Home / Romansa / Kontrak Suci / 2~Jadi ART

Share

2~Jadi ART

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-04-09 22:18:40

“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”

“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”

Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenang. “Kamu punya pacar? Atau sudah ada rencana nikah?”

Arif bertanya karena Suci meminta uang muka seratus juta lebih dulu. Mungkin saja, uang tersebut akan dijadikan tabungan untuk menikah.

Suci menggeleng cepat. “Nggak punya.”

“Terus, uang seratus juta mau kamu pakai buat apa?”

“Ahh …” Suci menghela pelan dan terdiam sesaat. Jemarinya saling bertaut dan terasa dingin. “Buat bayar utang. Saya mau ambil sertifikat rumah yang digadai sama Ibu saya setahun yang lalu sama Tante saya.”

“Satu tahun, seratus juta?”

Suci mengangguk. “Sudah sama bunganya. Makanya mau saya lunasin, biar bulan depan nggak berbunga lagi.”

“Kenapa sampai berutang?”

“Itu Pak …” Suci tersenyum pedih. “Dulu, Bapak saya kelilit pinjol karena main judi.”

“Ke mana Bapakmu sekarang?”

“Di penjara,” jawab Suci dengan suara yang lebih pelan. Kedua tangannya saling menggenggam erat, karena khawatir Arif akan berubah pikiran setelah mendengar sedikit latar belakang keluarganya. Suci tidak bisa berbohong, karena lambat laun, pria itu pasti tahu dengan kondisi keluarganya yang carut marut.

“Karena?”

“Bapak … ikut nadah barang curian.” Suci sampai tidak berani memandang Arif.

“Ibumu kerja?”

“Ibu … nggak tau sekarang ada di mana?” jawab Suci menunduk lesu. “Nggak lama Bapak masuk penjara, Ibu minggat. Sudah sepuluh bulanan nggak ada kabarnya.”

“Saudara?” tanya Arif kembali menginterogasi. “Kakak? Adek?”

“Dua adek cowok,” jawab Suci, “Satu kuliah sambil kerja serabutan. Terus, satu lagi masih SMA.”

Arif menahan napas. Tidak langsung menanggapi karena cukup terkejut setelah mendengar penuturan Suci tentang keluarganya. Ia tidak menyangka, jika latar belakang Suci dan keluarganya cukup rumit. 

“Apa Bapak masih mau nerusin kontraknya?” tanya Suci mulai resah. Bayangan uang seratus juta kini terasa mulai menjauh.

Sunyi mendera. Arif tengah menimbang resiko dan konsekuensi yang akan diterimanya dengan kondisi keluarga Suci. 

Apakah semua yang akan dilakukannya nanti akan sepadan?

“Saya bisa ngerti kalau … Bapak berubah pikiran,” celetuk Suci akhirnya memecah keheningan. 

Arif menggeleng. Separuh hatinya diliputi keraguan, tetapi sisi lainnya ia ingin sekali memberi sebuah “shock terapi” untuk Deswita. Profil Suci dengan kondisi keluarganya saat ini, sepertinya benar-benar sempurna untuk mengejutkan ibunya nanti. 

“Durasi kontrak kita satu tahun,” ujar Arif akhirnya mengambil keputusan. “Bisa diperpanjang kalau diperlukan, dengan kesepakatan kedua pihak. Tapi kalau kurang dari setahun, aku tetap bayar kamu selama durasi waktu yang ada di kontrak. Bagaimana?”

“Bapak yakin … tetap mau lanjut?”

Arif mengangguk kecil. “Selama kamu bisa menuruti apa yang aku minta dan melakukan peranmu dengan baik di depan ibuku, itu sudah cukup. Jadi, ayo kita revisi kontraknya dan langsung tanda tangan … pagi ini juga!”

~~~~~~~~~~~~

“Kamu mau jual dirmmp …”

Suci buru-buru membungkam kuat mulut Sahli, memotong ucapan adiknya sebelum sempat terdengar lebih jelas. Dengan terpaksa, Suci menceritakan kesepakatan kontrak pada Sahli agar tidak ada kesalahpahaman di masa depan. Selain itu, ia juga membutuhkan seseorang untuk membantunya jika ada masalah sewaktu-waktu.

“Diem!” hardik Suci pelan sambil melotot pada Sahli. “Jangan keras-keras, nanti Hadi dengar!”

Saat Sahli mengangguk-angguk, barulah Suci melepas tangannya dan kembali duduk bersila di hadapan pemuda itu. “Dan aku nggak jual diri. Aku cuma pura-pura jadi istri, cuma status dan nggak aneh-aneh.”

Sahli menatapnya tajam, penuh curiga. Ia belum bisa memercayai ucapan kakaknya 100 persen. “Kamu kira aku bego?”

Suci menghela napas panjang. “Aku nggak jual diri,” ulangnya lebih tegas, “di kontraknya jelas, nggak ada yang begitu-begitu. Dia cuma mau ngasih ‘pelajaran’ sama ibunya dan nggak ada niat lain.”

Dahi Sahli mengerut dalam. “Dan kamu mau?”

“Seratus juta, Li!” desis Suci tajam. Bagaimanapun caranya, ia harus meyakinkan Sahli agar sang adik berada di pihaknya. “Kita bisa ambil sertifikat rumah sama Te Nurul, terus minta anaknya pergi dari rumah kita.”

“Ck!” Sahli mulai gamang. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.

Di satu sisi, Sahli tidak ingin kakaknya terjebak dalam pernikahan kontrak yang terdengar tidak masuk akal. Namun, di sisi lain, ia juga sudah muak tinggal di rumah sendiri tapi seperti menumpang. Ia muak melihat Suci dan adiknya diperlakukan seenaknya oleh tante mereka dan keluarganya.

“Sekarang kita sudah nggak punya pilihan,” ucap Suci menatap adiknya lekat. “Seratus jutanya sudah ada di rekening dan aku sudah tanda tangan kontrak buat satu tahun. Jadi, besok kita bicara sama Te Nurul juga Om Bahlil buat ambil sertifikat rumah. Gimana? Apa kamu ada kuliah atau kerjaan besok pagi?”

“Kita jawab apa kalau Te Nurul nanya seratus juta dapat dari mana?” ujar Sahli memelankan suaranya.

“Duh! Iya lagi.”

Keduanya terdiam. Memikirkan jalan keluar yang sekiranya masuk akal.

“Pinjam sama bosku, potong gaji,” celetuk Suci setelah memikirkan hal tersebut masak-masak, “Terus, mulai minggu depan aku tinggal di rumah bosku itu. Jadi ART. Dah, gitu aja!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
krisna putra
bahlil gk tuhhh...
goodnovel comment avatar
Nury
siap2 tante samaa shock nya nanti wkwk
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
sebesar apa sih amarah arif sama deswita napa balasnya harys kek gini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   48~Melepas Segala Batasan

    “Sorry,” ucap Arif begitu melihat Suci sudah duduk manis di ruang tengah. Sebuah koper juga telah siap di samping sofa. “Aku pulang agak telat.”Suci tersenyum. Menyimpan rasa gugupnya dalam-dalam. “Kan, Mas tadi juga sudah nelpon karena ada kerjaan mendadak. Jadi, nggak usah minta maaf.”Arif mengangguk. Menarik handle koper dan bersiap menariknya dengan terburu. “Sudah siap semua? Atau masih ada yang harus dibawa? Koper lain?”Suci menggeleng sambil berdiri. “Semua baju sudah di koper. Nggak ada yang ketinggalan.”“Lingeri?”“Mas!” Arif lantas tertawa. Akhirnya, hari itu datang juga. Hari di mana mereka akan menikmati malam pergantian tahun berdua, sekaligus menghabiskan waktu yang telah lama ia nantikan sebagai pasangan suami istri.“Aku cuma memastikan,” ujar Arif tersenyum jahil.“Nggak usah dipastikan.”“Berarti ada?”Wajah Suci seketika memerah. Ia buru-buru meraih tas selempangnya di sofa lalu berjalan lebih dulu menuju lift. “Ayo, berangkat. Nanti kena macet.”“Duh … yang su

  • Kontrak Suci   47~Kenangan Pertama

    “Mas, Hadi bilang nggak usah pindah sekolah karena nanggung,” ujar Suci segera mematikan televisi. “Sekolah juga tinggal lima bulanan lagi. Nggak terasa.”“Bentar, ya,” ucap Arif masih mondar-mandir di depan televisi dan sibuk dengan ponselnya. “Hmm.” Suci mengangguk.Tidak ingin mengganggu kesibukan sang suami, Suci pun beringsut ke dapur. Pikirannya masih saja tertuju pada malam tahun baru yang tinggal menghitung hari. Setiap kali mengingat ajakan staycation, wajahnya selalu terasa panas. Kata bulan madu yang diucap Arif saat itu, benar-benar tidak bisa hilang dari benaknya. “Fully booked,” gerutu Arif sambil melangkah ke dapur tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. “Aku sudah cek lima hotel dan semuanya penuh pas tahun baru.”Suci yang baru membuka lemari pendingin, lantas menutupnya kembali. Ia menggigit bibir, lalu berbalik. “Mas beneran mau nginap di hotel?”“Kita,” ralat Arif sembari duduk di stool bar dan kembali mencari hotel bintang lima yang bisa ia booking. “

  • Kontrak Suci   46~Bulan Madu

    “Kita nggak akan pergi, sebelum ada yang menjelaskan apa yang sudah terjadi?”Arif merubah posisi duduknya, agar bisa melihat Suci, Sahli, dan Hadi yang sudah berada di dalam mobil. Kendati bisa mengambil sedikit kesimpulan, tetapi Arif tetap ingin mendengar penjelasan dari ketiga kakak beradik itu. “Mereka nagih uang listrik sama air,” jawab Suci lalu bercerita singkat, tentang apa yang terjadi barusan.“Dan kenapa kamu biarkan Tantemu itu ngambil uang di dompetmu?” Arif menatap tegas pada Suci. “Biar dia lihat sendiri, kalau uangku di dompet itu nggak banyak,” jawab Suci. “Harusnya kamu nggak perlu ngelakuin itu.”“Kalau aku nolak, urusannya bakal lebih panjang, Mas. Mereka pasti tetap maksa.”Arif mengembuskan napas pelan sambil menggeleng. Bukan karena tidak percaya, tetapi ia tidak menduga jika hal seperti ini ternyata akan dialami keluarganya. Lebih tepatnya, istrinya sendiri.“Ci, dengerin aku.” Tatapannya kembali bertemu dengan mata Suci. “Aku nggak peduli berapa uang yang

  • Kontrak Suci   45~Minggu Depan

    “Resepsi?” Suci mengerjab sambil memijat tengkuknya. Lagi-lagi, Arif membuatnya terpaku. Belum juga sehari menikmati status baru sebagai pasangan yang sedang pacaran, Arif kembali membuat gebrakan baru. Urusan rumah saja belum selesai dibicarakan hingga tuntas, kini, pria itu memiliki ide untuk melakukan resepsi. “Mas yakin mau ngadain resepsi?” sambung Suci tidak yakin. Ia bukan tidak yakin dengan Arif, melainkan dengan dirinya sendiri. Suci tidak bisa membayangkan, apa yang akan dikatakan orang-orang jika mengetahui istri seorang seperti Arif Adiningrat adalah mantan office girl. “Aku yakin,” jawab Arif sembari mengangguk. Ia menduga, Suci masih saja insecure dan akan mengelak idenya tersebut. “Kenapa? Kamu nggak mau?”Suci menggeleng pelan. Ia diam sejenak, menyeruput teh hangat di tangan sambil memandang gemerlap kota dari balkon kamar Arif.“Di satu sisi, jelas aku mau,” jawab Suci berusaha jujur dan tidak memikul kekhawatirannya sendirian lagi. “Tapi, di sisi lain … aku mik

  • Kontrak Suci   44~Kecupan Hangat

    “Hadi baru aja diomelin sama Om Bahlil,” adu Sahli ketika Suci baru saja sampai di kos. “Belum ada lima menit dia nelpon, terus kamu datang.”Suci mengernyit. Ia bahkan belum melepas kedua sepatunya, ketika Sahli menyambutnya dengan kabar yang tidak menyenangkan.“Ngomel kenapa?” tanya Suci seraya melepas sepatunya satu per satu, lalu memasuki kamar kos yang berukuran 3 x 4 meter tersebut. “Kenapa Suci belum bayar listrik sama air?” jawab Hadi meniru nada bicara omnya ketika memarahinya di telepon. “Ditelpon nggak diangkat! Dichat juga nggak pernah dibalas! Suruh kakakmu telpon Om atau Tante hari ini juga!”“Waktu ngomong sama aku, dia minta alamat tempatmu kerja,” sambung Sahli setelah Hadi menyelesaikan kalimatnya. “Mau datang ke sana katanya.”Suci mencebik sambil mengulurkan sebuah kantong plastik yang berisi makanan pada Hadi. “Yang make listrik sama air siapa, yang disuruh bayar siapa?” ujar Suci setelah berdecak kesal mengingat keluarga yang satu itu. “Lagian mau ngapain juga

  • Kontrak Suci   43~Pelukan Hangat

    “Kamu sudah makan, sudah tidur, sudah istirahat. Jadi, sekarang nggak punya alasan lagi untuk menghindar.”Tanpa memberi kesempatan Suci menyela, Arif meraih pelan tangan gadis itu, lalu menuntunnya menuju sofa panjang di depan televisi. Setelah semua piring selesai dicuci dan dapur kembali rapi, kini saatnya mereka kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.“Aku nggak mau ngulang semua yang sudah aku omongin dari tadi siang,” lanjut Arif setelah keduanya duduk di sofa. “Jadi–”“Kita jalani aja dulu,” putus Suci sambil menarik tangannya dari genggaman Arif. Ia juga sudah enggan berdebat dengan pria itu, karena semua akan berakhir sia-sia. “Jalani kayak biasanya.”“Tapi aku nggak mau,” tolak Arif tanpa basa-basi. “Ngapain aku capek-capek ngerobek surat kontrak, kalau kita tetap jalan seperti biasanya. Makanya aku tegaskan, kalau kita pacaran dulu.”“Itu, kan, maunya Mas Arif. Bukan mauku.”“Aku tau kalau kamu juga mau,” tembak Arif bergeser untuk memangkas jarak dengan Suci.

  • Kontrak Suci   27~Jaga-jaga

    “Yaaang, aku belum pake dasi.”Perdebatan kecil antara Deswita dan Ivan di ruang tengah, mendadak senyap begitu mendengar teriakan Arif dari arah kamar. Sejurus kemudian, tatapan mereka tertuju pada putra mereka yang berjalan tergesa-gesa melewati ruang tengah menuju dapur, menghampiri Suci yang ma

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me

  • Kontrak Suci   1~Nikah Kontrak

    “Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status