MasukSepasang tangan Isyana mencengkeram kemudi dengan begitu erat, sementara selembar uang ratusan ribu dari Rehan tergeletak begitu saja di konsol tengah, sebuah simbol penghinaan yang justru memicu bahan bakar dendam di dadanya.
Tiba-tiba, ponsel Isyana yang terhubung ke dasbor mobil berdering nyaring. Layar digital memunculkan satu nama: Hendy, kepala divisi operasional sekaligus staf kepercayaannya. Isyana menekan tombol di kemudi untuk menerima panggilan. "Ya, Hendy. Ada apa?" "Halo, selamat sore, Ibu Isyana," suara Hendy terdengar agak terburu-buru dan cemas di seberang sana. "Maaf mengganggu waktu Ibu, tapi kami menghadapi situasi darurat di kantor." Isyana tetap tenang, matanya menatap lurus ke jalan raya. "Katakan. Masalah apa?" "Pihak Arkana Group, rekan bisnis dari luar kota yang menjanjikan investasi besar itu, tiba-tiba memajukan jadwal pertemuan, Ibu. Mereka baru saja mendarat dan meminta pertemuan diadakan sore ini juga." Isyana menyipitkan mata. "Sore ini? Bukankah jadwal aslinya masih lusa?" "Benar, Ibu. Perwakilan mereka bilang ada perubahan agenda mendadak dari jajaran direksi pusat. Masalahnya, proyek ini sejak awal di bawah pengawasan langsung Bapak Rehan. Seluruh berkas presentasi akhir dan proposal utama ada di tangan beliau." "Lalu, apa kendalanya? Tinggal minta Mas Rehan untuk mempresentasikannya sekarang," sahut Isyana, nadanya datar seolah tidak tahu apa-apa. "Itu dia masalahnya, Ibu," Hendy mendesah frustrasi. "Sejak satu jam yang lalu, nomor ponsel Bapak Rehan sama sekali tidak bisa dihubungi. Semua panggilan dialihkan ke kotak suara. Saya sudah meminta sekretarisnya memeriksa ruangan, tapi beliau tidak ada di tempat. Beberapa staf bilang melihat Bapak Rehan pergi terburu-buru sejak siang tadi." Isyana membatin, sudut bibirnya tersenyum sinis. 'Bagaimana bisa dihubungi? Pria bajingan itu saat ini sedang berada di atas puncak kenikmatan bersama selingkuhannya di kamar hotel. Jangankan ponsel, dunia di sekitarnya pun pasti sudah dia lupakan saat wanita murah itu bergelayut di pangkuannya.' "Ibu? Anda masih di sana?" panggil Hendy memecah lamunan dingin Isyana. "Ya, aku masih mendengarkan." "Menurut Ibu, apa yang harus kita lakukan? Waktu kita tidak banyak. Pihak investor sudah dalam perjalanan menuju kantor kita. Apa Ibu bisa membantu menghubungi Bapak Rehan? Mungkin beliau mengangkat jika Ibu yang menelepon." Isyana menatap lembaran uang seratus ribu di sampingnya dengan tatapan merendahkan. 'Menghubunginya? Untuk apa? Mengganggu waktu bersenang-senangnya? Tidak perlu.' "Lupakan tentang dia, Hendy," jawab Isyana tegas, suaranya terdengar dingin dan penuh wibawa. "Aku yang akan ke sana sekarang." Hendy terdengar ragu di seberang telepon. "Tapi, Ibu... proyek ini sepenuhnya dipersiapkan oleh Bapak Rehan. Apakah Ibu menguasai materi yang akan dipresentasikan nanti? Investor dari Arkana Group sangat teliti dan perfeksionis." "Kamu lupa siapa yang mendirikan perusahaan ini dari nol, Hendy?" tanya Isyana, nadanya menyiratkan dominasi yang mutlak. "Mas Rehan hanya menjalankan apa yang sudah kubangun. Aku tahu setiap sudut, setiap angka, dan setiap detail dari proyek itu, bahkan sebelum Mas Rehan menyentuh berkasnya." "Ah, maaf, Ibu. Saya tidak bermaksud meragukan ibu," sahut Hendy cepat, terdengar sungkan. "Baiklah, saya akan segera menyiapkan ruang rapat dan menyambut pihak Arkana Group." "Bagus. Berapa lama lagi mereka sampai?" "Perkiraan sekitar dua puluh menit lagi, Ibu." "Aku akan sampai dalam lima belas menit. Siapkan salinan cadangan dari berkas proyek di laptopmu. Kita tidak butuh Mas Rehan untuk memenangkan tender ini." "Baik, Ibu. Saya laksanakan. Terima kasih." Sambungan telepon terputus. Isyana segera memutar kemudi, berbelok tajam di persimpangan jalan menuju arah kantor pusat perusahaannya. Ekspresi wajahnya mengeras, memancarkan aura ketangguhan seorang wanita yang tidak akan pernah membiarkan kerajaannya runtuh hanya karena ulah seorang pengkhianat. 'Kau ingin mengambil alih sahamku dan melemparkan surat cerai ke mukaku, Mas?' batin Isyana sambil menginjak pedal gas lebih dalam. 'Mari kita lihat, bagaimana ekspresimu besok saat mendapati proyek terbesar yang kau impikan justru jatuh sepenuhnya ke tanganku tanpa menyisakan namamu sedikit pun.' Langkah kaki Isyana yang terbalut sepatu hak tinggi mengetuk lantai marmer lobi kantor dengan ritme yang tegas. Hendy sudah berdiri gelisah di dekat lift, langsung menyongsong Isyana begitu pintu kaca terbuka. "Ibu Isyana, syukurlah Anda sudah tiba," bisik Hendy setengah berlari mengimbangi langkah Isyana yang cepat. "Tamu dari Arkana Group lebih cepat tiba dari perkiraan, mereka baru saja masuk ke ruang rapat utama." "Bagaimana persiapannya?" tanya Isyana tanpa memperlambat langkah. "Semua sudah siap, Ibu. Tapi seperti yang Anda tahu, ini bukan proyek biasa. Ini Proyek Stadion, rencana pembangunan stadion olahraga terbesar di Indonesia dengan konsep eco-green dan teknologi atap bergerak. Nilai investasinya triliunan rupiah." Hendy menyodorkan sebuah tablet berisi ringkasan draf presentasi. "Semua data teknis ada di sini, tapi jujur, saya sangat gugup. Bapak Rehan yang memegang semua analisis keuangannya secara detail." Isyana melirik tablet itu mengetik sesuatu lalu menyerahkannya kembali pada Hendy. "Aku sudah menghafal seluruh struktur anggarannya di luar kepala, Hendy. Mari kita masuk." Pintu ruang rapat yang terbuat dari kaca buram didorong terbuka oleh Hendy. Begitu Isyana melangkah masuk, keheningan langsung menyergap ruangan luas itu. Di ujung meja panjang, duduk jajaran direksi dari Arkana Group yang dipimpin oleh seorang pria paruh baya berwajah dingin, ditemani oleh beberapa petinggi dari perusahaan Isyana sendiri. Begitu melihat sosok yang masuk adalah Isyana, bukan Rehan, raut wajah para petinggi perusahaan seketika berubah lesu. Beberapa orang saling berbisik kecewa, bahkan ada yang menghela napas panjang secara terang-terangan. "Lho, Ibu Isyana?" Pak Dirman, salah satu komisaris perusahaan, langsung berbisik dengan nada cemas yang tertahan. "Di mana Pak Rehan? Ini presentasi krusial untuk Proyek Stadion. Pihak Arkana Group datang jauh-jauh untuk mendengar pemaparan langsung dari Pak Rehan selaku penanggung jawab utama." "Suami saya sedang ada urusan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan, Pak Dirman," jawab Isyana tenang, suaranya terdengar merdu namun penuh penekanan. Dia berjalan anggun menuju ujung meja, tepat di depan layar proyektor besar. "Urusan mendesak apa yang lebih penting dari proyek triliunan ini?" sahut salah satu direktur Arkana Group dengan nada kecewa yang kentara. "Kami menjadwalkan ulang pertemuan ini karena mengira Pak Rehan sudah siap. Jika hanya diwakili, kami khawatir presentasi ini tidak akan maksimal." "Kami sangat menghargai waktu Anda yang