LOGIN“Gila!”
Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan.
“Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah mempertimbangkannya secara singkat, Bias sudah bisa menilai jika perbuatan Arif tersebut hanya akan mendatangkan hal negatif. “Nggak ada untungnya sama sekali buatmu!”
“Kamu nggak ada di posisiku, Bi,” sahut Arif membela diri.
Pernikahan kontrak yang akan dilakukannya memang tidak akan mendatangkan keuntungan apa pun bagi Arif. Tidak secara materi, tidak juga secara perasaan. Namun, semua ini bukan soal untung atau rugi.
Ini soal … luka yang belum selesai.
Seharusnya, rasa sakit itu telah terkubur bersama waktu. Namun, perbuatan Deswita semakin membuatnya merasa sesak dan akhirnya Arif memutuskan untuk memberi sebuah “pelajaran” hidup bagi ibunya.
Arif mengerti, Deswita hanya ingin Arif mendapatkan semua yang terbaik. Namun, yang ia sesalkan adalah, sikap ibunya yang cukup arogan dan selalu merasa paling benar.
“Kalau begitu pikirkan lagi matang-matang,” lanjut Bias kembali memberi argumen untuk menyadarkan Arif, “Apa yang bakal orang pikirkan, kalau kamu nikah sama office girl terus cerai setahun kemudian? Reputasimu pasti juga jadi taruhannya. Belum lagi ada nama besar Adiningrat di belakangmu. Sadarlah, Rif!”
Bias menggaruk kepala dengan cepat. “Terus, apa kamu yakin kamu nggak bakal tergoda sama si … siapa tadi namanya?”
“Suci!” seru Arif sembari menggeleng pasti. “Aku nggak bakal tergoda sama dia.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Kenapa? Dia nggak cantik? Nggak bohai? Nggak mulus?” cecar Bias tiba-tiba penasaran. “Makanya kamu nikahin dia? Karena selain status sosialnya jauh di bawah keluargamu, penampilan si Suci itu jauh dari kata sempurna. Alias … jelek! Nggak enak dipandang.”
“Aaa …” Mulut Arif terbuka dengan gumaman yang menggantung, karena tengah mengingat penampilan Suci dari ujung rambut hingga kaki. Sejauh ini, ia sama sekali tidak pernah menilai penampilan fisik gadis itu.
Di benak Arif, ia hanya mencari seorang gadis yang status sosialnya jauh di bawah keluarga Adiningrat untuk bisa melancarkan rencananya. Karena ia sudah mengenal Suci sebelumnya, maka pilihannya jatuh pada gadis itu.
“Semua perempuan pasti cantik.” Arif mencari jawaban aman.
“CIH!” Bias berdecih keras tanpa ragu. Ia seolah berkaca dari hubungannya dengan Cinta dahulu kala. Kasusnya memang berbeda, tetapi alurnya cukup serupa. “Memangnya kamu bisa tahan tinggal satu atap dengan perempuan ‘halal’ selama satu tahun? Kamu nggak ingat gimana hubunganku dengan Cinta? Ha?”
Karena Arif pernah ditunjuk menjadi pengacara Cinta untuk mengurus perceraiannya dengan Bias, maka pria itu pasti sudah mengerti dengan kondisi hubungan rumah tangganya dahulu kala.
Arif tersenyum miring dan melepas tawa kecil dengan ekspresi meledek. “Kita, beda. Aku, bukan kamu.”
Tanpa ragu, Bias membalas tawa Arif lebih keras. Pergaulan mereka di luar profesi sebagai pengacara memang berbeda. Jika dulu Bias akrab dengan hiruk pikuk dunia malam untuk mengusir penat, hidup Arif justru lurus-lurus saja dan tidak pernah macam-macam.
Kendati demikian, Bias dan Arif tetaplah pria yang memiliki hasrat terhadap lawan jenis. Itulah sebabnya, Bias sangsi Arif mampu "bertahan" hidup satu atap dengan Suci tanpa menaruh hati atau menyentuhnya sedikit pun.
“Mau taruhan?”
“Seratus juta,” jawab Arif enteng.
“Oke! Deal!” Bias tiba-tiba bersemangat, meski nominal yang dipertaruhkan tidaklah terlalu besar. “Aku tunggu kamu … kena batunya!”
💙💙💙💙💙💙💙
“Cuma ini barang-barangmu?” tanya Arif melihat sebuah tas duffel dan sebuah ransel yang dipakai Suci di depan dada. Tas ranselnya masih terlihat cukup baik, tetapi tas duffel yang dibawa gadis itu benar-benar terlihat usang.
Suci mengangguk. Ia tidak bisa menjelaskan, bagaimana kondisi perasaannya saat ini. Yang jelas, setiap kali memikirkan kontrak yang sudah ditandatanganinya, jantung Suci pasti langsung bertalu kencang. Kira-kira, apa yang akan terjadi selama satu tahun ke depan?
“Cuma ini, Pak,” jawab Suci tersenyum canggung, “nggak banyak.”
“Oke.” Arif mengambil alih tas duffle dari tangan Suci dengan mudahnya. “Ikut aku.”
“Tasnya biar–”
“Biar aku yang bawa,” putus Arif sudah mengerti dengan hal protes yang akan diucapkan gadis itu.
Suci tidak membantah. Ia segera menyamakan langkah dengan Arif. Berjalan menuju lift dan berhenti di depannya.
“Kenapa … Bapak pindah apartemen?” tanya Suci melihat area sekeliling lobi sambil menunggu pintu lift di depannya terbuka.
“Untuk menghindari beberapa hal yang mungkin terjadi,” jawab Arif mempersilakan Suci masuk lebih dulu ke dalam lift yang baru terbuka, “dan ini bukan apartemenku, tapi punya teman. Aku sewa.”
Dan teman yang dimaksud adalah Bias.
“Jadi, selama kontrak, kita tinggal di sini?” tanya Suci memastikan.
“Benar!” Arif menatap Suci ketika pintu lift sudah tertutup. “Ada kemungkinan ibuku akan lebih sering datang setelah tahu kita menikah untuk memisahkan kita. Dengan kata lain, dia mungkin … akan bicara banyak hal yang kurang enak didengar. Karena itu aku memutuskan untuk tinggal jauh dari kantor supaya nggak ada gosip yang bisa menyebar ke mana-mana. Cuma jaga-jaga, kalau-kalau ibuku marah-marah di depan umum.”
“Ahh!” Suci membuka lebar matanya ketika mengingat sosok wanita yang beberapa kali dijumpai Arif di lobi. “Jadi, ibu-ibu cantik yang beberapa kali datang dan bicara sama Bapak itu … ibunya Bapak?”
Arif mengangguk. Ia mengeluarkan ponsel, lalu mencari foto Deswita di dalam galerinya. Setelah dapat, ia menunjukkan pada Suci. “Apa ini orangnya?”
“Iya! Ini orangnya! Ini Ibunya Bapak?”
Arif kembali mengangguk. “Ibu Deswita.”
“Maaf, tapi dari mukanya … udah keliatan jutek,” ujar Suci jujur sambil berjalan keluar lift.
“Itulah Ibuku,” ujar Arif berjalan cepat menyusuri unit yang baru ia masuki. “Di sini kita pake private lift dan ini kamarmu,” ucapnya sambil membuka pintu sebuah kamar lalu memasukinya.
“Oia, kita nikah nanti malam di sini,” ujar Arif meletakkan tas duffel milik Suci di lantai, “semua sudah dipersiapkan, jadi, kamu istirahatlah dulu.”
“Malam ini juga?”
“Ya! Lebih cepat, lebih baik,” jawab Arif, “dan karena salah satu adikmu sudah tau tentang sandiwara kita, suruh dia ke sini sekalian untuk jadi walimu biar semuanya lebih meyakinkan. Tapi, tetap pastikan dia tutup mulut dengan semua sandiwara ini dan bilang kalau dia juga akan dapat bayaran.”
Suci membuang napas panjang. Sudah tidak ada jalan mundur, terlebih ketika adiknya juga ikut terlibat dalam drama yang dilakoninya.
“Baik, Pak! Kami pasti akan tetap … tutup mulut.”
“Cuekin aja,” ucap Suci enggan membahas masalah Irul dan keluarga pria itu yang sudah mengetahui semua sandiwaranya. “Kalau mereka sudah tau semuanya, ya, udah. Mau gimana lagi?”“Gimana kalau mereka datang lagi?” sahut Hadi pelan. “Tadi aja dia ngotot mau masuk. Pake ngomong kalau kita ini keluarga.”“Keluarga apaan!” seru Sahli kesal sendiri. “Dia itu datang pasti ada maunya. Tapi aku heran, kenapa mereka sampe ngurusin kita segitunya?”“Mereka begitu karena nggak punya pembantu gratisan lagi,” ujar Suci lalu menggeleng cepat sambil mengusap perutnya. “Haduh, jangan ngomongin mereka dah. Aku lagi hamil, nggak mau benci-benci sama orang. Kan, nggak lucu kalau anakku mirip …”Suci bergidik, tidak melanjutkan kalimatnya. “Mirip siapa emang?” tanya Hadi polos. Benar-benar tidak mengerti dengan maksud kakak perempuannya itu.“Nggak usah diomongin kubilang,” ulang Suci lalu berdecak. Tidak seperti Sahli, pria itu justru tertawa. “Nggaklah, anakmu nanti mirip bapaknya. Kalau cowok pasti
“Pak Ivan.” Arif buru-buru menuruni tangga teras pengadilan untuk menghentikan ayahnya yang hendak masuk ke mobil. Ivan yang baru saja menunduk dan hendak masuk ke dalam mobil, sontak mengurungkan niatnya ketika mendengar suara Arif. Ia kembali berdiri tegak, lalu sedikit memutar tubuhnya. “Bisa minta waktunya sebentar,” ujar Arif berdiri di samping pintu mobil yang sudah terbuka. “Lima menit.”Ivan menghela cepat, lalu mengangguk. Entah perihal apa yang akan disampaikan putranya, sampai harus mencegah kepergiannya. “Ada apa?”“Sebentar.” Arif membuka layar ponsel yang sejak tadi sudah ia genggam. Ia membuka aplikasi pesan, lalu mengirimkan sesuatu pada ayahnya. “Buka hape Ayah. Aku ada kirim sesuatu di sana.”Ivan segera mengeluarkan ponsel yang tersimpan di saku jasnya. Saat melihat satu notifikasi pesan dari Arif, ia pun membukanya.Untuk sesaat, dahi Ivan mengerut. Tatapannya menajam saat melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh putranya.“Ini …” Ivan sontak menatap tanya pada A
Sahli dan Hadi menyambut kabar kehamilan Suci dengan penuh suka cita. Keduanya bergantian mengucapkan selamat dengan senyum yang terus mengembang di wajah mereka. “Jadi, kapan kira-kira lahirnya?” tanya Hadi antusias. “Kata Dokter, perkiraan lahirnya sekitar awal Oktober,” jawab Suci benar-benar bahagia. Pagi tadi, mereka berdua sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan. Setelah dilakukan pemeriksaan dan USG, dokter memastikan bahwa Suci memang sedang mengandung. Usia kehamilannya masih sangat muda, tetapi kondisi ibu dan calon bayi dinyatakan baik, sehingga mereka hanya diminta menjaga pola makan, memperbanyak istirahat, dan rutin melakukan kontrol sesuai jadwal.“Dan selama waktu itu, aku minta tolong jaga kakakmu ini kalau aku lagi kerja,” timpal Arif sambil mengusap puncak kepala Suci. “Jangan biarkan dia pegang kerjaan apa-apa di rumah, karena aku sedang nyari ART.”“Apa? Kenapa aku nggak boleh pegang kerjaan apa-apa?” protes Suci menggeser duduknya menjauh dari Arif. “Itu
Pada akhirnya, Suci tidak lagi bisa membuat alasan apa pun untuk menolak. Setelah Arif memastikan suhu tubuhnya masih terasa hangat, mau tidak mau ia menurut diajak ke praktik dokter umum terdekat. Beberapa pertanyaan dan pemeriksaan standar pun dilakukan. Sampai akhirnya, satu pertanyaan dokter membuat Suci dan Arif membeku.“Kapan haid terakhir?”Suci berkedip pelan. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada jawaban yang langsung keluar. “Sebentar, Dok,” gumam Suci pelan lalu menelan ludah. Ia mencoba mengingat-ingat tanggal terakhir kali mengalami haid. Namun, semakin dipaksa mengingat, pikirannya justru semakin kosong.Sebenarnya, Suci bukan tidak bisa mengingat hal tersebut. Namun, pertanyaan sang dokter membuat benaknya dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat, karena ia mulai memahami ke mana arah pembicaraan ini.“Kayaknya ...” Suci menggantung kalimatnya. Entah mengapa, lidahnya mendadak kelu dan pikirannya p
“Mas, ditunggu Bapak di mobil.”Arif menatap Jose yang merentangkan satu tangan ke arah parkiran mobil pengadilan. Tidak perlu ditanya tentang keperluannya, karena ia sudah bisa menebaknya.“Mobilnya di ujung,” ucap Jose menambahkan informasi sebelum Arif bertanya lebih lanjut.Napas Arif terbuang pelan. Cepat atau lambat, gosip mengenai syukuran rumah baru Arif sekaligus kabar mengenai dirinya yang telah memperkenalkan Suci sebagai istri, pasti akan sampai juga ke telinga Ivan. Tidak hanya Ivan, karena Deswita tentu juga sudah mendengarnya. “Makasih,” ujar Arif kemudian pergi ke arah yang ditunjukkan Jose. Ia mendatangi sedan hitam yang berada di sudut lahan parkir, lalu memasukinya. Duduk berdampingan dengan Ivan di kursi penumpang bagian belakang. “Ayah sampe nggak tau mau ngomong apa,” ujar Ivan datar, tanpa emosi sama sekali karena sudah terlalu lelah dengan sikap putranya. “Kamu mengundang orang-orang ke rumahmu dan memperkenalkan Suci sebagai istri yang sudah kamu nikahi beb
“Hati-hati di jalan,” ucap Suci sambil melambai pada Firman, tamu terakhir yang meninggalkan rumahnya. “Makasih banyak sudah datang.”“Iya, Mbak. Sama-sama,” balas Firman sambil mengangguk sopan pada Suci dan Arif. Setelah berpamitan sekali lagi, ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman pasangan suami istri tersebut.“Selesai!” ucap Arif membuang napas lega. Acara mereka berjalan lancar tanpa ada drama. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi setelah ini, karena Arif sudah memperkenalkan Suci sebagai istrinya. Dan apa pun penilaian orang-orang setelah ini, Arif tidak berniat memikirkannya sama sekali.“Capek,” keluh Suci sambil memijat bagian belakang pinggangnya yang terasa pegal. Meski tubuhnya terasa lelah, hatinya justru dipenuhi rasa lega karena acara mereka berjalan sesuai harapan. “Tinggal tunggu orang katering pulang, habis itu aku mau tidur.”Arif merangkul Suci, membawa sang istri kembali masuk ke dalam rumah. “Istirahat duluan di kamar. Biar aku, Sahli, sama Hadi yang
“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me
“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan
“Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?







