Mag-log inBelvara menatap nanar Ibra, penuh pertanyaan tersirat. Kenapa harus sampai sejuh itu? “Tenang, Mba. ini hanya formalitas, walaupun disini tertulis Saya sebagai suami, Saya tidak akan meminta hak seorang suami sama, Mba, Ko.” ibra mengulas senyum, nampak terlihat cekungan di pipinya.Kendati begitu, tidak ada pilihan lain baginya, perasaannya memberikan sinyal bahwa apa yang Ibra lakukan adalah murni ketulusan, tidak ada niat apapun dari pria itu, selain berniat memisahkannya dengan Hagan.“Besok Saya antar, Mba pindah ke rumah di pinggiran kota sana.”Belvara menganggukkan kepala. “baik , Mas Ibra.”Belvara hanya berharap, semoga dikehidupannya saat ini, tidak kembali ia temui kemalangan.***Perjalanan menuju rumah yang Ibra tunjukan melewati perbukitan dan hamparan sawah hijau, Belvara terbelalak menatapnya. Sudah sangat lama ia tak melihat pemandangan asri seperti itu.“Mas, ini kayak desa?”Ibra yang sedang menyetir menyunggingkan bibir. “Iya, apa keberatan jika tinggal di desa?
“Aku yakin itu suara Pak Hagan.” Belvara menajamkan indera pendengarannya pada daun pintu, menguping pembicaraan di sana agar terdengar lebih jelas tanpa memaksa keluar dari sana.Ia paham kenapa pintu kamarnya terkunci, sepertinya Aminah sengaja menguncinya karena ia tahu Hagan datang. Dan menghindarkan pertemuan Belvara dengan Hagan secara tidak sengaja.“Bagaimana pun Belvara istri Saya, Bi Aminah. Saya cuma minta sabar dulu sampai semua ini selesai, Saya tidak akan terus-terusan merahasiakan status pernikahan kami.”“Tapi, Den Hagan, perempuan mana yang tahan di duakan seperti itu, meski Belvara hanya istri simpanan, tapi mungkin dia menganggap dirinya lebih layak dari itu. Dan akhirnya memilih pergi.” Ibu menjeda kalimatnya. “Ibu tidak tahu apa-apa tentang itu, Ibra hanya membantunya mengantar sampai ke stasiun kereta di tengah kota, setelah itu Ibra pulang. Hanya itu yang Ibu tahu, Den Hagan.” ucap Aminah dengan intonasi pelan penuh dusta. “Bi Aminah yakin tidak ada yang disem
Belvara menelan ludah, menatap Ibra dengan skeptis. ‘Mana bisa Aku melakukan itu tanpa di dasari rasa cinta atau suka. Terlebih, Mas Ibra yang sudah aku anggap seperti Kakak.’“Mba… Saya gak minta hal seperti itu, Saya tahu ini gak benar. Jadi… Saya lebih baik menunggu saja, sampai resmi pisah. Dan Saya akan langsung nikahi, Mba.”Belvara mendecih kasar. “Gak semudah itu, Mas Ibra… apa lagi kalau Pak Hagan tahu Aku mengandung anaknya.”Ibra menghela nafas kasar. “Kalau Mba benar-benar mau pergi dari Pak Hagan, Mba bersedia tinggal di rumah Saya yang saya sebutkan tadi, Saya ungsikan Mba di sana, dan bisa memulai hidup baru tanpa ada rahasia, dan Mba tenang aja semua kebutuhan hidup Mba dan anak dikandungan Mba itu, biar Saya yang tanggung.”“Mas Ibra, memulai hidup baru di tempat baru pun perlu dokumen yang memadai, jadi… orang-orang baru di sana akan percaya.” “Saya akan urus itu secepatnya, setelah berkas-berkas selesai, Saya mohon, tinggallah di sana, bukan hanya karena Saya mengi
Belvara mematung sepersekian detik ketika ia membuka pintu, Ibra sudah berdiri dengan satu tangan menopang pada kusen pintu. “Ada apa, Mas Ibra?”“Mba, kita ngobrol di dalam.” Ibra masuk lebih dulu, dan duduk di tepi ranjang, matanya fokus mengamati lekuk tubuh Belvara yang terbingkai daster yang panjangnya hanya sepaha, membuat paha putih mulusnya sedikit terekspos.Belvara berdiri dan menyaarkan tubuhnya di dinding dekat pintu, pintunya sengaja ia buka lebar agar tidak timbul fitnah jika Ibu tidak sengaja lewat dan menoleh ke arah kamarnya.“Ibu merestui hubungan kita, apa gak sebaiknya kalau kita nikah aja?”Belvara menautkan alis, menatap Ibra tak percaya. “Mas, Kamu bisa dapat perempuan yang lebih segalanya dari Aku.”Ibra menunduk, seolah sedang menahan sesuatu, kemudian menatap Belvara cukup dalam. “Mba, sebenarnya… Saya punya kelainan seksual.”“Maksud, Mas?” kerutan di dahi Belvara semakin bertambah. “Saya gak pernah tertarik sama perempuan, tapi, semenjak Saya bertemu Mba,
Aminah mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca dan memeluk Belvara begitu saja.Belvara pasrah saat tubuhnya di peluk Aminah, ia biarkan tangis Aminah tumpah di bahunya, meski ia tidak paham tangis karena apa yang Aminah keluarkan saait tu.“Bu Miranti fitnah Pak Wirawan, kalau dia menjadi penghalang para donatur yang akan berdonasi di yayasan Kinantan,” ucap Aminah lirih. “Dan diam-diam menyebarkan rumor kalau para donatur itu dialihkan ke Yayasan yang akan Pak Wirawan dirikan, untuk menjatuhkan yayasan yang sudah Pak Kemal bangun selama ini. Jadi, Pak Wirawan dianggap penghianat.” Pernyataan Aminah membuat Belvara semakin mengerutkan dahi. Kebingungan.Aminah melanjutkan ucapannya. “Itu semua Bu Miranti lakukan karena Pak Wirawan tahu, bahwa Bu Miranti berselingkuh dengan adik dari Pak Kemal, dan sebenarnya, Sanjaya Adiguna itu bukan sepupu Pak Hagan tapi adik tiri Pak Hagan, hasil hubungan gelap Bu Miranti dengan Adik Pak Kemal.”Belvara menggelengkan kepala. “Apa Pak Hagan tahu
Belvara sadar ia hanyalah seorang tamu di rumah itu, melihat Aminah mempersiapkan hidangan untuk makan malam di dapur sendirian membuatnya tergerak untuk membantu. “Apa yang bisa Aku kerjakan, Bu?” tanya Belvara, ia sudah berganti pakaianya selepas membersihkan diri.“Gak usah, biar Ibu aja, Ibu sudah biasa sendiri,” ucap Aminah pelan, sekilas menoleh pada Belvara dan tersenyum sambil mengiris bawang.Tangan Belvara tergerak meraih sayuran yang sepertinya belum sempat Ibu cuci, ia mengambil tempat untuk menyimpan sayuran itu, dan membawanya ke wastafel untuk ia cuci.“Sudah Belvara, biar Ibu saja.”“Gak apa-apa, Bu. Aku juga udah biasa ngelakuin ini,” timpalnya.Dapur yang biasa hanya terdengar suara wajan yang beradu dengan spatula saat Aminah mengaduk masakan, kini bercampur dengan obrolan dan sesekali gelak tawa ringan terdengar, yang menjadikannya lebih hangat. Bukan hangat karena api yang menyala di atas kompor, namun kebersamaan yang jarang terjadi, kini mendominasi di dapur se
Ketika sang donatur secara langsung memberikan santunan itu, mata mereka beradu sepersekian detik di sana, nafas Belvara seolah tercekat, seakan lupa bagaimana caranya bernafas ketika berhadapan langsung dengan Hagan, ia terlalu fokus memandang pahatan visual yang Hagan miliki. Bola mata kecoklatan
Belvara memijat pelipisnya pelan, menatap pada buku catatan hutang yang harus segera ia lunasi secepatnya. 'Gimana cara lunasinnya ini?' Ia menghela nafas, berharap hembusan nafasnya sedikit melegakan dadanya yang terasa sesak karena himpitan keadaan. Jika perempuan lain seusia Belvara sedang meni
Belvara yang semula mengelus pelan rambut Ayas sontak terdiam. Jemarinya berhenti tepat di atas kepala anak itu. Sorot matanya sedikit goyah, seperti ada sesuatu yang menekan dadanya.“Ayas…” suara Belvara terdengar lirih.Anak kecil itu menggeser tubuhnya mendekat, memeluk Belvara dengan kedua tan
Kedua alis Belvara bertaut, saat melihat pria yang menarik bahunya baru saja. 'Siapa pria ini?' pria itu tidak kalah tampan dari Hagan, namun yang ini terlihat lebih muda. "Siapa, ya?" tanya Belvara. "Saya asisten Pak Hagan." Pria itu memperkenalkan diri. dan mengulurkan paper bag pada Belvara. "Si







