KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR

KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR

last updateLast Updated : 2026-07-09
By:  Mona CimOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sebelum kakeknya meninggal, Darka diberitahu bahwa ada sebuah keris sakti yang tertanam di bawah rumah lama sang kakek. Darka disuruh mencarinya untuk bisa membalaskan dendam pada orang yang menculik ibunya. Namun, ternyata selain memberikan kekuatan super, keris itu juga membawa bahaya bagi Darka. Sebab ada banyak musuh yang mengincar keberadaan keris sakti itu, bahkan orang pada dimensi lain. Dalam perjalanan misinya, Darka ditakdirkan bertemu dengan wanita cantik bernama Jenika yang membutuhkan Darka menjadi kekasih palsunya. Sebagai gantinya, Jenika memberikan fasilitas kemewahan untuk Darka. Bagaimana cara Darka melindungi keris sakti tersebut? Bagaimanakah kisah Darka bersama dengan Jenika yang terlibat hubungan palsu?

View More

Chapter 1

BAB 1. KERIS SAKTI WASIAT KAKEK

Semenjak ibunya diculik lima belas tahun yang lalu, Darka hidup sebagai pria berkaki cacat bersama dengan kakeknya yang tua renta. Kakinya terluka karena insiden penculikan itu, hingga membuatnya lumpuh permanen. Sebab cacat itu, banyak orang-orang yang meremehkan dan menghinanya di sekolah dulu dan bahkan sekarang sulit mendapatkan pekerjaan.

"Gara-gara kaki cacat ini aku sangat sulit menemukan pekerjaan," keluh Darka yang berjalan dengan bantuan tongkatnya, keluar dari sebuah perusahaan setelah interview.

Darka membuka ponselnya, lalu mencoret nama perusahaan ke sembilan yang sudah menolaknya. 

"Jika terus seperti ini, apa aku akan menjadi pria cacat yang pengangguran? Aiishh ... mengapa dunia ini tak adil untuk orang sepertiku!" 

Ponselnya tiba-tiba berdering. Darka langsung membaca pesan yang dikirimkan oleh temannya. Isi pesan itu membuat Darka mempercepat langkahnya yang tertatih untuk menuju ke pinggir jalan.

"Taksi! Taksi!" serunya pada taksi yang hampir melewatinya. Beruntung taksi itu sedang kosong. Darka masuk ke dalamnya.

Rasa cemas itu membuat Darka menahan tangisannya selama dua puluh menit perjalanan. Hingga ketika ia sudah sampai di depan rumahnya yang sederhana di sudut kota, Darka langsung keluar taksi usai membakar ongkosnya.

"Kakek!" serunya membuka pagar rumah yang terbuat dari kayu itu.

Seorang pemuda dengan rambut cepak yang sedari tadi berdiri di depan rumah, langsung mendekati Darka dengan raut wajah yang sendu. 

"Darka, kau harus segera menemui Kakekmu. Dia mencarimu," ujar pemuda itu sambil mengusap pundak Darka. 

Darka tak menyahut, ia langsung masuk ke dalam rumahnya untuk menuju kamar kakeknya. Tampak sang kakek terbaring lemah di kasur tipisnya. Darka langsung meringsut mendekat dengan raut wajah khawatir.

"Kek, apa yang terjadi?"

Kakek mengangkat tangan gemetarnya untuk meraih tangan Darka, lalu menggenggamnya. "Darka, kau sudah dewasa. Sudah lima belas tahun sejak ibumu menghilang, aku merawatmu seperti anakku sendiri."

"Kakek, apa yang Kakek katakan? Memangnya kenapa jika aku sudah dewasa? Aku masih membutuhkan Kakek sampai kapanpun!"

"Darka, dengar ... ini mungkin akan membawa hidupmu dalam masalah. Tapi setidaknya kau tak diam saja di sisa hidupmu ketika tak tahu pasti ibumu masih hidup atau sudah mati. Pergilah ke desa tempat kakek dulu tinggal. Kau masuk ke ruang bawah tanah dan bongkar lantainya. Kau akan menemukan sebuah peti yang di dalamnya ada sebuah keris sakti. Dengan mengambil keris itu, kaulah pemiliknya beserta kekuatan yang tersimpan di dalamnya. Gunakan keris itu untuk menemukan ibumu dan taklukkan dunia dengan itu," lontar sang kakek di sisa tenaganya yang kian menipis.

"M-maksud Kakek ... aku bisa mendapatkan kekuatan sakti dari keris itu? Lalu, mengapa keris itu bisa membuat hidupku dalam masalah?" tanya Darka bingung.

Terlambat. Sang kakek telah mengembuskan napas terakhirnya sebelum menjawab pertanyaan Darka. 

"K-Kakek! Kakek bangun, Kek! Kakek jangan tinggalkan aku, Kek! KAKEEEEKK!" Darka menangis keras hingga suaranya terdengar oleh pemuda yang duduk di teras rumah Darka. Pemuda itu satu-satunya sahabat Darka yang rumahnya ada di ujung perumahan itu. Namanya Bima.

Tak lama setelah tangisan dari dalam rumah mereda, Bima dikejutkan dengan pintu rumah yang terbuka. Menampilkan sosok Darka yang benar-benar kacau karena tangisan duka. Darka duduk di samping Bima dengan tatapan kosong ke depan.

