LOGINSebelum kakeknya meninggal, Darka diberitahu bahwa ada sebuah keris sakti yang tertanam di bawah rumah lama sang kakek. Darka disuruh mencarinya untuk bisa membalaskan dendam pada orang yang menculik ibunya. Namun, ternyata selain memberikan kekuatan super, keris itu juga membawa bahaya bagi Darka. Sebab ada banyak musuh yang mengincar keberadaan keris sakti itu, bahkan orang pada dimensi lain. Dalam perjalanan misinya, Darka ditakdirkan bertemu dengan wanita cantik bernama Jenika yang membutuhkan Darka menjadi kekasih palsunya. Sebagai gantinya, Jenika memberikan fasilitas kemewahan untuk Darka. Bagaimana cara Darka melindungi keris sakti tersebut? Bagaimanakah kisah Darka bersama dengan Jenika yang terlibat hubungan palsu?
View MoreSemenjak ibunya diculik lima belas tahun yang lalu, Darka hidup sebagai pria berkaki cacat bersama dengan kakeknya yang tua renta. Kakinya terluka karena insiden penculikan itu, hingga membuatnya lumpuh permanen. Sebab cacat itu, banyak orang-orang yang meremehkan dan menghinanya di sekolah dulu dan bahkan sekarang sulit mendapatkan pekerjaan.
"Gara-gara kaki cacat ini aku sangat sulit menemukan pekerjaan," keluh Darka yang berjalan dengan bantuan tongkatnya, keluar dari sebuah perusahaan setelah interview.
Darka membuka ponselnya, lalu mencoret nama perusahaan ke sembilan yang sudah menolaknya.
"Jika terus seperti ini, apa aku akan menjadi pria cacat yang pengangguran? Aiishh ... mengapa dunia ini tak adil untuk orang sepertiku!"
Ponselnya tiba-tiba berdering. Darka langsung membaca pesan yang dikirimkan oleh temannya. Isi pesan itu membuat Darka mempercepat langkahnya yang tertatih untuk menuju ke pinggir jalan.
"Taksi! Taksi!" serunya pada taksi yang hampir melewatinya. Beruntung taksi itu sedang kosong. Darka masuk ke dalamnya.
Rasa cemas itu membuat Darka menahan tangisannya selama dua puluh menit perjalanan. Hingga ketika ia sudah sampai di depan rumahnya yang sederhana di sudut kota, Darka langsung keluar taksi usai membakar ongkosnya.
"Kakek!" serunya membuka pagar rumah yang terbuat dari kayu itu.
Seorang pemuda dengan rambut cepak yang sedari tadi berdiri di depan rumah, langsung mendekati Darka dengan raut wajah yang sendu.
"Darka, kau harus segera menemui Kakekmu. Dia mencarimu," ujar pemuda itu sambil mengusap pundak Darka.
Darka tak menyahut, ia langsung masuk ke dalam rumahnya untuk menuju kamar kakeknya. Tampak sang kakek terbaring lemah di kasur tipisnya. Darka langsung meringsut mendekat dengan raut wajah khawatir.
"Kek, apa yang terjadi?"
Kakek mengangkat tangan gemetarnya untuk meraih tangan Darka, lalu menggenggamnya. "Darka, kau sudah dewasa. Sudah lima belas tahun sejak ibumu menghilang, aku merawatmu seperti anakku sendiri."
"Kakek, apa yang Kakek katakan? Memangnya kenapa jika aku sudah dewasa? Aku masih membutuhkan Kakek sampai kapanpun!"
"Darka, dengar ... ini mungkin akan membawa hidupmu dalam masalah. Tapi setidaknya kau tak diam saja di sisa hidupmu ketika tak tahu pasti ibumu masih hidup atau sudah mati. Pergilah ke desa tempat kakek dulu tinggal. Kau masuk ke ruang bawah tanah dan bongkar lantainya. Kau akan menemukan sebuah peti yang di dalamnya ada sebuah keris sakti. Dengan mengambil keris itu, kaulah pemiliknya beserta kekuatan yang tersimpan di dalamnya. Gunakan keris itu untuk menemukan ibumu dan taklukkan dunia dengan itu," lontar sang kakek di sisa tenaganya yang kian menipis.
"M-maksud Kakek ... aku bisa mendapatkan kekuatan sakti dari keris itu? Lalu, mengapa keris itu bisa membuat hidupku dalam masalah?" tanya Darka bingung.
Terlambat. Sang kakek telah mengembuskan napas terakhirnya sebelum menjawab pertanyaan Darka.
"K-Kakek! Kakek bangun, Kek! Kakek jangan tinggalkan aku, Kek! KAKEEEEKK!" Darka menangis keras hingga suaranya terdengar oleh pemuda yang duduk di teras rumah Darka. Pemuda itu satu-satunya sahabat Darka yang rumahnya ada di ujung perumahan itu. Namanya Bima.
Tak lama setelah tangisan dari dalam rumah mereda, Bima dikejutkan dengan pintu rumah yang terbuka. Menampilkan sosok Darka yang benar-benar kacau karena tangisan duka. Darka duduk di samping Bima dengan tatapan kosong ke depan.
"Apa Kakek ...."
"Bima, kau sangat mempercayai kakekku, bukan?"
"Tentu saja!" sahut Bima antusias.
"Dia telah meninggal."
"Aku akan masuk--" Lengan Bima langsung ditahan oleh Darka.
"Biarkan kakekku beristirahat dengan tenang," ujar Darka. Darka membuka genggaman tangannya yang ada secarik kertas di dalamnya. "Ini adalah alamat rumah yang ada di atas meja kakekku. Aku diberikan tugas olehnya untuk mendatangi rumah ini. Katanya ... ada sebuah keris sakti yang tersimpan di sana."
"Keris sakti?" tanya Bima memastikan.
Darka menoleh pada Bima dan mengangguk. "Kau hidup sebatang kara, bukan? Mau ikut denganku?"
"Ikut denganmu?" tanya Bima memastikan.
"Kata kakek dengan keris sakti itu aku bisa membalaskan dendamku pada orang yang menculik ibu lima belas tahun yang lalu. Jika hal itu benar adanya, aku akan memanfaatkan itu untuk mencari kebenaran tentang ibuku. Aku sangat yakin ibuku masih hidup. Walau entah di mana keberadaannya," ungkap Darka.
Bima langsung mengangguk cepat. "Baiklah, aku akan ikut bersamamu. Ibumu sangat berjaga dalam hidupku ketika aku kecil, Darka. Aku akan membalasnya dengan menjadi pengikut setiamu."
Hari itu menjadi hari paling bertekad bagi Darka untuk mencari keberadaan ibunya. Besok harinya setelah pemakaman kakeknya, Darka dan Bima berangkat menuju desa Sembilan untuk mengunjungi rumah sang kakek yang sudah tak dihuni selama lima belas tahun lamanya.
***
"Apa benar ini rumahnya? Wah ... rumah kakekmu cukup besar walau tampilannya sangat sederhana," decak Bima yang terpana melihat rumah lama kakek Darka.
Darka mengangguk sambil mengamati rumah itu. "Kupikir inilah rumahnya. Sekilas aku masih mengingatnya. Dulu ketika kecil, aku cukup sering berkunjung ke sini bersama dengan ibuku."
"Jadi rumah ini sudah tak dihuni selama lima belas tahun? Ini luar biasa," ujar Bima kembali mengungkapkan kekagumannya. Namun, tiba-tiba dahinya mengerut ketika merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya. "Darka, sepertinya alam sedang memanggilku. Aku akan segera kembali!" Bima langsung melarikan diri dari sana.
Darka tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya. Lalu ia berjalan menuju rumah itu dan membukanya. Tak terkunci. Begitu Darka masuk, rambutnya terkena sarang laba-laba. Ia mengeluh sambil membersihkan rambutnya.
"Di mana letak ruangan bawah tanah itu?" gumamnya menelisik sekitar.
Darka menemukan ruangan bawah tanah itu di dalam kamar kakeknya. Letaknya ada di sudut ruangan kamar tersebut. Darka menggeser pintu yang menempel pada lantai tersebut, lalu menuruni tangga menuju ke bawah.
Ruangan itu diterangi oleh cahaya dari ventilasi udara yang ada di sudut atas ruangan, hingga Darka mampu melihat ada ukiran keris kecil di lantai. Darka pun mengamatinya dengan saksama hingga menyadari sesuatu.
"Ini dia!" Darka langsung beranjak mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuka lantai kayu itu. Di surut ruangan, Darka melihat sebuah cangkul. Darka pun mengambil cangkul tersebut.
"Jika keris itu benar-benar ada, aku akan mengambilnya apapun resikonya. Asal aku dapat mencari keberadaan ibuku!" ujarnya bertekad.
Lantai kayu itu terbuka setelah ditarik berkali-kali dengan menggunakan cangkul. Darka langsung menggali tanah yang ada di bawahnya, hingga ia menemukan sebuah peti hitam di dalamnya. Dengan susah payah, Darka mengeluarkan peti itu dari dalam sana.
"Arrrggghh!" erang Darka sambil menarik peti tersebut.
Peluhnya membanjiir wajahnya. Darka tersenyum lega melihat peti itu sudah ada di atas lantai.
"Baiklah, aku akan membukanya sekarang," ucapnya dengan semangat seraya berdiri.
Darka memukulkan besi cangkul itu pada gembok yang mengunci peti. Hingga beberapa kali percobaan, gembok itu pun terlepas dari peti tersebut. Buru-buru Darka duduk untuk membukanya. Setiap detik proses pembukaan peti tersebut, segel-segel yang melindungi peti itu terbuka. Tanpa diketahui oleh Darka, musuh-musuh mulai menangkap sinyal sang keris sakti yang telah aktif kembali.
"W-Waah ... keris ini sungguh ada?" Darka berdecak kagum melihat sebuah keris di dalam peti kecil itu.
Tangannya yang gemetar pun mulai bergerak untuk mengambilnya. Ketika keris tersebut dalam genggaman Darka, seketika cahaya biru yang menyilaukan memancar dari seluruh keris. Kekuatan itu langsung menjalar ke tubuh Darka hingga pemuda itu jatuh pingsan.
Kekuatan telah tersalurkan pada pemiliknya. Lantas, apa yang terjadi selanjutnya?
Darka panik begitu melihat sosok asing itu sedang memindai mereka dari depan mobil."Darka, kupikir dia memang mengincar kalungmu. Dia musuh pertamamu. Bagaimana ini?" tanya Bima dengan nada panik."Aku juga tak tahu. Apa aku harus melawannya sekarang?" tanya Darka.Jenika yang melihat kepanikan mereka pun merotasikan matanya dengan malas. "Kalian berdua benar-benar tak pantas dititipkan barang berharga. Bagaimana bisa tak ada yang berani di antara kalian berdua.""Bukannya tak ada yang berani, Nona. Hanya saja aku masih belum tahu bagaimana cara kalung ini bekerja," elak Darka."Cara kalung itu bekerja? Memangnya itu kalung apa?" tanya Jenika heran.Darka menepuk jidatnya, ia keceplosan."Kau berhutang penjelasan padaku, Darka," tegas Jenika. Gadis itu menekan klakson hingga membuat pria di depan sana berjengkit kaget. Barulah Jenika melongok dari jendela mobilnya. "Hei, Pria asing! Menyingkir dari mobilku! Aku ingin lewat!Pria itu malah mengitari mobil untuk mendekati ke arah tempa
"Hei, Tunggu!"Darka dan Bima yang baru saja melangkah keluar dari restaurant tiba-tiba menghentikan langkahnya secara bersamaan karena panggilan itu. Mereka menoleh ke belakang dan mendapati perempuan cantik yang sempat berdebat dengan Darka di dalam restauran tadi."Nona memanggilku?" tanya Darka ketika melihat tatapan perempuan itu jatuh pada kedua matanya.Perempuan itu mengangguk dengan tatapan canggung pada Darka. "Boleh kita bicara sebentar?"Darka mengeryitkan keningnya bingung, lalu menoleh pada Bima. Bima malah tersenyum seperti sedang mengejeknya. Darka merotasikan matanya, ia tahu Bima memikirkan hal lain ketika seorang perempuan ingin bicara berdua dengannya."Bicaralah, Nona. Aku akan mendengarkannya," kata Darka."Mari ke mobilku di parkiran. Akan lebih nyaman jika berbicara di sana," ajak perempuan itu lagi.Meski ragu, pada akhirnya Darka mengangguk juga. Mereka pun berjalan bersama menuju parkiran. Perempuan itu menuju ke sebuah mobil mewah berwarna putih. Ia mempers
Darka dan Bima meninggalkan desa Sembilan dengan berbekal keris sakti yang sekarang menggantung sebagai kalung di leher Darka. Siang itu sangat terik, hingga mereka berpikir untuk singgah ke sebuah warung untuk minum dan sedikit mengganjal perut mereka."Berapa uang yang kau punya? Apa cukup untuk makan?" tanya Bima. "Aku tak memiliki uang sepeser pun karena tidak bekerja menjadi buruh angkut di pasar," lanjutnya sedih.Darka merogoh uang di saku jaket lusuhnya. Hanya ada satu lembar uang dua puluh ribuan. Ia mendesah kecewa melihat nominal uang yang sangat sedikit itu. "Kita bisa makan, tapi kupikir hanya satu piring berdua. Seandainya saja uang ia ada dua lembar," ucap Darka sambil mengelus permukaan uang itu.Hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba uang itu memiliki lembar berikutnya di belakang ketika Darka mencoba menggesernya. "OH!" Darka menghentikan langkahnya sambil menunjuk uang di tangannya dengan mata yang melebar. "Menjadi dua! Bima, uangku menjadi ganda!"Bima yang tadinya b
"Darka, kau baik-baik saja?"Pemandangan yang pertama kali Darka lihat saat bangun dari pingsannya adalah wajah temannya, Bima. Darka menatap sekelilingnya untuk memastikan di mana ia berada sekarang. Ternyata dirinya ada di dalam sebuah kamar."Kau pingsan di ruang bawah tanah. Untung aku mendengar suara ponselmu yang aku hubungi," ujar Bima menjelaskan. Ia menatap Darka dengan tatapan penuh rasa penasaran. "Apa yang terjadi? Mengapa kau pingsan setelah membongkar lantai bawah tanah rumah ini?"Ah, Darka baru ingat tentang hal itu. Ia ingat bagaimana tubuhnya bagai tersengat listrik ketika menyentuh keris sakti itu. Lantas, Darka langsung bangkit menjadi duduk."Di mana keris itu?" tanyanya pada Bima dengan raut wajah agak panik.Bima mengeryitkan keningnya bingung. "Keris apa?"tanyanya heran. Lalu matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang menggantung di leher sahabatnya. "Oh, kalung keris? Itu masuk menggantung di lehermu."Darka menoleh pada dadanya. Ternyata keris sakti itu berub












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.