LOGINSetelah Pak Jaenul resmi dibawa keluar gedung, suasana kantor belum juga kembali normal. Beberapa karyawan masih berbisik membicarakan apa yang baru saja terjadi. Tim legal mulai menyusun berita acara, sementara Maya, Bagas, dan Dito sibuk memastikan seluruh rekaman disimpan dengan aman. Di tengah kesibukan itu, Arlan hanya berkata pelan,"Aku mau sendiri dulu."Sevi yang berdiri di sampingnya sempat hendak mengikuti, tetapi langkahnya terhenti. "Lan..."Arlan tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan. "Nggak apa-apa, sayang. Aku cuma butuh waktu bentar."Sevi mengangguk pelan. "Oke, kalau butuh apa-apa aku di luar ya."Tanpa banyak kata, Arlan masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintu dari dalam.\\\Ruangan itu mendadak terasa begitu luas dan sunyi. Yang terdengar hanya dengungan pendingin ruangan dan suara kendaraan samar dari luar gedung.Arlan berdiri cukup lama di dekat pintu, seolah belum tahu harus melakukan apa. Pandangannya perlahan menyapu seluruh isi ruangan.Meja kerja, r
Senin pagi datang lebih cepat dari biasanya. Sejak pukul tujuh, Arlan sudah berada di ruang kerjanya. Tidak hanya dirinya, Sevi, Maya, Bagas, Dito, tim legal perusahaan, bagian HR, serta dua orang dari pihak berwenang yang sebelumnya telah dihubungi juga sudah berada di gedung. Mereka datang dengan pakaian biasa agar tidak menarik perhatian. Semuanya sudah ditata sejak malam, tidak ada lagi ruang untuk kesalahan. Arlan berdiri di depan jendela ruangannya, dengan tatapannya mengarah ke halaman parkir."Udah masuk?"Dito melihat layar CCTV. "Belum, Pak."Beberapa detik kemudian... "Itu, mobilnya."Semua orang spontan melihat monitor. Mobil Pak Jaenul perlahan memasuki area parkir seperti hari-hari biasa. Ia turun dengan wajah tenang, menyapa beberapa karyawan yang berpapasan. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa dirinya sedang diawasi.Arlan menarik napas panjang. "Oke, ayo."\\\Pukul delapan tepat, Pak Jaenul menerima pesan dari sekretaris untuk menghadiri rapat mendadak di ruang utama.
Pak Jaenul baru meninggalkan area produksi menjelang sore. Begitu mobilnya keluar dari gerbang pabrik, Dito mengembuskan napas panjang."Akhirnya kelar juga."Bagas yang masih memegang kamera segera mematikan mode perekaman."Udah cukup ini, video lengkap. Mukanya juga jelas."Maya mengangguk sambil kembali mengecek hasil rekaman. "Jangan sampai ada yang hilang. Backup sekarang ya gas."Tanpa menunggu lama, seluruh rekaman langsung dipindahkan ke dua perangkat berbeda. Maya bahkan mengunggah salinannya ke penyimpanan daring yang hanya bisa diakses oleh dirinya dan Arlan."Kalau kenapa-kenapa sama satu file, masih ada cadangan."Dito mengangguk. "Bagus, nggak boleh selip ini mah."Tak lama kemudian ponsel Maya bergetar, itu pesan dari Arlan."Langsung ke ruanganku. Jangan ngobrol di luar."\\\Beberapa puluh menit kemudian, keempat orang itu sudah berkumpul di ruang kerja Arlan. Pintu ditutup rapat, pun tirai jendela ikut ditarik.Arlan berdiri di depan meja kerjanya dengan kedua tanga
Minggu siang biasanya menjadi waktu paling lengang di area produksi. Sebagian besar mesin tetap beroperasi, tetapi hanya ditangani oleh tim yang mendapat giliran shift.Lorong-lorong pabrik terlihat lebih sepi dibanding hari kerja. Suara mesin pengolah susu justru terdengar lebih jelas karena minimnya aktivitas para karyawan.Di sisi lain gedung, Maya, Bagas, dan Dito masih menjalankan tugas yang diberikan Arlan. Mereka bergantian mengawasi agar tidak menarik perhatian."Masih di dalam?" bisik Bagas.Dito mengangguk. "Belum keluar, malah masuk lebih dalem."Maya mengangkat kamera kecil yang sedari tadi ia gunakan. "Jangan terlalu deket, aku takut ada CCTV yang ngerekam kita.""Tenang, ini masih jarak aman."Ketiganya berpencar beberapa meter agar tidak terlihat bergerombol. Tak lama kemudian... Pak Jaenul muncul di balik pintu ruang produksi.Pria itu mengenakan jas laboratorium putih lengkap dengan masker dan penutup kepala seperti prosedur standar di area steril. Namun yang membuat
Pagi di rumah utama dimulai dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Sevi sudah lebih dulu bangun membantu Mama menyiapkan sarapan. Dari dapur terdengar suara obrolan ringan diselingi tawa kecil. Aroma bawang putih yang ditumis bercampur dengan wangi kopi yang baru diseduh memenuhi hampir seluruh rumah."Sev, telurnya jangan kelamaan.""Iya, Ma.""Kalau gosong nanti Arlan ngambek."Sevi terkekeh. "Dia mah dikasih apa aja dimakan.""Heh, jangan fitnah calon suamimu." Suara Arlan terdengar dari ruang makan.Rambutnya masih sedikit berantakan, kaus rumahan yang dipakai membuatnya terlihat jauh lebih santai dibanding saat mengenakan jas di kantor.Mama langsung meliriknya. "Loh, bos besar udah bangun.""Iya Ma, laper.""Dasar."Ayah yang sedang membaca koran hanya menggeleng pelan melihat tingkah anaknya. "Dari kecil juga gitu, bangun-bangun nyarinya makan."Arlan menarik kursi sambil tertawa. "Kan energi harus diisi dulu.""Alasan."Sevi meletakkan sepirin
Suasana ruang keluarga kembali tenang. Angin sore masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Aroma teh hangat yang baru diseduh Mama memenuhi ruangan, membuat percakapan terasa lebih santai dibanding semalam.Ayah Arlan meletakkan cangkirnya di atas meja. "Lan.""Iya, Pa.""Kamu tahu kenapa Papa nggak pernah terlalu ikut campur urusan kantor kamu?"Arlan mengangguk pelan. "Karena Papa pengen aku belajar.""Bukan cuma itu." Ayahnya tersenyum tipis. "Karena itu memang perusahaan yang sekarang kamu pimpin, kalau Papa terus yang turun tangan, kapan kamu bisa ambil keputusan sendiri?"Arlan hanya mengangguk memahami. "Tapi..." Ayahnya melanjutkan. "Ada batasnya."Kalimat itu membuat Arlan kembali fokus."Selama Wijaya masih ngomong sebagai investor, masih ngasih masukan, atau sekadar beda pendapat. Hadapi sendiri, itu emang bagian dari pekerjaan."Arlan mengangguk. "Iya.""Nah..." Ayahnya mencondongkan badan sedikit. "Begitu dia mulai masuk ke ranah pribadi perusahaan... ngatur-ngatur or
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga
Malam turun tanpa suara ketika mobil Arlan berhenti di depan kontrakan kecil milik Sevi. Tidak ada percakapan sejak kalimat terakhir yang diucapkan Sevi di dalam mobil. Kalimat yang menyinggung masa lalu Arlan dengan Alya itu masih terngiang di kepala keduanya. Sevi turun tanpa menoleh lagi. Pintu
Pagi datang lebih lambat bagi Arlan dan Sevi.Matahari sebenarnya sudah cukup tinggi ketika sinarnya menembus tirai kamar. Namun di atas ranjang itu, keduanya masih enggan bergerak. Tubuh mereka terasa lelah setelah hari yang panjang kemarin, tetapi bukan hanya karena kelelahan fisik.Mereka hanya
Tangisan mereka akhirnya mereda.Kamar kembali sunyi, hanya tersisa suara napas yang perlahan mulai stabil. Sevi masih bersandar di dada Arlan. Tubuhnya sedikit lemas setelah menangis terlalu lama. Sementara Arlan menyender pada sandaran ranjang, satu tangannya terus mengelus rambut Sevi yang seten







