santai di atas ranjang, tapi sudah mengenakan celana pendek."Emmm... sepertinya aku butuh gaun baru lagi," cicit Sivelle hati-hati. Ia takut Nero menganggapnya wanita matre karena gaun yang dibeli kemarin belum dipakai, namun ia sudah ingin beli lagi."Draco sudah menyiapkannya untukmu," sahut Nero tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.Sivelle menoleh ke atas
Jantung Sivelle berdegup kencang saat melihat Nero duduk dan bersandar di kepala ranjang dengan telanjang dada, sementara tubuh bagian bawahnya tertutup selimut."Buka handukmu," ujar Nero santai, namun detak jantungnya tak kalah cepat dari Sivelle.Tangan Sivelle sedikit gemetar, kakinya bahkan terasa lemas sebelum mereka memulainya.Melihat Sivelle tampak malu, Nero akhirnya tidak sabar lagi, ia membuka selimutnya dan berjalan menghampiri Sivelle.Sementara Sivelle membelalakkan matanya melihat penampilan Nero saat ini."Bagaimana bisa dia dengan santainya berjalan ke arah sini dengan hanya memakai celana dalam saja?" batin Sivelle yang tidak bisa berkedip, bahkan tanpa sadar fokusnya hanya pada satu titik saja dari seluruh bagian tubuh Nero."Kalau tergiur kenapa masih pura-pura malu?"Sivelle sontak mendongak, otaknya menangkap maksud Nero dengan cepat, sehingga tanpa sadar mulutnya sedikit menganga."Apa? Aku tidak..."Nero tersenyum, sebuah senyuman yang tampak membahayakan, da
"Tuan sudah menunggu Anda di depan," ujar sang sopir setelah mengantar Sivelle belanja. Sivelle mengangguk, lalu kemudian ia sejenak menundukkan kepala untuk memastikan penampilannya yang kini sudah mengganti pakaiannya dengan baju dan heels baru. Sesampainya di depan gedung mall, Draco sudah menantinya di samping pintu penumpang. Lelaki itu langsung membuka pintu saat Sivelle berjalan mendekat. "Apakah menyenangkan?" tanya Nero saat Sivelle duduk di sampingnya. "Lumayan," sahut Sivelle yang tampak kurang puas sebab kejadian tadi. "Sepertinya melelahkan. Hem... bagaimana kalau kita panggil desainer saja di rumah? Biar kamu tidak kelelahan seperti ini."Sivelle menoleh ke arah Nero, ini bukan saran yang aneh bagi orang seperti Nero, namun entah mengapa Sivelle menangkap makna yang lain dari perkataan Nero.Sivelle tersenyum kaku. "Sepertinya tidak perlu sampai mengundang desainer, meski sedikit melelahkan, tapi aku lebih suka belanja sendiri kok."Nero mendesah panjang. "Baiklah
Keesokan harinya. Sivelle sedang menyisir rambut Nero. Pantulan mereka di cermin membuatnya kembali teringat akan perbedaan status yang masih membentang di antara mereka."Mungkinkah kalau aku sudah mengganti penampilan, aku tak akan merasakan perasaan ini lagi?" batin Sivelle. Meski ia sadar posisinya, namun ia merasa lebih terhina sebab dulu ia murni sebagai pekerja, sedangkan sekarang.... "Apa karena aku jadi terlalu percaya diri sebab Nero akan menikahiku, sehingga apa yang terlihat sekarang melukai batinku?" tanya Sivelle dalam hati pada dirinya sendiri. Meski pernah merasakan apa itu rasa kecewa, namun perasaan ini berbeda, ia bahkan merasakan seperti sudah kalah bertanding sebelum berjuang. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Nero membuat Sivelle terkesiap. Ia melihat tatapan kosong Sivelle. "Tidak ada," sahut Sivelle seraya tersenyum. Ia merutuki kebodohannya karena jadi sering berpikiran aneh-aneh. Setelah memastikan Nero sudah rapi, mereka berdua turun, dan saat pi
Sivelle ketiduran dan terbangun saat senja mulai menyapa, ia terkejut saat mengetahui di mana dirinya berada. "Astaga! Ini kan kamarnya Tuan Nero, kenapa aku bisa tidur di sini?" batin Sivelle, namun kemudian ia teringat rentetan kejadian yang membuatnya bisa sampai tidur di tempat ini. Sivelle dengan cepat menoleh ke samping. Melihat sampingnya sudah kosong, ia menghela napas lega. Akan tetapi, jantungnya berdetak kencang kembali saat ia melihat pintu kamar mandi terbuka. "Kau sudah bangun?" tanya Nero sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Sivelle mengangguk. Lalu ia beranjak dari ranjang dan berniat keluar dari kamar. Sejak tadi ia merasa panas. "Mau ke mana?""Mandi," cicit Sivelle. "Kamu bisa mandi di sini. Mulai sekarang kamu akan tidur di sini.""Tapi, pakaian saya masih di paviliun," sahut Sivelle cepat, lebih tepatnya ia masih ingin menghindar. "Bibi Barbara sudah memindahkan semua pakaianmu." Nero membuka lemari. Ia mengambil baju, dan apa yang dik
Semua orang tersentak mendengar perintah Nero, sementara Sivelle segera berlari dan bersimpuh di kaki Nero. "Tuan, kumohon tolong maafkan kami, tolong lepaskan mereka. Hukumlah saya, jangan mereka," pinta Sivelle sembari memegang kaki Nero erat. "Sepertinya kau meremehkanku. Apakah kau tak melihat mayat yang ada di sana?" Nero mengapit dagu Sivelle erat, lalu ia mengarahkan kepala Eleora ke mayat Vincent. Tubuh Vincent sudah terbalik lagi, memamerkan bekas cambukan dari algojo, sehingga Sivelle tidak tahu kronologi kematian Vincent. Tubuh Sivelle gemetar, ia tahu hilangnya Vincent, jadi ia menduga Vincent menjadi orang pertama yang menerima hukuman dari Nero akibat kesalahan yang dilakukannya. "Tuan, saya mohon tolong lepaskan mereka, biar saya saja yang menanggung kesalahan ini. Anda bisa melakukan apa saja pada saya sebagai hukumannya."Perkataan ini yang Nero tunggu, namun ia tidak boleh terlalu ekspresif. "Bahkan nyawamu?""Ya, saya akan memberikan nyawa saya kalau itu yang







