Share

51. Pancingan

Author: Black Aurora
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-24 23:48:31

Lovelle terbangun dengan napas tersengal.

Langit-langit kamar terasa asing untuk beberapa detik… sebelum semua kembali bisa ia kenali.

Ini Mansion Xeyren di Salt Lake City

Namun... kepalanya tiba-tiba berdenyut. Sakit.

Bukan seperti pusing biasa… tapi seperti ada sesuatu yang dipaksa masuk ke dalam pikirannya.

“Ugh~~”

Lovelle pun mencengkram pelipisnya, saat sebuah kilasan muncul menghujam kepalanya.

Lorong sempit. Bau lembap. Langkah kaki yang tergesa.

Seorang gadis kurus, kot
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kiss The Antagonist    114. Aku Akan Menunggu

    "Xeyren...?" Bisikan Lovelle begitu lirih hingga nyaris tenggelam di dalam keheningan kamar itu. Bola mata biru pucatnya bergetar, dipenuhi harapan yang bahkan ia sendiri sudah lama berhenti untuk percaya. Namun pria di hadapannya itu masih diam. Tiba-tiba satu tangannya terulur ke wajah Lovelle untuk mencengkram dagu gadis itu, dan mendongakkan wajahnya agar pandangan mereka sejajar. Tatapan kelabu gelap itu begitu dalam, pekat dan dingin. Sorot yang sangat Lovelle kenali. "Ya..." Suara rendah pria itu terdengar serak. "Ini aku." Napas Lovelle tercekat. "Jadi... ini benar-benar kamu?" ulangnya dengan suara bergetar. Untuk sesaat, Xeyren hanya menatapnya tanpa berkedip, seolah sedang memastikan bahwa gadis di hadapannya benar-benar nyata. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Lovelle, lalu sudut bibirnya melengkung samar. "Aku sudah melakukan segala cara... untuk mengejar seseorang yang dengan seenaknya pergi begitu saja, dan aku berhasil." Lovelle menggigit bibirnya sa

  • Kiss The Antagonist    113. Menghapus

    Nathan sedang membongkar seluruh buku dan jurnal penelitian tentang perpindahan dimensi. Ia membaca ulang setiap catatan yang pernah ia buat selama bertahun-tahun, dan semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang sama. Bahwa manusia bisa masuk ke dimensi cerita, namun tidak ada satu teori pun yang menyatakan sebaliknya. Tidak pernah ada kasus karakter fiksi keluar ke dunia nyata. Tidak mungkin. Nathan menutup buku terakhir dengan frustrasi. "Kalau begitu... Xavian bukanlah anomali." Lalu ia pun membeku saat sebuah pemikiran mengerikan tiba-tiba muncul. Ia segera membuka kembali diagram perpindahan dimensi yang pernah ia gambar. Di tengah halaman terdapat dua lingkaran. Dunia Nyata dan Dunia Novel. Selama ini Nathan selalu menggambar panah dari Dunia Nyata menuju Dunia Novel. Namun perlahan, kini ia pun menarik garis baru. Bukan dari novel ke dunia nyata. Melainkan... dari Lovelle menuju Xeyren. Nathan menatap garis itu cukup lama, dan jantungnya seketika berdegup semakin ker

  • Kiss The Antagonist    112. Menulis Ulang Kisah di Dua Dunia

    Ciuman itu berlangsung beberapa menit lebih lama daripada yang seharusnya. Saat Lovelle akhirnya membuka mata, napasnya sudah tidak beraturan. Ia bahkan belum sempat menyadari apa yang terjadi, ketika tiba-tiba saja Xavian menyelipkan satu tangan di belakang punggungnya, dan satu tangan lagi di lipatan bawah lututnya. Mendadak tubuh Lovelle terasa ringan, karena Xavian mengangkatnya dengan begitu mudahnya ke dalam dekapannya. "Tu-Tuan Claine?!" sergah Lovelle gugup. Tapi pria itu sama sekali tidak menjawab, dan berjalan dengan langkah yang tetap tenang serta terkendali. Dan yang bisa Lovelle lakukan, hanyalah berpegangan pada bahu kokohnya dengan jantung yang berdegup semakin liar. Mereka melewati lorong penthouse yang diterangi cahaya temaram, sebelum akhirnya Xavian mendorong sebuah pintu besar. Ruangan yang didominasi warna hitam, abu-abu gelap, dan kayu-kayuan, membuatnya tampak elegan sekaligus dingin. Ruangan yang jauh lebih sunyi dibanding ruang tamu. Lovelle

