登入Maris tidak langsung menjawab. Kata-katanya masih tertahan di tenggorokan, sementara tatapan itu—tatapan berwarna emas itu—tetap tertuju padanya tanpa bergeser sedikit pun.
Untuk pertama kalinya sejak ia datang ke sini, rasa takutnya tidak lagi berasal dari kegelapan di sekitarnya—melainkan dari seseorang yang berdiri tepat di hadapannya.“Kalau kau tidak tahu harus berkata apa…” suara itu terdengar lagi, rendah dan tenang, “maka mungkin kau memang tidak punya alasan.”<"...Seraphine," panggil Nerion.Tubuh Seraphine membeku. Ia segera mengusap air matanya, menarik napas panjang, lalu memaksakan senyum yang telah begitu lama ia latih setiap kali harus menyembunyikan perasaannya.Begitu berbalik dan melihat Nerion benar-benar berada di hadapannya, matanya langsung berbinar."Nerion!""Kapan kau kembali?""Apa penyelidikanmu berhasil?"Senyum tulus mengembang di wajahnya."Aku benar-benar senang bisa melihatmu lagi."Namun Nerion tidak menjawab.Ia hanya terdiam sambil menatap Seraphine. Tidak ada senyum yang biasa menyambutnya. Tidak ada sapaan hangat setelah perpisahan yang begitu lama.Keheningan itu perlahan membuat senyum di wajah Seraphine memudar."Nerion...?"Suaranya terdengar jauh lebih pelan daripada sebelumnya."Apa... terjadi sesuatu?"Nerion akhirnya membuka mulutnya."Jadi...""...semua ini karena diriku."Kalimat itu terdengar begitu lirih. Namun cukup untuk membuat darah Seraphine seolah berhenti mengalir.Senyumnya lenyap sepenuhnya.
"Seraphine..." gumam Nerion lirih dari balik batu karang.Ia masih memperhatikan keduanya."Apa maksudmu dengan Nerion...?" tanya Maris pada Seraphine. Seraphine menundukkan kepalanya. Untuk beberapa saat, ia hanya membiarkan arus laut melewati tubuhnya. Bibirnya bergerak pelan, namun tak ada suara yang keluar."Aku masih mengingat semuanya...""...sejak kita masih kecil."Tatapannya perlahan menjadi kosong, seolah kembali melihat masa lalu yang telah berlalu ribuan tahun."Waktu itu...""...kau selalu sendirian.""Duyung-duyung lain mengganggumu dan menjauhimu hanya karena warna ekor dan rambutmu."Maris hanya terdiam mendengarkan."Aku kasihan melihatmu.""Aku tidak ingin kau terus sendirian."Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Seraphine."Percayalah...""...semua itu bukan kebohongan.""Saat itu aku benar-benar menganggapmu sebagai temanku."Maris tidak segera menjawab. Dadanya terasa semakin sesak. Untuk sesaat, ia ingin percaya bahwa pengakuan itu adalah akhir dari semuan
Maris berhenti dan sekarang berada di depan Seraphine. Arus laut mengalir pelan di antara keduanya. Taman karang itu begitu sunyi hingga suara gelembung-gelembung kecil terdengar jelas.Seraphine tersenyum seperti biasanya."Maris.""Akhirnya kau datang juga.""Aku bahkan sempat berpikir kau sedang menghindariku."Maris tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya tertuju pada wajah Seraphine."..."Senyum itu… masih sama seperti yang selalu ia kenal, hangat dan lembut. Sulit dipercaya bahwa pemilik senyum itu mungkin menyembunyikan sesuatu. Seraphine memiringkan kepalanya."Ada apa?" tanya Seraphine. Ia sedikit mengerutkan alisnya karena Maris tak langsung menjawab pertanyaannya. "Kau terlihat berbeda."Maris menarik napas pelan."Aku ingin menanyakan sesuatu.""Tentu. Katakan apa saja,” Seraphine menjawab tanpa ragu.Maris menatap lurus ke arahnya.
Arus laut mengalir tenang seperti biasanya. Namun bagi Maris, ketenangan itu terasa asing. Sejak mendengar bait terakhir nyanyian laut kuno, setiap hari terasa semakin berat. Gosip yang terus beredar belum juga mereda. Tatapan para duyung masih sama. Tubuhnya pun perlahan berubah tanpa mampu ia hentikan."..."Maris berenang sendirian melewati jalan kecil di pinggir pemukiman. Ia sama sekali tidak memedulikan ke mana ekornya membawanya. Yang memenuhi pikirannya hanyalah satu pertanyaan."Kalau benar semua ini bukan kebetulan...""...kenapa?"Di kejauhan terdengar suara tawa beberapa anak duyung. Dan Maris refleks menoleh.Beberapa anak duyung sedang bermain sambil dikejar ibunya."Pelan-pelan!"Duyung kecil itu tertawa lalu berenang ke arah Maris tanpa sengaja. Namun... ibunya langsung menarik tangan anaknya."Ayo.""Kita lewat sini saja."Duyung itu bahkan tidak memandang Ma
Berminggu-minggu telah berlalu sejak Nerion meninggalkan pemukiman duyung. Perjalanannya membawanya kembali ke arus laut dalam. Semakin dalam ia menyelam, cahaya matahari perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah kegelapan laut dalam dan arus-arus tua yang terus mengalir tanpa henti sejak dahulu kala."..."Sebagai seorang Penjaga Arus laut dalam, Nerion telah terbiasa menempuh perjalanan seperti itu. Namun kali ini berbeda, ia tidak sedang berpatroli ataupun menjaga keseimbangan arus laut. Ia sedang mencari sesuatu.Sesuatu yang selama ini membuatnya tak tenang sekaligus familiar. Ia memutuskan untuk membaca arsip-arsip kuno. Mungkin saja dengan begitu, ia bisa menemukan jawaban atas kegelisahannya ini.Selama beberapa minggu terakhir, Nerion berpindah dari satu ruang penyimpanan tua ke ruang penyimpanan lainnya. Sebagian besar hanya berisi catatan mengenai perubahan arus, perpindahan makhluk laut, hingga pergantian para Penjaga Arus d
Beberapa hari telah berlalu sejak Maris kembali mendengar bait terakhir nyanyian laut kuno. Namun bukan hanya nyanyian itu yang terus berputar di dalam kepalanya. Setiap kali ia memejamkan mata… yang muncul justru percakapan-percakapan kecil yang selama ini tidak pernah ia pikirkan."Kenapa semuanya baru terjadi sekarang...?" Maris bergumam pelan.Ia berenang perlahan melewati jalan-jalan kecil di pemukiman. Hari itu ia tidak benar-benar memiliki tujuan. Pikirannya terlalu sibuk menyusun sesuatu yang bahkan belum ia mengerti."Gosip itu...""...berawal dari mana?" pikirnya. Pertanyaan itu terus mengganggunya. Selama ini ia memang jarang menghadiri acara bersama para duyung. Perayaan, pertemuan atau sekadar berkumpul di alun-alun pemukiman.Maris hampir selalu memilih menjauh. Namun… tidak pernah ada yang benar-benar mempermasalahkannya. Sebagian besar duyung justru tampak tidak peduli."Lalu...""Kenapa kali ini berbeda?"Maris memperlambat renangnya. Tatapannya kosong menatap arus
Maris tidak melambat. Ia terus berenang naik menuju permukaan, mengikuti dorongan yang sejak tadi tidak memberinya ruang untuk berpikir. Cahaya bulan kini sudah sangat dekat, membelah air di atasnya menjadi bayangan berkilau yang bergerak pelan.Napasnya mulai tidak teratur. Bukan karena lelah, mel
Hari-hari berlalu tanpa perubahan yang benar-benar terlihat. Semua tetap berjalan seperti biasa—setidaknya di permukaan.Maris masih bersama Seraphine. Masih berbicara dan menjawab ketika ditanya. Namun sesuatu dalam dirinya perlahan mulai bergeser.“…aku baik-baik saja,” ucap M
Pagi itu terasa berbeda. Tidak ada yang benar-benar berubah dari bentuk rumah, arus yang mengalir di sekitarnya, atau rutinitas yang biasa terjadi. Namun suasananya tidak lagi sama—lebih sunyi, lebih kaku, dan entah kenapa… lebih sempit.Maris merasakannya sejak ia membuka mata. Ada sesuatu yang te
Malam itu datang dengan cara yang sama—tanpa tanda, tanpa alasan yang jelas. Maris sudah berdiam di depan jendela bahkan sebelum ia benar-benar menyadarinya, seolah tubuhnya lebih dulu bergerak dibanding pikirannya. Tidak ada lagi pertanyaan seperti sebelumnya, tidak ada lagi usaha untuk menahan di







