MasukMuyin terpaksa menggantikan peran Ruyin sebagai pengantin untuk Jenderal Li. Ruyin ditemukan tewas bunuh diri dan nama Jenderal Li dikaitkan dengan kasus kematiannya. Mampukah Muyin terus bersandiwara? Sementara perasaannya terus bertentangan antara cinta dan benci.
Lihat lebih banyak“Keyi, eh maksudku Er Wangfei.” Muyin memberikan penghormatan pada Keyi yang kini telah menjadi istri dari Pangeran Kedua.“Jangan begitu Kakak Ipar, aku jadi malu.” Keyi menyikut tangan Muyin yang masih terus meledeknya.“Aku yakin Er Wangfei akan terbiasa, terutama nanti saat malam pertama.” Ucapan Muyin membuat wajah Keyi memerah.“Jujur saja aku sangat takut, Kakak Ipar.”“Jangan takut, Er Wangfei harus santai dan bisa membuat Pangeran Kedua merasa beruntung memilikimu.”“Mungkin aku yang beruntung menikah dengannya, coba kalau aku menikah dengan si brengsek itu tentu hidupku setiap hari akan penuh dengan air mata.”“Sst, jaga bicaramu, walau dia telah dihukum ke pulau terpencil, aku yakin pengaruhnya masih ada di istana ini,” bisik Muyin pelan.“Aku juga yakin begitu, tapi biarlah itu menjadi urusan para lelaki.” Tatapan mata Keyi beralih, secara tak sengaja ia bertemu pandang dengan Pangeran Kedua dan sama-sama memalingkan wajah. Muyin menyadari hal itu.“Er Wangfei menyukainya,
Setelah peperangan besar yang tak terlihat, setelah dikirimnya Pangeran Rui ke pulau terpencil sebagai budak, dan setelah Pangeran Canglan kembali ke Timur serta meninggalkan luka yang dalam di hati Fenglan, kehidupan pun berjalan seperti biasanya.Muyin kembali tenang karena semua pihak yang mengganggunya telah tiada. Ia fokus pada kehamilan dan ilmu pengobatannya, sembari membantu Li Keyi mempersiapkan pernikahan yang tidak akan lama lagi digelar.Hubungan antara Muyin dan Li Fenglan terlihat semakin dalam. Meski musuhnya telah pergi, Fenglan tetap meminta Lu Meng serta A Ying bersiaga di dekat istrinya ke mana pun wanita itu pergi.Hari-hari yang berjalan dipenuhi suasana yang ceria menjelang pernikahan Li Keyi juga kelahiran anak pertama Fenglan. Hingga pada suatu pagi yang cerah dan berangin, seorang pelayan datang membuat kehebohan. Mereka tak lagi berbisik-bisik, melainkan suaranya terdengar sampai membuat Muyin yang sedang menakar obat tidak bisa tenang.“Coba cari tahu apa ya
Fenglan dan Canglan hanya saling menatap dalam diam. Angin bahkan tak ingin lewat mengganggu konsentrasi keduanya. Meski sama-sama memegang pedang, di antara mereka tidak ada yang saling menyerang. Keduanya sama-sama sakit dan mencoba bertahan.Suara pedang yang beradu di luar terdengar makin jelas di telinga Fenglan. Ia yakin bahwa pasukannya berhasil melumpuhkan pertahanan Pangeran Canglan. Maka, menghabisi pangeran dari Timur itu adalah semudah membalikkan telapak tangan.Namun, semakin lama suara pedang terdengar semakin pelan, seolah-olah ada yang membuat mereka harus berhenti. Tak lama kemudian, pintu kamar Pangeran Canglan terbuka. Sosok yang datang membuat semua yang hadir diam, dan menundukkan pandangan.Bukan Han Yu ataupun A Ying yang masuk, melainkan pria paruh baya dengan jubah kebesaran bersulam benang emas khas penguasa wilayah Timur. Wajahnya yang tegas dipenuhi guratan kecemasan yang mendalam. Raja dari Timur telah datang.“Ayahanda,” gumam Canglan. Ia terkejut meliha
Sejak matanya dilempar serbuk pewangi oleh Muyin, Pangeran Canglan kurang bisa melihat dengan jelas. Lalu Mingze membawanya pergi dengan sisa pasukan yang ada, tidak kembali ke Timur melainkan istirahat sebentar di Barat. Karena jika kembali sekarang, tentu akan mendapat banyak pertanyaan dari Raja Timur.Sembari beristirahat, Pangeran Canglan diobati oleh seorang tabib yang cukup hebat di wilayah Barat. Berangsur-angsur matanya bisa melihat meski masih samar-samar.Pagi itu Pangeran Canglan melihat pemandangan di depan matanya. Ia berkedip setiap sebentar jika penglihatannya terasa perih.“Kejam sekali kau padaku, Yin’er, padahal dulu aku yang menyelamatkanmu,” gumamnya dalam kesendirian. Tak lama kemudian, Mingze datang setengah berlari dan memberi kabar pada Pangeran Canglan tentang hukuman yang akan dijatuhkan untuk Pangeran Rui.“Biarkan saja. Hukuman baginya tidak akan berpengaruh apa-apa padaku,” ucapnya santai.“Pangeran, hamba rasa kita harus segera kembali ke Istana Timur. D
Tenda utama Li Fenglan hanya diterangi cahaya lilin besar. Ia berdiri membelakangi pintu masuk dan mulai melepas pelindung bahunya yang berat. Tersisa pedang yang masih belum mau ia letakkan."Masuklah," ucap Fenglan tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa yang berdiri di depan meski tanpa terdengar lan
"Mati kau, Jalang!" teriak Shu Li. Pedang yang ia rampas dari pinggang Fenglan kini nyaris menikam leher Luo Ying.Gadis itu menangkis tebasan dengan pelindung lengan bajanya. Dengan luwes Luo Ying memelintir pergelangan tangan Shu Li hingga wanita itu memekik dan pedangnya terlepas.“Tunjukkan waj
Kereta kuda dengan simbol Keluarga Li berhenti di depan kediaman Keluarga Bai. Kedatangan Muyin saat itu jauh berbeda dari ketika ia pergi.Ia turun dengan anggun, diikuti para pengawal dan pelayan yang membawa berbagai macam buah tangan mahal, membuat para pelayan Keluarga Bai yang dulu sering mem
Kelopak mata Muyin bergerak perlahan ketika cahaya matahari masuk melalui celah jendela. Muyin menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma dupa yang menenangkan dan membuka matanya.Tidak ada lagi bau obat herbal atau anyir darah. Ia sudah kembali ke sangkar emasnya di kediaman Jenderal Li.Sesuai k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak