LOGINDi kehidupan sebelumnya, aku menikah dengan Lukas, orang kepercayaan mafia paling tampan di Barnia. Semua orang iri padaku, mereka bilang derajatku langsung naik jadi orang terpandang. Adik kembarku, Luna, yang diliputi kecemburuan hingga kehilangan akalnya, mendorongku jatuh dari tangga. Saat aku keguguran dan tak berdaya, dia membekapku dengan bantal ... sampai aku mati. Saat aku membuka mata lagi, aku justru kembali ke hari pertemuan keluarga itu. Di dalam kamar, adikku Luna sedang telanjang, menunggangi Lukas dengan kedua kaki terbuka. Tubuhnya bergerak naik turun mengikuti ritme kasar pria itu. “Kakak, kamu datang terlambat.” Dia terengah-engah, menatapku dengan tatapan penuh kemenangan. “Akulah yang dicintai Lukas. Kami sudah tidur bersama. Di kehidupan ini, yang akan menikah dengannya adalah aku!” Semua orang menatapku, seakan menungguku menggila. Namun, aku justru tersenyum. Adikku tersayang, yang kamu tahu hanyalah dia muda, tampan, dan kaya raya. Namun yang tidak kamu ketahui ... di ruang rahasia dalam kamarnya tersembunyi begitu banyak alat untuk menyiksa wanita. Dan juga ... bagaimana dia merencanakan untuk “membagi” dirimu, sebagai mainan barunya dengan anak buahnya.
View MoreSenian perlahan membuka mata dan menatap sekeliling ruangan yang asing.
Udara di dalam ruangan itu dingin, sedikit lembap, bau kapur dan aroma kayu lapuk menyeruak. Dinding kamar kusam dan perabotaan sederhana yang tak pernah dia lihat, tapi anehnya semuanya terasa sangat akrab. Cahaya yang masuk dari sela jendela kecil menyilaukan wajahnya membuat dia menyipitkan mata.
Dia mengangkat tangan menutupi wajahnya dari cahaya matahari yang silau. Matanya mulai menatap sekeliling ruangan.
Ruangan ini hanya ada satu pintu kayu dengan gagang pintu yang sedikit berkarat. Ada goresan di ambang pintu, bekas tangan.
Potongan memori yang lambat-lambat merayap naik.
“akh ini bukan kamarku, tapi …….” Senian membelalakkan matanya. Sesaat dia ingat, ruangan ini, seperti kejadian enam tahun yang lalu.
“Kenapa aku kembali ke sini?” pikirnya. Suaranya serak bahkan untuk dirinya sendiri.
Apakah ini mimpi? Beberapa menit yang lalu dia ingat, memori tentang hari pernikahan, gaun yang belum sempat dipakai, wajah yang dingin, janji-janji yang retak, nyala api yang membesar, lalu kegelapan dan seharusnya itu akhir.
Apa yang terjadi, bukankah dia sudah mati!?
Dia meraba saku, berharap menemukan sesuatu yang nyata tapi tidak menemukan apapun. Dia melihat ada bekas luka samar di pergelangan yang terasa perih seperti bekas jeratan. Jemarinya masih halus, kulitnya belum dipenuhi garis lelah enam tahun pernikahan.
Dia terdiam, lalu bangkit dengan susah payah menuju cermin kecil yang tergantung miring di dinding. Bayangan yang menatap balik adalah wajah mudanya, mata penuh cahaya, kulit segar, bukan wajah lusuh yang pernah dia lihat di akhir hidupnya.
Matanya berkaca-kaca, bukan hanya karena sakit, tapi ada campuran ketakutan, kebingungan, dan sesuatu yang lebih berbahaya. Ruangan ini tidak asing, dia mengenalnya karena sesuatu yang paling buruk dalam hidupnya pernah terjadi.
Ini adalah tempat dia pernah terkurung enam tahun lalu. Ingatan itu meledak, padat dan dingin. Gambaran villa, pemindahan, keheningan yang mematikan.
Dalam sekejap, semua ingatannya kembali.
“Bagaimana mungkin?” bisiknya.
Jika dia kembali di sini, berarti waktu telah bergeser atau dirinya dipaksa untuk mengulang. Ada alasan mengapa jejak-jejak itu disiapkan untuknya lagi.
Perlahan, kesadaran berpindah dari panik ke kegembiraan kecil, jantungnya yang berdetak memberi bukti bahwa dia masih hidup, dan ini adalah kesempatan.
Jika dia memang hidup lagi, jika takdir memberinya detik kedua, apakah dia akan membiarkan kejadian lama terulang?
Di ujung bibirnya terbit senyum kecil, tipis tetapi nyata.
Napasnya tercekat. “Aku… kembali?” Gumaman itu menggema lirih.
Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin masuk hingga ke dasar paru-paru, dan untuk pertama kali sejak membuka mata, sebuah rencana kecil bergema di otaknya bukan untuk lari lagi, tapi untuk mengubah akhir.
Ternyata dia benar-benar telah bereinkarnasi!
Bereinkarnasi kembali ke enam tahun lalu, pada hari pernikahannya.
Dia adalah Senian Zhuge, putri sulung keluarga Zhuge. Dia bertunangan dengan Xieran Murrel, anak tunggal Muriel Group, pewaris tunggal bisnis keluarga Murrel. Senian mempunyai adik laki-laki Marco Zhuge dan seorang adik tiri, Yuilan Zhuge.
Ingatannya menyeruak, malam sebelum pernikahan, adik tirinya, Yuilan, mengetuk pintu dengan senyum manis.
Dia mengajaknya berbincang, berkata ingin menenangkan hati kakaknya yang akan menikah besok. Tanpa curiga, dia menuruti. Di meja, ada minuman yang Yuilan suguhkan. Dia meneguk tanpa berpikir. Lalu gelap.
Ketika dia sadar, Senian berada di ruangan terkunci.
Sekarang, puzzle itu tersusun jelas. Dulu, dia sama sekali tidak mencurigai kelicikan itu. Dia bodoh, terlalu percaya pada adik tirinya hingga akhirnya, dia terbangun di tempat ini, tidak sadar bahwa hidupnya akan berubah selamanya.
Air mata menggenang di pelupuk, bukan karena kelemahan, melainkan karena campuran getir dan marah.
“Jadi ini awal segalanya” pikirnya.
Tuhan, atau takdir, atau entah siapa, telah mengembalikannya tepat ke titik sebelum kehancuran dimulai.
Hari pernikahannya!.
Hari yang dulu dia kira akan membuka kebahagiaan, tetapi justru membawanya ke neraka panjang.
Kali ini, tidak akan ada kebodohan. Tidak ada lagi kelengahan. Jika ini kesempatan kedua, maka dia bersumpah, kelicikan itu tidak akan pernah berhasil.
Dia tidak akan menjadi korban lagi.
Viktor tampak begitu bahagia, seperti anak kecil.Dia menggendongku berputar-putar lalu dalam sekejap berhenti dan menurunkanku dengan hati-hati.“Hati-hati ya.” Dia mengusap perutku. “Jangan sampai melukainya.”“Mungkin dia perempuan,” kataku.“Perempuan juga nggak masalah.” Dia mencium keningku. “Dia akan secantik dirimu.”Luna keguguran saat usia kandungannya tiga bulan.Lukas tidak menikahinya. Pria itu hanya memberinya sejumlah uang dan menyuruhnya menghilang.Ayah mencoba memintaku membela Luna, tapi aku menolaknya.“Dia sudah membunuh anakku,” kataku. “Dia juga membunuhku.”Ayahku terdiam.Sejak saat itu, dia tidak pernah menyebut nama Luna lagi.Hari demi hari, perutku kian membesar.Viktor selalu mengusap perutku setiap hari lalu berbicara dengan bayi kami. Dia menggunakan aksen Barnia dan menceritakan kisah-kisah kuno.Terkadang, dia menempelkan telinganya di perutku sambil mendengarkan detak jantung bayi kami.“Dia bergerak!” katanya. Matanya terlihat berbinar seperti bintan
Suasana di sekitar mendadak hening.Kemudian, ucapan selamat langsung berdatangan.Orang-orang beralih ke Lukas, menepuk bahunya dan memberikan selamat satu per satu.Ekspresi Lukas tak karuan.Dia terlihat bangga, tetapi juga seperti ada kegelisahan yang tak bisa kupahami.Viktor pun berbisik di telingaku, “Aktingnya lumayan bagus.”Aku menoleh padanya.“Kamu sudah tahu ya?”“Sudah dari 3 hari lalu.” Dia menyesap sampanyenya. “Dokter di klinik itu adalah orangku.”Luna masih menerima ucapan selamat. Tangannya diletakkan di perutnya yang masih rata sambil tersenyum seolah menang.Namun, dia tidak tahu.Dia mungkin tak akan pernah tahu.Di tengah resepsi, Viktor membawaku ke balkon.Pemandangan malam Nolvara terbentang dan gemerlap cahaya di mana-mana.“Apa kamu gugup?” tanyanya.“Iya, sedikit.”“Kamu nggak perlu gugup.”Dia memelukku dari belakang, tangannya bertumpu di perutku. “Malam ini malam pertama kita. Aku cuma mau kamu merasa nyaman.”Jarinya mengusap pelan perutku.“Mungkin sa
Aku dibuat tak mampu berkata-kata dan hanya bisa mengeluarkan desahan yang terputus-putus.“Viktor, terlalu dalam ....”“Ini masih belum cukup dalam.” Hentakkannya justru semakin dalam dan kuat.“Aku mau kamu mengingat perasaan ini. Aku mau kamu ingat siapa yang menidurimu, siapa pemilikmu.”Telapak tangannya menampar pantatku dan meninggalkan bekas merah.“Katakan, siapa pemilikmu?”“Kamu, ah ... tentu saja kamu.”“Siapa yang akan memberimu anak?”“Kamu, Viktor.”“Siapa yang akan membuat Lukas nggak akan pernah bisa menyentuhmu lagi?”“Kamu, ah ... kumohon.”Dia tiba-tiba mempercepat gerakannya, menghantam liar seperti binatang buas.Meja kerja Viktor berguncang hebat, benda-benda di atasnya berjatuhan ke lantai.Aku sudah mencapai puncak, tubuhku pun bergetar hebat.Namun, Viktor belum selesai.Dia membalik tubuhku, membaringkanku di atas meja, lalu mengangkat kedua kakiku ke bahunya.Posisi yang seperti ini membuatnya masuk jauh lebih dalam.“Lihat aku,” perintahnya. “Tatap aku di s
Malam sebelum pernikahan, Viktor mengirim orang untuk menjemputku.Bukan ke gedung pernikahan, melainkan ke kediamannya di Citra Mandala.“Bos mau makan malam bersama Anda,” kata supir itu. “Sekalian, agar Anda terbiasa dengan kehidupan setelah menikah.”Aku tahu betul maksudnya.Kediamannya luas dan megah seperti kastil.Para pelayan berbaris menyambutku dan memanggilku "Nyonya".Viktor menungguku di ruang kerjanya.Dia mengenakan jubah tidur beludru bewarna biru tua, dadanya sedikit terbuka.Rambut pirangnya masih sedikit basah seperti baru selesai mandi.Ruangannya hanya diterangi sebuah lampu meja, ditemani cahaya api dari perapian yang menari-nari di dinding.“Sudah ditandatangani?” tanyanya.“Sudah.”“Ada yang mau diubah?”“Nggak ada,” jawabku. “Sudah cukup adil.”Dia tersenyum lalu menutup bukunya.“Kemarilah.”Aku mendekat. Tangannya menarikku pelan hingga aku terjatuh duduk di pangkuannya.Kain jubahnya sangat tipis.Aku bisa merasakan kerasnya otot pahanya dan sesuatu di anta
Aku menggenggam tangannya.Telapak tangannya besar, hangat dan ada kapalan tipis yang terbentuk akibat memegang senjata bertahun-tahun.Tangannya menarikku perlahan, menyeretku masuk ke pelukannya.Bukan pelukan lembut, tapi pelukan yang kasar, seakan menegaskan aku milik dia sepenuhnya.Tubuhku men
Ruang kerja Viktor berada di lantai tiga.Dia tidak langsung bicara, melainkan berjalan ke lemari minuman arak, menuangkan dua gelas dan menyerahkan segelas minuman itu padaku.“Bir.” Dia berkata, “Kamu butuh ini.”Jari-jari tanganku bergetar saat menerima gelas itu.“Duduklah.”Dia duduk di sofa di
Dia mengulurkan tangan ke wajahku, tapi aku menepis tangannya dengan keras.Suara tepisan itu terdengar jelas, menggema ke seluruh ruangan.Semua orang kembali terdiam, tatapan Lukas menjadi tajam.Di kehidupan sebelumnya, aku selalu takut saat melihat ekspresinya yang seperti itu, karena itu berart
Saat aku membuka pintu, Luna sedang berada di atas tubuh Lukas.Tubuhnya telanjang tanpa sehelai benang, rambut panjang pirang di punggungnya basah oleh keringat, sementara kedua kakinya terbuka lebar, duduk menempel di pinggang Lukas.Lukas bersandar di sofa, kemejanya terbuka menampakkan dada bida






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews