MasukSatu tahun menikah, namun bagi Isabella pernikahannya terasa seperti kesepakatan tanpa makna. Menjadi istri dari seorang billionaire seharusnya membuat hidupnya sempurna. Tapi tidak dengan Isabella. Di balik kemewahan dan nama besar keluarga suaminya, ia hanya hidup sebagai bayangan, diabaikan, tidak dianggap, dan tidak pernah benar-benar diakui. Sebastian tidak pernah menyentuhnya apalagi mencintainya. Baginya, pernikahan itu hanyalah kontrak tanpa perasaan dan tanpa ikatan. Namun segalanya mulai berubah ketika batas yang selama ini dia jaga tiba-tiba runtuh dalam satu malam. Sentuhan yang seharusnya tidak terjadi itu, justru membuka luka yang lebih dalam dan perasaan yang tidak bisa lagi disembunyikan. Isabella tahu satu hal pasti, dia tidak boleh berharap. Karena dalam pernikahan ini, hanya ada satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta. Dan masalahnya… dia sudah melanggarnya.
Lihat lebih banyakRafael duduk di dalam mobilnya yang terparkir di depan sebuah kantor arsip sipil. Map cokelat yang sejak tadi berada di pangkuannya kembali ia buka. Beberapa lembar fotokopi dokumen tersusun rapi di dalamnya. Ia membaca ulang semuanya, memastikan tidak ada satu pun data yang terlewat sebelum menghubungi Sebastian.Tatapannya berhenti pada satu nama yang baru ia temukan beberapa menit lalu. Nama itu belum membuktikan apa pun, tetapi cukup membuatnya yakin bahwa penyelidikannya mulai menemukan arah."Aku belum bisa menyimpulkan apa-apa," gumam Rafael pelan sambil menutup map itu. "Masih terlalu banyak hal yang harus dipastikan."Rafael mengambil ponselnya lalu menghubungi Sebastian.Beberapa detik kemudian, sambungan tersambung.
Pagi itu, suasana di Bellini Group berjalan seperti biasa. Para karyawan sibuk keluar masuk ruang rapat sambil membawa dokumen dan laptop. Tidak ada yang tahu bahwa dua orang di perusahaan itu baru saja memulai hubungan yang baru.Isabella keluar dari ruang rapat sambil membawa sebuah map biru. Beberapa langkah di belakangnya, Marco menyusul dengan beberapa berkas di tangan. Meski kini hubungan mereka sudah berubah, keduanya tetap bersikap profesional dan menjaga jarak selama berada di kantor."Bagaimana revisi untuk kontrak proyek Bellavista?" tanya Marco dengan nada profesional sambil menyerahkan map lain."Ada beberapa poin yang harus diperbaiki," jawab Isabella tenang. "Nanti setelah makan siang saya akan serahkan ke ruangan Bapak."Marco mengangguk singkat.
"Apakah Alejandro Castellano akhirnya sudah mengetahui bahwa putrinya masih hidup?"Rafael tidak langsung menjawab. Dari cara Lucia bertanya, ia merasa perempuan itu sudah lama menyimpan pertanyaan tersebut dan baru sekarang berani mengungkapkannya."Sudah, Bu." Rafael menjawab dengan tenang. "Alejandro sudah mengetahuinya beberapa bulan yang lalu."Lucia mengangguk pelan. Tatapannya sempat mengarah ke luar sebelum kembali menatap Rafael. "Syukurlah," ujarnya pelan. Kata itu terdengar seperti beban yang akhirnya bisa ia lepaskan."Silakan masuk." Lucia membuka pintu lebih lebar dan melangkah mundur.Rafael masuk ke rumah kecil yang rapi itu. Tidak banyak perabotan, tapi apa yang ada dipilih dan dijaga dengan baik.
Ruangan kembali hening. Sebastian dan Rodrigo menatap Rafael sambil menunggu penjelasannya.Rafael menarik napas pelan sebelum melanjutkan."Berkas itu sekarang ada di tangan seseorang yang dulu bekerja di bagian administrasi Rumah Sakit Santa Lucia," jelas Rafael dengan tenang.Sebastian langsung mengernyit."Orang itu masih hidup?" tanyanya dengan serius."Masih," jawab Rafael sambil mengangguk. "Namanya Lucia Bernardi. Sekarang usianya hampir tujuh puluh tahun dan sudah lama pensiun."Sebastian dan Rodrigo saling berpandangan. Mereka sama sekali belum pernah mendengar nama itu."Dia yang menghubungi Anda?" tanya Rodrigo penasaran.
"Dia pikir dirinya siapa, bisa bicara seperti itu?"Sebastian melemparkan ponselnya ke atas meja dengan lebih keras dari yang ia sadari. Layar itu masih menyala, menampilkan pesan terakhir Isabella yang sama sekali tidak memiliki celah untuk diperdebatkan. Rodrigo yang masih duduk santai di kursi
“Selamat pagi semuanya. Kita mulai meetingnya.”Suara Isabella terdengar tenang namun tegas saat ia memasuki ruang rapat utama divisi legal Bellini Group keesokan paginya. Langkahnya stabil, ia memegang laptop di tangan kanannya, sementara staf legal yang sudah hadir langsung duduk dan merapikan po
“Dan yang paling menarik,” Marco melanjutkan sambil menyesap minumannya, “dia tidak pernah sekali pun mengatakan kalau dirinya pernah menikah dengan seorang Sebastian De Luca.”Sebastian menoleh tajam. “Apa maksudmu?”Marco tertawa pendek tanpa humor. “Maksudku sangat jelas. Saat pertama kali masuk
Satu tahun sejak nama Isabella menghilang dari hidup Sebastian. Satu tahun sejak kertas perceraian itu ditandatangani tanpa satu pun air mata. Sebastian kira setelah satu tahun, semuanya akan terasa biasa saja. Ternyata dia salah.Gala Tahunan Pengusaha Hispania Raya selalu menjadi malam yang sama












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan