LOGIN"Bawa ini ke lab sekarang!" perintah Diego dari kaca jendela mobil.Ia menyerahkan cangkir kopi berisi obat penenang pada Yoss yang sengaja berjaga di luar gerbang rumah Santoso dengan penyamaran sempurna."Baik, Tuan," sahut Yoss sigap.Diego melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion.Sampai di istana Foster, Diego turun dari mobil dan melangkah tergesa-gesa memasuki kediaman mewahnya."Di mana Freya?" tanya Diego saat berpapasan dengan Bibi Ziang di lorong."Nona Freya ada di dalam kamar utama, Tuan.""Kenapa kalian tidak membawanya ke rumah sakit? Atau minimal panggilkan Dokter!" cecar Diego dengan raut wajah cemas sambil terus melangkah menuju kamar."Maaf, Tuan. Yenzing takut melanggar peraturan yang dibuat Tuan. Dan sebenarnya ... Nona Freya menolak dibawa ke rumah sakit," jawab Bibi Ziang yang menyusul di belakang.Diego berdecak kasar, rahangnya mengeras menahan gejolak kekhawatiran yang makin menyesakkan dada.Saat pintu kamar utama didorong dan
"Ada apa, Pi?" Tiara terhenyak kaget saat melihat suaminya berdiri mendadak dari sofa dengan ekspresi wajah yang tegang."Freya ...." Tanpa menghiraukan pertanyaan sang Istri, Santoso langsung berjalan cepat menuju ruang kerjanya untuk memanggil Diego yang berada di dalam sana bersama Dani.Tiara mengekor di belakang dengan perasaan cemas melihat gerak-gerik Santoso yang terburu-buru. "Freya kenapa? Kok kamu panik begitu?" tanyanya semakin penasaran.Santoso tidak menjawab. Saat tiba di depan pintu ruang kerja, ia langsung memutar kenop pintu, namun terkunci dari dalam."Kenapa pintu ini dikunci?" gumam Santoso bingung, kemudian mengetuk daun pintu itu berkali-kali. "Dani! Diego! Buka pintunya sekarang!"Di dalam ruangan, Diego baru saja mendekatkan bibirnya ke pinggiran cangkir kopi, tetapi langsung mengurungkan niat. Ia terdiam mendengar suara ketukan dari luar.Melihat itu, Dani menelan ludah dengan susah payah. Seluruh rencana jahat yang sudah disusun rapi di kepalanya buy
Melihat keberadaan Freya di ambang pintu, dengan cepat Bibi Ziang menghampiri untuk menenangkan."Aku ingin menyusul Paman sekarang juga!" tegas Freya dengan sorot mata yang tidak bisa dibantah.Yenzing menghela napas panjang sambil menundukkan kepala. "Jangan, Nona. Kalau Nona nekat ke sana dalam kondisi seperti ini, Tuan bisa membunuh saya.""Kenapa? Aku ingin ke sana justru karena aku mengkhawatirkan keselamatannya! Dani itu licik dan jahat! Dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk di rumah itu. Aku tidak ingin Paman Diego mendapat masalah atau terluka karena bajingan itu!"Mendengar ungkapan jujur yang keluar dari mulut Freya, Yenzing seketika tertegun. Tatapan matanya yang bingung langsung beralih pada Bibi Ziang, meminta penjelasan.Bibi Ziang langsung mendekat dan berbisik menjelaskan, "Nona Freya sudah mengingat semuanya. Tapi tolong, jangan beri tahu Tuan d
"Mungkin terjadi sesuatu pada Tuan di luar sana?" tebak Bibi Ziang cemas.Mendengar dugaan itu, Freya seketika mencengkeram lengan Bibi Ziang dengan erat. "Memangnya sekarang Paman pergi ke mana, Bi?"Bibi Ziang terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat ke mana perginya Diego sejak siang tadi.Namun, ia sama sekali tidak tahu pasti, karena majikannya itu pergi tanpa sepatah kata pun seperti biasanya."Ke mana, Bi? Jawab!" desak Freya dengan suara yang mulai diselimuti kepanikan.Bibi Ziang menggelengkan kepala pelan. "Bibi tidak tahu pasti, Nona. Tapi sepertinya Tuan pergi menemui klien penting. Kalau memang benar begitu, Tuan pasti tidak akan pergi sendirian. Tuan selalu dikawal ketat oleh bodyguard dan Yenzing."Freya langsung menatap ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman depan.Seingatnya, ia sempat melihat bayangan tubu
Di mansion, suasana dapur terasa sangat hangat karena kehadiran Freya.Saat ini, ia dibantu Bibi Ziang, tengah sibuk menyiapkan makan malam spesial untuk menyambut kepulangan Diego."Seharusnya Nona Freya beristirahat saja di dalam kamar. Tugas memasak ini sudah menjadi tanggung jawab Bibi selama puluhan tahun bekerja dengan keluarga besar Foster," ucap Bibi Ziang lembut, merasa tidak enak melihat sang majikan repot di dapur.Freya tersenyum manis sambil memotong sayuran. "Mulai sekarang dan seterusnya, aku ikut mengambil alih tugas memasak Bibi. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Besar Tuan Foster, bukan? Aku tidak ingin hanya duduk diam, sementara lidah suamiku dimanjakan oleh masakan wanita lain."Mendengar penuturan itu, Bibi Ziang menghentikan aktivitas dan menatap Freya dengan kerutan bingung di dahi."Apa ... apa Nona Freya sudah mengingat semuanya? Nona ingat semua
"Duduk!" perintah Diego dengan suara bariton yang tajam saat melihat Dani baru saja menginjakkan kaki di dalam ruangan."I-iya, Paman. Tapi aku bahkan belum sempat masuk. Tunggu sebentar, oke," gumam Dani kikuk. Merasa tubuhnya menciut drastis di bawah tatapan Elang sang paman.'Sial! Lihat saja nanti! Sebentar lagi kamu akan tertidur pulas karena dosis obat yang aku masukan di dalam kopimu,' batinnya penuh dendam.Dani melangkah mendekati meja kerja, lalu duduk di kursi yang disediakan.Ia kembali menundukkan kepala, tidak berani sedikit pun menatap mata tajam Diego yang seolah mampu menembus isi kepalanya.Diego menghela napas panjang. Matanya beralih pada daun pintu yang sengaja dibiarkan tidak tertutup rapat. "Kamu sengaja membiarkan pintu itu terbuka?"Dani menoleh cepat ke belakang, berusaha bersikap natural. "I-iya, Paman. Aku tadi memesan minuman
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s







