LOGINBagi Alana Danuarta, hidup adalah tentang kebebasan, nongkrong bareng sahabat, dan menjalin cinta manis dengan Bara. Namun, dunianya runtuh dalam semalam saat ayahnya memberikan ultimatum maut: menikah dengan Aksa Dewantara, dosen paling kaku, paling dingin, dan paling ia benci di seluruh kampus. Aksa bukan sekadar dosen. Dia adalah penguasa nilai yang tak segan memberi Alana huruf E tanpa ampun. Kini, pria yang selalu memakai kemeja rapi terkancing hingga leher itu adalah suaminya. Pria yang memegang kendali atas skripsinya di siang hari, dan memegang kendali atas tubuhnya di malam hari. Pernikahan ini rahasia. Di kampus, mereka adalah musuh bebuyutan. Di apartemen, ada aturan-aturan panas yang tak tertulis dalam kontrak pernikahan mereka. “Jangan lupa batasannya, Alana. Di sini, aku bukan dosenmu, tapi tuanmu.” Saat Bara mulai menuntut penjelasan dan rahasia di balik pintu apartemen nyaris terbongkar, Alana terjebak di antara kesetiaan masa lalu dan gairah mematikan yang ditawarkan Pak Dosen. Apakah benci benar-benar bisa berubah jadi cinta, ataukah Alana hanya akan selamanya menjadi 'istri simpanan' di balik bayang-bayang gelar suaminya?
View MoreLayar laptop di depan Alana Danuarta seolah memancarkan aura kegelapan. Matanya mengerjap berkali-kali, berharap angka dan huruf yang tertera di portal mahasiswa itu berubah. Namun, kenyataan pahit itu tetap diam di sana, menertawakannya.
Mata Kuliah: Pengantar Manajemen Strategis. Dosen Pengampu: Aksa Dewantara, M.M. Nilai Akhir: E. "Gila! Ini nggak mungkin! Pak Aksa bener-bener punya dendam kesumat sama gue!" teriak Alana frustrasi. Ia membanting kepalanya ke atas meja kafe, membuat Elara dan Keira yang duduk di depannya tersentak kaget. "Kenapa lagi, Al? Nilai lo keluar?" tanya Keira sambil menyeruput es kopinya. "E, Kei! E! Gila nggak sih? Gue cuma telat ngumpulin tugas lima menit gara-gara ban motor bocor, dan dia langsung kasih gue nilai maut itu!" Alana mengangkat kepalanya, wajahnya memerah karena emosi. "Duh, Pak Aksa lagi," Elara menggeleng prihatin. "Dia emang dosen paling 'killer' seantero kampus, Al. Ganteng sih iya, muda banget buat jadi dosen, tapi hatinya dari batu kali ya? Kaku banget kayak kanebo kering." "Gue harus protes! Gue nggak mau ngulang tahun depan cuma gara-gara satu mata kuliah si kaku itu!" Alana segera menyambar tasnya, namun ponselnya tiba-tiba bergetar hebat. Nama ibunya, Wulan Sari, muncul di layar. "Halo, Ma? Alana lagi emosi nih, nanti—" "Alana... cepat ke rumah sakit sekarang! Papa... Papa pingsan di kantor!" suara Wulan terdengar gemetar dan isak tangis pecah di seberang sana. Jantung Alana seolah berhenti berdetak. "Ma? Papa kenapa? Rumah sakit mana?" *** Bau karbol yang menyengat menyambut Alana saat ia berlari menyusuri koridor rumah sakit. Di depan ruang VIP, ia melihat ibunya terduduk lemas. Begitu melihat Alana, Wulan langsung memeluk putrinya erat. "Papa kamu sudah sadar, tapi kondisinya lemah, Al. Jantungnya..." Wulan tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Alana masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai. Di atas ranjang, Damar Danuarta terlihat sangat pucat. Alat pemantau detak jantung berbunyi lambat di sampingnya. Begitu melihat Alana, Damar memaksakan sebuah senyum tipis. "Sini, Sayang..." bisik Damar lemah. Alana menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin. "Papa jangan banyak pikiran dulu. Alana di sini." Damar menarik napas panjang, matanya menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang dan kecemasan yang mendalam. "Al, Papa tahu Papa sudah nggak kuat lagi. Perusahaan lagi goyang, dan Papa nggak tenang ninggalin kamu sendirian kalau Papa nggak ada..." "Papa ngomong apa sih? Papa pasti sembuh!" potong Alana dengan mata berkaca-kaca. "Satu-satunya permintaan terakhir Papa... Papa ingin kamu menikah. Sekarang. Papa sudah siapkan calon yang terbaik untuk kamu. Teman lama Papa, Galang Dewantara, sudah setuju untuk menjodohkan putranya denganmu." Alana tertegun. Menikah? Di saat dia masih semester akhir? Di saat dia masih punya Bara? "Tapi Pa, Alana masih kuliah. Alana punya Bara—" "Bara bukan orang yang bisa jagain kamu, Al. Papa mohon... ini permintaan terakhir Papa. Kalau kamu nggak setuju, Papa nggak akan tenang..." Damar mulai sesak napas, membuat alarm di monitor berbunyi lebih cepat. "Iya, Pa! Iya! Alana setuju, asal Papa tenang," teriak Alana panik. Ia tidak punya pilihan lain. Melihat ayahnya berjuang antara hidup dan mati membuat egonya runtuh seketika. Wulan masuk bersama seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa, Galang Dewantara, diikuti seorang wanita yang masih cantik di usianya menggandeng lengannya, Intan Permata—istrinya. "Anak saya sudah ada di depan, Damar. Dia baru saja sampai dari kampus," ujar Galang tenang. "Ayo masuk, Nak." Pintu kamar rawat itu terbuka. Alana masih menunduk, menghapus air matanya dengan kasar. Ia sudah menyiapkan mental untuk bertemu dengan pria tua berkacamata atau pria culun pilihan ayahnya. "Perkenalkan, ini putra saya," suara Galang terdengar bangga. Alana mendongak. Detik itu juga, napasnya seolah terhenti. Dunianya serasa runtuh untuk kedua kalinya dalam satu hari. Pria yang berdiri di depannya mengenakan kemeja biru navy yang sangat rapi, terkancing hingga ke leher, dengan wajah datar tanpa ekspresi dan tatapan mata yang sangat tajam di balik kacamata beningnya. "Pak... Aksa?" gumam Alana dengan bibir bergetar. Aksa Dewantara, dosen yang baru saja memberinya nilai E, menatap Alana dengan tenang, seolah sudah tahu hal ini akan terjadi. "Halo, Alana. Ternyata kita bertemu lebih cepat dari jadwal bimbingan," suara berat Aksa menggema di ruangan yang tiba-tiba terasa sangat sempit itu. Alana mematung. Pria yang paling ia benci di kampus, kini berdiri di hadapannya sebagai calon suaminya. Alana menatap ayahnya dan Aksa bergantian dengan tatapan horor. “Jadi... orang yang mau Papa nikahkan sama aku itu... Dosen yang baru aja bikin aku hampir nggak lulus?!” batin Alana menjerit. Sementara itu, Aksa melangkah mendekat, memberikan senyum tipis yang terlihat sangat menyebalkan sekaligus mengintimidasi."Al, jangan dilihat. Ayo pergi dari sini," cetus Keira sambil merenggut bahu Alana, mencoba memblokir pandangan sahabatnya dari papan mading utama. Namun semuanya sudah terlambat. Air mata Alana sudah lebih dulu luruh membasahi pipinya yang pucat pasi. Bisik-bisik kejam dari puluhan mahasiswa di sekeliling mereka mendadak terdengar laksana dengungan lebah yang mencekik warasnya. Tanpa membalas ucapan Keira, Alana membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menembus kerumunan. "Alana! Tunggu!" teriak Elara, bersiap mengejar dengan langkah lebar. "Biar gue yang cari ke area perpustakaan atas, El. Lo cek taman belakang sekarang," instruksi Keira cepat. Mereka berdua segera berpencar dengan kecemasan yang memuncak. Alana terus berlari menyusuri koridor, menaiki anak tangga dengan napas yang memburu, hingga langkahnya membawa masuk ke dalam perpustakaan pusat fakultas. Di jam kuliah seperti ini, lorong bagian belakang yang menyimpan buku-buku a
"Jangan menoleh, Alana. Masuk kembali ke halaman rumah," perintah Aksa, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin di tengah keheningan malam. "Tapi mereka... mereka bawa sesuatu, Mas," bisik Alana, tangannya gemetar hebat saat meremas lengan kemeja Aksa. Aksa segera menarik tubuh Alana ke belakang punggung tegapnya, mengunci pandangan tajamnya pada dua orang bermotor di seberang jalan. Namun, bukannya menyerang, pengendara motor itu justru menggeber mesinnya dengan keras sekali sebelum akhirnya berbalik arah dan melesat pergi membelah kegelapan malam. Itu murni teror mental. "Mereka cuma mau menakut-nakuti kita," ucap Aksa, mengembuskan napas panjang sembari memeriksa draf map hitam di tangan kanannya. "Ardiansyah tahu kita mencari sesuatu di sini. Hubungi sopir keluarga, kita pulang pakai mobil lain." Keesokan paginya, teror yang sesungguhnya baru saja dimulai di area kampus. Bukan berupa ancaman fisik di jalanan sepi, melainkan pembunuhan
Malam kian larut ketika Aksa memutar kemudi mobilnya membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Di sampingnya, Alana duduk diam seraya menatap ke luar jendela. Ingatan tentang konspirasi besar antara Pak Subroto dan Ayah Bara yang dibeberkan Elara tadi siang benar-benar menguras energi mentalnya. Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang menjulang. Di baliknya, berdiri sebuah rumah bergaya kolonial yang luas namun sudah tidak ditempati sejak keluarga besar Dewantara pindah ke kawasan elit pusat kota. Walau kosong, rumah ini tetap dijaga dan dirawat dengan sangat rapi. "Ayo turun, Alana," ajak Aksa lembut, mematikan mesin mobil. Alana melangkah turun, merapatkan jaket rajutnya karena hawa malam yang menusuk. "Kita mau ambil apa di sini, Mas?" "Petunjuk dari Ibu saya," jawab Aksa singkat seraya membuka pintu utama rumah menggunakan kunci khusus. Atmosfer di dalam rumah tua itu terasa sunyi dan dingin. A
Sementara Aksa menerima instruksi penting dari Mama Intan di balkon apartemennya, badai emosi yang berbeda sedang berkecamuk di dalam kediaman mewah keluarga Ardiansyah. Bara duduk di ruang kerja ayahnya dengan tatapan kosong. Di atas meja kaca di depannya, beberapa lembar draf foto tercetak beresolusi tinggi tersebar berantakan. Jantung Bara serasa dihantam godam besar saat matanya dipaksa menatap bukti-bukti itu: draf foto akta nikah siri dan pakta pernikahan atas nama Aksa Dewantara dan Alana Danuarta. Ardiansyah berdiri di dekat jendela, membelakangi putranya sambil menyesap cerutu dengan tenang. Asap tebal menguar, menciptakan atmosfer yang semakin menekan di dalam ruangan. "Kamu lihat sendiri, kan, Bara? Itu fakta yang selama ini kamu sangkal," ucap Ardiansyah, suaranya terdengar berat dan sarat akan manipulasi yang terencana. "Nggak... ini nggak mungkin, Papa!" Bara berdiri dari kursinya, menyentak meja hingga beberapa kertas bergeser.
Alana menyambar kembali dompetnya dari tangan Aksa dengan wajah merah padam. "Bapak keterlaluan! Nilai itu urusan akademik, kenapa dibawa-bawa ke urusan hati? Bara itu pacar saya, jauh sebelum Bapak datang merusak semuanya!" Aksa tidak bergeming. Ia hanya merapikan kerah kemejanya, menatap Alana
Jantung Alana serasa mau copot. Ia menatap Elara dan Keira yang kini berdiri tepat di depannya dengan tatapan menginterogasi. Mobil SUV hitam Aksa perlahan melaju menjauh, meninggalkan Alana dalam kepungan dua sahabatnya yang paling hobi bergosip. "Al, jawab jujur. Kenapa lo tadi buka pintu mobil
Ketegangan semalam berakhir dengan Aksa yang menyita ponsel Alana hingga pagi. Alana terpaksa berangkat ke kampus dengan wajah ditekuk, duduk di kursi penumpang mobil SUV hitam milik suaminya. Suasana di dalam mobil sangat kontras—Aksa tampak rapi dengan kemeja slim-fit abu-abu yang disetrika sempu
Bunyi klik dari kunci pintu kamar yang diputar Aksa terdengar seperti dentuman meriam di telinga Alana. Ia menyandarkan punggungnya ke daun pintu, menatap waspada pada sosok tinggi di depannya yang kini mulai melepas dasi navy-nya dengan gerakan pelan. "Pak... Pak Aksa, mau ngapain?" suara Alana






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews