INICIAR SESIÓN“Cuekin aja,” ucap Suci enggan membahas masalah Irul dan keluarga pria itu yang sudah mengetahui semua sandiwaranya. “Kalau mereka sudah tau semuanya, ya, udah. Mau gimana lagi?”“Gimana kalau mereka datang lagi?” sahut Hadi pelan. “Tadi aja dia ngotot mau masuk. Pake ngomong kalau kita ini keluarga.”“Keluarga apaan!” seru Sahli kesal sendiri. “Dia itu datang pasti ada maunya. Tapi aku heran, kenapa mereka sampe ngurusin kita segitunya?”“Mereka begitu karena nggak punya pembantu gratisan lagi,” ujar Suci lalu menggeleng cepat sambil mengusap perutnya. “Haduh, jangan ngomongin mereka dah. Aku lagi hamil, nggak mau benci-benci sama orang. Kan, nggak lucu kalau anakku mirip …”Suci bergidik, tidak melanjutkan kalimatnya. “Mirip siapa emang?” tanya Hadi polos. Benar-benar tidak mengerti dengan maksud kakak perempuannya itu.“Nggak usah diomongin kubilang,” ulang Suci lalu berdecak. Tidak seperti Sahli, pria itu justru tertawa. “Nggaklah, anakmu nanti mirip bapaknya. Kalau cowok pasti
“Pak Ivan.” Arif buru-buru menuruni tangga teras pengadilan untuk menghentikan ayahnya yang hendak masuk ke mobil. Ivan yang baru saja menunduk dan hendak masuk ke dalam mobil, sontak mengurungkan niatnya ketika mendengar suara Arif. Ia kembali berdiri tegak, lalu sedikit memutar tubuhnya. “Bisa minta waktunya sebentar,” ujar Arif berdiri di samping pintu mobil yang sudah terbuka. “Lima menit.”Ivan menghela cepat, lalu mengangguk. Entah perihal apa yang akan disampaikan putranya, sampai harus mencegah kepergiannya. “Ada apa?”“Sebentar.” Arif membuka layar ponsel yang sejak tadi sudah ia genggam. Ia membuka aplikasi pesan, lalu mengirimkan sesuatu pada ayahnya. “Buka hape Ayah. Aku ada kirim sesuatu di sana.”Ivan segera mengeluarkan ponsel yang tersimpan di saku jasnya. Saat melihat satu notifikasi pesan dari Arif, ia pun membukanya.Untuk sesaat, dahi Ivan mengerut. Tatapannya menajam saat melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh putranya.“Ini …” Ivan sontak menatap tanya pada A
Sahli dan Hadi menyambut kabar kehamilan Suci dengan penuh suka cita. Keduanya bergantian mengucapkan selamat dengan senyum yang terus mengembang di wajah mereka. “Jadi, kapan kira-kira lahirnya?” tanya Hadi antusias. “Kata Dokter, perkiraan lahirnya sekitar awal Oktober,” jawab Suci benar-benar bahagia. Pagi tadi, mereka berdua sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan. Setelah dilakukan pemeriksaan dan USG, dokter memastikan bahwa Suci memang sedang mengandung. Usia kehamilannya masih sangat muda, tetapi kondisi ibu dan calon bayi dinyatakan baik, sehingga mereka hanya diminta menjaga pola makan, memperbanyak istirahat, dan rutin melakukan kontrol sesuai jadwal.“Dan selama waktu itu, aku minta tolong jaga kakakmu ini kalau aku lagi kerja,” timpal Arif sambil mengusap puncak kepala Suci. “Jangan biarkan dia pegang kerjaan apa-apa di rumah, karena aku sedang nyari ART.”“Apa? Kenapa aku nggak boleh pegang kerjaan apa-apa?” protes Suci menggeser duduknya menjauh dari Arif. “Itu
Pada akhirnya, Suci tidak lagi bisa membuat alasan apa pun untuk menolak. Setelah Arif memastikan suhu tubuhnya masih terasa hangat, mau tidak mau ia menurut diajak ke praktik dokter umum terdekat. Beberapa pertanyaan dan pemeriksaan standar pun dilakukan. Sampai akhirnya, satu pertanyaan dokter membuat Suci dan Arif membeku.“Kapan haid terakhir?”Suci berkedip pelan. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar. “Sebentar, Dok,” gumam Suci pelan lalu menelan ludah. Ia mencoba mengingat-ingat tanggal terakhir kali mengalami haid. Namun, semakin dipaksa mengingat, pikirannya justru semakin kosong.Sebenarnya, Suci bukan tidak bisa mengingat hal tersebut. Namun, pertanyaan sang dokter membuat benaknya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat, karena ia mulai memahami ke mana arah pembicaraan ini.“Kayaknya ...” Suci menggantung kalimatnya. Entah mengapa, lidahnya mendadak kelu dan pikirannya p
“Mas, ditunggu Bapak di mobil.”Arif menatap Jose yang merentangkan satu tangan ke arah parkiran mobil pengadilan. Tidak perlu ditanya tentang keperluannya, karena ia sudah bisa menebaknya.“Mobilnya di ujung,” ucap Jose menambahkan informasi sebelum Arif bertanya lebih lanjut.Napas Arif terbuang pelan. Cepat atau lambat, gosip mengenai syukuran rumah baru Arif sekaligus kabar mengenai dirinya yang telah memperkenalkan Suci sebagai istri, pasti akan sampai juga ke telinga Ivan. Tidak hanya Ivan, karena Deswita tentu juga sudah mendengarnya. “Makasih,” ujar Arif kemudian pergi ke arah yang ditunjukkan Jose. Ia mendatangi sedan hitam yang berada di sudut lahan parkir, lalu memasukinya. Duduk berdampingan dengan Ivan di kursi penumpang bagian belakang. “Ayah sampe nggak tau mau ngomong apa,” ujar Ivan datar, tanpa emosi sama sekali karena sudah terlalu lelah dengan sikap putranya. “Kamu mengundang orang-orang ke rumahmu dan memperkenalkan Suci sebagai istri yang sudah kamu nikahi beb
“Hati-hati di jalan,” ucap Suci sambil melambai pada Firman, tamu terakhir yang meninggalkan rumahnya. “Makasih banyak sudah datang.”“Iya, Mbak. Sama-sama,” balas Firman sambil mengangguk sopan pada Suci dan Arif. Setelah berpamitan sekali lagi, ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman pasangan suami istri tersebut.“Selesai!” ucap Arif membuang napas lega. Acara mereka berjalan lancar tanpa ada drama. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi setelah ini, karena Arif sudah memperkenalkan Suci sebagai istrinya. Dan apa pun penilaian orang-orang setelah ini, Arif tidak berniat memikirkannya sama sekali.“Capek,” keluh Suci sambil memijat bagian belakang pinggangnya yang terasa pegal. Meski tubuhnya terasa lelah, hatinya justru dipenuhi rasa lega karena acara mereka berjalan sesuai harapan. “Tinggal tunggu orang katering pulang, habis itu aku mau tidur.”Arif merangkul Suci, membawa sang istri kembali masuk ke dalam rumah. “Istirahat duluan di kamar. Biar aku, Sahli, sama Hadi yang
“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de
Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko
“Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp







