Beranda / Romansa / Jerat Cinta Pak Dosen / Bab 3 - Menakutkan

Share

Bab 3 - Menakutkan

Penulis: Riski Hakiki
last update Tanggal publikasi: 2025-01-03 16:06:22

Jim menatap lurus ke depan. Tak peduli dengan kehebohan mahasiswi yang terjadi di sepanjang dia melangkahkan kaki melewati koridor universitas yang terkenal di negeri dengan julukan The Smoke ini.

Dia baru masuk universitas sekali, dan siswi menyebalkan yang berani meninggalkan kelasnya, sudah membuatnya menjadi bahan tontonan publik.

Bagaimana tidak?

Layaknya seperti pria kurang kerjaan, saat ini dia tengah menarik kursi mahasiwi itu ke tengah lapangan basket yang sialnya berada di lantai bawah. Belum kesialan baru di mana dia mendapati jika lift tidak bisa digunakan. Akhirnya, mau tidak mau dia harus melewati tangga darurat dengan raut wajah kesal menahan marah. Rasanya, ingin sekali dia menyantap mahasiswi itu mentah-mentah.

"Benar-benar hari yang menyebalkan." Jim menghela napasnya kasar.

Salahnya juga kenapa harus merepotkan dirinya dengan hal tak penting ini. Akan tetapi, demi menjaga kedisiplinan serta predikat dosen killer yang harus dia dapatkan selama beberapa bulan ke depan agar tak ada seorang pun yang berani macam-macam, memberi mahasiswi itu hukuman tentulah tidak boleh dia sia-siakan.

Biar semua orang tahu, siapa pun yang berani mengusik ketenangannya selama menjadi dosen pengganti di universitas ini, akan mendapat hukuman setimpal seperti mahasiswi pemilik kursi ini.

Jim melepaskan pegangannya pada lengan kursi yang dia jinjing sehingga membuat kursi itu tergeletak cukup sadis. Baginya, membawa kursi itu sampai ke tengah lapangan tidak ada apa-apanya, pun mengangkat 20 kursi sekalipun, ototnya lebih dari mampu untuk melakukannya. Akan tetapi, untuk ukuran seorang mahasiswi yang lemah, pastilah hukuman yang dia berikan kali ini akan memberikan efek jera.

Tak lama kemudian, beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang penasaran akan kelanjutan drama baru antara dosen baru itu dengan pemilik kursi yang tak lain adalah Angelina, mulai berdatangan. Mereka bahkan memadati kursi penonton seolah ingin menyaksikan sebuah pertandingan.

Hal baru ini tentu saja membuat mereka penasaran, apa saja yang akan dilakukan oleh dosen baru yang mendikte dirinya sebagai dosen anti masalah itu ketika bertemu dengan si biang masalah yang sampai saat ini belum kelihatan batang hidungnya.

"Ke mana perginya Angelina? Kenapa dia belum muncul juga?"

"Si Levy sudah memberitahunya atau belum sih?"

"Aduh, malah aku yang deg-degan menunggu kelanjutan drama ini."

Bisik-bisik di kursi tribun memadati. Rasa tak sabar menunggu Angelina datang, bahkan sampai membuat mereka melihat ke beberapa pintu masuk. Tak ingin melewatkan satu detik pun dari kelanjutan drama ini berlangsung.

Jim mulai jengah menunggu. Dia pun melihat jam tangan elegan yang melingkar di pergelangan tangannya, dan menunjukkan jika dia sudah menunggu sekitar setengah jam yang lalu dan ini sangat membuang-buang waktu.

Jika bukan karena sebuah tantangan, mana mau dia menyibukkan diri dengan menjadi dosen dan berhadapan dengan manusia-manusia kekanakan seperti yang berada di depannya sekarang?

Pekerjaan kantornya menunggu dan jauh lebih menghasilkan dari pada ini semua. Sebenarnya, tanpa gelar dosen pun dia sudah berhasil membuat semua orang tunduk dan tak berani walau untuk sekadar mengangkat kepala.

Tapi sekarang?

Lagi-lagi rahang Jim mengetat. Kelas sudah bubar sejak 45 menit yang lalu dan waktu istirahat juga sudah hampir habis. Tapi kenapa pemilik kursi itu belum juga menampakkan diri?

Dia sudah merelakan waktu, tenaga, dan juga menjadi bahan tontonan para mahasiswi yang membuatnya jengah. Lalu berada di mana pemilik kursi sekarang? Apa dia takut sehingga tak berani menemuinya?

Jim memilih duduk di salah satu kursi yang berada di sana. Mengatur pernapasannya yang mulai berembus kasar karena rasa jengkel yang membuat kepalanya berasap. Baru kali ini ada seseorang yang berani mempermainkannya dan itu pun sebanyak 2 kali dalam sehari.

