Mag-log in"Xeyren...?" Bisikan Lovelle begitu lirih hingga nyaris tenggelam di dalam keheningan kamar itu. Bola mata biru pucatnya bergetar, dipenuhi harapan yang bahkan ia sendiri sudah lama berhenti untuk percaya. Namun pria di hadapannya itu masih diam. Tiba-tiba satu tangannya terulur ke wajah Lovelle untuk mencengkram dagu gadis itu, dan mendongakkan wajahnya agar pandangan mereka sejajar. Tatapan kelabu gelap itu begitu dalam, pekat dan dingin. Sorot yang sangat Lovelle kenali. "Ya..." Suara rendah pria itu terdengar serak. "Ini aku." Napas Lovelle tercekat. "Jadi... ini benar-benar kamu?" ulangnya dengan suara bergetar. Untuk sesaat, Xeyren hanya menatapnya tanpa berkedip, seolah sedang memastikan bahwa gadis di hadapannya benar-benar nyata. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Lovelle, lalu sudut bibirnya melengkung samar. "Aku sudah melakukan segala cara... untuk mengejar seseorang yang dengan seenaknya pergi begitu saja, dan aku berhasil." Lovelle menggigit bibirnya sa
Nathan sedang membongkar seluruh buku dan jurnal penelitian tentang perpindahan dimensi. Ia membaca ulang setiap catatan yang pernah ia buat selama bertahun-tahun, dan semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang sama. Bahwa manusia bisa masuk ke dimensi cerita, namun tidak ada satu teori pun yang menyatakan sebaliknya. Tidak pernah ada kasus karakter fiksi keluar ke dunia nyata. Tidak mungkin. Nathan menutup buku terakhir dengan frustrasi. "Kalau begitu... Xavian bukanlah anomali." Lalu ia pun membeku saat sebuah pemikiran mengerikan tiba-tiba muncul. Ia segera membuka kembali diagram perpindahan dimensi yang pernah ia gambar. Di tengah halaman terdapat dua lingkaran. Dunia Nyata dan Dunia Novel. Selama ini Nathan selalu menggambar panah dari Dunia Nyata menuju Dunia Novel. Namun perlahan, kini ia pun menarik garis baru. Bukan dari novel ke dunia nyata. Melainkan... dari Lovelle menuju Xeyren. Nathan menatap garis itu cukup lama, dan jantungnya seketika berdegup semakin ker
Ciuman itu berlangsung beberapa menit lebih lama daripada yang seharusnya. Saat Lovelle akhirnya membuka mata, napasnya sudah tidak beraturan. Ia bahkan belum sempat menyadari apa yang terjadi, ketika tiba-tiba saja Xavian menyelipkan satu tangan di belakang punggungnya, dan satu tangan lagi di lipatan bawah lututnya. Mendadak tubuh Lovelle terasa ringan, karena Xavian mengangkatnya dengan begitu mudahnya ke dalam dekapannya. "Tu-Tuan Claine?!" sergah Lovelle gugup. Tapi pria itu sama sekali tidak menjawab, dan berjalan dengan langkah yang tetap tenang serta terkendali. Dan yang bisa Lovelle lakukan, hanyalah berpegangan pada bahu kokohnya dengan jantung yang berdegup semakin liar. Mereka melewati lorong penthouse yang diterangi cahaya temaram, sebelum akhirnya Xavian mendorong sebuah pintu besar. Ruangan yang didominasi warna hitam, abu-abu gelap, dan kayu-kayuan, membuatnya tampak elegan sekaligus dingin. Ruangan yang jauh lebih sunyi dibanding ruang tamu. Lovelle
