Compartir

Sandera

Autor: Dwrite
last update Fecha de publicación: 2026-07-24 16:54:27

"Papa ... Mama ... Dara takut, Dara mau pulang."

Suara Dara masih menggema di kepalaku bahkan setelah rekaman itu berhenti.

Tiga kata sederhana yang berhasil menghancurkan seluruh pertahananku.

Tanganku langsung lemas. Ponsel nyaris terjatuh dari genggaman. Lututku kehilangan tenaga hingga aku terduduk di lantai ruang kerja Kang Epen.

Air mata mengalir tanpa suara. Dara ketakutan.

Dara menangis. Namun, selama ini kami bahkan tidak tahu dia berada di mana.

"Dina." Kang Epen berjongkok di h
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Titik Balik

    Alih-alih pergi ke gudang pelabuhan kami pergi ke salah satu villa milik Bara yang ada di daerah puncak berdasarkan arahan Vony. Suara tembakan terdengar bersahutan. Teriakan memenuhi udara. Aku menunggu di mobil bersama Vony, mulai sekarang aku akan memanggilnya dengan nama seharusnya karena ternyata dia perempuan baik juga malang. Tanganku dingin. Jantungku nyaris berhenti. Sampai akhirnya salah satu pengawal berlari mendekat. "Kita berhasil! Karena Bara mengerahkan semua pasukannya ke pelabuhan, keamanan di sini mudah ditembus!" Aku langsung berdiri. "Mana Dara?" Pria itu tersenyum. "Tenang saja, Nona Dara sudah ditemukan Begitu juga dengan adik Anda. Dia baik-baik saja." Dunia seolah berhenti. Air mataku jatuh begitu saja. Ditemukan. Dara dan Tami ditemukan. Aku bahkan tak sadar sedang berlari. Sampai akhirnya kulihat sosok kecil itu. Duduk di dalam ambulans. Tubuhnya lebih kurus. Wajahnya pucat. Tapi dia masih Dara. Masih anak yang sama. "Dara ....

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Penyergapan

    Ponselku yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar berkali-kali. Nama Syafira muncul di layar. Entah kenapa dadaku langsung dipenuhi kecemasan tak terbendung. Karena rasanya belum reda rasa shock melihat Tami yang tiba-tiba ada di belakang Dara, seakan memperkuat bukti bahwa Tami juga diculik, tak lama Syafira juga menghubungi! Baru saja kuangkat, suara tangis di seberang sana langsung membuat seluruh tubuhku menegang. Tubuhku lemas seketika saat mendengar keterangan adik tertuaku itu. "Teh ...!" isak Syafira terdengar putus-putus. Napasnya memburu seperti habis berlari. "Teh... Tami...!" Aku spontan berdiri hingga kursi di belakang bergeser keras. "Ke-kenapa sama Tami?" tanyaku cepat. Meski sudah tahu jawaban tapi aku tetap menanyakan kronologinya. "Dia ... dia diculik, Teh!" Aku mencengkeram ponsel dan memejamkan mata. "Gi-gimana?" Suaraku nyaris tak keluar. "Gimana bisa? Kalian lagi sama dia, kan?" "Ya, tadi... tadi ada mobil van item berhenti mendadak

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Sandera

    "Papa ... Mama ... Dara takut, Dara mau pulang." Suara Dara masih menggema di kepalaku bahkan setelah rekaman itu berhenti. Tiga kata sederhana yang berhasil menghancurkan seluruh pertahananku. Tanganku langsung lemas. Ponsel nyaris terjatuh dari genggaman. Lututku kehilangan tenaga hingga aku terduduk di lantai ruang kerja Kang Epen. Air mata mengalir tanpa suara. Dara ketakutan. Dara menangis. Namun, selama ini kami bahkan tidak tahu dia berada di mana. "Dina." Kang Epen berjongkok di hadapanku. Tangannya meraih pundakku pelan. Namun aku hanya bisa menggeleng. "Kang ...." Suaraku pecah. "Dia pasti takut banget." Dadaku terasa diremas. Aku masih ingat bagaimana Dara selalu mencari Kang Epen saat mimpi buruk. Gadis kecil itu tidak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak kalau belum dipeluk Papanya. Bahkan ketika hujan deras turun, dia akan berlari ke kamar kami sambil membawa boneka kelinci lusuhnya. Sekarang ... entah siapa yang memeluknya. Entah siapa yang menghapus air ma

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Ancaman (2)

    Foto itu membuat seluruh darah di tubuhku seperti membeku.Tanganku gemetar saat memperbesar gambar yang baru saja masuk. Wajah Dara terlihat jelas. Rambutnya sudah lebih panjang dari terakhir kali kami bertemu. Pipi gadis kecil itu sedikit lebih tirus. Namun gelang kelinci merah muda yang melingkar di pergelangan tangannya membuatku langsung mengenalinya.Itu Dara. Benar-benar Dara. Masih hidup.Air mataku langsung jatuh."Kang ...." Suaraku bergetar hebat. "Itu Dara."Kang Epen tidak menjawab. Rahangnya mengeras begitu kuat sampai otot di pelipisnya terlihat menonjol. Tatapannya terpaku pada layar ponsel seolah sedang berusaha mengendalikan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak.Aku terus memperbesar foto itu. Lalu sesuatu membuat napasku tercekat."Kang.""Ya?" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan."Itu siapa?" Jari telunjukku menunjuk ke bagian belakang foto.Beberapa anak terlihat duduk berdekatan. Ada yang mungkin berusia delapan tahun. Ada yang lebih kecil. Wajah mereka muram.

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Ancaman

    Setelah akhirnya mengetahui sebagian kebenaran, pikiranku bukannya tenang, malah terasa semakin penuh dengan kemungkinan -kemungkinan yang menakutkan. Saat ini aku sedang duduk di balkon kamar sambil memeluk lutut. Angin malam berembus pelan membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Lampu taman menyala temaram di bawah sana. Sesekali terdengar suara jangkrik dari balik pagar belakang rumah. Sudah dia hari sejak percakapan kami di rumah sakit dan kudengar kondisi Ceu Epon atau Vony berangsur-angsur membaik, kami memutuskan pulang. Namun, setelah itu kepalaku sama sekali tak bisa tenang. Justru makin banyak hal yang kupikirkan. Tentang ancaman yang selama ini ternyata berjalan diam-diam di sekeliling kami. Dan yang paling membuatku sesak adalah menyadari bahwa selama berbulan-bulan Kang Epen menanggung semuanya sendirian. Pintu balkon terbuka pelan. Aku tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Langkah kaki itu sudah terlalu kukenal. Kang Epen berjalan mendekat lal

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Gelap dan Berbahaya

    "Aku minta maaf, Kang." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku. Matanya bergerak menatapku. "Aku sempet nuduh akang macem-macem." Aku menunduk. Suaraku mengecil "Aku marah. Aku bahkan sempat percaya sama omongan orang lain dibanding percaya sama suami sendiri." Keheningan sesaat mengisi ruang di antara kami. Lalu kurasakan jemarinya mengusap punggung tanganku perlahan. "Aku juga salah," katanya. Aku mengangkat kepala. Kang Epen mengembuskan napas panjang. "Aku terlalu terbiasa nyelesaiin semuanya sendiri." Tatapannya beralih ke pintu IGD yang masih tertutup. "Aku pikir kalau kamu nggak tahu, kamu bakal aman. "Tapi kenyataannya malah bikin aku tambah curiga," gumamku lirih. "Iya." Dia mengangguk pelan. "Aku baru sadar." Dadaku kembali menghangat. Karena lelaki seperti Kang Epen bukan tipe yang mudah mengakui kesalahan. Ego dan keras kepalanya bahkan sering membuatku ingin menjambak rambut sendiri. Tapi malam ini dia mengakuinya. "Aku takut, Kang." Suara itu keluar nyari

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   22. Panggil Papa

    Keheningan menyebar ke seluruh penjuru ruang makan. Aku sampai bingung harus bagaimana. Mau nyusul Kang Epen, masih lapar. Mau lanjut makan, takut dicap nggak peka. Paling ngeselin memang kalau orang debat sambil makan. Begitu ada yang tersinggung, makanan langsung ditinggal. Yang kasihan itu o

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   19. Hidup Layak

    Menepi dari keramaian pesta, Kang Epen membawaku ke sebuah ruangan tertutup di sisi belakang rumah. Begitu pintunya dibuka, aku langsung bisa menebak fungsi tempat itu. Ruang karaoke. Interiornya dibuat mewah dengan lampu remang berwarna keemasan, sofa panjang berbentuk U, juga layar besar di din

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   15. Privat Jet

    Bunyi weeker terdengar nyaris di seluruh penjuru kamar. Dalam penerangan seadanya kugapai-gapai nakas, dan bergegas mematikan. Aku tak ingat sempat berapa jam terlelap, karena setelah pulang tengah malam, aku melanjutkan packing untuk keberangkatan ke Kalimantan hari ini. Sebab selain seenaknya m

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   7. Tipe Ideal

    "Aaargh!" Kang Epen terlonjak begitu melihatku berdiri di samping ranjang memerhatikannya. "Ngapain kamu di sini?" "Penasaran, pengen liat orang cakep kalau bangun tidur gimana? Ternyata bisa belekan sama ileran juga." Aku nyengir. Dia langsung menyeka sudut bibirnya dan beringsut menjauhi. "U

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status