15 menit

Jim hanya akan menunggu si mahasiswi pembangkang itu selama 15 menit. Jika dalam waktu 15 menit si pembangkang itu belum juga menemuinya di sini, maka jangan salahkan dia jika surat peringatan pertama akan melayang ke depan pintu rumahnya.

"Whoo ... sepertinya, akan terjadi masalah besar."

"Ya. Mahasiswi yang masuk ke dalam list hitam Mr. Jim belum juga datang."

Mendengar grasah-grusuh para mahasiswa di sana jelas saja membuat kekesalan Jim meningkat 3 kali lipat. Jika saja, dia tidak menjaga citranya, sudah dia teriaki para mahasiswa itu untuk kembali ke kelas.

"Ya Tuhan, ada apa dengan hari ini?" sekali lagi Jim membatin frustasi. Dia pun melarikan tatapannya ke sembarang arah. Berharap mahasiswi itu datang dan membuat kekesalannya mereda dengan minta maaf.

Namun, tiba-tiba saja terdengar langkah kaki mendekat. Hal itu pun, membuat Jim menolehkan kepalanya ke asal sumber suara. Mendadak manik matanya berkilat tajam begitu siluet yang mendatanginya adalah seorang mahasiswi.

Mahasiswi yang sudah pasti membuatnya darah tinggi.

Tangan Jim yang berada di dalam saku celana mengepal begitu mahasiswi itu semakin mendekat. Dia tengah bersiap untuk melontarkan kata-kata mutiara yang sudah membuat panas rongga dada. Namun, pada kenyataannya adalah Jim harus mendapati jika keberadaannya kembali dipermainkan.

“Maaf, Mr. Sa-saya hanya ingin memberi tahu jika te-teman saya tidak bisa menemui Anda. Dia sudah--”

“Enough!”

Mahasiswi yang tak lain adalah Levy, jelas saja tersentak saat mendengar suara Jim yang sarat akan ancaman menakutkan. Tak jauh berbeda dengannya, para penonton yang memadati tribun pun mendadak hening tanpa bersuara.

Mereka tau, jika pria jangkung yang berdiri di sana tengah marah besar. Hukuman yang ingin dosen itu tunjukkan di hari pertamanya mengajar, malah gagal total karena si korban memilih lari tunggang langgang.

“Dia akan menerima surat peringatan pertama dari saya. Menggenapi surat ke tiga, maka bersiaplah untuk dikeluarkan dari universitas ini detik itu juga!"

Jangankan Levy, semua mahasiswa yang berada di sana ikut menelan salivanya kasar. Wajah mereka mendadak pias. Ancaman seperti ini, belum pernah ada selama mereka menjadi mahasiswa.

Sekarang, mereka hanya bisa berdoa semoga saja mereka tidak pernah berurusan dengan dosen menakutkan yang entah dari mana datangnya.

***

Merebahkan dirinya di atas kasur, adalah hal yang paling Jim nantikan setelah seharian ini.

Menerima tantangan dengan menjadi dosen pengajar, ternyata bukan perkara mudah. Apalagi, di hari pertama dia masuk universitas, ada saja ulah-ulah para bocah yang membuatnya kesal.

Jim bangkit dari posisinya tadi kemudian mengambil botol air mineral yang ada di atas nakas lantas meneguknya hingga tandas. Perutnya bergemuruh hebat karena dia belum makan apa pun sejak tadi siang. Di tempat ini pun dia tidak bisa menemukan apa-apa untuk dia makan karena dia tidak lagi memiliki pelayan seperti biasa. Mulai sekarang dia harus melakukan semuanya sendirian. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, mencuci baju dan lain-lainnya.

Lantas kenapa semua ini bisa terjadi?

Tentu saja karena tantangan dari paman Peter dan juga Davio yang mau tidak mau harus dia terima. Sekalipun enggan, sensasi dunia baru ini harus dia jelajahi sampai di selesai. Sampai dirinya berhasil keluar sebagai pemenang dan mendapatkan kuasa penuh atas perusahaan ayahnya.

Langkah kaki Jim menapaki lantai yang dingin. Tubuh atletis nya terpampang--menampakkan dada bidang yang yang liat. Sebuah pemandangan indah yang menggiurkan walaupun sangat disayangkan ada bekas tertinggal di sana.

"Angelina ...."

Raut wajah Jim mendadak berubah.

Ada kesalahan besar yang begitu saja menjungkir balikkan dunianya.

