Short
Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah

Jatuh Cinta Pada Sahabat Ayah

Oleh:  KarenWTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
15Bab
3.6KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Aku pernah jatuh cinta pada sahabat ayahku, pria yang seharusnya kupanggil "Om", Kael Viraya. Awalnya, aku sempat berpikir dia juga mencintaiku. Kami bahkan punya janji konyol, yaitu kalau aku sudah berusia 27 tahun dan masih ingin bersamanya, kami akan bersama secara terbuka. Namun, lima hari sebelum ulang tahunku yang ke-27, tanpa sengaja aku mendengarnya berkata bahwa dia tidak pernah menyukaiku, bahwa dia akan menikahi cinta masa kecilnya. Seolah-olah itu belum cukup menyakitkan, dia bahkan berencana menjadikan pernikahan itu sebagai cara untuk benar-benar menyingkirkanku dari hidupnya. Jadi, akhirnya aku melakukan satu hal yang seharusnya sudah kulakukan sejak lama, yaitu menerima bahwa aku dan dia tidak akan pernah berada di dunia yang sama, lalu menghilang dari hidupnya untuk selamanya.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Sudut Pandang Sera:

Seperti biasa, hari ini aku mampir untuk memaksa Kael keluar makan malam. Namun, yang kudapat justru pengakuan bahwa dia tidak pernah menyukaiku dan justru menganggapku sebagai beban. Dia bahkan berencana menggunakan pernikahan palsu dengan cinta masa kecilnya untuk menghancurkan hatiku.

"Kamu mau menikah sama Vivian? Dan acaranya lima hari lagi?" Suara seseorang terdengar tidak percaya.

Suara Kael terdengar jelas dari balik pintu. "Iya. Dia bahkan sudah fitting gaunnya."

Aku langsung terpaku, jari-jariku mencengkeram tas lebih erat.

Suara pria lain menimpali, "Tunggu, terus anaknya Lusian, Sera, gimana? Bukannya kalian berdua ada hubungan? Maksudku, kami semua kira kalian tinggal tunggu diumumkan saja."

Napasku tercekat saat mendengar namaku sendiri.

Dia terdiam sesaat. Diam yang panjang dan terasa lambat.

Kemudian, Kael tertawa kecil.

"Memangnya kenapa?" katanya santai. "Aku nggak pernah berniat menjadikannya pacarku. Coba pikir, Lusian bisa membunuhku. Lagian dia bukan tipeku. Nggak seperti Vivian."

Bukan tipenya. Dia tidak ... tertarik.

Rasanya sangat sakit mendengarnya.

Pria itu masih mendesak, "Tapi kalau kamu sama Sera, Lusian pasti bakal mendukungmu. Dia sangat menyayanginya. Kalau kamu menikahinya dan mengambil alih Keluarga Darama, kamu bisa jadi pria paling berkuasa di Kota Noya."

Kael tertawa lagi, seolah-olah semua itu tidak berarti. "Iya, tapi aku nggak mencintainya. Aku sudah mencintai Vivian sejak lama."

Dia mengatakannya begitu saja, dadaku terasa seperti hancur.

Dia masih melanjutkan, "Pernikahan ini nggak akan resmi. Aku tahu Sera suka padaku. Aku cuma memanfaatkan ini untuk menjauh darinya selamanya. Sekalian juga, semoga bisa membuat Vivian melihatku dengan cara yang berbeda."

"Selama ini dia cuma menganggapku teman, tapi setelah pernikahan, siapa tahu? Mungkin akhirnya dia melihatku seperti aku melihatnya. Setelah bertahun-tahun, mungkin kali ini berhasil."

Satu langkah. Dua tujuan.

Aku tertawa pahit, tubuhku gemetar. Astaga, sebodoh apa aku selama ini? Sampai berpikir aku dan Kael bisa bersama?

Aku bisa merasakan darahku menyusut, jari-jariku mati rasa, dan lututku lemas.

Aku berbalik, mundur dari pintu selangkah demi selangkah.

Suara Kael perlahan menjauh, tetapi kata-katanya tidak. Semuanya terus bergema tajam dan tanpa ampun di kepalaku.

"Aku nggak mencintainya ...."

"Bukan tipeku ...."

"Menjauhkannya untuk selamanya."

Satu per satu menghantam lebih keras dari sebelumnya.

Jadi selama ini .... Makan malam larut, hadiah-hadiah, bisikan pelan yang berubah jadi ciuman itu, semuanya bohong?

Apa dia hanya berpura-pura, sementara aku percaya pada masa depan yang bahkan tidak pernah dia inginkan?

Hanya satu pikiran yang tersisa di kepalaku. Aku harus pergi dari sini.

Jadi aku berlari.

Sambil berlari, pikiranku tanpa sadar kembali ke malam semuanya bermula. Ulang tahunku yang ke-21.

Hari itu, ayahku mengadakan pesta besar dan Kael minum lebih banyak dari biasanya sepanjang malam.

"Sera sayang," kata ayahku sambil menepuk punggungku. "Tolong antar Kael ke kamar tamu ya."

Aku menurut.

Kuselipkan lenganku di bawah lengannya dan membantunya menaiki tangga, langkah demi langkah. Dia bergumam bilang dirinya baik-baik saja.

Aku mengabaikannya.

Saat akhirnya kubaringkan dia di tempat tidur kamar tamu, aku ragu. Tatapanku tertahan di kancing paling atas kemejanya, mempertimbangkan apakah aku harus membantunya melepas pakaian.

Sejak dulu aku tahu aku punya perasaan untuknya. Itu terlarang. Aku sadar. Ayahku bahkan menyuruhku memanggilnya "Om Kael".

Namun, aku meyakinkan diri sendiri bahwa dia hanya sepuluh tahun lebih tua dariku. Apa yang kurasakan, apa yang mungkin kami miliki, masih bisa diterima.

Jadi malam itu, untuk pertama kalinya, aku memutuskan untuk bersikap lebih berani.

Tanganku terulur. Ujung jariku menyentuh kerahnya dan perlahan, dengan sengaja, kubuka kancingnya. Kemudian, satu lagi.

Tangan Kael langsung bergerak, lebih cepat dari yang kuduga dan menangkap tanganku.

"Sera," katanya pelan, suaranya rendah, matanya sedikit kabur tapi fokus. "Kamu lagi ngapain?"

Aku terdiam membeku.

"Aku ... cuma mau bantu," gumamku, menatap ke mana saja selain wajahnya.

Dia tidak melepaskan tanganku cukup lama. Dia hanya menatapku, mendekatkan jarak di antara kami.

Dia tertawa pelan. "Kalau aku nggak tahu apa-apa," gumamnya. "Aku bisa saja mengira kamu tertarik padaku."

Nada suaranya dingin, tetapi anehnya menggoda.

"Kalau memang iya?" balasku, sebelum sempat berpikir.

Sudut bibirnya terangkat. "Kamu ingat aku ini teman ayahmu, 'kan? Aku Om Kael."

"Terus kenapa?" Aku mendekat, bibirku hanya berjarak sejengkal darinya. "Kamu cuma sepuluh tahun lebih tua. Apa melakukan sesuatu yang terlarang sudah nggak menarik lagi buatmu? Ayahku masih di bawah. Dan kita berdua ...."

Tatapannya turun ke bibirku, tetapi dia tidak menjauh.

"Kael yang hebat takut sama perempuan 21 tahun?" bisikku.

Dia menghela napas kecil, lalu tertawa. "Aku nggak pacaran dengan perempuan yang terlalu muda."

Kemudian, dia memiringkan kepala, seolah-olah berpikir. "Tapi kalau kamu sudah 27 tahun dan masih menyukaiku, mungkin bakal kupikirkan kembali."

Alisku terangkat. "Janji?"

Genggamannya di tanganku sedikit menguat. "Janji."

Aku mencondongkan tubuh ke depan, lalu mengecup bibirnya. "Sudah disegel. Sekarang kamu nggak bisa mengingkarinya."

Saat itu terasa begitu romantis. Seperti cerita dongeng.

Dulu, aku juga berpikir begitu.

Aku hanya tidak pernah menyangka semuanya akan berakhir seperti ini setelah aku mendengar Kael terang-terangan mengakui dia tidak pernah menyukaiku, selalu menganggapku tidak lebih dari sebuah beban.

Aku bahkan tidak sadar sudah berlari sejauh apa sampai suasana di sekitarku berubah. Suara kota meredup. Aku melambat, napasku gemetar. Aku mendapati diriku berdiri di depan sebuah toko es krim.

Di dalam, sepasang kekasih tertawa sambil berbagi satu es krim. Di kaca, justru aku melihat bayanganku sendiri, mata merah, tangan gemetar, versi diriku yang tidak tahu harus melakukan apa.

Kecuali ... sebenarnya aku tahu apa yang harus kulakukan.

Aku mengeluarkan ponsel dan menekan tombol panggil.

"Ibu?" Suaraku pecah. "Aku kepikiran untuk terbang ke Ivia, mau nyusul Ibu sama Ayah."

Beberapa detik hanya terdengar suara statis, lalu suara hangat yang kurindukan muncul. "Sera! Akhirnya! Kamu mau liburan, atau ...?"

"Bukan." Aku menelan ludah, pandanganku kabur menatap kaca. "Aku mau pindah. Kali ini benar-benar pindah."

Ada keheningan sesaat. Kemudian, disusul tawa kecil penuh kelegaan. "Baiklah, Sayang. Santai saja. Kami tunggu di sini."

Aku mengangguk, meski ibuku tidak bisa melihatku, lalu mengusap wajah dengan punggung tangan.

"Tinggal beberapa hari lagi," bisikku. "Aku bakal bereskan semuanya, lalu pergi dari Kota Noya."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
15 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status