LOGINDi saat yang sama, Lysander mengeluarkan kompasnya, menggigit ujung jari hingga mengeluarkan setetes darah, lalu menjatuhkannya ke permukaan kompas. Cahaya merah segera memancar, sementara jarumnya bergetar hebat sebelum akhirnya berhenti dan menunjuk ke lorong paling kiri.Lysander menyimpan kembali kompasnya, lalu tersenyum kepada Nathan. "Nathan, jalan sebelah kiri adalah jalur yang benar. Mau ikut denganku?"Nathan tetap diam tanpa memberi jawaban. Melihat itu, Lysander langsung membawa para tetua Ordo Astrum memasuki lorong kiri.Levan segera bergerak mengikuti di belakang mereka."Levan, kau mau ke mana?" tanyanya sambil menghentikan langkah dan menoleh dingin."Lysander, kalau kita berjalan bersama, kita bisa saling menjaga jika terjadi sesuatu." Levan segera merendahkan sikapnya sambil tersenyum. "Jangan khawatir. Kalau nanti ada harta karun, aku akan membiarkanmu memilih lebih dulu."Levan tahu betul bahwa kekuatan saja tidak cukup di tempat seperti ini. Tanpa seseorang yang
Nathan sama sekali tidak menggubrisnya. Tatapannya tetap terpaku pada naga raksasa itu sebelum tubuhnya perlahan terangkat ke udara hingga sejajar dengan kepala sang naga, lalu ia mengulurkan tangan, berniat menyentuhnya.ROAAARRR!Raungan dahsyat meledak dari mulut naga. Gelombang kekuatan yang mengerikan menghantam Nathan hingga tubuhnya terpental seperti daun diterpa badai, ia menghantam dinding batu dengan keras sebelum jatuh ke tanah."Tuan Nathan!" seru Velisa sambil berlari menghampiri.Ia segera membantu Nathan bangkit dan mendapati darah mengalir dari sudut bibirnya. Tubuh Nathan yang selama ini terkenal luar biasa kuat ternyata tetap terluka hanya oleh satu raungan naga tersebut.Melihat kejadian itu, Levan dan Lysander ikut menegang. Seluruh rombongan bersiap siaga, khawatir naga raksasa itu akan kembali menyerang.Getaran di alun-alun semakin hebat. Belasan patung Naga itu runtuh satu demi satu, meledak menjadi pecahan yang beterbangan ke segala arah hingga semua orang bur
Mendengar penjelasan itu, wajah Levan seketika berubah lebih buruk daripada dasar panci gosong. Awalnya ia ingin memanfaatkan anak buahnya untuk merebut inisiatif, tetapi tanpa sadar justru membantu Nathan menguras kekuatan formasi terlebih dahulu.Tetua Sorei dan Lysander sama-sama tersenyum tipis. Mereka tahu Nathan sengaja melontarkan penjelasan itu untuk membuat Levan naik darah. Walaupun sebagian ucapannya memang masuk akal, mereka paham itulah bukan alasan utama Nathan mampu membongkar formasi secepat itu.Karena Nathan sendiri tidak berniat menjelaskan metode yang sebenarnya, keduanya pun memilih tidak bertanya lebih jauh."Baiklah, kita masuk."Nathan mengabaikan wajah Levan yang menghitam lalu melangkah melewati gerbang batu. Meski dipenuhi amarah, Levan hanya mampu menggertakkan gigi dan mengikuti dari belakang bersama orang-orang Ordo Tempest.Di balik gerbang terbentang sebuah alun-alun luas. Belasan patung Naga berdiri tegak membentuk susunan melingkar. Di ujung alun-alu
Nathan tersenyum tipis. "Kalau sejak tadi kau menyetujuinya, gerbang ini sudah lama terbuka."Selesai berkata, ia melangkah santai menuju gerbang batu."Hati-hati, Tuan Nathan," ujar Velisa dengan nada cemas.Nathan hanya menoleh sambil tersenyum ringan. "Tenang saja."Di bawah tatapan semua orang, Nathan mengangkat tangan lalu menempelkannya perlahan ke permukaan gerbang batu.Suasana langsung berubah hening. Semua orang menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.Tetua Sorei dan Lysander mengamati tanpa berkedip. Mereka sama-sama ahli dalam ilmu formasi dan sangat ingin mengetahui cara Nathan membongkar susunan rune kuno itu hanya dalam satu menit.Tak lama kemudian, telapak tangan Nathan mulai memancarkan cahaya keemasan. Kilau tersebut merambat masuk ke dalam gerbang, membuat setiap pola rune di permukaannya ikut bersinar dengan warna yang sama.Bzzzzz!Cahaya emas itu semakin terang hingga memenuhi seluruh gerbang. Bersamaan dengan itu, gelombang energi yang sangat
Nathan hanya tersenyum tipis. "Satu hari? Untuk formasi seperti ini, itu terlalu lama."Tatapannya beralih ke gerbang batu sebelum melanjutkan dengan nada datar, "Aku hanya membutuhkan satu menit."Begitu kalimat itu terlontar, Tetua Sorei dan Lysander langsung menatap Nathan dengan ekspresi berubah. Sebagai orang yang memahami ilmu formasi, mereka tahu betapa rumitnya susunan rune di gerbang tersebut. Menghancurkan formasi kuno sekelas itu hanya dalam satu menit terdengar mustahil.Levan memang tidak memahami tentang formasi sedalam mereka, tetapi ia tetap menganggap ucapan Nathan sebagai omong kosong. "Berhenti membual! Aku sama sekali tidak percaya kau punya kemampuan seperti itu."Nathan tersenyum tenang. "Percaya atau tidak, kita akan segera mengetahuinya. Tapi jika aku benar-benar berhasil membukanya, seluruh harta yang berada di balik gerbang batu akan dibagikan olehku."Tatapannya menancap lurus ke arah Levan. "Berani membiarkanku mencobanya?"Mendengar ucapan itu, Levan terdi
Velisa meliriknya dengan senyum mengejek. "Tuan Nathan sudah memperingatkanmu sejak awal, tetapi kau memilih mengabaikannya. Sekarang lihat sendiri akibatnya."Levan mengepalkan kedua tangannya hingga urat-uratnya menonjol. Ia sadar ucapan Velisa memang benar. Andai saja tadi ia mau mendengarkan Nathan, dua muridnya tidak akan mati sia-sia.Lysander mengamati pola cahaya yang masih berpendar di permukaan gerbang, lalu menghela napas pelan. "Bahkan gerbang masuknya saja dilindungi formasi seperti ini. Kerajaan Luminus memang jauh lebih luar biasa daripada yang kubayangkan."Levan segera menoleh kepada para Ahli Rune Ordo Tempest. "Kalian, pecahkan formasi ini!"Ia masih menyimpan harga diri. Sebelumnya Nathan telah menjadi orang yang menghancurkan inti formasi dan membuat Ordo Tempest kehilangan muka. Jika kali ini anak buahnya berhasil membuka segel pada gerbang batu, setidaknya mereka bisa merebut kembali sedikit kehormatan dan memiliki kesempatan menawar saat pembagian harta nanti.
Namun, peringatan Bonang seakan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Pikiran Nathan masih dipenuhi oleh tarian sembilan bayangan itu. Visi itu begitu singkat, hanya beberapa detik. Dia belum melihat semuanya dengan jelas sebelum ditarik keluar. Sebuah rasa kehilangan yang luar biasa menceng
"Kalau begitu," balas Nathan pelan, "Berhentilah membuang waktu."Seketika, cahaya keemasan yang menyilaukan meledak dari tubuh Nathan, membungkusnya dalam aura agung yang mendorong udara di sekitarnya. Panas yang hebat memancar, membuat dek kayu di bawah kakinya seolah berasap.Sancho tidak gentar
"Minta keempat bawahanmu untuk melepaskan aura mereka lagi. Saya punya cara untuk membuat pertunjukan ini lebih... visual," kata Ryuki dengan nada misterius.Sancho melirik Lewis, lalu mengangguk singkat. Perintah telah diberikan.Keempat pengawal itu sekali lagi memancarkan aura mereka. Namun kali
Di gerbang Sekte Bloody, fajar mulai menyingsing. Sheena berjalan mondar-mandir dengan cemas. Langit di timur sudah mulai memerah, namun kakaknya belum juga kembali. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu jam, menambah berat beban di hatinya.Saat kecemasannya mencapai puncak, dua sosok munc







