Beranda / Semua / Jerat Skandal CEO / 2. Jebakan Reno.

Share

2. Jebakan Reno.

Penulis: Pena Naima
last update Tanggal publikasi: 2026-03-15 15:09:04

Hari berikutnya, Erika kembali mendatangi gedung perusahaan A-D Salim Grup. Tujuannya, menuntut Reno agar pria itu segera menghapus foto dirinya yang masih menjadi bahan olok-olok seantero negeri. Bahkan saat ini saja ia datang ke gedung itu dengan wajah ditutupi masker, Kacamata, dan topi. Kemeja flanel kotak-kotak hitam putih, dan celana jeans hitam serta sepatu Kets putih. 

Wanita itu mengeluarkan stiker berlogo perusahaan dan foto Reno yang sedang tersenyum. Tentu sudah ia lukis gambar taring di mulut pria itu hingga terlihat mirip drakula.  Benda tipis itu kemudian ia tempelkan di kaca gedung. Setelah itu, ia pun berjalan masuk. Sambil mengawasi keadaan, gadis itu bergumam pelan, “Hah, hati malaikat konon, malaikat pencabut nyawa, iya.” Erika menurunkan topi paruh bebek hitam yang ia pakai hingga wajahnya nyaris tidak terlihat. Memasuki lift, dan naik ke lantai delapan. 

Rencananya berjalan lancar karena ia datang ke tempat itu persis seperti kemarin. Jadi ia tidak menemui kendala berarti. Di depan pintu ruang CEO, Erika berkata pelan, “Aku tidak bisa berdiam diri, akan kujebloskan kau ke penjara, Reno sialan.” 

Tok tok tok! 

Erika mengetuk pintu dengan teratur. Meskipun perasaannya tidak menentu, tapi ia sudah bertekad akan menyelesaikan masalah itu sesegera mungkin. Jika tidak, maka ia tidak tahu sampai kapan akan terus menjadi bulan-bulanan netizen. Detik berselang, suara sahutan dari dalam terdengar. 

“Masuk!” 

Erika menarik napas panjang, lalu membuka pintu. Terlihat di depan sana, Reno sendirian sedang berdiri menghadap jendela kaca besar di depannya. Tidak seperti kemarin, sepertinya si wanita tidak datang hari ini.  Kebetulan, dengan begitu ia bisa menemui Reno dan bicara langsung. Gadis itu berjalan mendekat. Sampai di belakang Reno, bibirnya berdecak di balik maskernya. “Kita bertemu lagi, Tuan.”

Mendengar suara di belakang, Reno lantas berbalik. Memicingkan mata, karena penampilan orang itu sangat tertutup. “Siapa, kau?” tanyanya, menelisik wajah wanita di depannya.

Erika maju selangkah lebih dekat lagi. Lalu membuka topi, kaca mata, disusul dengan maskernya. “Ini aku, kau masih ingat?” 

Reno terkekeh. Memasukkan kedua tangan pada saku celana. “Apakah kau menyukaiku?," tanya Reno dengan senyum mengejek yang menjengkelkan. "Aku tahu, ketampananku memang sulit dilupakan. Semua wanita sama saja, gila pada harta dan rupa yang menawan." 

Kilatan emosi menyala di mata Erika. Tanpa aba-aba ia menginjak punggung kaki Reno dengan sekuat tenaga. Bunyi dek yang cukup keras membuat pria itu menganga dengan wajah memerah menahan sakit. 

“Salam kenal Tuan Psikopat. Sekarang juga kau hapus semua fotoku di media sosial! Atau aku akan mengadukanmu pada polisi!” ancam Erika. Begitu yakin dirinya akan berhasil. 

Reno menegakkan tubuhnya kembali. Lalu menatap Erika dengan kening mengerut. “Apa? Kau mau …  menuntut apa? melaporkan aku pada polisi?” tanyanya, kemudian tertawa lepas. 

Erika memejamkan mata rapat-rapat. Berusaha meredam gemuruh emosi di dadanya hingga kedua tangannya mengepal erat. “Kau pikir ini lelucon? Lihat saja, kau akan masuk penjara karena telah mencemarkan nama baikku!” 

Senyum di bibir Reno pudar, berganti ekspresi dingin dan tatapan mata yang begitu tajam. Membuat mental Erika merosot seketika. Pria itu mendekatkan wajahnya. Mengikis jarak, kemudian berkata, “Aku suka gadis sepertimu. Berani sekali.” 

Erika menjauhkan wajah karena merasa terlalu dekat. Namun, Reno meraih pinggangnya dan mendekap tubuhnya. Sontak, gadis itu terbelalak. Mendapat serangan begitu mendadak, ia tidak bisa menghindar apalagi melawan. Saat ini, posisi wajah keduanya begitu dekat. 

Untuk sesaat, Erika tak mampu berkedip. Tatapan Reno terlalu tajam menusuknya. Segera saja ia berontak. “Lepaskan! Kejadian kemarin tidak akan pernah terulang lagi,” desis Erika menolehkan wajah untuk menghindari tatapan mata dengan Reno. 

Reno melepaskan Erika dengan senyum yang kembali terbit. “Baiklah, kau bilang mau melaporkan aku pada polisi, silahkan, laporkan aku. Kebetulan aku sedang bosan, mungkin di penjara bisa sedikit mengisi rasa bosanku.” 

Keberanian Erika kembali bangkit. Meski kalimat Reno seolah berupa tantangan yang terlihat sepele, tapi ia memilih untuk tetap melakukannya.  “Tentu, kau pikir itu ancaman kosong? Aku bahkan sudah menyiapkan segalanya,” ucap Erika sambil melirik jam dinding, “Aku yakin, sebentar lagi polisi akan datang ke mari.”

Memang benar, sebelum Erika tiba di gedung, terlebih dahulu ia memang melaporkan Reno pada polisi. Yakin sekali jika pria itu tidak mungkin melawan hukum yang berlaku. 

Reno mengangguk santai. “Aku tunggu,” jawabnya. 

Kriiing! 

Reno menoleh ke arah meja kerja saat telepon berbunyi. Segera saja ia beranjak dan mengangkat benda itu. “Ya,” ucapnya. 

“.......” 

Reno melirik ke arah Erika yang tersenyum percaya diri. “Jangan dicegah, suruh mereka datang ke ruanganku.” Pria itu meletakkan telepon di tempat semula, kemudian bicara pada Erika, “Ada polisi yang datang.” 

Erika tergelak. “Kali ini kau tidak akan bisa lolos.” 

Benar saja, tidak butuh waktu lama, pintu diketuk. Masih dengan mode kalemnya, Reno menyahut. “Masuk!” 

Dua orang polisi masuk. Erika menyerbu mereka. “Itu dia, Pak. Orang yang telah mencemarkan nama baik saya, tangkap sekarang juga, Pak!” 

Polisi itu menatap Reno yang tersenyum ramah. “Ada yang bisa saya bantu, Pak Reno?” 

Erika terpaku. Reno mendekat sambil menyodorkan ponsel pada kedua polisi itu. “Maaf, Pak. Dengan sangat menyesal, kemarin gadis ini tiba-tiba datang ke mari dan mengganggu saya. Ini buktinya.” Pria itu memperlihatkan foto yang disebar di sosial media. 

Erika menganga. “Bohong! Itu bohong, Pak. Justru saya yang dipaksa—” 

“Anda kami tangkap atas pelanggaran pencemaran nama baik Pak Reno,” gertak salah satu polisi. 

Erika tertegun. “Apa?” 

Polisi itu mengeluarkan sebuah benda dan siap memborgol tangan Erika. Gadis itu menatap Reno. “Dasar pria gila!” bentak gadis itu. 

Polisi menyeret Erika. “Sebaiknya jelaskan di kantor polisi.” 

“Aku tidak bersalah, Pak, aku dijebak!” teriak Erika. 

Ketika polisi itu sampai di dekat pintu membawa Erika, Reno menyahut. “Tunggu!” 

Erika menoleh. Reno mendekat. “Maaf, aku harus bicara empat mata dengannya, Pak. Kasian dia, sepertinya … dia tidak punya apa-apa, saya akan menyelesaikan ini secara baik-baik.” 

Kedua polisi mengangguk. “Baiklah kalau begitu, kalau ada apa-apa jangan ragu untuk menghubungi kami, permisi.” 

Reno tersenyum ketika borgol dilepas dari tangan Erika. Kedua polisi itu pergi. 

Erika memijit pergelangan tangannya sendiri. Reno bersuara, “Sudah paham kan? Bagaimana pengaruhku? Aku bisa kapan saja memasukkan mu ke penjara selama aku ingin melakukannya.” 

Erika mencebik. Tidak sudi melihat Reno yang ia anggap seorang pecundang. 

Reno terkekeh. “Begini saja, aku punya tawaran menarik. Kalau kau setuju, aku akan menghapus foto itu.” 

Erika tercengang. Reno mendekatkan wajahnya lagi. Menatapnya penuh penekanan. “Menikahlah denganku.” 

Jreng! 

Erika menganga. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Apa?” 

Reno semakin merapat. Erika mundur hingga punggungnya mengenai dinding. 

Reno berkata, “Aku bisa mengubah hidupmu, asal kau mau menikah denganku.” 

“Aku tak Sudi,” jawab Erika. 

“Deal, hari ini juga kau akan sah menjadi istriku,” tekan Reno. 

Jawaban yang ditentukan sendiri oleh CEO AD Salim Grup. Membuat Erika ternganga. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Skandal CEO    44. bahagia

    "Aaahhh!"Laura mendesah. Mulutnya menganga. Kedua tangannya berpegangan pada kedua lengan Darwin yang begitu bringas menggerayangi tubuhnya. Bagian intinya bahkan sudah terasa sakit karena sudah terlalu lama bermain."Aahh, Darwin ... aaaahh!"Desahan Laura tak lagi mampu dibendung. Hentakan demi hentakan yang Darwin lancarkan semakin membuatnya terlena.Begitupun Darwin. Pria itu menatap wajah Laura yang semakin membuatnya kecanduan. Mata wanita itu terbuka sekejap lalu memejam lagi. "Aah, aku suka, Laura, aaaahhh ...."Dengan tenaga penuh, Darwin menghentakkan miliknya semakin dalam pada inti milik Laura. Membuat wanita itu menganga, mendesah penuh kenikmatan.Entah berapa kali mereka melakukannya semalaman. Hingga malam berganti siang, Laura membuka matanya. Mengerjap beberapa kali, kemudian menelaah tempat ia berbaring saat ini. Wanita itu menyentuh kepala sendiri, kemudian bangun perlahan. "Astaga ... aku di mana?"Perlahan, Laura mengangkat wajah. Mengedarkan pandangan ke selur

  • Jerat Skandal CEO    43. Terpisah

    Rebo berjalan cepat menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Bersama Nico, keduanya tampak begitu serius, seolah tengah menghadapi masalah berat.Ketika memasuki ruangan, Reno langsung menuju kursi kebesaran, sambil berkata, "Nico, aku minta sebaiknya bergerak lebih cepat. Laura sudah sulit dikendalikan."Nico mengangguk. "Baik, Pak," jawabnya patuh. "Tapi ... apa rencana anda selanjutnya?"Reno memijit dagu. Seolah berpikir terlalu lama. "Aku akan segera menikahi Laura."Nico tercengang. "Pak, tapi dia ...."Reno mendongak. Memotong kalimat yang hendak Nico ucapkan. "Karena itu, kau harus bergerak lebih cepat. Sepertinya, ada yang dia tutupi dariku."Nico mengerutkan keningnya. Mencoba menerka apa yang tengah direncanakan Laura. "Pak, kalau boleh izinkan aku menyelidiki semuanya tentang Laura.""Tentu aku izinkan, asalkan kau harus hati-hati sepertinya dia punya orang kuat di belakangnya," kata Reno.Nico membungkuk patuh. "Baik," ucapnya. "Aku sudah mengirimkan hadiah untuk anda, buk

  • Jerat Skandal CEO    42. Rencana baru.

    Laura muncul bagaikan hantu. Sampai-sampai kedatangannya cukup mengagetkan Reno dan Nico."Ada apa?" tanya Reno datar.Laura tersenyum, sempat melirik Nico sejenak, kemudian meraih tangan Reno. "Aku datang ke mari untuk membicarakan pernikahan kita."Reno dan Nico saling menatap satu sama lain.Nico merasa bukan saat baginya untuk ikut campur. Ia pun berpamitan. "Aku harus segera pergi, permisi," ucapnya sopan.Reno mengangguk samar. "Baiklah, terimakasih untuk hari ini, Nico, aku sangat mengandalkan mu," ucap Reno."Sama-sama, Pak. Aku permisi dulu."Nico pergi, Laura semakin leluasa menjalankan rencananya.Reno menatap wanita di sampingnya. "Tadi kau bilang, pernikahan? tanya Reno dengan kening mengerut.Sambil cengengesan, Laura menjawab, "Iya, pernikahan."Reno terdiam. Masih menerka apa yang tengah direncanakan Laura. "Kita bicara di dalam saja," ucapnya seraya berbalik memasuki lift dasar.Laura bergegas mengikuti pria itu dan masuk bersama ke dalam lift.Tring!Pintu lift terbu

  • Jerat Skandal CEO    41. Terkejut.

    Dilema.Erika tertegun penuh tanya. Hanya bisa menatap ibu panti dengan wajah bingung. "Siapa dia, Bu?" Dengan senyum yang menenangkan, wanita itu menjawab, "Kenapa kamu tidak menemuinya?" tanyanya dengan mata yang mulai basah. "Apa kamu tidak rindu pada ibumu?"Erika kembali menatap sosok wanita yang sudah berdiri. Erika kembali menatap sosok wanita yang sudah berdiri. Waktu seolah melambat.Langkah wanita itu ragu, seakan ingin maju, namun takut ditolak. Matanya tidak lepas dari wajah Erika, penuh harap sekaligus cemas. Tangan yang terulur setengah jalan itu bergetar pelan, lalu menggantung di udara.Erika mengernyit. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tertahan kuat."Ibu?" suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Ibu panti mengangguk. Ia tidak bisa melepas rasa haru yang begitu tumpah ruah dalam hatinya. Bagaimana tidak, hanya Erika yang beruntung dijemput kembali oleh ibu kandungnya. Sedangkan anak yang lain, entah akan seperti apa nasib dan

  • Jerat Skandal CEO    40. Konflik Batin Erika.

    Laura tidak menunda waktu. Bahkan pada saat rangkaian spa belum selesai, ia memutuskan segera pulang. Hari sudah berganti, di dalam toilet kamarnya, ia sedang menunggu hasil tes pack dengan jantung tak beraturan. Jika dugaannya benar, matilah ia. Dan rencananya akan kacau balau. Bagaimana tidak, selama ia melakukan hubungan intim dengan Reno, pria itu tidak pernah mengeluarkan cairannya di dalam. Jadi jika dia sampai tahu dirinya hamil, sudah pasti akan tamat. Tidak membutuhkan waktu lama, Laura membanting alat kecil itu. "Euukhhh, sial!" rutuknya saat hasil tes menunjukkan tanda positif. Wanita itu mondar-mandir di dalam kamar mandi sambil memegangi kepalanya. "Tidak, aku harus segera menggugurkannya, harus." Beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar mandi Dengan wajah kacau. Mendekati ranjang saat ia melihat ponselnya menyala. Nama Darwin tertera di layar, wanita itu mendengus. "Apa aku hamil anak dia?" Laura berusaha mengingat-ingat dengan siapa saja ia melakukan hu

  • Jerat Skandal CEO    39. Rindu.

    Satu bulan berlalu. Setelah kepergian Erika, Keadaan kembali seperti semula. Pagi ini, Reno bangun kesiangan. Malas sekali walau hanya untuk berangkat ke kantor. Tapi ia selalu dituntut harus sempurna dalam segala hal. Dengan tubuh yang masih terbalut piyama garis salur hitam, ia membuka lemari es. Mengambil air putih dan segera menuangkannya ke dalam gelas. Rambutnya berantakan. Wajahnya pun belum sempat ia bersihkan. Reno meneguk air hingga habis satu gelas penuh. Sejenak, pria itu terdiam sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sudah satu bulan tapi rindu itu begitu menyesakkan dada. Entah di mana Erika sekarang. Sejak kepergiannya hari itu, ia kehilangan segalanya. Semua akses kontak telah diblokir. Bel pintu berbunyi. Reno berjalan malas ke depan. Begitu melihat kakeknya dari layar interkom, langkah Reno terhenti sejenak. Raut wajahnya berubah kesal. Pagi yang sudah terasa berat itu mendadak semakin sesak. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menekan tomb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status