LOGINAroma kayu cemara dan hawa dingin perbukitan menelusur masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, namun atmosfer di dalam kamar bernuansa hangat itu justru terasa begitu panas membakar.Di atas ranjang kayu berbalut sprei katun putih, Kael terkunci dalam tatapan polos Vio yang masih mengusap pipinya lembut. Kepolosan tanpa dosa dari wanita yang amat dicintainya itu bagaikan bensin yang menyiram kobaran api dalam dadanya. Kael benar-benar seperti pria yang kehilangan seluruh kewarasannya, napasnya memburu berantakan, dibakar rindu, rasa bersalah, dan gairah yang telah tertahan sekian lama.“Kamu milikku, Vio... kamu sepenuhnya milikku,” bisik Kael dengan suara bariton yang serak dan berat.Tanpa mampu membendungnya lagi, Kael menundukkan kepala, mendaratkan ciuman-ciuman panas yang bertubi-tubi di sepanjang garis rahang hingga leher jenjang Vio yang halus. Setiap kali bibir Kael menyentuh kulitnya, Vio menahan napas, memegang bahu lebar Kael dengan kedua tangan kecilnya yang gem
Kael tentu tidak ingin membuang waktu. Segera setelah dokter memastikan kondisi fisik Vio cukup stabil, dia langsung mengurus kepulangan wanita itu secara pribadi. Kael tahu betul, semakin lama mereka berada di rumah sakit ini, semakin besar risiko Clara atau faksi Silver Wolf menemukan keberadaan Vio.Kael memanggil Bagas ke sudut lorong yang sepi, memberikan instruksi dengan nada dingin dan penuh penekanan.“Bagas, buat skenario bahwa aku mengalami luka dalam yang sangat parah akibat serangan di pelabuhan. Sebarkan rumor ke klan dan publik bahwa aku diterbangkan ke Jerman untuk perawatan medis darurat dalam jangka waktu yang tidak ditentukan,” perintah Kael tajam.Bagas menatap tuannya dengan ragu. “Tapi Tuan Muda, jika Anda menghilang dari klan sekarang, Clara dan para petinggi faksi lain akan menggunakan kesempatan ini untuk merebut kekuasaan—”“Biarkan mereka merebutnya,” potong Kael dingin, matanya berkilat penuh ketetapan hati. “Aku tidak peduli lagi dengan takhta Naga Hitam
Jeritan histeris Kael mengoyak suara gemuruh hujan. Menyaksikan tubuh Vio ambruk tak berdaya di atas lantai semen yang dingin, kewarasan Sang Naga runtuh seketika.Dorr!Di saat yang hampir bersamaan, sebuah tembakan menyambar dada Rey. Pria pemimpin Silver Wolf itu terhuyung mundur, memegangi dadanya yang memuntahkan darah segar. Meski peluru itu tidak mengenai organ vital, benturan keras dan pendarahan hebat membuat Rey kehilangan kesadarannya dan roboh terlentang di samping SUV.Melihat Vio dan Rey tumbang, amarah Kael meledak tanpa kendali. Pria itu mengamuk bagaikan iblis yang keluar dari neraka. Dia melangkah maju tanpa mempedulikan hujan peluru, menembak membabi buta ke arah pasukan Clara dengan mata merah menyala.“Clara!” raung Kael gila.Dorr! Dorr!Dua tembakan dari tangan Kael menembus tepat di lengan dan kaki Clara. Wanita itu menjerit kesakitan, tubuhnya roboh bersimbah darah di atas kontainer. Meringis dalam keputusasaan dan ketakutan melihat Kael yang sudah hilang akal
Pagi itu, suasana di safehouse terasa membeku. Vio duduk di tepi ranjang dengan mata sembab dan pikiran yang terus berkecamuk. Di atas meja kecil di sampingnya, sebuah amplop coklat tanpa pengirim tergeletak terbuka.Amplop itu dikirim secara misterius tadi pagi, sebuah kado beracun dari Clara.Di dalamnya terdapat sekumpulan dokumen hukum klan, foto-foto pertemuan rahasia, serta rekaman percakapan audio. Tangan Vio gemetar hebat saat membaca lembar demi lembar kebenaran yang selama ini disembunyikan rapat-rapat darinya.Selama ini, Vio mengira Clara hanyalah wanita obsesif yang memanfaatkan celah hukum klan Naga Hitam untuk menyingkirkannya. Namun, kenyataannya jauh lebih mengerikan dan menghancurkan mental. Dalang utama yang berada di balik seluruh keberanian Clara, orang yang memberi Clara wewenang penuh untuk memburu dan menghancurkan hidup Vio ternyata adalah Tuan Besar Dirgantara, kakek kandung Kael sendiri.Dalam rekaman suara yang disertakan Clara, suara dingin sang Kakek
SUV hitam itu akhirnya berhenti di pelataran safehouse baru yang terletak jauh di area terpencil di tengah pepohonan rindang. Hujan deras kembali mengguyur bumi, membasahi dedaunan dan menciptakan hawa dingin malam hari yang makin meresap ke dalam tulang. Deru mesin mobil meluruh pelan, menyisakan suara hempasan air yang menghantam atap kendaraan.Rey turun terlebih dahulu dari kursi depan. Anak buahnya dengan sigap membukakan payung hitam besar di atas kepala sang pemimpin. Dengan gerakan yang sangat elegan dan perhatian, Rey melangkah ke pintu belakang, membukanya, lalu mengulurkan tangannya yang hangat ke arah Vio.“Mari, Violletta. Di dalam jauh lebih hangat daripada di sini,” ujar Rey dengan suara rendah yang mengayomi.Vio menatap uluran tangan itu selama beberapa detik. Jemari Rey yang kokoh terbuka lebar, menawarkan tumpuan. Namun, bukannya menyambut jemari itu, Vio justru sengaja mengabaikannya. Dia menggeser tubuhnya sendiri, melangkah keluar dari kabin SUV tanpa menyentuh
Suasana di dalam kabin SUV antipeluru itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara AC dan rintik hujan yang menghantam kaca mobil dengan ritme yang menenangkan. Vio bersandar pada kursi kulit yang empuk, menatap kosong ke arah luar jendela di mana lampu-lampu kota Jakarta tampak buram tersapu air.Bahunya masih dibalut jaket kulit hitam milik Rey. Aroma maskulin kayu cendana dari jaket itu entah mengapa memberikan rasa aman yang aneh di tengah badai emosi yang baru saja dilaluinya. Di dalam hatinya, bayangan wajah hancur Kael di basemen tadi masih membekas, menimbulkan rasa sesak yang tak kasat mata.Tiba-tiba, sebuah kehangatan yang nyata menyelimuti punggung tangannya.Vio sedikit tersentak dan menoleh. Rey sedang duduk di sebelahnya, menatapnya dengan sepasang mata elang yang kini melunak, jauh dari kesan kejam seorang pemimpin faksi. Jemari Rey yang besar dan kokoh perlahan menggenggam tangan Vio yang dingin, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari secara lembut, seolah sed
Vio menggenggam kancing kemeja hitam itu hingga pinggirannya yang tajam menekan telapak tangan. Rasa perih itu nyata, dinginnya lantai kamar saat kakinya menyentuh ubin juga nyata. Dan bayangan pria di bawah sana yang menatap jendela kamarnya dengan tatapan lapar adalah kenyataan paling mengerikan
Malam semakin larut, tetapi kelopak mata Violletta seolah enggan merapat. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang sementara pikirannya berkecamuk hebat. Ucapan Kael tadi dan permintaan perjodohan dari Papa berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda.Vio men
Vio masih merasakan sensasi dingin dari salep yang dioleskan Kael saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama ‘Papa’ berkedip di layar. Tanpa berfikir panjang, Vio meraihnya dan langsung menekan tombol loudspeaker. Ini sudah menjadi tradisi sejak Kael masih remaja dimana saat Papa atau Mama mene
Sore itu, perjalanan pulang yang seharusnya menjadi momen untuk menjernihkan pikiran justru berubah menjadi neraka baru bagi Violletta. Di dalam kabin mobil yang mewah, keheningan terasa begitu berat, hanya aroma parfum milik Kael yang memenuhi indra penciuman Vio, membuatnya merasa seolah sedang







