LOGINSetelah jamuan berakhir, Argani secara pribadi mengantar Jimmy sampai ke pintu. Saat Jimmy hendak pergi, Laura dan Jasvin malah menghampiri mereka.Laura sama sekali tidak terpengaruh oleh kejadian sebelumnya. Dengan senyum manis, dia melangkah maju dan berkata, "Jimmy, bukannya kamu bilang mau perkenalkan aku sama Pak Argani?"Jimmy tertawa geli. Dia mengangguk ke arah Jasvin dan berkata, "Bukannya dia bilang dia yang akan perkenalkan ke kamu?""Dia?" Argani mengangkat pandangan ke arah Jasvin. "Kamu ... siapa ya?"Pertanyaan Argani itu langsung membuat Jimmy tak bisa berkata-kata. Orang ini tadi sepercaya diri itu mengatakan akan memperkenalkan Argani kepada Laura. Ternyata Argani bahkan tidak mengenalnya? Sandiwara pamer koneksi ini benar-benar kelewatan!Jasvin menatap Argani dengan canggung, lalu tersenyum meminta maaf."Saya Jasvin dari Keluarga Ongko di ibu kota provinsi. Saya memiliki beberapa kerja sama proyek di kawasan pengembangan bersama Pak Howard.""Oh!"Argani langsung
Jasvin mengira Laura akan menamparnya lagi, sehingga tanpa sadar dia mundur selangkah.Laura langsung menarik Jasvin, lalu mengusap pipinya dengan lembut menggunakan telapak tangannya yang hangat. Dengan mata penuh kelembutan, dia berkata, "Pak Jasvin, kita ini teman! Aku sudah pernah merasakan akibat karena meremehkan Jimmy. Aku nggak ingin kamu juga mengulangi kesalahanku, apalagi sampai terjadi sesuatu padamu. Mengerti?"Di bawah belaian lembut Laura, Jasvin langsung merasa nyeri di wajahnya berkurang. Kemarahan di dalam hatinya juga perlahan mulai mereda. "Aku tahu kamu melakukan ini demi kebaikanku."Jasvin menggenggam tangan Laura. "Lain kali kalau ada sesuatu yang ingin dikatakan, bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini lagi.""Aku juga nggak ingin begini, tapi aku harus menyadarkanmu." Laura menghela napas pelan. "Ingat baik-baik, Jimmy bukan musuh kita, setidaknya untuk saat ini bukan! Dengan kemampuan kita sekarang, kita sama sekali nggak punya modal untuk melawannya! Jangan
Tamparan Laura itu langsung membuat Jasvin tercengang. Jasvin membelalakkan mata dan menatap Laura dengan linglung.Setelah beberapa saat, amarah mulai meluap di dalam dirinya. Jasvin mengepalkan tangannya erat-erat hingga seluruh tubuhnya gemetar karena marah.Kalau bukan dia yang membawa Laura ke sini, Laura tidak akan punya kesempatan menghadiri pesta Argani! Sekarang Laura malah berani menamparnya?Dia bahkan sudah bersiap untuk melangkah lebih jauh, tetapi malah ditampar oleh Laura? Dalam amarahnya, Jasvin tak lagi peduli untuk bersikap lembut kepada wanita.Plak! Jasvin membalas dengan tamparan keras ke wajah Laura. Laura meringis kesakitan, tetapi langsung membalas dengan tamparan lain ke wajah Jasvin.Laura yang sekarang sudah bukan lagi Laura yang dulu, yang penakut dan selalu mengalah. Dia bisa duduk semalaman di pemakaman liar tanpa rasa takut, bahkan bisa memancing seseorang ke tempat sepi, menyetrum orang dengan alat kejut hingga pingsan, lalu mencekik orang sampai mati.T
Jimmy baru mengerti, lalu berkata dengan santai, "Datang ya datang saja! Aku nggak perlu menghindarinya, juga nggak mungkin nyuruh kalian usir dia cuma karena urusan masa lalu kami.""Benar juga." Sabrina tersenyum sambil mengangguk.Jimmy tersenyum, lalu menyuruh Sabrina kembali menyambut para tamu dan tidak perlu memedulikannya.Setelah Sabrina pergi menyambut tamu lain, Jimmy berjalan ke sudut aula dan duduk sendirian.Tujuannya datang ke sini sudah tercapai. Sisanya tinggal menunggu jamuan dimulai. Setelah makan dan minum sampai kenyang, dia bisa langsung pulang.Baru duduk dan memikirkan beberapa hal sebentar, dia sudah merasakan seseorang berjalan ke arahnya. Yang datang bukan orang lain, melainkan Laura.Bersamanya, ada seorang pria berwajah tampan dan bersih. Sepertinya inilah Jasvin yang tadi disebut Sabrina."Jimmy." Melihat Jimmy mengangkat kepala, Laura menyapanya lebih dulu, lalu bertanya, "Kenapa kamu duduk sendirian di sini?""Aku lagi mikir sesuatu." Jimmy tersenyum tip
Saat Jimmy menemukan Argani, pria itu sedang mengobrol santai dengan beberapa tamu yang datang lebih awal.Begitu melihat Jimmy, Argani langsung menghentikan obrolannya dan berlari kecil menghampiri dengan antusias."Wow! Jarang-jarang kamu datang secepat ini. Aku kira kamu bakal datang pas waktunya mepet.""Bagaimanapun juga ini wilayahku. Setidaknya aku harus datang lebih awal untuk lihat-lihat dulu." Jimmy tersenyum, lalu mengangguk ke arah beberapa orang di sana. "Kalian cuma ngobrol santai atau bahas urusan penting?""Cuma ngobrol santai!" Argani terkekeh. "Memangnya kamu ada urusan yang mau dibicarakan?"Jimmy mengangguk. "Ada sedikit.""Kalau begitu, tunggu sebentar." Argani segera menghampiri beberapa orang itu untuk berpamitan, lalu berjalan bersama Jimmy ke tempat yang lebih sepi.Keduanya keluar dari aula pesta dan menuju gazebo di luar resor."Kapan kamu kembali ke ibu kota?" tanya Jimmy langsung."Beberapa hari lagi." Argani mengembuskan napas panjang. "Aku mengadakan pest
"Bukan." Zisel menggeleng sambil tersenyum. "Kak Sabrina juga undang aku ke pesta ini. Karena memang mau datang, sekalian saja datang lebih awal untuk bantu.""Pantas saja!" Jimmy tersenyum seolah baru mengerti. "Ada yang perlu kubantu?""Sudahlah!" Zisel terkekeh, lalu menggoda, "Siapa yang berani menyuruhmu bantu? Kalau bos besar sepertimu sampai kelelahan, para karyawan itu pasti mencabik-cabikku hidup-hidup."Meskipun Jimmy hampir tidak pernah ikut campur dalam urusan perusahaan, dia sangat disayangi para karyawannya. Begitu dia datang, semua orang ingin memperlakukannya seperti leluhur yang harus dihormati. Mana mungkin mereka membiarkannya membantu?"Zisel!" Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil dari belakang Jimmy.Saat menoleh, mereka melihat seorang pria muda yang tampan dan berwibawa berjalan cepat menghampiri.Begitu melihat orang itu, Zisel langsung tampak pusing. Melihat reaksinya, Jimmy pun mengerti."Pengejarmu?""Ya." Zisel mengangguk den
Tak lama setelah Zisel pergi, Jimmy menerima telepon dari Argani.Nela memang sudah tertangkap. Sayangnya, sebelum Jaka dan orang-orangnya berhasil menangkapnya, Nela sudah bunuh diri terlebih dulu.Argani mengatakan bahwa dua hari ini dia masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan, jadi untu
Zisel mengusulkan untuk mengantar Jimmy pulang, dan Jimmy pun tidak menolak.Sepanjang perjalanan, Zisel terus bertanya ke sana kemari seperti anak kecil yang penuh penasaran. Jimmy sedang memikirkan banyak hal, jadi jawabannya pun seadanya.Kejadian malam ini kembali membuktikan dugaannya sebelumny
Setibanya di rumah, Zisel menceritakan kejadian malam ini kepada kedua orang tuanya dengan sangat bersemangat.Mendengar penuturan putrinya, Marcus dan Livia langsung terpaku. Bahkan setelah Zisel menjelaskan seluruh kejadian secara rinci, keduanya masih belum sepenuhnya sadar.Beberapa saat kemudia
Jimmy sudah malas meladeni dua orang itu. Dia menoleh ke Zisel dan berkata, "Ayo pergi."Zisel segera mengikuti langkah Jimmy sambil terkekeh. "Kakak Ipar, kamu kejam sekali!"Wajah Jimmy langsung menggelap. Pandangannya melirik sekilas ke arah dada Zisel. "Kamu juga kejam.""Apa ...."Wajah Zisel l







