Share

7~Siap-siap

Penulis: Kanietha
last update Tanggal publikasi: 2026-05-07 11:19:52

“Bun–”

“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”

Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.

“Ya, ada apa?” tanya Arif mempersilakan Deswita duduk, tetapi wanita itu menggeleng. 

“Pulanglah ke rumah kamis malam,” pinta Deswita menghabiskan jarak dengan putranya, “ayah ulang tahun, jadi, ayo kita makan malam. Seperti dulu. Kamu, Bunda, sama Ayah.”

Sudut bibir Arif tertarik skeptis. Bukan karena ulang tahun Ivan, tetapi ia curiga dengan rencana sang ibu di belakang itu.

“Benar cuma bertiga?” tanya Arif memastikan.

“Ya.” Deswita mengusap bahu kiri putranya dengan senyum yang tidak pudar sejak tadi. “Kan, Bunda bilang seperti dulu. Jadi, cuma kita bertiga.”

“Oke, aku datang.” Arif mengangguk setuju dan tidak memiliki alasan untuk menolak. “Tapi kalau–”

“Cuma kita bertiga,” sela Deswita mengulang kembali ucapannya, “sampai ketemu kamis malam. Bunda pergi dulu, ada janji.”

Deswita memberi satu tepukan ringan di bahu Arif, sebelum akhirnya berbalik pergi tanpa menyisakan perdebatan seperti yang sudah-sudah.

Sementara Arif, refleks membuang napas besar. Berusaha percaya dengan sang ibu dan membuang pikiran negatif yang sempat menyelinap. Ia harap, makan malam nanti benar-benar menjadi makan malam keluarga. Hanya ada dirinya, ayahnya, dan bundanya.

💙💙💙💙💙💙💙

“Mas!” Suci berdiri seketika saat melihat Arif memasuki unit apartemen. Ia sengaja menunggu pria itu di ruang tengah karena ingin menyampaikan sesuatu yang membuatnya gelisah. “Tadi siang, aku lihat Bu Deswita ke kantor. Apa Ibu nemuin Mas?”

Arif mengangguk. Berjalan pelan menuju sofa panjang lalu menghempaskan tubuh di sana. 

Siang tadi, Deswita memang pergi ke kantor untuk menemuinya. Ibunya itu seolah tidak mengenal kata menyerah dan bersikap seperti tidak ada hal serius yang pernah terjadi di antara mereka. 

“Ci …” Arif menjeda kalimat yang akan diucapkannya sebentar. 

Sepanjang perjalanan pulang, banyak hal yang telah dipikirkan Arif. Entah mengapa ia tiba-tiba tidak tega jika harus melibatkan Suci dalam masalah yang dihadapinya dengan Deswita. 

“Ya, Mas?” Suci duduk perlahan di ujung sofa yang berbeda. 

“Sorry, tapi nggak tau kenapa … sepertinya kita batalin aja kontraknya,” ucap Arif tanpa menatap Suci sama sekali, “sepertinya waktu itu aku sedang kebawa emosi sama ibuku dan langsung ngambil jalan pintas.”

“Tapi–”

“Aku akan tetap bayar kamu sesuai perjanjian, tapi … kita nggak perlu lagi melaksanakan isi di dalam kontraknya.”

“Mas Arif sudah baikan dengan ibunya?” tanya Suci hati-hati.

“Ini bukan permasalahan sudah baikan atau belum.” Arif melepas napas panjang lalu menatap Suci. “Tapi, aku cuma nggak mau kamu jadi korban sakit hati ibuku selanjutnya. Maaf, ternyata aku nggak sampai hati. Kamu nggak seharusnya mendapatkan perlakuan yang nggak mengenakkan dari ibuku.”

“Tapi aku dibayar untuk itu.”

Giliran Suci yang tidak enak hati karena mendapatkan uang secara cuma-cuma dari Arif. 

“Ci, ibuku akan merendahkanmu serendah-rendahnya,” ujar Arif, “dan maaf, dia mungkin juga akan menghina keluargamu. Ibumu yang pergi, bapakmu yang di penjara, dan mungkin adekmu juga bakal kena imbasnya.”

Suci tersenyum tipis. Ia mengalihkan tatapannya dari Arif. “Kalau Mas sedang bicara harga diri … aku rasa, aku sudah nggak punya hal itu sejak aku terima uang 125 juta. Dan kalau bicara mental, aku sudah kebal kalau dikata-katain sama orang. Gimana nggak kebal kalau punya Bapak tukang judol, suka ngutang, nadah barang curian, terus sekarang di penjara pula. Mana Ibu juga kabur. Kata tetangga sih, lari sama laki-laki lain.”

Arif tertegun. Meski sudah mendengar secara garis besar sebelumnya, tetapi ia tidak menduga jika Suci bisa mengatakannya setenang itu. Tanpa berusaha menutupi. Tanpa terlihat ingin dikasihani.

“Lagian, Mas.” Suci kembali menatap Arif. “Nanggung. Kita sudah nikah, dan itu sah meski ujung-ujungnya cuma sandiwara.”

Arif menghela panjang. Ia memang sengaja melakukan pernikahan dengan Suci secara sah. Karena sebagai putra dari pengacara kondang, ayahnya pasti akan mengecek hal tersebut dengan teliti. Ada yang kurang sedikit saja, maka hal tersebut bisa berimbas pada Suci. 

“Kita tinggal jalani sisa rencana sampai Bu Deswita sadar,” lanjut Suci, “ya paling nggak–”

“Kamu yakin nggak papa kalau dihina-hina sama ibuku? Betul-betul siap sakit hati?” 

Suci terkekeh hambar. “Telat kalau Mas nanyanya sekarang, aku sudah nyemplung terlalu dalam.”

Desahan berat lolos dari bibir Arif. Ia mengusap wajahnya sebentar. Berusaha menepis penat barang sejenak. Sebenarnya, yang mereka lakukan belum terlalu dalam karena Suci belum bertemu dengan Deswita. Namun, sepertinya Arif sudah tidak bisa mundur dan ia harus terus melanjutkan rencananya meski ada bagian dari dirinya yang bertolak belakang.

“Oke … kalau gitu siap-siap karena kamis malam kita makan malam di rumahku.”

“Kamis malam … malam jumat? Kamis ini?” 

Arif mengangguk sambil melepas dasi yang masih melekat di leher sejak tadi. “Kamis ini! Jadi, siap-siap!”

💙💙💙💙💙💙💙

Untuk mengingat Suci, bisa dibaca lagi BonChap Setitik Nila~~

Kisseesss

💋💋💋💋

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Bunja bunjaa
suci itu ob yang kejedot ikut kena pukul mila bukan??
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
siap kan mental dan hatimu suci.....bu Deswita bar2 banget soalnya,omongannya pedes kaya bon cabe level 15.
goodnovel comment avatar
Yelloe Duassatu
siap2 suci pas makmal kuping pengeng denger hinaan mertuamu Nila aja nyerah tapi aku yakin sih kamu kuat karena gk ada hati yg harus dijaga
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kontrak Suci   59~Siap, Mas Suami!

    “Hati-hati di jalan,” ucap Suci sambil melambai pada Firman, tamu terakhir yang meninggalkan rumahnya. “Makasih banyak sudah datang.”“Iya, Mbak. Sama-sama,” balas Firman sambil mengangguk sopan pada Suci dan Arif. Setelah berpamitan sekali lagi, ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman pasangan suami istri tersebut.“Selesai!” ucap Arif membuang napas lega. Acara mereka berjalan lancar tanpa ada drama. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi setelah ini, karena Arif sudah memperkenalkan Suci sebagai istrinya. Dan apa pun penilaian orang-orang setelah ini, Arif tidak berniat memikirkannya sama sekali.“Capek,” keluh Suci sambil memijat bagian belakang pinggangnya yang terasa pegal. Meski tubuhnya terasa lelah, hatinya justru dipenuhi rasa lega karena acara mereka berjalan sesuai harapan. “Tinggal tunggu orang katering pulang, habis itu aku mau tidur.”Arif merangkul Suci, membawa sang istri kembali masuk ke dalam rumah. “Istirahat duluan di kamar. Biar aku, Sahli, sama Hadi yang

  • Kontrak Suci   58~Lebih Dari Cukup

    Suara tawa sesekali pecah di antara kelompok-kelompok kecil yang duduk mengelilingi meja-meja bundar di taman samping rumah. Taman yang memanjang hingga ke halaman belakang itu, sore ini disulap menjadi tempat syukuran yang hangat dan sederhana.Di salah satu sisi taman, terdapat meja prasmanan yang dipenuhi aneka hidangan tidak pernah sepi. Beberapa tamu tampak mengantre sambil melanjutkan obrolan mereka, sementara petugas katering dengan sigap mengganti nampan yang mulai kosong.Hampir seluruh tamu yang hadir merupakan rekan kerja Arif, beberapa klien lama, serta teman-teman dekat yang telah mengenalnya selama bertahun-tahun. Sore itu, hampir semua orang yang penting dalam kehidupan profesional Arif hadir memenuhi undangannya. Dan di tengah keramaian itulah, untuk pertama kalinya Suci akan diperkenalkan secara resmi sebagai istri Arif Adiningrat."Masih deg-degan?" bisik Arif tanpa mengalihkan pandangannya dari tamu yang sedang mengobrol di hadapan mereka.“Masih.” jawab Suci semba

  • Kontrak Suci   57~Tetap di Sampingku

    “Akhirnya, selesai juga!” Suci menjatuhkan tubuh ke tempat tidur. Mengangkat kedua tangan ke atas untuk meregangkan tubuhnya yang terasa penat. Setelah seharian berjibaku menata perabotan di rumah baru, akhirnya tugas itu rampung juga.Setelah menunggu hampir setengah bulan, akhirnya rumah tersebut bisa ditempati juga. Meski masih ada beberapa sudut yang belum sempurna, rumah itu akhirnya siap menjadi tempat untuk membangun kehidupan baru.“Nanti malam beli bakso aja, ya, Mas?” lanjut Suci sambil menatap langit-langit kamar baru yang luasnya hampir dua kali lipat dibanding kamar yang ditempatinya di apartemen. “Di makan panas-panas, pedes-pedes.”“Jangan pedes-pedes, nanti sakit perut,” ujar Arif sambil menurunkan suhu pendingin ruangan. Setelah selesai, barulah ia ikut berbaring di samping Suci. “Pedes dikit,” ujar Suci menurut saja. “Tapi delivery aja. Aku malas keluar. Capek.”Arif memiringkan tubuh perlahan. “Ayo mandi. Biar aku pijatin sekalian.Suci tersenyum miring dan menyip

  • Kontrak Suci   56~Langsung Pulang

    “Sepertinya aku nggak bisa pulang pas makan siang nanti,” ucap Arif setelah membaca pesan dari Felix di ponselnya. “Hari pertama kerja, tapi sudah diminta nemani Pak Felix makan siang dengan klien.”“Harusnya Mas bersyukur,” ucap Suci tersenyum kecil dan bersiap memasangkan dasi di leher Arif. “Itu artinya, Pak Felix percaya sama Mas.”“Aku sangat bersyukur.” Arif mengusap pelan pipi Suci yang tengah memakaikan dasi untuknya. Dan kali ini, bukan lagi sandiwara. “Walau ‘makan siangnya’ harus ditunda sampe minggu depan.”Suci terkekeh karena mengerti dengan maksud Arif. “Kerja, Mas. Jangan mikir ‘makan siang’ terus. Lagian juga masih libur.”“Yang libur, kan, kamu,” balas Arif meringis lebar sambil menangkup gemas wajah Suci. “Bukan aku.”Suci memanyunkan bibirnya. “Curang.”Arif tertawa lepas melihat ekspresi istrinya. Ia lalu mengecup bibir sang istri yang mengerucut itu. “Maaas, ini lagi masang dasi,” gerutu Suci menepuk pelan dada Arif. “Nggak usah cium-cium.”“Iya, iya,” jawab Ari

  • Kontrak Suci   55~Lebih Dari Cukup

    Sahli baru membuka pintu kamar kosnya ketika melihat Nurul berdiri tepat di hadapannya. Tangan wanita itu sudah terangkat, bersiap mengetuk pintu. “Akhirnya, ada di kos juga kamu,” ujar Nurul tanpa emosi karena ia sedang berada di tempat umum. Hari masih terhitung pagi dan kemungkinan besar penghuni kos masih beristirahat menikmati hari liburnya. Sahli pura-pura menguap sambil menggaruk kepala. “Ngapain pagi-pagi ke sini?”Tatapan Sahli berpindah pada Bahlil, yang baru saja berhenti di samping Nurul. Ternyata, tantenya itu datang bersama sang suami, bukan putranya. Kalau begini, Sahli dan Hadi harus bisa memupuk kesabaran lebih banyak lagi. “Di mana Suci tinggal?” tanya Bahlil sudah enggan berbasa-basi. “Itu juga, di mana suaminya kerja? Bagian apa?”“Sama nama lengkapnya?” timpal Nurul merangsek masuk ke kamar Sahli dan melihat ke sekeliling. “Ke mana Hadi?”“Mandi,” jawab Sahli sedikit bergeser ketika Bahlil juga memasuki kamarnya. “Sekalian cuci baju di atas.”“Yang tadi jawab,

  • Kontrak Suci   54~Mohon Sabar Menunggu

    “Selama ini, aku sering ketemu klien atau lawan yang ngotot, serakah, dan selalu merasa dirinya benar,” ujar Arif saat mereka duduk di salah satu gerai restoran cepat saji.Suci meminta Arif mampir ke tempat tersebut untuk membeli es krim. Istrinya itu butuh sesuatu yang dingin, untuk meredakan kepala dan hatinya yang masih terasa panas setelah bertemu dengan Nurul dan Bahlil.“Tapi, waktu bicara dengan Om sama Tantemu tadi, ada rasa jengkel yang nggak bisa dijelaskan,” lanjut Arif sambil menyantap es krim miliknya. “Aku salut, karena kamu bisa tahan dengan mereka selama ini.”“Mau gimana lagi, aku, Sahli, sama Hadi masih butuh tempat tinggal,” jawab Suci bercerita sesuai dengan yang sempat dialaminya saat ini. “Kalau pergi dari sana, uangnya pasti kurang karena ada tiga kepala yang harus dikasih makan. Belum bayar tempat tinggal, sama ini itunya. Makanya kita sabar-sabarin aja dulu.”Tatapan Suci beralih pada tempat parkir yang tidak terlalu ramai. “Jujur, sesekali aku pengen banget

  • Kontrak Suci   2~Jadi ART

    “Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status