MasukPedro berdiri di depan tangga darurat dengan wajah yang sudah kehilangan semua kegembiraan yang dia tunjukkan tadi. Di belakangnya, tujuh puluh tujuh anggota kelompok delapan berdiri dalam keheningan yang sangat berat. Tidak ada yang berani bicara. Tidak ada yang berani mengomentari apa yang baru saja terjadi.Tapi di mata mereka semua, terutama rekrutan-rekrutan baru, sebuah kesadaran yang menyakitkan sudah terbentuk. Kelompok delapan bukan hanya kelompok yang paling lemah. Kelompok delapan adalah kelompok yang bisa ditindas oleh siapa pun, kapan pun, di mana pun. Bahkan di dalam gedung organisasi mereka sendiri.Alfa yang tadi berjalan dengan dada membusung dan dagu terangkat kini berjalan dengan langkah yang lebih pelan dan mata yang menerawang. Sanjungan Pedro dan Ishak tadi mulai terasa kosong. Menjadi andalan kelompok delapan ternyata tidak seistimewa yang dia bayangkan.Wandra yang berjalan di barisan paling belakang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia hanya berjalan menaik
Emas itu berkilau di bawah cahaya matahari pagi, beratnya sekitar satu kilogram, dengan kemurnian yang bahkan mata awam pun bisa melihat betapa berharganya benda itu. Wandra menyodorkan emas itu ke tangan Ishak dengan gerakan yang sangat kasual, seperti menyerahkan uang kembalian ke kasir.Ishak memandang emas di tangannya. Kemudian memandang Wandra. Kemudian memandang emas lagi.Satu batang emas. Nilainya mungkin setara dengan pendapatan kelompok delapan selama beberapa minggu.Ishak langsung memasukkan emas itu ke balik jasnya dengan gerakan yang sangat cepat dan sangat terlatih. Gerakan seseorang yang sudah sangat berpengalaman menerima sogokan."Baiklah," Ishak berkata dengan suara yang langsung berubah ramah. "Kamu bisa masuk ke dalam tim. Tapi kamu harus menjauh, usahakan selalu berada di belakang yang lain supaya Bos tidak melihatmu. Mengerti?"Wandra mengangguk dengan gaya malas.Ishak kembali ke sisi Pedro dan tes rekrutmen dimulai. Tes itu sederhana, serangkaian ujian kekuat
Selama dua hari pertama di kota Filemon, Wandra tidak langsung menuju markas Hung Sing. Dia memilih untuk melakukan penyelidikan terlebih dahulu.Kota Filemon adalah kota yang sangat besar dengan jutaan penduduk dan jaringan informasi yang sangat kompleks. Tapi bagi seseorang yang sudah hidup selama tujuh ribu tahun dan memiliki roh primordial yang bisa menyebar ke radius yang sangat luas, mengumpulkan informasi bukanlah hal yang sulit.Wandra berkeliling kota dengan gaya turis biasa, memotret pemandangan dengan handphone-nya, makan di berbagai warung dan restoran, dan mendengarkan percakapan orang-orang di sekitarnya. Roh primordialnya yang menyebar tanpa terdeteksi menangkap potongan-potongan informasi dari berbagai penjuru kota.Dan gambaran tentang Hung Sing perlahan terbentuk di benaknya.Hung Sing adalah organisasi bawah tanah terbesar di kota Filemon. Mereka menguasai perdagangan gelap, jasa perlindungan, perjudian, dan berbagai bisnis lainnya yang berada di zona abu-abu antara
Pria tua itu menyerang.Kecepatannya melampaui apa pun yang pernah disaksikan oleh siapa pun di kota Filemon. Satu detik dia berdiri di posisinya, detik berikutnya dia sudah berada di hadapan Wandra dengan kepalan tangan yang memancarkan energi alam manusia suci. Energi itu berwarna keperakan seperti mata dan rambutnya, dan mengandung esensi hukum alam yang sudah dimurnikan melampaui batas pemahaman manusia biasa.Wandra menyambut serangan itu.Benturan pertama membuat tanah di bawah kaki mereka ambles. Aspal pecah. Pagar besi gerbang kompleks terbang terlempar. Jendela-jendela gedung di sekitar pecah berantakan. Gelombang tekanan menyebar ke segala arah dan memaksa semua orang, baik dari keluarga Lontaan maupun keluarga Dananjaya, untuk mundur puluhan meter.Saling jual beli pukulan terjadi. Pria tua itu menyerang dengan kombinasi yang menunjukkan pengalaman bertarung selama puluhan tahun di level tertinggi. Setiap pukulannya membawa hukum alam yang bisa merobek ruang. Setiap tendang
Hari pertama dan kedua berlalu tanpa ada gerakan berarti dari keluarga Dananjaya. Keluarga Lontaan memanfaatkan waktu itu untuk memulihkan diri dan membenahi gedung mereka yang rusak. Leo mendapatkan perawatan medis yang lebih baik dari tabib-tabib di kota Filemon, dan kondisinya mulai membaik secara signifikan.Wandra menghabiskan dua hari itu dengan berkeliling kota Filemon, memotret berbagai pemandangan, dan menikmati kuliner lokal. Dia menemukan bahwa kentang goreng di kota Filemon dibuat dengan gaya yang berbeda dari yang dia makan di Penginapan Naga, dibumbui dengan rempah-rempah khas wilayah Timur yang memberikan rasa pedas yang unik. Wandra menyukai variasi ini.Pada malam kedua, Wandra duduk di kursi di depan gerbang utama kompleks keluarga Lontaan. Dia baru saja selesai makan malam dan sedang memandang langit malam kota Filemon yang tidak seindah langit gurun karena polusi cahaya kota.Saat itulah roh primordialnya mendeteksi sesuatu. Sekelompok besar orang bergerak menuju k
Pagi ini tepat pukul enam, rombongan keluarga Lontaan sudah siap berangkat di halaman depan Penginapan Naga. Empat mobil besar berpenggerak empat roda yang mampu melintasi gurun sudah diparkir berjajar dengan mesin yang sudah menyala. Mobil-mobil itu milik keluarga Lontaan yang mereka bawa saat melarikan diri dari kota Filemon beberapa minggu yang lalu.Wandra duduk di kursi belakang mobil pertama bersama Leo Lontaan dan Soraya. Roni mengemudikan mobil itu sendiri. Di mobil-mobil berikutnya, anggota keluarga Lontaan lainnya sudah duduk dengan wajah-wajah yang menunjukkan campuran antara harapan dan kecemasan. Wandi duduk di mobil kedua sambil koar-koar tentang bagaimana dia akan memastikan keluarga Dananjaya membayar semua yang sudah mereka lakukan.Rombongan melaju meninggalkan Penginapan Naga dan memasuki gurun menuju ke arah timur. Perjalanan dari penginapan ke kota Filemon memakan waktu sekitar satu hari penuh dengan mobil. Jalanan gurun yang awalnya hanya berupa jejak ban di atas
"Nilai Wandra adalah A plus plus," Clarissa menambahkan. "Sementara nilai Cindy adalah B plus. Ada jarak yang cukup jauh."Cindy merasakan wajahnya memanas karena malu dalam kekalahan. Dia tidak menyangka Wandra yang menyerahkan jawaban hanya dalam lima menit ternyata mendapatkan nilai sempurna."W
"Apa kau yakin?" tanya Wandra sambil menelan salivanya. Batangnya menegang di bawah sana. Leni mengangguk. "Aku yakin. Ini adalah pemberian yang akan selalu aku kenang. Aku akan selalu bersyukur karena melakukan ini denganmu."Wandra tersenyum. Ini adalah pemberian yang tidak akan pernah dia tolak
Wandra terbaring beberapa menit di samping Meylan yang sudah tertidur lelap karena kelelahan. Liontin di dadanya sudah dingin, tapi hatinya terasa sangat panas — bukan karena gairah, melainkan rasa bersalah yang menyengat.Ia memandang wajah Meylan yang polos dan lelah, lalu menghela napas panjang.
Nila masih terbaring telungkup di ranjang, bokongnya yang merah bekas tamparan masih terangkat sedikit. Napasnya tersengal-sengal, cairan cinta mereka berdua menetes pelan dari celahnya yang membengkak. Namun asap hitam dari liontin Wandra masih menebal di udara kamar kost, membuat hasrat mereka te







