MasukPada saat yang sama, Levan yang masih terjebak di dalam Formasi turut merasakan gejolak itu. Ia segera menoleh ke sekeliling, lalu mendapati sekelompok orang tiba-tiba muncul tidak jauh dari posisinya."Nathan?"Begitu melihat sosok Nathan muncul, mata Levan langsung dipenuhi kebencian. Tanpa ragu sedikit pun, ia melesat menyerang dengan kecepatan penuh.Nathan sendiri tidak menyangka akan bertemu Levan di tempat itu. Namun, begitu merasakan niat membunuh yang mengarah kepadanya, ia segera bersiap. Aura Sovereign di tubuhnya meledak, sementara cahaya keemasan mulai menyelimuti tinjunya.Sebelum Nathan sempat bergerak, sesosok bayangan putih melintas di depannya dan langsung bertabrakan dengan Levan.Brak!Levan terdorong mundur beberapa langkah sebelum akhirnya berhasil menstabilkan tubuhnya."Tuan Muda Kedua, Anda tidak apa-apa?" tanya beberapa murid Ordo Tempest dengan cemas.Levan mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa dirinya baik-baik saja. Tatapannya kemudian beralih kepada Lys
Nathan sebenarnya sama sekali tidak berminat berjabat tangan dengan pria yang berpenampilan kemayu itu. Namun, melihat Lysander bersikap begitu sopan, ia tetap menyambut uluran tangan tersebut. Siapa sangka, begitu tangan mereka bersentuhan, Lysander justru mengusap punggung tangan Nathan dengan tangan satunya secara perlahan.Seketika wajah Nathan menegang. Rasa jijik langsung menyeruak hingga membuat perutnya bergolak. Ia buru-buru menarik tangannya sambil menepis sentuhan Lysander."Hehe... Kakak Nathan ternyata cukup kuat." Lysander terkekeh pelan sebelum menoleh kepada Velisa. "Velisa, karena kita sudah bertemu, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan bersama? Kita bisa saling membantu. Lagi pula, hutan ini dipenuhi binatang buas. Aku tidak ingin Kakak Nathan sampai terluka."Velisa hanya terdiam sambil melirik Nathan. Melihat ekspresi pria itu yang masih berusaha menahan rasa mual, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.Karena tidak ada yang menolak, Lysander mengelua
"Sial... ada yang datang. Jangan sampai mereka mendahului kita! Percepat!" teriaknya sambil terus mendesak para ahli mantra.Di sisi lain, Nathan dan Velisa yang sedang bergerak bersama Tetua Sorei juga berhenti hampir bersamaan. Gelombang aura para Sovereign terus memancar dari arah pintu masuk reruntuhan dan menyebar hingga ke dalam hutan."Tuan Nathan, apa ada kelompok lain yang masuk?" tanya Velisa setelah merasakan aura tersebut."Ada, dan jumlah mereka tidak sedikit." Nathan mengangguk pelan dengan sorot mata serius. "Sepertinya tempat ini akan segera menjadi sangat ramai."Semakin banyak orang memasuki reruntuhan, semakin kecil pula peluang mereka memperoleh harta karun yang tersembunyi di dalamnya.BANG! BANG! BANG!Suara ledakan berturut-turut menggema di tengah hutan. Dua pria tua yang mengenakan ikat kepala putih terus menghantam pepohonan raksasa di depan mereka hingga batang-batang besar itu tumbang satu per satu, membuka jalan lebar menuju reruntuhan.Tak lama kemudian,
"Lalu kenapa aku harus mempercayaimu?" tanya Nathan tanpa mengendurkan cengkeramannya.Ia tahu kemampuan Tetua Sorei sangat berguna, tetapi sebagai anggota Ordo Ignis, pria itu tetap tidak layak dipercaya begitu saja."Kau bisa menanamkan segel dalam tubuhku atau memaksaku meminum racun. Apa pun syaratmu akan kuterima. Selama kau tidak membunuhku, aku bersumpah akan mematuhi semua perintahmu." Suara Tetua Sorei dipenuhi kepanikan.Di hadapan ancaman maut, harga diri tidak lagi berarti."Tuan Nathan, jangan percaya kata-kata Kultivator Jahat dari Ordo Ignis!" seru Velisa dengan nada cemas.Ia khawatir Nathan terlena oleh bujuk rayu Tetua Sorei dan akhirnya justru terjebak dalam tipu muslihat lawannya."Aku bukan Kultivator Jahat dari Ordo Ignis. Aku dipaksa bergabung dengan mereka!" seru Tetua Sorei dengan wajah penuh kepanikan. "Dulu aku hanyalah seorang ahli mantra yang tinggal di Pegunungan Langit Purba. Setelah wilayahku direbut Ordo Ignis, mereka memaksaku tunduk. Semua yang kukat
Di saat yang sama, Tetua Sorei kembali muncul di sisi Nathan. "Percuma saja, kau tidak akan pernah bisa mengenaiku," ucapnya dengan senyum penuh keyakinan.Nathan menatap lawannya tanpa mengalihkan pandangan. "Teknik ilusimu memang luar biasa. Semuanya terlihat begitu nyata."Kini ia akhirnya memahami penyebab setiap serangannya selalu gagal. Sosok Tetua Sorei yang ia tebas selama ini hanyalah ilusi, sedangkan tubuh aslinya terus berpindah tanpa meninggalkan celah untuk dilacak. Selama ia tidak mampu membedakan mana ilusi dan mana wujud asli, setiap ayunan Pedang Aruna hanya akan menghantam bayangan kosong tanpa bisa melukai Tetua Sorei sedikit pun."Bagus, karena kau sudah mengetahuinya, itu akan menghemat waktuku. Menyerahlah dengan patuh agar aku tidak perlu terus membuang tenaga." Tetua Sorei tertawa puas, sementara kabut hitam yang menyelimuti tubuhnya terus bergulung dan membubung semakin tinggi.Nathan hanya mendengus dingin. "Jangan terlalu cepat puas. Teknik ilusimu memang he
Tetua Sorei sama sekali tidak mempercayai ucapan Nathan. Seandainya yang berdiri di hadapannya adalah Levan dari Ordo Tempest, mungkin ia masih bisa menerimanya. Namun Nathan hanyalah seorang Sovereign. Baginya, mustahil seorang kultivator dengan tingkat seperti itu mampu mengalahkan Zeryn dan Zerion.Nathan hanya tersenyum tipis. "Kalau kau memilih tidak percaya, itu urusanmu." Tatapannya tetap tenang. "Tapi sebelum mati, kau akan tahu bahwa aku tidak sedang berbohong."Ekspresi Tetua Sorei langsung mengeras. "Siapa pun pembunuh Zeryn dan Zerion tidak lagi penting."Kabut hitam mulai mengepul dari sekeliling tubuhnya."Karena kalian sudah berhasil menemukan tempat ini, kalian tidak boleh dibiarkan hidup. Reruntuhan Kerajaan Luminus hanya boleh menjadi milik Ordo Ignis."Aura membunuh yang pekat langsung memenuhi seluruh hutan."Velisa, mundur." Nathan melangkah maju sambil menghunus Pedang Aruna. Tatapannya yang dingin kini dipenuhi niat membunuh.Tetua Sorei mendengus sinis. "Seoran
“Tuan Nathan, bagaimana?” Reus bergegas menghampiri dan bertanya.Keringat dingin keluar dari dahi Nathan, tapi dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Memang benar ada sebuah makam kuno disini, dan sepertinya merupakan makam kaisar! Hanya saja, ada formasi sihir yang terpasang di makam ini,
Nathan sudah membunuh muridnya yang paling berharga, dia sudah memperlakukan Fletch seperti putranya sendiri.“Benar, dia sudah membunuh putraku, membuat aku tidak bisa berkumpul dengannya saat acara festival bulan, kali ini aku pasti akan membuat hidupnya lebih buruk daripada kematian!” Vito berka
Salju yang mencair menjadi semakin luas, hingga akhirnya salju yang mencair berkumpul membentuk sebuah sungai dan mengalir ke laut. Sementara di tempat salju mencair, terlihat sebagian tanah yang menjadi hidup. Separuh pulau Draken yang dingin dan dipenuhi salju perlahan berubah mulai mencair dan b
Kali ini, ketiga keluarga itu bersatu dan menatap Nathan dengan seksama.Menghadapi tatapan serakah dan ganas dari tiga keluarga itu, punggung Nathan dipenuhi dengan keringat dingin. Kalau hanya seorang puncak penguasa Ingras tingkat empat, Nathan tidak akan takut sedikitpun. Tapi saat ini, ada tig







