LOGINBack in college, Damian Cross and Alexandra “Alex” Vega shared a reckless kind of passion—one built on stolen nights, whispered names, and a promise that it was nothing serious. No commitments. No future. Just fire. Pero hindi alam ni Damian, that fire left something behind—twins. A boy and a girl Alex raised on her own, telling them their father died years ago. While Damian built his ruthless empire and became one of the world’s most powerful billionaires, Alex buried their past and became a decorated soldier. Until one mission went wrong, leaving her unit dead… and turning her into one of the most sought-after bodyguards in the country. Seven years later, Alex’s world shatters again—her daughter is diagnosed with leukemia. Desperate for money for the surgery, Alex takes the job she almost rejected: protect a billionaire being hunted by enemies. She nearly drops the file when she sees his name. Damian Cross. Damian, on the other hand, isn’t thrilled either. He laughs in disbelief when he’s told his new head of security is a woman—until she walks in. The same fierce eyes. The same fire. The same woman he thought he’d lost forever. Now, Damian must face the truth: the bodyguard sworn to protect him is the only woman he’s ever let too close… and she’s hiding the biggest secret of all—his children. As bullets close in, old wounds reopen, and sparks reignite, Alex must choose: keep the walls she built for seven years, or let Damian back in—and risk breaking more than just her own heart.
View MoreHasna, ialah seorang wanita yang saat ini berusia 26 tahun, seorang istri, dan dalam hitungan beberapa bulan lagi, ia pun akan resmi menyandang status sebagai seorang ibu. Ya, saat ini Hasna memanglah sedang hamil, kehamilannya kini memasuki usia 6 bulan. Hasna, yang setahun silam telah di persunting oleh Aryo, kini mau tak mau harus menjalani hari-hari yang tak mudah dalam hidupnya.
Bagaimana tidak, Hasna yang sebenarnya berasal dari keluarga yang berada, harus merelakan kehidupan serba mewahnya karena ia lebih memilih lelaki yang saat itu begitu ia cintai dan memulai hidup baru bersama Aryo suaminya. Sementara Aryo yang memang berasal dari keluarga kalangan bawah, saat itu hanya bekerja sebagai buruh bangunan yang bergaji tak seberapa jika dibandingkan dengan uang jajan yang diberikan oleh orang tua Hasna padanya dulu. Namun, rasa cinta dan sayang Hasna yang begitu tulus kepada Aryo, membuatnya seakan buta dan rela menentang kedua orang tuanya yang sangat tidak setuju dengan pernikahan mereka. Hasna pun akhirnya memilih untuk kawin lari bersama Aryo dan mereka pun mulai membangun rumah sederhana di suatu desa terpencil.Namun sayang seribu kali sayang, ternyata semua tidak semanis yang Hasna bayangkan, sikap Aryo, lelaki yang ia cintai, mulai terlihat berubah ketika memasuki usia pernikahan 6 bulan. Aryo sering pulang larut malam, sikapnya pun semakin dominan dan jadi begitu tempramen.
Hingga pada suatu malam, saat itu Hasna belum tidur karena ia sedang menunggu kepulangan Aryo yang hingga pukul 22:00 malam belum juga pulang. Hasna terlihat sedang berjalan mondar mandir di kamarnya, ia pun terus mengusap-usap perutnya yang membuncit sembari seolah sedang berbicara dengan bayi yang ada di dalam perutnya."Sabar ya sayang ibu, sebentar lagi, dalam hitungan beberapa bulan lagi, kita akan segera bertemu." Ucap Hasna dengan begitu lembut.
"Sehat-sehat di dalam perut ibu ya sayang, ibu sangat mengasihimu nak. Ibu akan menunggu kamu sampai saatnya tiba nanti." Tambahnya lagi sembari mulai tersenyum memandangi perutnya dan terus mengusapnya dengan penuh kasih sayang.
*Ceklek*
Hingga tiba-tiba pintu kamar pun terbuka, seketika Hasna langsung menoleh ke arah pintu dan mendapati Aryo yang memasuki kamar mereka dalam keadaan kacau.
"Hei Hasna, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa masih belum tidur juga ha?!" Tanya Aryo sembari terus melangkah menuju kasurnya.
"Mas, ayo kemari, sudah saatnya kamu pun juga harus sering mengajak ngobrol calon anak kita." Ucap Hasna sembari tersenyum tipis.
"Tidak, aku lelah dan ingin tidur! Lagi pula untuk apa mengajak ngobrol yang belum ada wujudnya? Memangnya aku orang gila?!" ketus Aryo.