Membuatnya kehilangan satu-satunya saudara wanita yang dia punya. Sahabat sekaligus korban kekejamannya dan entah berada di mana sekarang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Cinta Pak Dosen   Bab 10 - Dia Ada Di sini

    Angel sesekali mengusap pipinya yang basah. Rasa sesak yang menggerogoti dadanya karena pertemuannya dengan Jim tadi, masih begitu membekas sehingga membuatnya sulit untuk menghentikan laju air mata yang berjatuhan.Sekalipun dia sudah melarikan tatapannya ke arah jalanan kota London yang ramai, bayangan wajah Jim tetap saja sulit untuk dia enyahkan dari pikirannya. Pria itu seperti virus mematikan yang merenggut kinerja otaknya sehingga sulit untuk dia kendalikan."Ada apa, Angel? Kenapa kau menangis seperti ini?"Suara Mike yang terdengar memecah kesunyian, sontak saja membuat Angel mengalihkan tatapannya dari tepian jalan.Saat ini, dia memang tengah berada di perjalanan pulang dengan Mike yang setia mengantarnya. Dia terpaksa meninggalkan universitas karena perasaannya yang terlanjur kacau. Dia tidak mau terus-menerus berada di sana sedangkan ada Jim yang akan menontonnya seperti opera."Tidak ada apa-apa, Mike. Aku hanya merasa buruk." Angel terpaksa berbohong karena tidak mungk

  • Jerat Cinta Pak Dosen   Bab 9 - Gadis Pembangkang

    Bibir Angel mengetat seiring langkahnya menaiki tangga. Tidak hanya telapak tangannya yang terasa panas karena bergesekan dengan lengan kursi tetapi, kedua pipinya pun sampai memerah--begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Sedari beberapa menit yang lalu, sekuat tenaga dia mencoba untuk tak menjatuhkan riak air mata yang sudah membentuk genangan. Walaupun dadanya terasa sesak, pun dunianya seolah hancur seketika saat monster paling menakutkan dalam hidupnya itu muncul begitu saja di depan mata, dia harus menunjukkan pada dunia jika dirinya bukan lagi Angelina yang lemah. Selama 5 tahun terakhir, dia sudah mencoba berdamai dengan semuanya. Belajar melupakan rasa sakitnya pun terbiasa dengan kehidupan barunya. Tapi sekarang? Semuanya kembali ke titik awal. Begitu saja mengingatkannya pada rasa sakit dan juga kecewa. "Apa mereka pikir, mempertemukanku dengan Jim akan membawa perubahan yang lebih baik?" Angel membatin pedih. Dia tau, pertemuannya dengan Jim pastilah pertemuan yan

  • Jerat Cinta Pak Dosen   Bab 8 - Bukan Angel Yang Dulu

    Tangan Angel terkepal kuat dengan keringat dingin yang membasahi pori-pori kulitnya. Ingin rasanya dia menganggap semua ini mimpi. Tapi mungkinkah? Sedangkan Jim begitu nyata?Tidak hanya Angel, Jim pun kehilangan kata-kata begitu wajah yang teramat dia rindukan benar berada di depannya.Angelina ...Saudara perempuannya yang menghilang selama 5 tahun terakhir dan tidak pernah dia kabarnya ...? gadis polos yang sudah dia tinggalkan setelah dia hisap madunya ...?"Angel?"Suara Jim terdengar lagi sehingga menyadarkan Angel dari rasa sakit yang mulai menyayat hati.Tidak! Dia tidak boleh lari walaupun dia ingin. Dia harus membuktikan pada Jim jika dirinya bukan lagi Angelina si bodoh itu. Angelina yang rela menyerahkan segalanya hanya demi omong kosong bernama cinta.Cinta?Bahkan semboyan itu, sudah lama mati dalam hidupnya setelah pria itu menyakitinya begitu dalam."Angel kau--?" Jim melangkah mendekat dan Angel malah mundur selangkah. Angel tau, apa maksud dari tatapan itu. Dia men

  • Jerat Cinta Pak Dosen   Bab 7 - Pertemuan Tak Terduga

    Angel berjalan tergesa.Hari ini, mau tidak mau dia harus menemui dosen itu kemudian meminta maaf atas kesalahannya kemarin. Selain karena surat peringatan yang sudah mendarat sempurna di atas meja kakaknya, buku gambar miliknya pun harus dia dapatkan kembali karena demi Tuhan, buku gambar itu sangatlah berarti.Yang membuatnya tak habis pikir sampai saat ini adalah? Bisa-bisanya dosen itu mengambil buku gambarnya juga? Apakah dosen itu berpikir jika di dalam buku gambarnya terdapat rahasia atau harta karun berharga?Dasar manusia menyebalkan! Awas saja jika terjadi sesuatu pada buku gambarku. Batin Angelina menahan kesal sembari melangkah cepat di sepanjang koridor yang mana, membuatnya menjadi pusat perhatian.Tadinya dia berpikir jika ada yang salah dengan penampilannya sehingga dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang sebelumnya bahkan tidak mengetahui keberadaanya. Akan tetapi, setelah dia mendengar celetukan seorang mahasiswi yang mengatakan jika maut sudah menunggunya, dia

