LOGIN"Teori tanpa praktik itu lumpuh. Praktik tanpa teori itu buta. Kita? Kita adalah bencana yang sempurna." Bagi Riana, jatuh cinta lagi adalah hal mustahil. Apalagi pada Galih—bocah ingusan penghuni kamar 101 yang lebih sering menatap layar laptop daripada menatap mata wanita. Riana hanya berniat menggodanya, sedikit bersenang-senang untuk melupakan vonis "wanita gagal" yang ditempelkan masyarakat padanya. Tapi Galih punya kejutan. Di balik sikap canggung dan kacamata kudetnya, tersimpan jiwa tua yang mengerti cara memuliakan wanita lebih baik daripada pria dewasa manapun. Galih tidak menawarkan janji manis; ia menawarkan "praktik" yang membuat lutut Riana lemas dan hatinya kembali hidup. Namun, dunia tidak ramah pada kisah cinta Ibu Kos dan Anak Kos. Stigma sosial, gunjingan tetangga, dan intervensi keluarga siap merobek ikatan rapuh mereka. Saat Riana didesak untuk melepaskan Galih demi "kebaikan bersama", ia dihadapkan pada dilema terbesar: kembali pada logika dewasa yang aman namun menyiksa, atau mempertaruhkan segalanya demi pria muda yang menjadikannya ratu di atas ranjang butut kamar kos. Kadang, pahlawanmu tidak datang menunggang kuda putih. Kadang, dia hanya memakai kaos oblong, membawa flashdisk, dan siap melawan dunia untukmu.
View More"Kamu pria panggilan itu, kan? Jadilah pemuas ranjangku, maka semua beban keuanganmu tahun ini, saya yang akan menanggung."
Tubuh Satria membeku. Ia meneguk ludah dengan bersusah payah, sepasang netranya yang kecoklatan menatap pada seorang wanita cantik bertubuh seksi yang duduk di kursi seberang meja, tepat di hadapannya. Wanita cantik itu adalah Rain Cassandra, sengaja datang ke tempat hiburan malam untuk menemui Satria, seorang pria bayaran yang direkomendasikan oleh sahabatnya. Kata sahabatnya, Satria Rendra adalah pendatang baru di club malam tersebut. Jelas, jika kondisi fisik dan kesehatannya jauh lebih baik dari para pria bayaran yang sudah lama bekerja di sana. Selain itu, beberapa hari yang lalu Rain juga sempat melihat Satria di rumah sakit. Pada saat itu, keadaan Satria sangat kacau, ia menangis dan mengiba di hadapan dokter yang hendak menghentikan pengobatan ibunya. "Saya mohon, ibu saya harus tetap dirawat. Saya akan mencari uang itu asal terapi ibu saya tidak dihentikan, Dokter. Saya akan berusaha untuk melunasinya minggu ini. Tolong saya... Saya siap melakukan apapun dan saya janji akan melunasi semuanya!" Plak! Tamparan keras itu mendarat di wajah Satria yang dibanjiri air mata. "Pekerja rendahan sepertimu mau melunasi biaya pengobatan? Hey, gembel, ini nominalnya 100 juta lebih. Mana mungkin kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu seminggu!" Satria masih berlutut di kaki pria tua berjas putih itu. "Hanya dokter dan pihak rumah sakit harapan saya satu-satunya. Jika pengobatannya dihentikan, Ibu saya bisa meninggal. Saya mohon tolong saya, Dokter. Saya berjanji akan segera melunasi seluruh biayanya." "Ah, persetan dengan ibumu! Cepat pergi dari sini, dasar gembel peminta-minta!" Tanpa perduli pada Satria, Dokter itu pun merapikan jas putih yang dipakainya. Lalu, pergi dari tempat itu. “Dokter….” . . . Mengingat kembali kejadian di rumah sakit beberapa hari yang lalu, Rain menyunggingkan sudut bibirnya. "Kalau setuju, kamu bisa tandatangani kontrak kerja sama kita," ucap Rain. Kedua tangannya dilipat di dada, sedangkan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Melalui kacamata hitam itu, Rain memandangi wajah tampan Satria yang terlihat polos dan kalem. Ia yakin sekali, jika pemuda 21 tahun itu belum berpengalaman bekerja di tempat hiburan malam. Semua itu terlihat jelas dari ekspresi dan gelagat gugup bercampur takut yang ditunjukkan oleh Satria pada para tamu yang datang. Mendengar tawaran yang diberikan wanita kaya di hadapannya, Satria mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sesaat ia memejamkan kedua matanya dan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Bayangan ibunya yang saat ini sedang stroke dan lumpuh, juga ketiga adiknya yang membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan juga makan, membuat Satria mau tak mau harus mengambil keputusan dengan cepat. "Ahh, persetan siapa dia. Kesempatan gak bakalan datang dua kali, yang penting aku bisa bayar pengobatan ibu. Dan, biaya sekolah adik-adik juga bisa tercukupi," kata Satria dalam hati. Pemuda itu kembali menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah, saya setuju, Nyonya!" sahutnya dengan yakin. Wajah tegangnya terlihat semakin tegang, bahkan kedua tangannya yang terkepal erat di pahanya, kini dibanjiri oleh keringat. Mendengar jawaban yang diberikan oleh Satria, sudut bibir Rain tersungging. Merasa puas dengan jawaban yang ia terima. Tak sia-sia sahabatnya merekomendasikan Satria. Dengan iming-iming uang, pemuda yang berstatus sebagai tulang punggung keluarga yang sedang terhimpit ekonomi itu akhirnya setuju dengan tawarannya. "Baiklah, sekarang silahkan baca poin-poin penting yang tertera di dalam surat kerja sama kita. Kalau sudah benar-benar oke, kamu bisa langsung tandatangani!" Satria mengangguk. Tangannya bergerak pada berkas yang ada di atas meja, lalu membacanya dengan teliti. Lima menit kemudian, Satria mengangkat kepalanya dan menatap pada Rain. Keningnya berkerut, membuat kedua alisnya yang tebal bertautan. Kontrak kerja sama itu berisi tiga poin penting, pertama ia tidak boleh membocorkan hubungan kontrak mereka pada siapapun. Kedua, ia harus siap kapanpun saat dibutuhkan, dan yang ketiga kontrak kerja sama mereka akan berakhir setelah Rain mengandung. Jika Satria melanggar poin pertama dan kedua, maka ia harus membayar denda sebesar 250 juta. Cukup mengerikan bukan? 250 juta bukanlah nominal yang kecil bagi Satria, jadi Rain sudah memperkirakan jika pemuda itu tidak akan berani ingkar janji. "Gi-gi-gimana kalau Nyonya gak hamil setelah berhubungan sama saya?" tanya Satria. Suaranya tergagap dan terdengar gugup. Rain tersenyum tipis. "Kita gak akan tahu hasilnya kalau gak dicoba," balasnya dengan santai sembari membuka kacamata hitamnya. Begitu kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung Rain dilepaskan, Satria meneguk ludah. Kegugupannya semakin bertambah, ternyata wanita itu jauh lebih cantik jika tidak memakai kacamata. "Terus gimana? Kalau Nyonya gak hamil dalam waktu dek—" "Kalau dalam waktu setengah tahun saya gak hamil, maka saya akan membebaskan kamu. Tapi ingat— sebagai syarat tambahan, selama setengah tahun ini kamu gak boleh meniduri wanita lain selain saya!" lontar Rain dengan suaranya yang datar, dingin, tetapi terdengar santai. Wanita itu menatap Satria yang menyimak dan mencerna perkataannya. "Bagaimana? Kamu sanggup?" lanjut Rain. Satria mengangguk cepat. Setuju dengan syarat tambahan yang diberikan oleh Rain. "Saya setuju dan sanggup, Nyonya. Saya janji bakal berhenti kerja dari tempat ini dan gak akan berhubungan dengan perempuan manapun selain Nyonya." Satria menimpali perkataan Rain dengan begitu bersungguh-sungguh. Inginnya Satria memang seperti itu, lebih baik melayani seorang wanita dari pada harus berganti-ganti pelanggan setiap malam. Sebenarnya ia jijik pada wanita-wanita kurang belaian yang ada di tempat laknat itu. Bahkan, setengah bulan berada di sana, Satria hanya menerima pelanggan yang minta di temani minum dan mengobrol, tidak pernah menerima tawaran tidur karena takut tertular penyakit mematikan. Namun, kali ini ia setuju lantaran melihat penampilan Rain yang anggun dan elegan. Ia yakin sekali jika wanita itu bukanlah wanita nakal seperti kebanyakan wanita yang datang ke tempat hiburan itu. Terlebih lagi, bayaran yang dijanjikan memang begitu menggiurkan. Biaya keuangannya dan segala kebutuhannya akan ditanggung oleh wanita itu selama ia bekerja, yang artinya semua biaya pengobatan ibunya dan juga kebutuhan ketiga adiknya akan tercukupi tanpa harus bekerja sana sini lagi. "Kalau gitu, saya tandatangan sekarang, Nyonya," kata Satria. Ia meraih pulpen dan segera membubuhkan tandatangannya di atas hitam putih surat kerja sama tersebut. Melihat Satria benar-benar membubuhkan tandatangannya, Rain kembali tersenyum tipis, senyuman yang nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan jeli. Setelah membubuhkan tandatangannya, Satria memberikan kontrak perjanjian itu pada Rain. "Sudah, Nyonya," kata Satria dengan suaranya yang memang soft terdengar begitu sopan. Sikapnya yang sopan, membuat Rain semakin yakin jika pemuda itu adalah pria baik-baik, dan terpaksa bekerja di tempat seperti itu. "Oke, kalau gitu kita resmi kerja sama. Jangan lupa, besok malam temui saya di hotel permata kamar nomor 7!" Bersambung....Ada jenis keheningan yang menenangkan, seperti suasana pagi di pegunungan. Lalu ada jenis keheningan yang menyiksa, seperti saat ini.Dua hari.Sudah empat puluh delapan jam sejak insiden di parkiran Pasar Modern. Sejak saat itu, Galih Prasetyo berubah menjadi hantu.Dia ada di kos. Riana tahu itu. Ia melihat lampu kamar 101 menyala di malam hari. Ia mendengar suara air keran kamar mandi dinyalakan di pagi buta. Ia bahkan mencium aroma sabun sea salt yang tertinggal samar di koridor.Tapi Galih tidak terlihat.Dia berangkat kuliah atau kerja sangat pagi, sebelum Riana bangun. Dia pulang sangat larut, saat Riana sudah menyerah menunggu di sofa ruang tamu. Pesan WhatsApp Riana? Hanya centang dua biru. Dibaca, tapi tidak dibalas. Telepon? Rejected.Riana merasa seperti orang gila.Ia duduk di meja makan rumah induknya yang megah, menatap piring di depannya.Di atas piring porselen itu tergeletak Wagyu Steak A
Pasar Modern di kawasan elit itu ramai oleh hiruk-pikuk akhir pekan. Aroma kopi yang baru digiling bercampur dengan dinginnya udara AC sentral.Riana mendorong troli belanja yang sudah separuh penuh, sementara Galih berjalan di sampingnya.Pemandangan ini menipu.Bagi orang asing yang melihat sekilas, mereka tampak seperti pasangan muda yang serasi. Riana mengenakan jumpsuit denim kasual yang memeluk tubuh, rambutnya diikat cepol asal-asalan namun stylish. Galih mengenakan kaos polo hitam yang pas badan dan celana chino, memperlihatkan lengan berototnya yang terbentuk sempurna.Tidak ada kacamata tebal hari ini. Galih memakai lensa kontak—atas paksaan Riana sebelum berangkat tadi."Ambilin beras yang 10 kilo dong, Ganteng," Riana menunjuk rak bagian bawah.Galih tidak membantah. Dengan satu tangan, ia mengangkat karung beras itu seolah seringan bantal, lalu meletakkannya ke dalam troli dengan bunyi buk yang m
Koridor menuju Kamar 101 terasa lebih panjang dari biasanya.Setiap langkah yang Riana ambil di atas lantai marmer dingin mengirimkan sensasi aneh yang menjalar naik ke perutnya. Ia mengenakan slip dress satin hitam selutut, dibalut kimono luar yang senada. Dari luar, ia terlihat elegan dan tertutup.Namun, Riana tahu apa yang—atau lebih tepatnya, apa yang tidak—ada di balik kain satin itu.Angin malam yang berhembus dari ventilasi lorong menyapu pahanya, mengingatkan Riana bahwa ia sedang menuruti perintah gila Galih: Jangan pakai celana dalam.Rasanya memalukan, tapi juga memabukkan. Ia merasa telanjang meski berpakaian lengkap. Ia merasa menjadi milik seseorang.Riana berhenti di depan pintu 101. Ia mengangkat tangan untuk mengetuk.Pintu terbuka sebelum tinjunya menyentuh kayu.Galih berdiri di sana.Ia mengenakan kemeja hitam yang sama dengan tadi sore, tapi kali ini kancing
Siang itu matahari Jakarta sedang terik-teriknya, seolah ingin melelehkan aspal jalanan. Namun, panasnya cuaca tidak menyurutkan semangat Bu Darmi untuk melakukan patroli rutinnya.Bu Darmi berdiri di depan pagar kos Riana, berpura-pura sedang memilih sayuran di gerobak Mang Ujang, tukang sayur keliling yang mangkal. Matanya yang tajam seperti radar menyapu halaman kos."Mbak Yuni!" panggil Bu Darmi nyaring saat melihat asisten rumah tangga Riana sedang menyapu halaman. "Itu si Ibu Kos tumben nggak kelihatan? Biasanya jam segini udah mejeng nyiram kembang."Mbak Yuni menyeka keringat di dahinya. "Ibu lagi istirahat di dalem, Bu. Pusing katanya.""Pusing atau 'pusing'?" Bu Darmi terkekeh penuh arti, menyenggol lengan ibu-ibu lain yang belanja. "Denger-denger kemarin malem ada suara ribut-ribut di gudang. Jangan-jangan ada tikus... berkaki dua."Mbak Yuni cemberut, tidak suka majikannya digunjingkan. "Tikus beneran kok, Bu. Kemarin Pak Galih bantu ng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.