berharga," Isyana menatap lurus pria itu tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya. "Dan saya jamin, kehadiran saya di sini tidak akan mengurangi satu persen pun kualitas dari apa yang akan kami tawarkan. Justru, Anda akan mendengar rincian yang jauh lebih matang." Pak Dirman memijat pelipisnya, bergumam lirih pada direktur di sebelahnya, "Habis sudah. Proyek terbesar kita akan melayang hari ini."Amara menggeleng-gelengkan kepalanya, perlahan rasa syoknya berubah menjadi kekaguman yang luar biasa pada sahabatnya. "Jadi karena itu kamu bergerak secepat kilat pagi ini? Luar biasa. Lalu, apa Rehan sudah tahu kalau kamu tahu soal anak itu?""Tidak," Isyana menyesap jus jeruknya perlahan, lalu menatap Amara dengan kilat mata yang mematikan. "Tadi dia datang kelabakan ke ruanganku, mengamuk karena rekeningnya dibekukan. Dia mengira aku hanya tahu soal kelakuan ibunya dan masalah anggaran kantor. Aku sengaja menyembunyikan kartu as soal Sinta dan Rosy agar dia merasa di atas angin dalam ketidaktahuannya. Biarkan dia panik dengan urusan keuangan dan pemecatan adiknya dulu."Amara mengepalkan tangannya di atas meja, ikut merasakan kepedihan sekaligus amarah sahabatnya. "Lalu, apa langkah kita selanjutnya, Isyana? Sebagai pengacaramu, aku sudah merapikan semua dokumen kepemilikan saham dan aset pribadimu sejak beberapa bulan lalu. Kapan kita layangkan gugatan cerai?"Isyana menatap Amar
"Kantor ini berdiri di atas tanah keluargaku, dibangun dengan modal penuh dari asetku, dan 70 persen sahamnya adalah milikku mutlak," Isyana menegakkan punggungnya, menatap Tio dengan sorot mata yang membuat pemuda itu mendadak ciut. "Dua tahun kamu menikmati posisi manajer tanpa kualifikasi yang jelas, hanya mengandalkan nepotisme kakakmu, dan berani memotong anggaran staf bawah untuk gaya hidupmu. Hari ini, semuanya berakhir."Isyana menggeser sebuah dokumen bermaterai ke ujung meja."Ini surat pemecatanmu secara tidak hormat. Dan Bagito sudah menyiapkan rincian pengembalian dana 1,2 miliar yang kamu selewengkan. Jika dalam waktu tiga hari uang itu tidak kembali ke kas perusahaan, Hendy akan langsung menyerahkan berkas ini ke kepolisian atas tuduhan penggelapan dalam jabatan.""Mbak Isyana!! Kau keterlaluan!! Aku ini adik suamimu!!" teriak Tio frustrasi, wajahnya memerah padam karena terkejut dan malu."Di dalam perusahaan ini, kamu hanya seorang karyawan yang tertangkap tangan menc
Kau pikir aku bodoh, Mas?" Isyana bangkit dari kursinya, membuat tinggi mereka kini sejajar. Aura dominan Isyana seketika mengintimidasi Rehan, menekan pria itu hingga mundur setengah langkah. "Sepuluh tahun aku di rumah, bukan berarti otakku tumpul. Aku tahu setiap sen uang yang keluar dari perusahaan ini. Aku tahu kau menggunakan uangku untuk membiayai semua keluargamu bahkan sepupu-sepupumu, memanjakan mereka, dan memberi ibumu yang tidak pernah merasa cukup itu."Rehan membelalakkan matanya, rasa muak dan benci mendadak memenuhi dadanya melihat wajah Isyana yang begitu tenang tanpa cela.Dadanya sedikit lega karena Isyana tidak mengetahui tentang Sinta."Kau memata-mataiku?! Menjijikkan sekali kelakuanmu, Isyana! Kau wanita berhati batu! Ibu sedang sakit di rumah sakit, dan kau dengan teganya memotong biaya pengobatannya hanya karena egomu yang terluka?!"Isyana tidak marah mendengar makian itu. Di dalam hatinya, dia justru sedang bersorak sorai merayakan kemenangan babak pertama.
