MasukRania tinggal bersama Ibu Tirinya yang kejam. Suka memerintah seenak jidat. Bahkan dia memaksa Rania untuk menikah diusianya yang masih belia. Vera menginginkan Rania menikah dengan anak temannya, semata-mata demi mendapatkan uang maskawin yang diberikan. Rania terpaksa menikah dengan Erlan. Ketua OSIS sekaligus geng motor yang ditakuti. Di lain sisi, Rania pun dicintai oleh Ravi, Dokter ganteng yang dulu merawat Ayahnya Rania ketika sakit. Lantas seperti apa kehidupan Rania? Akankah dia tetap mempertahankan pernikahannya dengan Erlan atau berpaling kepada Ravi?
Lihat lebih banyak“Bang lihatlah, mommy kita tengah dimarahi oleh nenek sihir.” Ucap seorang anak balita bermata bulat mengenakan hijab.
Sontak atensi anak pria yang mengenakan jas itu menoleh dan terkejut melihat wanita yang sangat dia cintai bersitegang dengan seorang wanita yang pakaiannya sangat mencolok. “Abang, ayo kita cari perlindungan buat mommy.” Ucap anak balita yang bernama Caca itu. “Cari perlindungan bagaimana Ca?” Tanyanya. Anak balita 4 tahun ini melihat sekeliling hingga netranya menemukan seorang pria berparas tampan yang mengenakan jas dengan wajah yang sangat dingin. “Ayo ikut aku bang,” ajak Caca alias Clara Adelin Alemanus. Kembaran Clara yang bernama Calvin Pratama Alemanus. Hingga keduanya sampai di meja yang terdapat dua orang pria berparas tampan, berahang tegas, sorot matanya tajam. Wajahnya datar. “Assalamualaikum om tampan,” ucap Caca. Kedua pria itu menoleh ke samping dan menaikan sebelah alisnya saat melihat manik mata balita ini sudah berkaca-kaca. Pria yang menegangkan jas biru Dongker pun bertanya “Are you okay sweety?” Tanyanya dengan lembut. “Om jas hitam,” ucap Caca. Bukannya menjawab pertanyaan pria tadi malah memanggil pria dewasa satunya lagi. “Ya,” sahutnya dengan singkat. “Om, mau tidak jadi papa kami?” Tanya Caca membuat pria itu tersedak ludahnya sendiri. Sedangkan sahabatnya yang mengenakan jas biru itu tertawa, melihat sahabatnya yang dilamar bocah kecil. “Are you kidding me?” Tanya pria itu dengan suara dingin. “No, I am serious." Jawab Caca. “KURANG AJAR YA LO, LO MAUNYA APA SIH!” teriak seorang wanita yang mengundang atensi semua orang menatap ke arahnya termasuk si kembar. “Harusnya saya yang tanya sama kamu, kamu maunya apa? Saya tidak merebut kekasih anda. Bahkan saya pun tidak kenal siapa dia.” Jawab seorang wanita mengenakan hijab dengan gamis berwarna emas. “Gak usah ngeles Lo, udah kayak bajay aja. Dasar wanita mur*han!” ucap wanita yang mengenakan pakaian galmor. Sedangkan Caca bertekuk lutut di samping pria berjas itu, sampai menangkupkan kedua tangannya. “Uncle, please bantu Caca. Help mommy uncle,” ucap Caca dengan suara yang bergetar. “Udahlah bro iyain aja dulu, dan tolong tuh ibunya. Kasian juga gue gak tega liatnya. “ Ucap Frans sahabat pria itu. Entah kenapa melihat balita itu bertekuk lutut dan memohon membuatnya tidak tega, alhasil pria berjas hitam itu berjongkok dan meraih tubuh Caca lalu menggendongnya. Tangan satunya lagi menarik bocah laki-laki berjas sama sepertinya hitam. Jeinnarra memejamkan matanya saat melihat tangan wanita di hadapannya sudah melayang diudara. “HENTIKAN!” suara bariton itu membuat semua orang menoleh tentunya dengan wanita yang bernama Sarah, wanita yang hendak menampar Jeinnarra. “Albirru,” ucap Sarah. “Turunkan tangan anda nona,” perintahnya yang berjalan mendekat ke arah Jeinnarra. “Al, siapa anak yang kamu gendong? Dan…” “Dia adalah istri saya, istri Albirru Sean Abritama.” Ucap Albirru. Sontak ucapan Albirru sukses membuat semua orang terkejut, termasuk Frans sahabatnya. ‘Astaga, diluar teks ini.’ batin Frans mengumpat. Wajah Sarah pucat pasi, bagaimana mungkin Albirru sudah menikah dan kapan? Kenapa dia tidak tahu. “Ayo sayang kita pulang, anak kita sudah rewel sepertinya dia mengantuk.” Ucap Albirru yang mengajak Jeinnarra. Calvin menarik sang mommy pergi dari sana diikuti oleh Albirru di belakangnya. Semua orang nampak berbisik, bagaimana tidak pengusaha kayak raya nomor satu di Indonesia ini mengakui bahwa dirinya sudah menikah dan memiliki dua orang anak sekaligus. Banyak yang berpikir bahwa mereka menikah rahasia, atau nikah karena bisnis. Banyak juga yang mencemooh Jeinnarra mengatakan bahwa dia adalah wanita penggoda dan lain sebagainya. Saat sampai di lobby hotel, Jeinnarra menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menatap pria yang berwajah datar itu. “Mommy, kenapa berhenti?” Tanya Calvin. “Hmmm itu…” “Saya antarkan pulang,” ucap Pria itu. Saat Jeinnarra akan berbicara tiba-tiba seorang pria setengah baya menghampiri Albirru. “Tuan muda,” panggilnya. Albirru bergegas berjalan menuju mobilnya diikuti Jeinnarra. Ya mau bagaimana lagi ya kali dia mau meninggalkan Caca sama pria asing batinnya. Setelah memastikan Jeinnarra memasangkan selt bet dengan wbanr mobil pun melaju meninggalkan hotel itu. Sepanjang perjalanan hening, membuat Jeinnarra gugup bukan main, entahlah Jwin merasa seperti berada di benua Antartika saat ini. “Mom, Calvin mengantuk.” Ucap Vita tersebut. Jangan ditanya Caca kenapa tidak berisik karena balita itu sudah tidur di dalam pelukan Albirru. “Tidurlah, sayang.” ucap Jein dengan mengelus puncak kepala Calvin. Tidak membutuhkan waktu lama balita ini sudah tertidur. Melihat kedua bocah itu telah tertidur, Albirru membuka suara. "Siapa namamu?" tanyanya. “Aku?” Tanya Jeinnarra. “Ya terus, kamu pikir saya tanya siapa?” Sarkasnya dengan ketus. "Aku, Jeinnarra." "Lengkapnya?" "Hah?" "CK, nama lengkap kamu?!" "Oh, Jeinnarra Alemanus." "Besok kamu jangan kemana-mana. Saya akan datang ke rumah kamu," ucapnya tegas. Jeinnarra mengernyit, bingung. "Maksudnya bagaimana?" "Saya akan menikahi kamu besok," ujar Albirru dingin. Raut wajahnya datar, tanpa emosi. Jeinnarra merasa seolah-olah dia diajak menikah dengan cara yang begitu saja, seperti membeli bakwan di pinggir jalan. “Kamu bercanda? Kamu ngajak menikah? Kita saja bahkan tidak mengenal satu sama lain,” ucap Jein. “Tidak ada penolakan, saya akan ke rumah kamu besok.” Ucap tegas Albirru. Daripada melayani ucapan pria ini, Jeinnarra memalingkan wajahnya ke jendela. ‘Dasar pria sinting,’ umpat Jeinnarra dalam hati."Erlan! Kamu mau pergi kemana, Sayang?" tanya Desi, cemas. Mengikuti langkah putranya yang tergesa-gesa. "Jangan masuk, Erlan!" perintahnya, tapi Erlan diam. Petugas pemadam kebakaran, telah datang dan sedang berusaha untuk memadamkan kobaran api yang berasal dari lantai dua. Erlan seakan tak peduli itu. Dia tetap masuk ke rumah, untuk mengambil kunci mobil agar bisa mengejar Rania. "Di mana Rania?" tanyanya lagi, tapi Erlan tidak peduli. Sikapnya kembali dingin, menulikan pendengarannya, seakan Desi tak ada di sana. "Jawab Mommy, Erlan!" teriaknya. Sekuat tenaga untuk menggantikan putranya. Seorang penjaga menghampiri Desi."Nyonya! Seseorang telah membawa Nona pergi. Para penjaga dihajar beberapa orang tidak dikenal, Nyonya," lapor penjaga itu, tertunduk."Apa?" Desi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, saking terkejutnya, dia hampir kehilangan kesadarannya. Tubuhnya lunglai, kedua kakinya tak mampu menopang berat badannya. Dia hampir jatuh, seandainya Roy tidak langsun
"Suapin gue," pinta Erlan lembut, menatap teduh istrinya.Rania mengangkat kepalanya, sponta, dia melotot, menelan ludahnya berat-berat. Permintaan Erlan membuatnya merasa tegang. "Kenapa diem? Tadi, katanya suruh gue makan. Ayo, suapin gue," pintanya lagi, terdengar memaksa, ditambah dia sudah membuka mulutnya lebar-lebar.Rania tampak ragu-ragu, menyiuk nasi menggunakan sendok. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam benaknya, Erlan berlagak selayaknya bocah yang minta disuapi ketika makan. Erlan menunggu, disertai senyuman menggoda.Rania menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya cepat. Berusaha untuk tersenyum, meskipun bibirnya terasa sangat kaku untuk digerakkan. Perlahan-lahan, Rania mengarahkan sendok itu ke mulut suaminya. Hap!Dalam sekali hap. Erlan melahap makanan yang disuapi langsung oleh istrinya.Rasanya terasa sangat nikmat dari biasanya. Semua rasa menjadi satu di dalam mulut.Rania tersenyum tipis. Ini kali pertama dirinya menyuapi pria lain, selain Ayahnya dulu
"Erlan!!!" teriak Rania dari kejauhan sambil berlari melewati koridor.Erlan berbalik badan. Matanya berseri-seri, tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya ketika bisa melihat sang istri kembali.Rania menghambur dalam pelukan suaminya. Erlan mendekapnya erat. Keduanya melepas rasa rindu sekaligus perasaan lega yang membumbung tinggi di hati masing-masing."Gue takut banget kehilangan lu, Lan," ucap Rania, terisak, tak mampu memendam perasaannya yang kian hari makin besar saja. Erlan memejamkan matanya. Napasnya begitu memburu. Rasa takut Rania, mampu ia rasakan, sama seperti yang dirasakan dirinya ketika melihat sang istri diculik. Erlan membuka matanya, melepaskan pelukannya kemudian, menatap teduh kedua mata Rania penuh cinta, "gue enggak akan pergi, Ran. Gue udah janji, bakalan balik lagi ...""Sekarang, gue menempati janji itu."Alih-alih tersenyum, tangis Rania semakin pecah, dia kembali memeluk suaminya dengan erat. "Jangan pernah tinggalin gue, Lan. Gue takut, lu pergi jauh
"Gue harus pergi dari sini secepatnya," gumam Leni, cemas, sembari memasukkan beberapa pasang pakaian ke dalam koper.Tindakannya begitu tergesa-gesa, seperti orang yang sedang dikejar-kejar penagih hutang."Gue enggak mau mati konyol di sini," gumamnya lagi, menarik resleting koper. Semua barang yang diperlukan telah ia masukkan. Leni menyambar jaket yang hitam yang tergeletak di kasur. Memakai jaket tersebut, lalu menutupi kepala dengan topi, serta memakai masker demi menyamarkan identitas.Leni bergegas pergi, meninggalkan apartemen yang disewanya. Menarik koper berukuran sedang, berisi barang-barang keperluannya.||•||Satu setengah jam kemudian ...Leni sampai di bandara internasional. Langkahnya begitu cepat, sambil memperhatikan sekitarnya, penuh waspada.Dia mempercepat langkahnya, menuju area pemeriksaan.DEG!Seseorang menabrakkan dirinya. Leni gelagapan saat topinya terlepas. "Mau coba-coba pergi?" kata orang itu, berbalik badan, terdengar seperti seseorang pria. Dia me
Hari berikutnya ...Erlan tersenyum lembut, sembari memandangi wajah polos istrinya yang masih terlelap. Waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB, tapi Rania seakan enggan untuk meninggalkan dunia mimpi.Cukup lama Erlan memandangi Rania, kira-kira sudah setengah jam. Kendati demikian, dirinya tidak mera
Malam harinya ...Rania, tertidur pulas, di samping ranjang, tempat Erlan berada. Tubuhnya duduk telungkup, kedua tangan dijadikan sebagai bantal. Erlan terbangun. Kedua matanya mengerjap, ketika menatap sang istri yang tertidur pulas di sampingnya. Helayan rambut, hitam legam itu, sedikit menutu
DOOORRRR "EERRRLANNN!"BRUK! Tubuh Erlan ambruk. Rania memangkunya. Tubuhnya sangat berkeringat, bercampur air mata yang mengalir deras. "Lan, bangun, Lan! Jangan tinggalin gue sendiri di sini! Kalau lu pergi, nanti gue sama siapa?" Tangis Rania pecah seraya memeluk Erlan yang sudah tidak sadark
"Lepasin tangan gue, Lan!" Rania sedikit menjerit, menarik tangannya dengan paksa.Erlan menghentikan ayunan kakinya. Keduanya saling menatap. Rania tak bisa menyembunyikan kekesalannya, sementara Erlan datar, tapi hatinya merasa dongkol, selalu ada saja biang kerok yang mengusiknya saat sedang ber
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak