INICIAR SESIÓNDari seluruh pilihan simulasi yang tersedia, Kayden memilih tingkat intensitas tertinggi.Di sekelilingnya, beberapa pria lain masih ragu-ragu. Mereka memilih jumlah elektroda yang lebih sedikit dan durasi simulasi persalinan yang paling singkat.Sedangkan Kayden memilih delapan elektroda dengan simulasi persalinan normal. Itu adalah program dengan intensitas tertinggi sekaligus paling menyakitkan.Pada lima tingkat pertama, rasa sakitnya belum terlalu kuat. Hanya datang bergelombang. Setiap gelombang terasa lebih sakit daripada gelombang sebelumnya.Di sampingnya sudah terdengar beberapa pria mulai mengerang menahan sakit.Saat mencapai tingkat sepuluh, rasa sakitnya seolah menekan seluruh organ dalam hingga hampir meledak.Seseorang di sampingnya pun mengangkat tangan, memberi isyarat untuk menghentikan simulasi. Orang itu sudah tidak sanggup bertahan.Tingkat dua belas ... itulah simulasi rasa sakit saat persalinan. Butiran keringat tipis mulai muncul di dahi Kayden. Urat-urat di pu
Lunara terbatuk-batuk menahan mual cukup lama, tetapi tidak memuntahkan apa pun.Kayden sudah berdiri di sampingnya sambil membawa segelas air dan menepuk-nepuk punggung Lunara dengan lembut. "Kumur-kumur dulu."Beberapa saat kemudian, Lunara akhirnya bisa bernapas lega.Kayden tetap berdiri di sampingnya. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.Lunara menenangkannya. "Aku nggak apa-apa. Dulu waktu hamil Daisy juga begini. Setelah lewat tiga bulan pertama biasanya akan mendingan.""Masih harus nunggu tiga bulan lagi?"Lunara meliriknya sambil tersenyum. "Kamu kira hamil itu mudah? Menumbuhkan kehidupan baru di dalam tubuh butuh perjuangan yang sangat besar."Tentu saja Kayden tahu. Dia sudah mencari banyak informasi. Dia juga memahami bahwa dampak fisik akibat melahirkan pada seorang wanita banyak yang bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan sepenuhnya.Namun sekarang, setelah melihat sendiri reaksi kehamilan yang dialami Lunara, dia tetap merasa sangat cemas. Bahkan sesaat dia sempat ber
Menurut sopir, Lunara bertemu Eden di rumah sakit. Kayden kemudian teringat bahwa akhir-akhir ini Lunara memang terlihat sedikit berbeda. Kemungkinan besar dia pergi untuk menjalani pemeriksaan.Awalnya, dia berniat menunggu sampai Lunara kembali untuk menanyakannya. Namun, dia tidak menyangka Lunara justru datang lebih dahulu dan membawakan kejutan sebesar ini.Kayden memaksakan dirinya untuk tetap tenang. Dia membaca hasil pemeriksaan yang dipegang Lunara dengan teliti.Baru setelah memastikan bahwa ibu dan bayinya sama-sama dalam keadaan sehat, dia benar-benar bisa bernapas lega.Namun, bahkan sebelum sempat larut dalam kebahagiaan, dia sudah lebih dahulu memeluk Lunara sambil bertanya, "Ada yang terasa nggak nyaman nggak?""Dulu Ibu bilang, waktu mengandung Daisy kamu mengalami reaksi kehamilan yang cukup berat. Sekarang gimana?"Lunara menggeleng pelan. "Untuk sementara belum terasa apa-apa. Cuma akhir-akhir ini aku jadi lebih sering ngantuk dan selera makanku berubah.""Waktu ham
"Kak Kayden memang selalu waspada," gumam Eden.Lunara mengangkat kepalanya, lalu menatap Eden dengan tajam. "Aku nggak peduli apa sebenarnya tujuanmu. Tapi kuberi peringatan, jauhi aku dan anakku. Kalau nggak, kamu tahu sendiri apa akibatnya.""Akibatnya apa? Kak Luna, aku cuma menyukaimu ...." Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Lunara langsung mengangkat tangan dan menampar wajah Eden dengan keras.Dia terengah-engah, lalu menatap Eden dengan dingin. "Aku nggak menyukaimu, Eden. Sekarang bukan hanya nggak suka, aku bahkan sudah nggak punya emosi apa pun terhadapmu.""Dulu memang masih ada sedikit rasa peduli, tapi sekarang kamu cuma orang asing."Sedikit rasa peduli itu pun hanya karena dalam dua peristiwa sebelumnya, Eden pernah muncul di sisinya dan menyelamatkannya.Namun, sejak melihat foto-foto itu, semua kepeduliannya telah lenyap.Seandainya Eden sama seperti Alden dan Casya, hanya sekadar adik ipar Kayden, Lunara pasti akan berusaha sekuat tenaga merawat dan menjaganya
Setelah masuk ke ruang pemeriksaan, dokter berkata, "Selamat ya, kamu memang hamil. Tapi usia kehamilannya baru sekitar tiga minggu, jadi masih dalam masa observasi. Nanti silakan lanjut ke bagian administrasi untuk bikin berkas kehamilan."Orang yang datang ke poli kebidanan dan kandungan untuk memastikan kehamilan biasanya memang sudah berencana mempertahankan kandungan. Karena itu, wajah dokter pun dipenuhi senyuman bahagia.Lunara mengucapkan terima kasih, lalu berdiri dan keluar dari ruang pemeriksaan. Sebenarnya, di dalam hatinya dia sudah memiliki firasat. Sejak pemeriksaan sebelumnya, dia sudah menduga kemungkinan besar dirinya memang hamil.Namun, saat melihat tulisan kehamilan terkonfirmasi pada hasil pemeriksaan, hatinya tetap dipenuhi gejolak.Anak ini ... untuk saat ini tumbuh dengan sehat. Syukurlah, janji yang pernah dibuat akhirnya benar-benar terwujud.Lunara meletakkan tangan di atas perutnya yang masih rata. Yang ada di pikirannya sekarang hanya satu, dia ingin secep
Lunara hanya mengangguk pelan. Kenapa Eden muncul di sini tidak ada hubungannya dengan dirinya.Sarah masih ada kelas setelah ini. Dia berpamitan kepada Lunara, lalu segera pergi.Kayden berjalan menghampiri dan menggenggam tangan Lunara. "Ayo, kita keliling kampus.""Oke."Mereka bukan hanya sekadar berjalan-jalan di kampus. Mereka sedang menyusuri kembali jalan-jalan yang pernah mereka lalui bersama bertahun-tahun lalu.....Di tengah perjalanan, Lunara berlari kecil menaiki beberapa anak tangga. Dia berdiri di atas, lalu mengulurkan tangan kepada Kayden yang masih berada di bawah.Kemudian, dia bersiap melompat turun. "Tangkap aku!"Kayden tersenyum tak berdaya, lalu melangkah maju.Dahulu saat mereka masih berpacaran, waktu bertengkar, Lunara pernah sengaja berdiri di atas anak tangga seperti ini. Dia ingin memberi Kayden kesempatan untuk berdamai.Dengan meminta Kayden menggendongnya turun, itu adalah "anak tangga" yang dia sediakan untuk Kayden agar pria itu menurunkan gengsinya.