Xavian membalik satu halaman lagi sebelum menjawab. "Semakin kubaca, semakin aku mengerti kenapa kamu terus menatapku dengan cara yang aneh." Xavian akhirnya menutup buku itu pelan, lalu mengangkat sampulnya sedikit. "Tokoh antagonisnya... Xeyren Crow." Tatapan kelabunya beralih kepada Lovelle. "Dia sangat mirip denganku?" Napas Lovelle tercekat. "...Sedikit." "Hanya sedikit?" pria itu memastikan. Lovelle buru-buru mengalihkan pandangan. "Mungkin... lebih banyak dari sedikit." "Hm." Pria itu terlihat sedang berpikir. "Xeyren itu karakter yang dingin. Sulit ditebak. Dan terlalu mengendalikan keadaan." Ia berhenti sesaat. "Kurasa penulisnya saja yang terlalu melebih-lebihkan." **(woi Xavian! otor tersungging nih!)*** Lovelle mengerjap pelan. "Menurutku... tidak juga." "Begitu?" "Justru..." guman gadis itu lirih. "Ada beberapa bagian yang terasa terlalu nyata." Xavian memperhatikannya beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalau begitu, aku mulai p
Xavian berjalan santai memasuki ruang utama penthouse itu, sementara Lovelle mengikutinya beberapa langkah di belakang. Manik biru pucat gadis itu sibuk mengamati interior yang terasa lebih menyerupai galeri seni, daripada sebuah tempat tinggal. Langit-langitnya sangat tinggi. Dinding kaca membentang dari atas lantai hingga langit-langit, memperlihatkan panorama kota yang dipenuhi cahaya malam. Segalanya didominasi warna hitam, abu-abu, dan kayu gelap yang elegan. Semuanya tampak mahal... namun dingin. Tiba-tiba Xavian menghentikan langkahnya, membuat Lovelle sedikit terkejut. Tanpa menoleh, pria itu lalu bertanya, "Kamu sudah makan malam?" "Sudah." Lovelle menyahut, yang kemudian hanya dibalas oleh anggukan singkat dari Xavian. "Ini sudah jam sembilan malam," lanjut Lovelle lagi. "Tentu saja aku sudah makan." Pria itu lalu tidak mengatakan apa-apa lagi, namun justru diamnya yang membuat Lovelle perlahan mengernyit. "...Kalau Anda?" Barulah saat itu Xavian menoleh
Limousine hitam itu meluncur mulus menembus jalanan kota yang mulai lengang. Sepanjang perjalanan, Lovelle hanya memeluk novel di pangkuannya sambil beberapa kali melirik ke luar jendela. Ke mana sebenarnya mereka membawanya? Tak satu pun pengawal bersedia menjawab. Dua puluh menit kemudian, mobil perlahan berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang megah. Lovelle mendongak. Bangunan itu berbeda dari gedung-gedung apartemen lain di sekitarnya. Seluruh fasadnya dilapisi kaca gelap yang memantulkan ribuan cahaya kota, sementara garis-garis lampu putih di setiap sudut membuat bangunan itu tampak futuristis sekaligus dingin. Tak ada papan nama, tak ada penghuni yang keluar masuk. Hanya sebuah pintu lobi tinggi dengan penjagaan yang bahkan lebih ketat daripada kantor pusat C-Works. "...Di sini?" guman Lovelle. Pengawal membukakan pintu. "Silakan, Nona White." Begitu memasuki lobi, beberapa petugas keamanan langsung memberi hormat kepada rombongan merek
“Ummh...” Lovelle mengerang lirih dengan kedua mata yang masih terpejam, kala ia merasakan sesuatu yang dingin dan solid mencengkeram lehernya. “Bangun, Miss Little Spy. Baru saja kutinggal sebentar, kamu malah ketiduran? Really?” Suara maskulin dan berat itu menusuk tajam telinga Lovelle, mem
Tatapan Luca sedikit mengeras. “Sebuah ledakan terjadi pada mobil milik Lucien Moreau.” Ia menatap lurus ke dalam mata Xeyren. “Lucien dan seluruh pengawalnya tewas di tempat. Dan kebetulan,” lanjut Luca, “Anda adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya di sebuah kasino beberapa jam sebelum k
Suara baling-baling helikopter tiba-tiba terdengar membelah keheningan malam dari atas Mansion, membuat Lovelle yang masih terikat langsung membuka matanya lebar-lebar. Xeyren pun ikut melirik ke atas. Pisau yang tadi nyaris menyentuh bola mata Lovelle, kini tertahan di udara. Tatapan pria itu
Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada







