MasukDengan napas yang mulai memburu, Raymond mengangkat tubuh Jovita dengan sangat mudah. Kedua tangan besarnya menopang tubuh istrinya yang ramping, sementara kaki Jovita refleks melingkar di pinggang tegas Raymond.Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang liar dan intens, lidah saling menari, mengecap, dan menuntut lebih.Jovita mengerang pelan di dalam pagutan Raymond, tangannya mencengkeram bahu pria itu seolah takut terjatuh, meski ia tahu Raymond tak akan melepaskannya.Tanpa memutus ciuman, Raymond melangkah menuju ranjang king-size di kamar mereka. Dengan lembut, ia merebahkan tubuh Jovita.Tubuh mereka tak pernah terpisah, Raymond langsung menindih, bibirnya masih melumat bibir Jovita yang sudah membengkak karena ciuman panas tadi.Tangan Raymond mulai bergerak. Dari pinggang, naik ke punggung, lalu merayap ke depan. Ia meremas dada Jovita dengan penuh nafsu, jempolnya menyapu puncak yang sudah mengeras. Jovita menggeliat, napasnya tersengal.“Om... ah...”“Kamu milikku malam ini,”
“Jo, kamu harus kuliah sungguh-sungguh, belajar yang bener. Jangan sampai bikin Tuan Raymond kecewa. Tuan itu sudah baik sekali mau bantu dan tampung di sini.”Dengan tangan yang sibuk membalik tumisan di atas wajan, mulut Bi Siti meluncurkan wejangan yang tak pernah absen setiap kali ada kesempatan berdua dengan Jovita.Perempuan paruh baya itu sudah menganggap Jovita seperti anaknya sendiri. Apalagi setelah ada Jovita, banyak pekerjaannya yang terbantu.Seperti sekarang, Jovita berdiri di samping kompor, dengan cekatan membantu Bi Siti memotong sayuran untuk makan malam.Jovita menghentikan irisan pisaunya sejenak, lalu menyunggingkan senyum manis dan mengangguk patuh.“Iya, Bi. Jojo selalu ingat pesan Bi Siti.”Bi Siti menghela napas pendek, lalu mendekat sedikit ke arah Jovita. Raut wajahnya berubah agak serius, suaranya dipelankan.“Satu lagi pesan Bibi, kamu harus jaga jarak, jangan terlalu dekat sama Tuan Raymond.”Jovita mengerutkan dahi, tatapannya menyiratkan rasa heran. “Ke
“Kerja sama yang luar biasa, Tuan Chen. Saya pastikan Vastu Chandra akan memberikan hasil terbaik untuk proyek ini,” ujar Raymond lugas.“Saya sangat mempercayai reputasi Anda, Tuan Raymond,” sahut Tuan Chen ramah. “Semoga ini jadi awal yang baik untuk ekspansi bisnis kita selanjutnya.”Keberhasilan negosiasi yang efisien ini membuat agenda kerja Raymond yang semula dijadwalkan memakan waktu satu minggu berhasil dipangkas. Ia bisa pulang lebih cepat dari perkiraan.Dengan langkah ringan dan hati berbunga-bunga, Raymond berjalan menuju mobil jemputan untuk kembali ke hotel, berniat segera mengemas barang-barangnya agar bisa mengambil penerbangan paling awal.Tepat saat ia menyalakan ponselnya, nama ‘Jojo’ terpampang di layar memanggil.Tanpa sadar, garis bibir Raymond terangkat lebar. Begitu menggeser tombol hijau, ia langsung menyapa dengan suara berat yang teramat hangat.“Ya, Sayang?”Di seberang telepon, Jovita sempat terkekeh tipis mendengar panggilan manja yang tak biasa itu, nam
“Kenapa Om Ray ngomong begitu?”Ada getaran halus di benak Jovita. Ia mendadak merasa Raymond seolah tahu segala hal yang terjadi padanya hari ini, dan perasaan diawasi secara tak kasat mata itu perlahan merayap naik, membuatnya tidak nyaman.Raymond menghela napas pendek, menatap lurus ke netra Jovita di layar. “Aku tahu soal pertemuanmu dengan ayahmu tadi siang, Jo.”Mendengar pengakuan itu, Jovita seketika terdiam dengan bibir sedikit terbuka.Dalam hati, sebenarnya Raymond ingin mengucap terima kasih kepada Dylan. Kalau bukan karena pemuda itu yang sigap pasang badan dan menahan tangan Joni, bisa saja pipi mulus istri kecilnya ini sudah lebam ditampar.Tapi, ego dan rasa cemburu di dada Raymond jauh lebih besar. Membuat niat itu tertahan.Dylan masih muda, seumuran dengan Jovita, dan tumbuh di zaman yang sama. Pikiran-pikiran liar mulai mengusik Raymond, kenyataan bahwa mereka bisa ngobrol lebih klik, punya banyak kesamaan, dan koneksi anak muda yang tidak dimiliki oleh pria matan
“Maaf banget, Ray! Tadi aku baru sempat kirim fotonya sebagian, sisanya baru sempat aku kirim. Aku takut kamu salah paham sama Jojo!”Raymond terdiam di tempatnya, menahan rasa kesal yang membuncah sekaligus leganya napas yang sempat tertahan. Hampir saja ia salah jalan. Hampir saja ia mengorbankan prinsipnya dan meluapkan rasa cemburu buta pada tempat yang salah.Manik matanya melirik ke arah Karina yang masih duduk anggun di hadapannya. Sementara itu, suara Jimmy masih menceracau dari ponsel.“Tadi Jess tiba-tiba mules parah. Aku kira sudah mau melahirkan, sampai panik bawa ke rumah sakit. Tapi kata dokter ternyata cuma kontraksi palsu, aduh...”Melihat raut wajah Raymond yang berubah sangat serius dan dingin selama menerima telepon itu, Karina mengerti posisinya. Nurani dan gengsinya sebagai putri keluarga Adhiwangsa menegaskan bahwa tidak mungkin baginya untuk terus mengemis pada Raymond untuk mengikuti kemauannya malam ini.Dengan senyum tipis yang dipaksakan, Karina bangkit berd
Suasana restoran mewah di lantai teratas hotel bintang lima itu terasa begitu dingin dan kaku. Kontras dengan pemandangan gemerlap kota Singapura di balik dinding kaca tingginya.Raymond duduk berhadapan dengan Karina di meja sudut yang tenang. Di hadapannya, piring berisi hidangan fine dining yang hampir tak tersentuh.“Bagaimana dengan kesepakatan Merlion Capital Partners, Ray? Deal?”Karina memotong daging stiknya dengan gerakan anggun. Gaun malamnya berkilau di bawah temaram lampu gantung, mempertegas karisma seorang wanita karier kelas atas sekaligus putri keluarga Adhiwangsa.“Ya,” jawab Raymond singkat tanpa membalas tatapan Karina. Suaranya datar, tanpa antusiasme sedikit pun dari keberhasilan bisnis besarnya siang tadi.Fokus dan pikiran Raymond sama sekali tidak berada di meja makan itu. Isi kepalanya terus berputar pada foto-foto kebersamaan Jovita dan Dylan. Rasa cemburu, marah, dan penasaran campur aduk menggerogoti dadanya, membuat selera makannya menguap sepenuhnya.Men
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
“Bagaimana kalau kita coba berpikir sedikit lebih dewasa... dan mengesampingkan ego masing-masing?”Jovita memindahkan ponselnya ke telinga kiri, lalu meringkuk di atas tempat tidur dengan lutut ditekuk.Di seberang saluran telepon, suara Viola terdengar sangat nyaring, memecah keheningan malam kam
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me