Rehan menutup panggilan telepon dari Bagito, dengan tangan yang bergetar hebat.Ponsel di genggamannya hampir saja lolos dari jemari yang mendadak mati rasa. Wajahnya yang semula kemerahan penuh keangkuhan kini berubah pucat pasi, bagai mayat hidup."Rehan, kamu kenapa? Siapa yang menelepon? Kenapa wajahmu jadi seperti itu?" Ibu Rehan bangkit dari sofa, melangkah mendekati putranya dengan raut cemas.Sisil yang baru saja kembali setelah membayar kurir makanan langsung meletakkan kantong plastik di meja. "Iya, Rehan. Uangku sudah terpakai dua juta. Mana transferannya? Kok belum masuk ke rekeningku?"Rehan menelan ludah dengan susah payah. Dia menatap ibunya, Sisil, dan Sinta bergantian dengan pandangan kosong."Semua rekeningku... dibekukan.""Apa?!" Sisil berteriak histeris. "Dibekukan bagaimana? Jangan bercanda, Rehan! Kamu kan bos di Pilar Corporation!""Ini pasti ulah Isyana," desis Rehan, suaranya parau penuh amarah yang mulai membakar dadanya. "Manager keuangan baru saja bilang,
Ibu Rehan langsung menggenggam tangan Sinta dengan erat. "Jangan bicara begitu, Sinta. Kamu itu menantu idaman Ibu yang sebenarnya. Ramah, tahu cara menyenangkan suami, dan sudah memberi Rehan anak perempuan yang cantik. Ibu pasti akan membantumu mendapatkan posisi yang seharusnya. Biarkan saja Isyana mendekam di rumah besarnya itu sampai Rehan berhasil mengalihkan semua saham perusahaan atas namanya. Setelah itu, kita tendang dia keluar."Rehan tersenyum puas mendengar dukungan keluarganya. Dia merasa langkahnya sudah sangat tepat. Dia mendekati ranjang, mengecup kening Rosy yang mulai terlelap."Kalian tenang saja. Taktik pengalihan aset sudah berjalan. Sinta juga rutin menerima suntikan dana operasional bulanan lewat kontrak fiktif yang kubuat. Isyana yang bodoh itu tidak akan pernah menyadarinya.""Baguslah kalau begitu," Sisil menimpali sambil meregangkan tubuhnya. "Oh ya, Rehan. Perutku sudah keroncongan dari tadi. Ibu juga belum makan siang, kan? Sinta pasti lapar karena menjag
Rani ikut melirik ke arah Tio, lalu menghela napas pendek dengan wajah serba salah, seolah takut salah bicara. "Oh, itu... itu Pak Tio, Ibu. Beliau menjabat sebagai Manajer Operasional di divisi ini.""Manajer Operasional?" Isyana menaikkan sebelah alisnya, nadanya terdengar datar namun menuntut penjelasan. "Setahu saya, posisi itu membutuhkan kualifikasi tinggi dan pengalaman minimal lima tahun. Kapan dia mulai bergabung?""Beliau sudah bekerja di sini sekitar dua tahun, Ibu," jawab Rani dengan suara yang sengaja diperkecil. "Tepat setelah lulus kuliah, Pak Rehan langsung membawa beliau masuk dan menempatkannya di posisi manajer. Seluruh keputusan operasional tingkat bawah harus melalui persetujuan beliau."Isyana membatin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang sangat tipis. 'Luar biasa. Dua tahun lalu, saat aku sibuk merawat Abim yang sedang sakit sakitan, Rehan diam-diam memasukkan adiknya sendiri dan memberinya jabatan empuk. Pantas saja laporan efisiensi operasi