"Apa Kakek ...."

"Bima, kau sangat mempercayai kakekku, bukan?"

"Tentu saja!" sahut Bima antusias.

"Dia telah meninggal."

"Aku akan masuk--" Lengan Bima langsung ditahan oleh Darka.

"Biarkan kakekku beristirahat dengan tenang," ujar Darka. Darka membuka genggaman tangannya yang ada secarik kertas di dalamnya. "Ini adalah alamat rumah yang ada di atas meja kakekku. Aku diberikan tugas olehnya untuk mendatangi rumah ini. Katanya ... ada sebuah keris sakti yang tersimpan di sana."

"Keris sakti?" tanya Bima memastikan.

Darka menoleh pada Bima dan mengangguk. "Kau hidup sebatang kara, bukan? Mau ikut denganku?"

"Ikut denganmu?" tanya Bima memastikan. 

"Kata kakek dengan keris sakti itu aku bisa membalaskan dendamku pada orang yang menculik ibu lima belas tahun yang lalu. Jika hal itu benar adanya, aku akan memanfaatkan itu untuk mencari kebenaran tentang ibuku. Aku sangat yakin ibuku masih hidup. Walau entah di mana keberadaannya," ungkap Darka.

Bima langsung mengangguk cepat. "Baiklah, aku akan ikut bersamamu. Ibumu sangat berjaga dalam hidupku ketika aku kecil, Darka. Aku akan membalasnya dengan menjadi pengikut setiamu."

Hari itu menjadi hari paling bertekad bagi Darka untuk mencari keberadaan ibunya. Besok harinya setelah pemakaman kakeknya,  Darka dan Bima berangkat menuju desa Sembilan untuk mengunjungi rumah sang kakek yang sudah tak dihuni selama lima belas tahun lamanya.

*** 

"Apa benar ini rumahnya? Wah ... rumah kakekmu cukup besar walau tampilannya sangat sederhana," decak Bima yang terpana melihat rumah lama kakek Darka.

Darka mengangguk sambil mengamati rumah itu. "Kupikir inilah rumahnya. Sekilas aku masih mengingatnya. Dulu ketika kecil, aku cukup sering berkunjung ke sini bersama dengan ibuku."

"Jadi rumah ini sudah tak dihuni selama lima belas tahun? Ini luar biasa," ujar Bima kembali mengungkapkan kekagumannya. Namun, tiba-tiba dahinya mengerut ketika merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya. "Darka, sepertinya alam sedang memanggilku. Aku akan segera kembali!" Bima langsung melarikan diri dari sana.

Darka tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya. Lalu ia berjalan menuju rumah itu dan membukanya. Tak terkunci. Begitu Darka masuk, rambutnya terkena sarang laba-laba. Ia mengeluh sambil membersihkan rambutnya.

"Di mana letak ruangan bawah tanah itu?" gumamnya menelisik sekitar.

Darka menemukan ruangan bawah tanah itu di dalam kamar kakeknya. Letaknya ada di sudut ruangan kamar tersebut. Darka menggeser pintu yang menempel pada lantai tersebut, lalu menuruni tangga menuju ke bawah.

Ruangan itu diterangi oleh cahaya dari ventilasi udara yang ada di sudut atas ruangan, hingga Darka mampu melihat ada ukiran keris kecil di lantai. Darka pun mengamatinya dengan saksama hingga menyadari sesuatu.

"Ini dia!" Darka langsung beranjak mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuka lantai kayu itu. Di surut ruangan, Darka melihat sebuah cangkul. Darka pun mengambil cangkul tersebut.

"Jika keris itu benar-benar ada, aku akan mengambilnya apapun resikonya. Asal aku dapat mencari keberadaan ibuku!" ujarnya bertekad.

Lantai kayu itu terbuka setelah ditarik berkali-kali dengan menggunakan cangkul. Darka langsung menggali tanah yang ada di bawahnya, hingga ia menemukan sebuah peti hitam di dalamnya. Dengan susah payah, Darka mengeluarkan peti itu dari dalam sana.

"Arrrggghh!" erang Darka sambil menarik peti tersebut.

Peluhnya membanjiir wajahnya. Darka tersenyum lega melihat peti itu sudah ada di atas lantai.

"Baiklah, aku akan membukanya sekarang," ucapnya dengan semangat seraya berdiri.

Darka memukulkan besi cangkul itu pada gembok yang mengunci peti. Hingga beberapa kali percobaan, gembok itu pun terlepas dari peti tersebut. Buru-buru Darka duduk untuk membukanya. Setiap detik proses pembukaan peti tersebut, segel-segel yang melindungi peti itu terbuka. Tanpa diketahui oleh Darka, musuh-musuh mulai menangkap sinyal sang keris sakti yang telah aktif kembali.

"W-Waah ... keris ini sungguh ada?" Darka berdecak kagum melihat sebuah keris di dalam peti kecil itu.

 Tangannya yang gemetar pun mulai bergerak untuk mengambilnya. Ketika keris tersebut dalam genggaman Darka, seketika cahaya biru yang menyilaukan memancar dari seluruh keris. Kekuatan itu langsung menjalar ke tubuh Darka hingga pemuda itu jatuh pingsan.

Kekuatan telah tersalurkan pada pemiliknya. Lantas, apa yang terjadi selanjutnya?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status