  • Kiss The Antagonist    111. Pria Berbahaya

    Xavian membalik satu halaman lagi sebelum menjawab. "Semakin kubaca, semakin aku mengerti kenapa kamu terus menatapku dengan cara yang aneh." Xavian akhirnya menutup buku itu pelan, lalu mengangkat sampulnya sedikit. "Tokoh antagonisnya... Xeyren Crow." Tatapan kelabunya beralih kepada Lovelle. "Dia sangat mirip denganku?" Napas Lovelle tercekat. "...Sedikit." "Hanya sedikit?" pria itu memastikan. Lovelle buru-buru mengalihkan pandangan. "Mungkin... lebih banyak dari sedikit." "Hm." Pria itu terlihat sedang berpikir. "Xeyren itu karakter yang dingin. Sulit ditebak. Dan terlalu mengendalikan keadaan." Ia berhenti sesaat. "Kurasa penulisnya saja yang terlalu melebih-lebihkan." **(woi Xavian! otor tersungging nih!)*** Lovelle mengerjap pelan. "Menurutku... tidak juga." "Begitu?" "Justru..." guman gadis itu lirih. "Ada beberapa bagian yang terasa terlalu nyata." Xavian memperhatikannya beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalau begitu, aku mulai p

  • Kiss The Antagonist    110. Mulai Membaca

    Xavian berjalan santai memasuki ruang utama penthouse itu, sementara Lovelle mengikutinya beberapa langkah di belakang. Manik biru pucat gadis itu sibuk mengamati interior yang terasa lebih menyerupai galeri seni, daripada sebuah tempat tinggal. Langit-langitnya sangat tinggi. Dinding kaca membentang dari atas lantai hingga langit-langit, memperlihatkan panorama kota yang dipenuhi cahaya malam. Segalanya didominasi warna hitam, abu-abu, dan kayu gelap yang elegan. Semuanya tampak mahal... namun dingin. Tiba-tiba Xavian menghentikan langkahnya, membuat Lovelle sedikit terkejut. Tanpa menoleh, pria itu lalu bertanya, "Kamu sudah makan malam?" "Sudah." Lovelle menyahut, yang kemudian hanya dibalas oleh anggukan singkat dari Xavian. "Ini sudah jam sembilan malam," lanjut Lovelle lagi. "Tentu saja aku sudah makan." Pria itu lalu tidak mengatakan apa-apa lagi, namun justru diamnya yang membuat Lovelle perlahan mengernyit. "...Kalau Anda?" Barulah saat itu Xavian menoleh

  • Kiss The Antagonist    109. Mengganggu

    Limousine hitam itu meluncur mulus menembus jalanan kota yang mulai lengang. Sepanjang perjalanan, Lovelle hanya memeluk novel di pangkuannya sambil beberapa kali melirik ke luar jendela. Ke mana sebenarnya mereka membawanya? Tak satu pun pengawal bersedia menjawab. Dua puluh menit kemudian, mobil perlahan berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang megah. Lovelle mendongak. Bangunan itu berbeda dari gedung-gedung apartemen lain di sekitarnya. Seluruh fasadnya dilapisi kaca gelap yang memantulkan ribuan cahaya kota, sementara garis-garis lampu putih di setiap sudut membuat bangunan itu tampak futuristis sekaligus dingin. Tak ada papan nama, tak ada penghuni yang keluar masuk. Hanya sebuah pintu lobi tinggi dengan penjagaan yang bahkan lebih ketat daripada kantor pusat C-Works. "...Di sini?" guman Lovelle. Pengawal membukakan pintu. "Silakan, Nona White." Begitu memasuki lobi, beberapa petugas keamanan langsung memberi hormat kepada rombongan merek

  • Kiss The Antagonist    10. Kekasih

    “Ummh...” Lovelle mengerang lirih dengan kedua mata yang masih terpejam, kala ia merasakan sesuatu yang dingin dan solid mencengkeram lehernya. “Bangun, Miss Little Spy. Baru saja kutinggal sebentar, kamu malah ketiduran? Really?” Suara maskulin dan berat itu menusuk tajam telinga Lovelle, mem

  • Kiss The Antagonist    9. Pindah Posisi

    Tatapan Luca sedikit mengeras. “Sebuah ledakan terjadi pada mobil milik Lucien Moreau.” Ia menatap lurus ke dalam mata Xeyren. “Lucien dan seluruh pengawalnya tewas di tempat. Dan kebetulan,” lanjut Luca, “Anda adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya di sebuah kasino beberapa jam sebelum k

  • Kiss The Antagonist    8. Kedatangan Sang Tokoh Utama Pria

    Suara baling-baling helikopter tiba-tiba terdengar membelah keheningan malam dari atas Mansion, membuat Lovelle yang masih terikat langsung membuka matanya lebar-lebar. Xeyren pun ikut melirik ke atas. Pisau yang tadi nyaris menyentuh bola mata Lovelle, kini tertahan di udara. Tatapan pria itu

  • Kiss The Antagonist    7. Nama Yang Sebenarnya

    Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status