Hasna pun hanya terdiam, ia menghela nafas sembari terus memandangi sang suami yang berjalan sedikit tergopoh-gopoh menuju kasurnya. Melihat hal itu, membuat dahi Hasna seketika mengernyit dan langsung menghampirinya.
"Mas kamu kenapa?" Tanya Hasna yang mencoba memegang pundak sang suami.
Namun tangan itu segera di tepis oleh Aryo yang seolah tak mengizinkan Hasna untuk menyentuhnya.
"Sudah lah tak usah banyak tanya, mending tidur saja!" Jawabnya.
"Mas, badan kamu bau mas, seperti bau minuman, kamu mabuk ya mas?" Tanya Hasna lagi sembari ingin mencoba mengendus tubuh suaminya lebih dekat.
"Astaga mas, kenapa kamu jadi begini sih mas? Hidup kita sudah susah begini, kenapa kamu malah mabuk-mabukan yang tidak jelas? Kamu minum dimana mas? Sama siapa?" Omel Hasna lagi.
Namun Aryo yang semakin di buat kesal dengan itu semua seketika langsung menolak tubuh Hasna agar segera menjauh darinya. Tubuh Hasna pun terlempar ke lantai, membuatnya seketika mulai meringis sembari memegangi perutnya.
"Heh! Apa-apaan kau ini ha?! Kan sudah ku bilang jangan banyak tanya! Tidur sana!" Bentak Aryo yang langsung mengecakkan pinggangnya di depan Hasna.
"Aduh, mas sakit mas." Ringis Hasna yang mulai ingin menangis.
"Halah, sudah lah, ayo bangun! Tak usah jadi anak manja, memangnya kau pikir kau itu masih hidup bersama keluarga kayamu yang bisa bermanja-manja?!"
Hasna yang saat itu masih terduduk di lantai pun mulai menangis, ia semakin meringis kesakitan dan terus memegangi perutnya.
"Mas tolong aku mas, perutku sakit sekali mas." Ucap Hasna lirih.
Namun Aryo sama sekali tak bergeming, ia justru hanya mendengus kesal dan memalingkan wajahnya ke lain arah.
Namun beberapa saat kemudian Hasna pun semakin dibuat histeris saat ia mendapati cairan yang mulai menyucur deras dari area kemaluannya."Mas, ada cairan di paha ku mas, aaagh sakit mas."
"Cairan apa? Apa karena aku marahi membuatmu jadi buang air di celana ha?!" Tanya Aryo dengan suara yang semakin meninggi.
"Tidak mas, sepertinya ini cairan ketuban mas, ketuban ku pecah mas." Jawab Hasna yang semakin menangis.
Mendengar pengakuan Hasna, membuat Aryo mulai meliriknya dan memandangi ke arah lantai tempat dimana Hasna terduduk. Dan benar saja, saat itu lantai pun terlihat basah dan terdapat bercak-bercak merah seperti darah yang menyatu pada cairan bening itu. Hal itu pun sontak membuat kedua tangan Aryo yang awalnya mengecak mulai ia turunkan.
Wajahnya pun mulai terlihat panik, ia pun langsung berjongkok di hadapan Hasna dan menyentuh sedikit bercak merah itu lalu menciumnya.
"Mas tolong aku mas, sakit sekali mas." Ucap Hasna lagi yang langsung meremas baju Aryo.
"Hasna, kau berdarah? Pertanda apa ini ha? Apa kau keguguran?"Hasna pun terlihat semakin histeris saat Aryo menanyakan hal itu padanya.
"Tidak mas, tidak mungkin, itu tidak mungkin mas tidak!!" Teriak Hasna yang langsung menggeleng cepat.
"Ayo, kita ke puskesmas sekarang."
Aryo yang semakin merasa panik pun akhirnya langsung menggendong Hasna dan membawanya ke puskesmas yang berada tak jauh dari rumah mereka. Memiliki tempat tinggal yang berada di desa membuat tidak memungkinkannya untuk Aryo membawa Hasna ke rumah sakit besar yang hanya ada di kota.
Bersambung...The phone vibrated once.Alex didn’t notice it at first.She was leaning beside sleeping Damian, watching and admiring the innocent sleeping man who own her heart from the very first time, counting her breaths the way she always did when things felt too quiet. The night after the gala still clung to her skin—heavy, restless, unfinished.Then the vibration came again. She glanced. Unknown number.She almost ignored it. Almost but then.The moment she read the message, the air left her lungs.Your twins aren’t safe.No emojis.No explanation.No threat spelled out.Just truth sharpened into a weapon.Alex’s fingers curled tightly around the phone. Her chest felt like it was caving in, heartbeat pounding so loud she was sure Damian would hear it from across the room.No. No. No.She locked the screen, jaw tightening as she forced herself to stand still. Panic was a luxury she couldn’t afford. Fear had rules. And she knew them well.She turned slowly, "Come on, they're okay, they're okay"
"Alex, are you okay?" Claus asked me na may pagaalala.I took a deep breath and form a smile to him. "Don't worry Claus, she's not hard to handle—"“Siya oo, but how about your feelings?“ Carlo interface.“What.. Rafi did you tell them?""Tell us what?" Claus. "Come on Alex, we're friends since the military training. I know you. Hindi kami tanga para hindi mapansin kung anong meron sainyo ni Damian.""Hindi niyo naiintindihan!" I firmly said.“Ang alin? We everything you've done for your kids. For yourself and for everybody! hindi ka namin pababayaang sirain lahat 'yon for this fucking man!" That was Carlo. He barely says something but when he did, alam kong hindi na niya nagugustuhan ang mga nangyayari."Come on, guys. Let's Alex fix what she done. Alam niya ang ginagawa niya. Leave it to her." Rafi said and left. Naiwan ako sa pwesto ko. Naguguluhan ako. Alam kong lahat ng 'to ay pansamantala lang. At kapag naayos na ang gusot ni Damian, babalik na siya sa kung anong buhay ang mero
The morning after last night, Damian and I didn’t exchange a single word that carried the weight of what happened. It was awkward, thick with tension. Every glance from him felt loaded, but neither of us dared to cross the line. I kept busy with my team, ignoring the electricity in the air, pretending that our near intimacy didn’t linger between us.Minutes after the team meeting ended, Rafi caught up to me outside the conference room. His expression was serious, the kind that immediately made me brace myself.“Alex… we need to talk,” he said, lowering his voice as we walked down the hallway.I froze for a second, a hint of panic rising in my chest. My mind immediately jumped to Damian. “About what?” I asked cautiously.“You know what I mean. Yesterday… you and him. I need to make sure you’re… focused—no, i need to make sure everything is still align on your plans.” Rafi said, locking eyes with me. His tone was firm, but I could sense the worry behind it.I blinked, momentarily speech
The morning sunlight hit the lobby through the tall glass windows as I entered the building, hands clutching my bag strap tightly. I had taken an off yesterday just to spend time with Marina and Marcus, but today, work called me back relentlessly. I didn’t want to leave my kids again so soon, but bills, deadlines, and Damian’s constant demands weren’t exactly negotiable.“Good morning, Ms. Cruz!” a secretary greeted, smiling brightly.“Morning,” I replied softly, forcing a polite smile.Employees I passed whispered, some smiled, some pretended not to notice me at all. I could feel their judgment—some because of Damian, others because of jealousy, and a few because of curiosity.The elevator chimed, carrying me up to the top floor where Damian’s office stood like a fortress at the end of the hallway. Most days, I passed by without thinking. Today, my attention sharpened because the door seemed… off.No lights.Curiosity prickled at me. Something in the quiet of the hallway made me paus
The penthouse was too quiet. Tahimik, pero hindi yung tipong nakaka-relax. Tahimik na parang may kakaiba. The kind that hums under your skin and makes you too aware of your own heartbeat. I moved through the living room, checking every corner, every blind spot. Habit na. Ever since i joined the m
”Alexandra?” Gulat na banggit niya sa pangalan ko. I firmed my stand and face him. “Alex Vega, your personal bodygu—” “What the hell are you doing—do you think you can protect me?” The arrogance in his voice sliced through the air like a knife. Typical Damian Cross—confident, sharp, and condesce
The smell of sweat and leather hung heavy in the air—familiar, almost comforting. It was the scent of focus, of repetition, of pain that felt like progress. I tightened my wraps and rolled my shoulders, stretching the stiffness out of my muscles. The gym was noisy, filled with the sound of punches
The dorm party rattled the walls—bass pounding, laughter spilling, glasses clinking. Pero sa maliit na kwarto nila, the only sound was their breaths, ragged and urgent. Damian’s hand slammed against the door, trapping Alex. His lips grazed her jaw, teasing her neck, teeth grazing, leaving goosebu












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews