Share

63 Curhat

Author: Heartwriter
last update publish date: 2026-04-29 08:07:54

Wandra terbangun dengan perlahan. Tubuhnya masih terasa lelah—kombinasi dari menyembuhkan tiga pasien kritis dan dari apa yang terjadi setelahnya dengan Lidya.

Ia membuka matanya dan melihat Lidya sudah bangun, duduk di lantai sambil merapikan seragam perawatnya.

Wanita itu terlihat... bahagia. Ada senyuman di wajahnya, senyuman yang sangat berbeda dari ekspresi khawatir yang ia tunjukkan saat pertama kali membawa Wandra ke ruangan ini.

Lidya menoleh dan melihat Wandra sudah terbangun. "Pagi,"
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   298 Dewa Tak Terkalahkan

    Wandra melepaskan tangan Cindy dan wajahnya kembali ke ekspresi yang tenang dan fokus. "Mereka datang."Dia memandang ke luar jendela, ke arah halaman belakang tempat tanaman-tanaman obatnya tumbuh. Dia tidak mau tanaman-tanamannya diacak-acak lagi seperti yang dilakukan oleh pembunuh bayaran tempo hari."Aku akan menunggu mereka di rawa-rawa di belakang rumah," Wandra berkata. "Sekitar lima puluh meter dari sini. Tempat itu cukup luas dan tidak ada bangunan yang bisa rusak."Wandra berjalan ke pintu belakang dan melangkah keluar. Dia melewati halaman belakang tempat tanaman obatnya tumbuh, melewati pagar belakang, dan terus berjalan menuju area rawa-rawa yang terletak di belakang kompleks perumahan. Area itu memang jarang digunakan oleh siapa pun karena tanahnya becek dan ditumbuhi oleh ilalang tinggi. Tempat yang sempurna untuk pertarungan yang tidak perlu mengorbankan properti orang lain.Wandra berdiri di tengah rawa-rawa dan menunggu.Tidak lama kemudian, suara langkah kaki banya

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   297 Berita tentang Kedatangan Raden Limanto

    Wiradi menyembunyikan semua pemikiran itu di balik wajahnya yang tenang. "Menarik," dia hanya berkata. "Boleh aku ikut ke kota Arcandra? Aku belum pernah ke sana. Mungkin aku bisa jalan-jalan sambil menonton."Raden mendengus. "Silakan saja. Tapi jangan ikut campur. Ini urusan keluargaku. Aku hanya perlu menghadapi seorang kultivator kecil yang kebetulan memiliki sedikit keajaiban di tangannya. Tidak perlu bantuan dari siapa pun."Wiradi tersenyum tanpa berkata apa-apa. Di dalam hatinya, dia berpikir hal yang sangat berbeda dari apa yang ditunjukkan wajahnya.'Kalau pemuda itu memang Dewa Tak Terkalahkan yang kulihat empat ratus tahun lalu,' batin Wiradi, 'maka bukan dia yang membutuhkan perlindungan dari Raden. Tapi Raden yang membutuhkan perlindungan dari dia. Dan aku tidak akan cukup bodoh untuk ikut campur.'Keesokan harinya, rombongan besar keluarga Limanto memenuhi hampir satu gerbong kereta api cepat. Raden Limanto duduk di kompartemen utama bersama Wiradi Bramantyo. Leonardo y

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   296 Penyambutan Raden Limanto

    Raden Limanto melangkah keluar dari gua pertapaannya yang terletak di puncak gunung tertinggi di kota Dekon. Kakinya yang sudah ratusan tahun tidak menginjak tanah di luar gua kini merasakan kembali rumput basah dan batu-batu kecil di bawah telapaknya. Matahari yang sudah lama tidak menyentuh kulitnya menerpa wajahnya yang keriput oleh usia tapi memancarkan kekuatan yang tidak terbantahkan.Di bawah gunung, ratusan orang sudah menunggu kedatangannya. Anak-anaknya. Cucu-cucunya. Cicit-cicitnya. Hingga generasi yang sudah begitu jauh sehingga kekerabatan mereka hanya bisa ditelusuri melalui catatan silsilah keluarga. Selama lebih dari tiga ratus tahun, darah Limanto telah mengalir melalui generasi demi generasi, dan sekarang semua keturunannya berkumpul di kaki gunung untuk menyambut leluhur terkuat mereka.Saat Raden menuruni lereng gunung dengan langkah yang kokoh meskipun penampilannya sudah sangat tua, gemuruh tepuk tangan dan teriakan penyambutan memenuhi udara. Beberapa keturunann

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   295 Ancaman Raden Limanto

    Jagoan utama keluarga Limanto berjalan memasuki arena dengan langkah yang berat. Dia adalah seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun dengan tubuh yang kurus tapi memancarkan aura yang secara kualitatif berbeda dari semua petarung sebelumnya. Alam inti emas level satu. Level yang berada satu alam penuh di atas alam kebangkitan.Pria itu memandang Wandra dengan mata yang serius. Tidak ada kesombongan di tatapannya. Tidak ada penghinaan. Setelah melihat empat rekannya tewas dalam hitungan detik, dia tahu bahwa lawan di hadapannya bukan manusia biasa."Siapa kau sebenarnya?" pria itu bertanya pelan.Wandra tidak menjawab. Dia hanya memasang kuda-kuda."Ayo Mulai!"Pria itu mengeluarkan aura inti emasnya sepenuhnya. Energi yang memancar dari tubuhnya secara kualitatif berbeda dari energi alam kebangkitan. Lebih padat. Lebih murni. Lebih mematikan. Udara di seluruh arena bergetar dan lantai di bawah kakinya retak membentuk pola lingkaran.Dia menyerang dengan pukulan yang membawa selu

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   294 Petarung Keluarga Limanto

    Wandra kembali melakukan akting yang sama. Dia terlihat kewalahan. Terlihat hampir kalah. Terhuyung-huyung. Nyaris terkena pukulan. Dan kemudian, pada momen yang terlihat seperti kebetulan, pukulannya yang terlihat lemah dan tidak terarah mengenai titik vital lawannya.Kultivator raksasa itu jatuh berlutut dengan mata yang melebar tidak percaya. Kemudian dia ambruk ke lantai arena dan tidak bergerak lagi.Lima poin untuk keluarga Wongso di pertandingan kelima. Total lima poin melawan empat poin keluarga Handaki.Keluarga Wongso menang.Tribun meledak dalam keributan. Tidak ada yang percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Keluarga Wongso yang compang-camping, yang hanya tersisa satu petarung, berhasil mengalahkan keluarga Handaki yang merupakan salah satu favorit di kontes level pertama.Mentira membuka matanya saat mendengar suara wasit mengumumkan pemenang. Mulutnya ternganga. Pamannya berdiri membeku dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.Di final, keluarga Wongso akan berha

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   293 Perintah sang Kakek

    Wasit mengangkat tangannya dan berteriak, "Mulai!"Lawan Wandra dari keluarga Handaki langsung melesat maju. Kultivator alam kebangkitan level enam itu mengeluarkan seluruh auranya dan melancarkan pukulan yang mengarah ke kepala Wandra. Pukulan yang cukup kuat untuk menghancurkan sebuah dinding beton setebal satu meter.Wandra melakukan apa yang sudah dia lakukan sepanjang kontes level ketiga tadi. Dia berpura-pura.Tubuhnya terhuyung ke samping seolah-olah dia hampir tidak bisa menghindar dari pukulan itu. Kakinya terlihat goyah seperti orang yang kehilangan keseimbangan. Wajahnya menunjukkan ekspresi panik yang sangat meyakinkan.Lawannya yang melihat Wandra hampir jatuh langsung menyerang lagi dengan tendangan berputar. Wandra menghindar dengan cara yang terlihat sangat canggung, tubuhnya membungkuk ke depan dengan posisi yang seharusnya membuat dia jatuh tersungkur. Tapi entah bagaimana, saat tubuhnya membungkuk, kepalanya menghantam dagu lawannya dengan benturan yang terlihat tid

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   51 Asap Muncul Lagi

    Wandra merasakan kehangatan di dadanya lagi. Liontin yang baru saja digunakan untuk memperbaiki vas kini mengeluarkan efek sampingnya.Asap mulai keluar—tipis pada awalnya, tapi semakin tebal. Aroma manis yang memabukkan mulai memenuhi udara.Dan Linda yang memeluk Wandra sangat erat—wajahnya sanga

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   50 Keajaiban Terjadi Lagi

    Prof. Vino sedang berbicara dengan Wandra di ruang tunggu keluarga, memberikan nasihat tentang bagaimana menangani dilema kekuatan liontin dan efek sampingnya, ketika tiba-tiba pintu terbuka dengan cepat."Ayah!"Seorang gadis muda berlari masuk dengan tergesa-gesa. Ia cantik—sangat cantik—dengan r

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   49 Curhat pada Dokter Vino

    Setelah Prof. Vino melepaskan pelukannya, Dokter Budi langsung maju untuk memeriksa pasiennya dengan lebih teliti. Ia memeriksa denyut nadi, mendengarkan jantung dengan stetoskop, memeriksa perut yang sekarang sudah tidak membengkak lagi."Ini luar biasa," gumamnya sambil terus memeriksa. "Perutnya

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   47 Saling Serang dengan Penuh Gairah

    Keduanya mulai saling kecup, saling serang karena terbawa asap pemancing gairah dari liontin di leher Wandra.Ratna melangkah mendekat, tangannya meraih kerah kemeja Wandra, menariknya berdiri. Bibir mereka bertemu dalam ciuman ganas—lidah saling bertarung, gigitan ringan di bibir bawah membuat Wan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status