MasukSiapa Chu Zhao? Terlepas dari apa pun, nama General Chu saja sudah cukup keras untuk membuat orang melihat ke atas, tetapi nama keluarga yang mulia dan keras ini masih tidak dapat menutupi kecemerlangan Chu Zhao.
Ketika dia baru berusia sepuluh tahun, Chu Zhao dipromosikan menjadi jenderal kecil berdasarkan kemampuannya dalam peperangan yang luar biasa dan eksploitasi tempur yang luar biasa. Dia adalah jenderal kecil termuda di seluruh negeri bahkan pertama kali dalam ratusan tahun.
Sekarang pada usia hampir delapan belas tahun, ia telah berulang kali memenangkan pertempuran di perbatasan, dan telah berulang kali menjaga kedamaian. Dia benar-benar menjelma menjadi Dewa laki-laki perang tingkat Super di seluruh negeri Beixin.
Selain itu, status putra Jendral kekaisaran juga membawanya ke tingkat yang lebih tinggi lagi, ditambah dengan wajahnya yang terpahat beku dari awal hingga akhir, seperti temperamen yang ditolak oleh gunung es yang bergerak ribuan mil jauhnya, itu membuatnya semakin tak terjangkau dan tak terjangkau, selalu seperti dewa yang ada di atas khayangan.
Tetapi untuk karakter seperti dewa, dia sering diangap sebagai seorang lelaki tua miskin yang dikatakan tidak berharga pada usia 30 tahun oleh para tetua disana. Banyak yang mengkhawatirkan masa depan Chu Zhao dalam pernikahannya. Bukankah ini kisah dunia?
Ya, Chu Zhao yang selalu dingin dalam peperangan, nampak memiliki dua kepribadian yang berbeda. Saat dia bertemu dengan musuh dan pejabat istana, dia akan sangat tegas dan irit bicara, tidak banyak kata yang diucapkannya. Dia bagaikan buah prem yang dikeringkan, begitu para tetua menganggapnya. Namun, jika dia berada dalam lingkungan keluarganya, sifat Chu Zhao yang sangat menjengkelkan ibu dan saudara – saudaranya akan keluar. Sungguh dia bagaikan dua orang yang berbeda.
Song Yaoyi, Ibunya awalnya tidak mengkhawatirkan hal ini, namun lama kelamaan dia kembali merenungkannya dan mulai meresahkannya. Dia tidak mau Chu Zhao menjadi 'prem kering'. Song Yaoyi bahkan tidak bisa tidur karena memikirkannya.
Chu Wei, sang Jendral Agung, Ayah Chu Zhao dan juga suami Song Yaoyi masuk ke dalam kamarnya.
“Kenapa?” Chu Wei masuk dan menatap Song Yaoyi lama.
“Kamu sudah selesai?” Song Yaoyi menguap lagi. Matanya sudah merah dan kantung matanya terlihat sedikit bengkak.
“Heem. Kamu tidak tidur?” Chu Wei mendekati Song Yaoyi, mengelus pelan rambutnya yang terburai di bahunya.
“Aku tidak mau Chu Zhao menjadi 'prem kering'…” Song Yaoyi memajukan bibirnya. Chu Wei tertawa ditahan, mungkin karena Song Yaoyi sering bersama Chu Yiyi putri bungsu mereka, belakangan tingkahnya banyak persamaan.
Song Yaoyi menatap Chu Wei yang sedang mengulum senyum, “Aku tidak mau Chu Zhao menjadi 'prem kering'…” ucapnya lagi.
“Apa?!” Chu Wei tidak bisa tidak mengerutkan keningnya. Apa Chu Zhao suka makan prem kering sekarang?
“Kamu coba bicarakan pikirkan bagaimana caranya. Aku tidak mau anak ku menjadi 'prem kering'…” Song Yaoyi berkata dengan putus asa.
Chu Wei masih dengan ekpresi yang sama, dia tidak mengerti. “Anakmu? Prem kering? Apa maksudnya?”
“Aku takut Chu Zhao akan menjadi 'prem kering'. Dia terlalu kaku dan tidak menyenangkan, aku tidak mau dia mati sendirian.”
“Hah…” Chu Wei menghembuskan nafasnya kencang. Rupanya ini, perbincangan para tetua beberapa waktu lalu mengenai Chu Zhao yang membuat Song Yaoyi istrinya berlarut – larut dalam pikirannya.
“Song Yaoyi…, Chu Zhao baik – baik saja. Dia tidak akan menjadi buah kering seperti pikiran orang - orang tua itu." Chu Wei berusaha menenangkan Song Yaoyi.
"Tapi dia terlalu kaku. Tidak ada gadis yang tahan dengan sikap itu. Chu Wei… kamu harus memikirkan caranya…” Song Yaoyi menempelkan kepalanya ke dada Chu Wei.
“Apa yang harus dipikirkan. Bukankah kamu selalu memiliki beribu cara. Zhi Zhi… lakukan saja seperti yang biasanya…” Chu Wei mencium pucuk rambut istrinya yang masih berantakan.
Song Yaoyi mendengus. “Kamu mandi dulu sana…”
Chu Wei mendengus geli. Ini tetaplah istrinya. Dia menjetikan jarinya di dahi Song Yaoyi dengan gemas.
“Kamu bau… segera mandi.” Song Yaoyi bangkit dari tempat tidurnya dan mulai mempersiapkan pakaian ganti Chu Wei. Lalu memberikannya segera. “Ayo… bukankah kamu harus ke pengadilan besok pagi.”
Chu Wei yang masih merasakan gemas terhadap istrinya, lalu menariknya kedalam pelukannya dan menciumnya dengan rakus.
*
Sementara Jendral Chu Zhao yang dikhawatirkan Ibunya akan menjadi buah plum kering sedang berada diatas kuda, berjalan cepat menuju pinggir kota. Ada tugas lain yang diberikan oleh Kaisar untuknya.
Sebuah ledakkan keras telah terjadi yang menghanguskan sebuah wilayah. Anehnya ledakkan itu tanpa residu. Bahkan tanpa menyisakan jejak korban. Kaisar sudah menutupi berita ledakkan itu. Setidaknya sampai mendapatkan jawaban, ledakkan apa itu? Apa jenis dan bahannya? Agar rakyat tidak merasa ketakutan.
Penyelidikan Chu Zhao untuk mengidentifikasi ledakan itu membuatnya mengumpulkan orang – orang yang aktif dalam kajian dan karya ilmiah. Beberapa nama muncul dengan penilaian menakjubkan. Chu Zhao sudah menelitinya satu persatu. Dia tidak memperdulikan gender. Lihat saja Ibunya, dia lihai dalam segala hal. Jadi pikirannya tidak lah cupat. Baik laki – laki maupun perempuan, semua yang berbakat akan dia tanyai.
Satu nama tersisa, Ji Yuan. Salah satu pemenang seleksi Guru Akademi Putri Kekaisaran. Essay dalam ujian seleksinya banyak menjelaskan mengenai materi dan ledakkan. Chu Zhao harus bertemu dengannya. Dia mungkin saja tau mengenai kejadian itu. Atau paling tidak, dia tau mengenai jenis dan bahan ledakkan itu.
Oleh sebab itu, saat Chu Zhao keluar istana, dia sudah menyuruh dua anggota kepercayaannya, untuk membawa Ji Yuan ke ‘markas’ nya yang berada di pinggir Ibu kota besok pagi. Tapi malam ini, Chu Zhao harus mempelajari semua dokumen juga laporan mengenai ledakkan itu. Untuk itu dia harus bekerja keras, dan pergi ke kamar kerjanya di 'markas' malam ini juga.
Setelah makan malam keluarga, saat semua keluarganya tertidur, Chu Zhao mengendarai kudanya menuju ‘markas’ di ujung kota.
****
“Berhasil…” ucap Ji Yuan pelan.“Apa katamu?” ucap Bibi Jiang. Dia mendengar Ji Yuansmengatakan sesuatu namun dia tidak dapat mendengarnya dengan jelas.“Selesai Bibi. Kita berhasil.” jawab Ji Yuan kali ini dengan suara yang lebih lantang.“Kamu yakin?” tanya Bibi Jiang.“Ya. Hanya saja kita perlu mencobanya.” Jawab Ji Yuan.“Mencobanya? Apa maksudmu?” Tanya Bibi Jiang dengan kebingungan.“Ya kita perlu mencobanya dulu.” Ucap Ji Yuan.Ji Yuan mengambil beberapa bungkus anti materi b*m diatas meja dan berjalan keluar ruang berkubah.Sebenarnya pembuatan anti materi b*m ini tidak sulit untuk Ji Yuan. Dia jaman modern dia pernah membuatnya beberapa kali. Namun kini di jaman kuno, terasa akan lebih sulit karena kekurangan alat dan bahan yang masih sangat mentah. Sehingga Ji Yuan harus mengekstrasi bahannya satu persatu sehingga memerlukan waktu yang lebih lama.Bibi Jiang mengikuti Ji Yuan ke luar ruangan berkubah.Ji Yuan berjalan menuju kumpulan pengawal dan pasukan Chu Wei yang ditingg
Hari ke empat hingga ketujuh semua masih berjalan seperti biasa. Chu Yaoyao sudah bisa menjalani dengan ringan. Dia sudah terbiasa. Dan lagi keadaan pasien – pasien dengan luka berat (para prajurit Chu Zhao) sudah lebih baik.Peilu sudah bisa bernafas normal. Paru – parunya mengalami peningkatan penyembuhan setelah beberapa kali meminum ramuan obat yang dibuat oleh Ji Yuan. Bibi Jiang sendiri memberikan ramuan lain untuk mempercepat pengeringan lukanya. Kini, Peilu sudah bisa duduk dan bergerak ringan di atas tempat tidur.Dingbang juga sudah lebih baik. Bengkak di kakinya sudah hampir hilang. Kini yang tersisa adalah perawatan lukanya, baik itu luka di kaki dan tangannya. Paru – parunya juga sudah membaik. Luka kecil pada paru – parunya akibat hembusan panas dari b*m dahsyat itu telah sembuh beberapa hari lalu. Kini Dingbang hanya menunggu luka – lukanya mongering. Yang menurutnya luar biasa adalah luka bakar pada tangannya, luka itu kini sudah tidak sakit lagi. Memang masihlah ditut
Selesai menemui Nenek Buguo dan Pingguo kecil, Chu Yaoyao kembali menghampiri Song Yaoyi di taman belakang bangunan utama halaman miliki Bibi Jiang.“Ibu~” Chu Yaoyao langsung duduk meringsek Song Yaoyi dan memeluknya erat.“Apa kamu sudah selesai?” Song Yaoyi tersenyum dan memeluk Chu Yaoyao.“Sudah Ibu.” Chu Yaoyao meletakkan kepalanya pada pangkuan Song Yaoyi dan menarik nafas panjang.“Ada yang ingin Ibu bicarakan. Ibu akan kembali ke Rumah Utama Kediaman Jendral Agung Chu, untuk ke mengaburkan fakta jika di halaman Bibi Jiang sedang ada beberapa pasukan Chu Zhao yang terluka.” Ucap Song Yaoyi sambil mengusap kepala Chu Yaoyao yang ada dipangkuannya.Chu Yaoyao segera mengeluarkan suara keberatannya.“Apa yang kamu lakukan? Ibu harus melakukan itu, agar tidak ada yang mencurigai aktivitas di halaman Bangongshi. Kita tidak ingin orang lain tau mengenai hal ini. Ibu yakin fraksi pendukung Selir Tua Gui sedang mengawasi semua orang. terlebih keluarga Jendral Agung Chu.” Song Yaoyi be
Keesokan harinya, halaman Bangongshi milik Jendral Agung Chu sangat sibuk. Prajurit dan pelayan yang dimiliki Chu Wei, mulai bergerak keluar dengan hati – hati untuk mencari bahan obat – obatan dengan bantuan jaringan perdagangan yang dimiliki Song Yaoyi dan Zhu Yu. Zhu Yu sendiri bahkan ikut sibuk untuk mencari dan memastikan bahan – bahan tersedia.Beberapa Prajurit bahkan mencari Ikan salmon dan Ikan Aselarat dengan terjun langsung ke sungai – sungai berarus deras. Mereka menjaring dengan hati – hati dan juga sembunyi – sembunyi.Chu Yaoyao sudah sibuk sejak pagi. Dia mempersiapkan obat dan peralatan pergantian perban dan olesan obat untuk luka bakar. Ji Yuan sudah memberikan resepnya dan sudah menuliskan Langkah – Langkah pembuatannya dengan sangat rinci. Chu Yaoyao tidak merasa kesulitan membuatnya. Dalam hatinya dia berpikiran jika Ji Yuan memang sangat tepat menjadi guru. Karena Ji Yuan menuliskan baik cara pembuatannya maupun cara memberikan obat – obatannya dengan sangat deta
Ji Yuan duduk di atas tempat tidur di dalam kamar Bibi Jiang. Di sebelahnya Chu Yaoyao berbaring setengah badan. Kakinya lurus memanjang di atas lantai. Sementara Bibi Jiang terlentang dan sedang memukul – mukul pinggangnya.Song Yaoyi yang duduk di dekat Chu Yaoyao sambil memijat tangan Chu Yaoyao menatap mereka dengan tatapan kasian. Chu Wei berdiri menatap jendela dengan tenang.Pingguo kembar masuk kedalam kamar dengan perlahan. Pingguo kecil membawa baki kecil berisi botol – botol yang juga berukuran kecil. Sedangkan Pingguo besar membawa gelas – gelas berisi air gula hangat.Keduanya meletakkan baki – baki itu diatas meja, lalu dengan sopan Pingguo kecil memberikan gelas gelas berisi air gula merah pada masing – masing orang yang ada di dalam ruangan.“Terima kasih.”“Mengapa kamu disini? Seharusnya kamu beristirahat. Kamu pun masih dalam tahap pengobatan?” Tanya Chu Yaoyaou pada Pingguo kecil.“Nona saya sudah merasa lebih baik.” Pingguo kecil menajawab dengan penuh hormat.“Se
Halaman Bangongshi, sangat sibuk malam ini, terutama Bibi Jiang dan Chu Yaoyao. Anggota pasukan Chu Zhao dikirim langsung ke halaman Bongongshi tanpa kereta. Mereka di bopong dengan rekan sesama pasukannya bergantian hingga bisa sampai pada halaman Bangongshi dalam satu dupa.Setelah menyerahkan ketiga rekannya yang sedang dalam kondisi terluka parah, ke duabelas anggota pasukan Chu Zhao lainnya langsung terduduk lemas. Malah ini energi mereka terkuras habis.Beberapa penjaga di halaman Bangongshi segera memberikan mereka air madu untuk membantu mereka meraih energi mereka kembali.Song Yaoyi bahkan keluar menemui mereka dan memberikan mereka kurma merah yang sangat mahal untuk mengembalikan kondisi mereka.Saat ini, Chu Yaoyao, Bibi Jiang dan Ji Yuan sedang mengobati pasukan yang terluka.Satu orang prajurit Chu Zhao bernama Peilu, terluka parah akibat sabetan benda tajam di bagian punggungnya. Lukanya dalam dan menembus organ paru – parunya. Chu Yaoyao sedang mengobatinya dan menut
Jendral Foxli mengubah tujuannya secepat kilat. Seorang anak buahnya melaporkan melihat seorang pemuda berambut coklat di pertokoan elite Kota Fulong. Tanpa pikir panjang Jendral itu pun berubah tujuan dan segera ke pertokoan yang dimaksud.Dia melihatnya, Pemuda kurus dan pendek berambut coklat da
Murong Feng mengatur beberapa anak buahnya untuk membeli semua persediaan bahan – bahan yang sudah dituliskan oleh Ji Yuan tadi. Menghentikan pendistribusiannya, dan mendata pabrik – pabrik yang menggunakan bahan – bahan itu, lalu mengawasinya dengan ketat. Jangan sampai ada bahan – bahan itu yang
Ji Yuan mengelilingi lima bangunan yang hancur dengan berhati – hati. Ji Yuan banyak berhenti dan memeriksa di beberapa tempat. Mengambil beberapa bubuk, tanah, dan serpihan benda tertentu dan memasukkannya ke dalam suatu wadah yang Murong Feng bahkan tidak tahu apa namanya.Sepanjang jalan Ji Yuan
Kereta kuda sudah terparkir di pintu belakang kediaman Gubernur Bongshi. Lubou sudah menyiapkan kudanya dan beberapa perbekalan dan senjata mereka. Acugo juga telah bersiap, dia mengenakan pakaian seorang kusir biasa, dan seorang anak buahnya bernama Quzo, seorang prajurit yang sangat mahir bermain







