LOGINPaginya, setelah Clarissa pergi dengan mobil. Wandra duduk di halaman belakang di antara tanaman-tanaman obatnya dan memandang langit yang dipenuhi bintang. Pikirannya menelusuri semua yang terjadi sejak dia keluar dari gua di Gunung Lembean. Wiro yang memberikannya handphone. Gito yang menghancurkan guanya. Perjalanannya ke kota Arcandra. Kampus. Clarissa. Cindy. Winona. Pertarungan demi pertarungan. Kematian demi kematian. Dan di tengah semua itu, tanaman-tanaman obat yang terus dia rawat seperti seorang petani yang tidak peduli bahwa badai sedang mengamuk di sekelilingnya.'Sudah waktunya meninggalkan tempat ini,' batin Wandra. 'Wilayah Selatan sudah aman. Keluarga-keluarga yang aku kenal sudah terlindungi. Dan masih banyak yang ingin aku lihat di dunia modern ini.'Saat fajar mulai menyingsing dan langit berubah dari hitam menjadi biru tua kemudian biru muda, Wandra sudah selesai dengan semua persiapannya.Dia berjalan menyusuri halaman belakang dan memeriksa setiap tanaman untu
Clarissa menggeliat pelan dalam pelukan Wandra, napasnya masih hangat di leher pria itu, tapi matanya terbuka lebar, penuh hasrat yang belum padam. “Tunggu, Wandra... jangan dulu tidur. Aku masih ingin lebih. Ajari aku posisi lain, yang bisa buat qi kita menyatu lebih dalam,” bisiknya, tangannya merayap ke bawah, meraih kontol Wandra yang masih setengah keras, mengelus pelan hingga mulai mengeras lagi. Wandra tersenyum, merasakan energi yin Clarissa yang bangkit kembali, memicu yang-nya sendiri. “Baiklah, Bu. Kita coba posisi lotus sekarang. Duduklah di pangkuanku, biar kita tatap muka dan alirkan qi langsung dari hati ke hati.” Mereka bangun dari posisi spooning, Wandra duduk bersila di tengah kasur, punggungnya bersandar ke dinding untuk kenyamanan. Clarissa naik ke pangkuannya dengan gerakan lambat, kakinya melingkar di pinggang Wandra, memeknya yang masih basah dan licin dari sperma sebelumnya menggosok ujung kontol yang sudah tegak.Ia turunkan tubuh pelan, membiarkan kepala k
Wandra mengantar Cindy sampai ke depan pintu rumah keluarga Halim. Mobil berhenti di halaman luas yang diterangi lampu-lampu taman yang bersinar lembut. Cindy yang tertidur di bahu Wandra sepanjang perjalanan terbangun saat mobil berhenti."Sudah sampai?" Cindy bergumam dengan mata yang masih setengah terpejam."Sudah. Masuklah."Cindy menegakkan tubuhnya dan memandang Wandra. Wajahnya yang tadi basah oleh air mata di restoran kini sudah kering, tapi matanya masih menyimpan sisa emosi dari malam yang panjang ini. Dia ingin berkata sesuatu lagi, ingin mengulangi semua yang sudah dia ungkapkan tadi, ingin memastikan bahwa Wandra benar-benar mendengar dan memahami perasaannya. Tapi kata-kata itu sudah terucapkan, dan Wandra sudah menjawab dengan caranya sendiri."Besok kamu berangkat?" Cindy bertanya pelan."Ya. Pagi-pagi."Cindy mengangguk. Dia membuka pintu mobil dan turun, tapi sebelum menutup pintu, dia menunduk dan memandang Wandra dari luar. "Jangan lupa janjimu.""Aku tidak pernah
Setelah beberapa saat berbaring dalam pelukan saling tempel, napas Cindy masih tersengal pelan, Wandra rasakan hasratnya belum sepenuhnya padam. Kontolnya yang masih setengah tegang tergelincir keluar dari memek Cindy yang basah, meninggalkan jejak cairan panas di paha gadis itu. Wandra memeluk pinggang Cindy erat, hidungnya hirup aroma manis rambutnya. “Cindy, kau siap untuk pelajaran berikutnya?” bisiknya di telinga gadis itu, suaranya rendah dan penuh godaan. Cindy bergeser sedikit, punggungnya menempel lebih rapat ke dada Wandra, senyum lelah tapi antusias muncul di bibirnya. “Pelajaran apa lagi? Aku sudah capek, tapi... penasaran,” jawabnya, tangannya balik pegang lengan Wandra yang melingkar di perutnya. Wandra cium bahu Cindy pelan, gigit ringan kulit lembut itu hingga gadis itu menggelinjang. “Spooning. Kita berbaring menyamping, aku dari belakang. Ini intim, seperti pelukan tapi dengan penetrasi dalam. Kau bisa rileks total, biar aku yang gerakkan.” Cindy mengangguk pela
Setelah beberapa menit berbaring dalam pelukan hangat, napas mereka mulai tenang, Wandra rasakan kontolnya mulai mengeras lagi di antara paha Cindy yang masih basah. Dia geser tangannya pelan di punggung gadis itu, jarinya usap kulit lembutnya. “Cindy, kau mau coba sesuatu yang baru?” bisiknya, suaranya penuh kelembutan tapi juga hasrat yang bangkit kembali. Cindy angkat kepalanya dari dada Wandra, matanya bertemu dengan mata pria itu, pipinya masih merona dari orgasme sebelumnya. “Apa itu?” tanyanya pelan, senyum malu-malu muncul di bibirnya. Wandra tersenyum, tangan kanannya turun ke pantat Cindy, remas pelan daging kenyal itu. “Kau di atas. Kau yang kendalikan ritmenya. Biar kau rasakan bagaimana rasanya memimpin.” Cindy gigit bibir bawahnya, campuran antara penasaran dan gugup terlihat di wajahnya. “Aku... nggak tahu caranya. Ini baru pertama kalinya bagiku.” Wandra cium keningnya lembut. “Aku akan ajari kamu langkah demi langkah. Percaya padaku, ini akan enak sekali untuk kit
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah hotel kecil tapi nyaman tidak jauh dari restoran, lampu neonnya menyala lembut di malam yang sepi. Sopir taksi mematikan mesin, dan Wandra pelan-pelan geser bahu agar Cindy terbangun tanpa terganggu. “Cindy, kita sudah sampai,” bisiknya, tangannya usap rambut gadis itu dengan lembut. Cindy menggeliat, matanya terbuka pelan, senyumnya kembali muncul saat melihat wajah Wandra. “Sudah? Aku nggak sadar tertidur,” katanya sambil duduk tegak, pipinya sedikit merona karena malu. Wandra bayar sopir dan turun, tangannya ulurkan ke Cindy untuk bantu dia keluar. “Ayo, malam ini belum selesai,” katanya dengan suara rendah yang bikin hati Cindy berdegup lebih kencang. Mereka berjalan berdampingan masuk ke lobi hotel yang tenang, tangan Wandra pegang pinggang Cindy pelan, gerakannya protektif dan intim. Di meja resepsionis, Wandra pesan kamar suite sederhana dengan pemandangan kota, suaranya tenang saat mengisi formulir. Cindy berdiri di sampingnya, jari
"Minta Tolong untuk apa?"Cindy menatap tangannya sendiri yang terlipat di pangkuan—jelas ia sangat gugup dan malu. "Aku... aku punya masalah. Masalah yang sangat besar. Dan aku pikir kamu satu-satunya orang yang bisa bantuin aku.""Coba cerita. Mungkin aku bisa bantu."Cindy menarik napas dalam la
Wandra dan Mia masih terengah-engah di atas ranjang, tubuh mereka basah oleh keringat dan cairan tubuh yang bercampur di kamar dengan AC yang sejuk.Liontin di leher Wandra terus berpendar samar, asap pemancing gairahnya masih menyelimuti ruangan, membuat udara terasa panas dan memabukkan.Mia, den
Wandra bergegas masuk ke dalam kost Marni, hatinya gelisah karena telah terkena pengaruh asap.Pintu utama kost itu terbuka lebar, seolah-olah Marni lupa menguncinya dalam keadaan buru-buru. "Marni! Marni, kamu di mana?" panggil Wandra dengan suara sedikit panik, suaranya bergema di koridor sempit.
Preman pertama melemparkan pukulan ke wajah Wandra—pukulan yang cukup keras dan cepat.Tapi bagi Wandra, pukulan itu terlihat... lambat. Sangat lambat. Seperti gerakan slow motion dalam film.Tanpa berpikir, tubuh Wandra bergerak sendiri—memiringkan kepala sedikit ke kanan, dan pukulan preman itu m