  • Jerat Cinta Pak Dosen   Bab 6 - Jim Curiga

    Hari mulai gelap.Setelah menjelajahi area yang Jim tempati selama beberapa jam lamanya, Jim pun memutuskan untuk masuk ke restoran bernuansa klasik yang berada di seberang jalan untuk mengisi perutnya yang kembali keroncongan setelah dia isi dengan satu buah burger yang dia beli di sebuah kedai.Pertama kali melihat restoran itu, Jim langsung tertarik untuk melihat isi di dalamnya juga mencicipi menu yang tersedia di sana karena pengunjung restoran itu lumayan ramai. Biasanya, restoran yang ramai pengunjung begini makanannya enak dan pelayanannya sempurna.Sebuah kursi di dekat jendela pun, menjadi pilihannya. Lumayan, dari sini dia bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukan mereka.“Selamat datang di restoran kami, Tuan. Adakah yang ingin Anda pesan?"Suara seorang pelayan yang terdengar di sana, sontak saja membuat fokus Jim yang menatapi sekitar teralih kan. Terlebih pada lilin aroma yang ada di tengah-tengah meja. Tiba-tiba saja dia teringat pada Angelina yan

  • Jerat Cinta Pak Dosen   Bab 5 - Surat Peringatan

    “Sampai kapan, kau akan bersembunyi seperti ini, Angelina?”Angel menutup mulutnya tak percaya. Dia pun segera menghambur ke dalam pelukan pelanggan yang ternyata berjenis kelamin pria dan tentu saja dia kenali sejak balita.“Kakak ... kapan datang? Ya Tuhan ... aku sangat rindu sampai rasanya tidak bisa bernapas.”Angel menahan diri untuk tak menangis sekarang. Bisa-bisa penyamarannya sebagai gadis miskin terbongkar jika seseorang sampai melihat sosok pria yang dipeluknya saat ini adalah Davio William--sang penguasa.Beruntungnya saudara lelakinya yang anti perempuan itu memakai pakaian yang cukup merakyat. Tidak berkelas seperti biasa atau orang-orang di sini akan menjadikan Dave sebagai pusat perhatian. Angel tersungut saat melepaskan diri dari pelukan Dave. Sebenarnya, dia masih ingin memeluk tubuh tegap kakaknya itu lebih lama demi mengurangi sedikit rasa sesaknya karena kerinduan. Tapi, apa daya? Tempat dan drama publik menjadi penghalang dan bisa jadi malapetaka untuk penyam

  • Jerat Cinta Pak Dosen   Bab 4 - Orang Asing

    “Jadi, ada masalah apa? Kau bisa mengatakannya sekarang,” ucap Angel sambil mengunyah steik yang dipesannya. Saat ini, mereka sudah berada di kantin universitas. “Kau sadar tidak, jika kau itu tidak kembali ke kelas, saat dosen baru kita--?” “Masuk ke kelas kemudian memperkenalkan dirinya?” poton

  • Jerat Cinta Pak Dosen   Bab 2 - Bertemu

    Perancis, 2 tahun yang lalu. Seorang pria dengan setelan jas mahalnya membuka kaca mobil yang berada di sampingnya kemudian melarikan tatapannya ke luar jendela. Tidak banyak perubahan yang terjadi di sana. Semuanya masih sama seperti yang terekam di memori masa kecilnya. Kedatangannya ke negara

  • Jerat Cinta Pak Dosen   Bab 1 - Kenangan Buruk

    Jim terbangun dengan napas memburu. Buliran keringat terlihat berbintik di sekitar dahi serta ujung hidungnya. Tangannya yang juga basah oleh keringat dingin pun meraba tempat di sampingnya yang sudah kosong tanpa penghuni. Sial! Bagaimana bisa dia seberengsek ini? Apa yang akan terjadi, jika kel

  • Jerat Cinta Pak Dosen   Prolog

    "Angel! Kenapa bisa telat sih!?” Wanita berambut panjang nan bergelombang yang terburu duduk dengan napas terputus-putus itu hanya nyengir kuda sembari mengipas wajahnya yang kepanasan. Berlarian dari gerbang menuju kelasnya bukan perkara mudah. Letaknya lumayan berjauhan apalagi dia harus naik t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status