LOGINSinar matahari pagi menembus celah jendela kayu, membiaskan cahaya keemasan di atas meja makan. Vio terbangun lebih dulu dengan tubuh yang terasa sedikit pegal, tetapi dipenuhi kehangatan luar biasa. Dengan berbalut gaun tidur santai sebatas lutut, Vio berniat menyiapkan sarapan sederhana untuk suami tercintanya.Saat Vio sedang fokus memotong buah apel dan merebus telur, dua lengan kokoh nan hangat tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya dari belakang, membuat Vio terkejut bukan main. “Suamiku... ih,” protes Vio, tubuhnya sedikit tersentak.Kael tidak menyahut dengan kata-kata. Pria itu menenggelamkan wajah tampannya di leher jenjang Vio, menyesap aroma alami tubuh sang istri yang selalu berhasil membakar nalurinya. Dengan sifat agresifnya yang dominan, Kael langsung mengecupi leher Vio dari belakang, membuat desah pelan terlepas begitu saja dari bibir mungil Vio.“Pagi istriku,” bisik Kael dengan suara serak khas bangun tidur, seraya memutar tubuh Vio agar menghadapnya.Sebelum Vio
Begitu prosesi pernikahan yang sederhana namun sakral itu selesai, Kael tak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Ia buru-buru membawa Vio pulang, selain khawatir bertemu dengan anak buah Clara, Kael juga seakan tak sudah tak sabar ingin segera berduaan dengan Vio. Rasa rindu yang bertahun-tahun membendung, bercampur dengan lega dan cinta yang meletup-letup, telah mencapai puncaknya.Brak.Begitu pintu kamar utama tertutup rapat, Kael menarik tubuh Vio ke dalam pelukannya. Masih dalam posisi berdiri menyender di balik pintu, Kael langsung menunduk dan mencium bibir Vio dengan sangat lahap, dalam, dan penuh gairah.Vio sempat tersentak kaget sekejap, tetapi naluri tubuh dan rasa cintanya yang murni, meski tanpa ingatan masa lalu itu bekerja begitu saja. Vio melingkarkan kedua tangan kecilnya di leher Kael, berjinjit sedikit, dan membalas ciuman suaminya dengan penuh kehangatan dan kepatuhan yang amat tulus.Pikiran Kael makin membara. Dengan jemari yang bergetar menahan desakan emo
Aroma kayu cemara dan hawa dingin perbukitan menelusur masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, namun atmosfer di dalam kamar bernuansa hangat itu justru terasa begitu panas membakar.Di atas ranjang kayu berbalut sprei katun putih, Kael terkunci dalam tatapan polos Vio yang masih mengusap pipinya lembut. Kepolosan tanpa dosa dari wanita yang amat dicintainya itu bagaikan bensin yang menyiram kobaran api dalam dadanya. Kael benar-benar seperti pria yang kehilangan seluruh kewarasannya, napasnya memburu berantakan, dibakar rindu, rasa bersalah, dan gairah yang telah tertahan sekian lama.“Kamu milikku, Vio... kamu sepenuhnya milikku,” bisik Kael dengan suara bariton yang serak dan berat.Tanpa mampu membendungnya lagi, Kael menundukkan kepala, mendaratkan ciuman-ciuman panas yang bertubi-tubi di sepanjang garis rahang hingga leher jenjang Vio yang halus. Setiap kali bibir Kael menyentuh kulitnya, Vio menahan napas, memegang bahu lebar Kael dengan kedua tangan kecilnya yang gem
Kael tentu tidak ingin membuang waktu. Segera setelah dokter memastikan kondisi fisik Vio cukup stabil, dia langsung mengurus kepulangan wanita itu secara pribadi. Kael tahu betul, semakin lama mereka berada di rumah sakit ini, semakin besar risiko Clara atau faksi Silver Wolf menemukan keberadaan Vio.Kael memanggil Bagas ke sudut lorong yang sepi, memberikan instruksi dengan nada dingin dan penuh penekanan.“Bagas, buat skenario bahwa aku mengalami luka dalam yang sangat parah akibat serangan di pelabuhan. Sebarkan rumor ke klan dan publik bahwa aku diterbangkan ke Jerman untuk perawatan medis darurat dalam jangka waktu yang tidak ditentukan,” perintah Kael tajam.Bagas menatap tuannya dengan ragu. “Tapi Tuan Muda, jika Anda menghilang dari klan sekarang, Clara dan para petinggi faksi lain akan menggunakan kesempatan ini untuk merebut kekuasaan—”“Biarkan mereka merebutnya,” potong Kael dingin, matanya berkilat penuh ketetapan hati. “Aku tidak peduli lagi dengan takhta Naga Hitam
Jeritan histeris Kael mengoyak suara gemuruh hujan. Menyaksikan tubuh Vio ambruk tak berdaya di atas lantai semen yang dingin, kewarasan Sang Naga runtuh seketika.Dorr!Di saat yang hampir bersamaan, sebuah tembakan menyambar dada Rey. Pria pemimpin Silver Wolf itu terhuyung mundur, memegangi dadanya yang memuntahkan darah segar. Meski peluru itu tidak mengenai organ vital, benturan keras dan pendarahan hebat membuat Rey kehilangan kesadarannya dan roboh terlentang di samping SUV.Melihat Vio dan Rey tumbang, amarah Kael meledak tanpa kendali. Pria itu mengamuk bagaikan iblis yang keluar dari neraka. Dia melangkah maju tanpa mempedulikan hujan peluru, menembak membabi buta ke arah pasukan Clara dengan mata merah menyala.“Clara!” raung Kael gila.Dorr! Dorr!Dua tembakan dari tangan Kael menembus tepat di lengan dan kaki Clara. Wanita itu menjerit kesakitan, tubuhnya roboh bersimbah darah di atas kontainer. Meringis dalam keputusasaan dan ketakutan melihat Kael yang sudah hilang akal
Pagi itu, suasana di safehouse terasa membeku. Vio duduk di tepi ranjang dengan mata sembab dan pikiran yang terus berkecamuk. Di atas meja kecil di sampingnya, sebuah amplop coklat tanpa pengirim tergeletak terbuka.Amplop itu dikirim secara misterius tadi pagi, sebuah kado beracun dari Clara.Di dalamnya terdapat sekumpulan dokumen hukum klan, foto-foto pertemuan rahasia, serta rekaman percakapan audio. Tangan Vio gemetar hebat saat membaca lembar demi lembar kebenaran yang selama ini disembunyikan rapat-rapat darinya.Selama ini, Vio mengira Clara hanyalah wanita obsesif yang memanfaatkan celah hukum klan Naga Hitam untuk menyingkirkannya. Namun, kenyataannya jauh lebih mengerikan dan menghancurkan mental. Dalang utama yang berada di balik seluruh keberanian Clara, orang yang memberi Clara wewenang penuh untuk memburu dan menghancurkan hidup Vio ternyata adalah Tuan Besar Dirgantara, kakek kandung Kael sendiri.Dalam rekaman suara yang disertakan Clara, suara dingin sang Kakek
Rintik hujan di luar jendela kaca besar vila Pulau Caraka seolah menjadi latar musik bagi penderitaan Vio yang tiada akhir. Di sudut lantai dingin itu, kondisi fisik Vio sudah berada di ambang batas pertahanan manusia. Bibirnya pecah-pecah hingga mengeluarkan darah kering, matanya cekung dengan l
Kapal cepat itu kembali bersandar di dermaga sunyi Jakarta Utara dengan kondisi mengenaskan. Lambung kapal dipenuhi baretan akibat hantaman ombak, dan rintik hujan yang kian menderu seolah ikut meratapi kegagalan Kael.Kael melangkah turun dengan tubuh yang basah kuyup. Langkahnya tak lagi limbung
Siang harinya, suasana rumah terasa sedikit lebih lengang setelah Papa memutuskan untuk pergi ke klub golf bersama beberapa rekan bisnis lamanya. Mama pun memilih untuk masuk ke dalam kamar setrikanya yang terletak di bagian kanan rumah, sibuk memilah-milah koleksi kain batik tulisnya bersama salah
Perubahan arah emosi Vio ternyata jauh lebih kompleks dari yang Kael bayangkan. Saat bibir mereka bertemu, Kael merasakan Vio tidak membalas dengan kebencian, melainkan dengan kerinduan yang diliputi rasa putus asa. Vio memang ketakutan, tapi ketakutannya bukan karena dia tidak ingin bersama Kael,







