LOGINMaris kembali ke rumah tanpa mengatakan apa pun. Ia langsung masuk ke kamarnya, menutup pintu, lalu berhenti di sana. Tidak bergerak dan tidak melakukan apa-apa.
Dia bersandar pelan di pintunya, mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Tatapan itu, jarak itu. Bisikan yang tidak pernah selesai—namun cukup jelas untuk dimengerti. “…bukan tempatku lagi,” gumamnya pelan, mengulang kata-katanya sendiri. Dadanya terasa berat. Dan ia tidak tahu harus berbuat apa de“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Robert.Lycander menghentikan langkahnya. Ia memandang Robert beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas panjang.Angin sore berhembus pelan di antara pepohonan. Kabut Teluk Mati masih tampak samar di kejauhan."..."Untuk beberapa saat, tak satu pun dari mereka berbicara. Robert memperhatikan wajah Lycander dengan saksama. Mata emas itu masih memerah. Bekas air mata belum sepenuhnya mengering."Aku belum pernah melihatmu seperti ini," ucap Robert pelan.Lycander tersenyum hambar."Aku juga berharap tidak pernah mengalaminya."Robert mengerutkan dahinya."Lalu?"Lycander menoleh ke arah Teluk Mati."Maris...""...telah menjadi makhluk buangan."Kalimat itu membuat Robert membeku. Tatapannya perlahan beralih menuju teluk yang diselimuti kabut."...jadi itu sebabnya tadi kau keluar dari sana."Lycander mengangkat alis, "apa kau tahu tentang makhluk buangan?"Robert mengangguk pelan."Hanya sedikit. Mereka adalah anak laut yang telah dilepaskan ole
Langit mulai berubah jingga ketika Lycander dan Maris meninggalkan pantai tempat mereka biasa bertemu. Lycander berjalan mengikuti garis pantai, sementara Maris berenang perlahan tidak jauh dari tepian. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, mereka berjalan menuju tempat yang belum pernah mereka datangi bersama.Deburan ombak menjadi irama yang menemani langkah mereka. Tidak ada lagi tangisan ataupun permintaan maaf. Hanya keheningan yang terasa jauh lebih nyaman daripada sebelumnya."Capek juga ya menjadi manusia," celetuk Maris tiba-tiba.Lycander menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya."Kenapa tiba-tiba bilang begitu?"Maris tersenyum kecil, “kau sudah berjalan sejauh ini. Sedangkan aku cukup berenang saja.”Lycander terkekeh pelan, “kalau aku punya ekor sepertimu, mungkin aku juga memilih berenang."Maris ikut tertawa kecil, “tapi kalau begitu... kau tidak akan bisa berubah menjadi serigala.""Itu juga benar,” ucap Lycander setuju.Keheningan kembali menyelimuti mereka. Kali
"Kalau suatu hari nanti dunia ini berhenti menjadi rumahmu… biarlah aku yang menjadi tempatmu pulang,” ucap Lycander. Maris terdiam cukup lama. Bukan karena terharu berlebihan, tetapi karena benar-benar mencerna ucapan itu.Lalu ia berkata pelan, “aku tidak begitu mengerti semua yang kau katakan… tapi aku senang kau masih mau berada di sampingku."Kalimat sederhana itu sudah cukup membuat Lycander kembali hampir mengeluarkan air mata.Maris memandang Lycander cukup lama. Tatapan pria itu masih dipenuhi kesedihan yang belum sepenuhnya hilang."Aku masih membuatmu khawatir ya?" tanyanya pelan.Lycander menggeleng."Bukan. Lebih tepatnya... aku terlambat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."Maris tersenyum tipis."Semua sudah berlalu. Dan aku masih di sini."Lycander menundukkan kepala sebentar."Ya. Syukurlah..."Untuk sesaat, tak ada lagi yang berbicara. Deburan ombak bergantian menyapu pasir di antara mereka. Maris memandang laut yang membentang luas.Angin sore meniup rambut hit
Maris memandangnya dengan bingung. Lalu berkata sangat pelan, "hari ini… kenapa aku terus mendengar banyak permintaan maaf padaku?"Ia menatap Lycander. "Apa… yang membuatmu juga mengatakan maaf, Lycander?”Lycander masih berlutut di atas pasir. Napasnya bergetar. Air mata terus jatuh tanpa mampu ia hentikan.Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata hitam Maris yang masih sama seperti dulu.Namun… tatapan itu tidak lagi menyimpan laut, rumah ataupun dunia tempat Maris berasal.Maris memperhatikannya cukup lama. Lalu ia bertanya pelan."Apa… kau tadi mendengar pembicaraanku dengan duyung tadi?"Lycander terdiam. Ia tak mampu berbohong. Perlahan ia menganggukkan kepala.Maris menghela napas kecil, “kalau begitu… kau sudah tahu semuanya."Keheningan kembali menyelimuti pantai. Deburan ombak terdengar begitu pelan. Maris memandang laut yang terbentang luas di hadapannya."Aneh ya…”“Sekarang saat aku melihat laut… rasanya seper
"Makhluk… buangan?" ulang Maris Nerion mengangguk pelan, “makhluk buangan adalah sebutan untuk anak laut yang telah dilepaskan oleh laut.""Bukan karena laut membencinya. Dan bukan pula karena laut menghukumnya.""Melainkan karena keseimbangan yang telah ada sejak dahulu."Maris tetap diam mendengarkan."Laut tidak lagi mengenalmu,” lanjut Nerion. "Karena itu... ingatanmu tentang laut, tentang rumahmu, tentang semua yang pernah menjadi bagian hidupmu di laut perlahan menghilang."Nerion berhenti sejenak. Suaranya semakin pelan."Dan… ingatan mereka tentangmu juga akan menyusul."Maris perlahan menoleh ke arah lautan. Hamparan biru itu terasa begitu luas dan asing."Kalau begitu… semuanya memang benar."Ia menyentuh dadanya sendiri, “sejak tadi aku terus merasa… laut terasa begitu asing.""Jadi...""Itu sebabnya… aku tidak mengingat apa pun."Nerion tidak sanggup menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala. Maris memandang kedua tangannya sendiri.Sesaat kemudian ia mengangkat wajahnya k
"...Aku benar-benar terlambat."Suara Nerion begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh deburan ombak.Maris tak memahami maksud dari ucapan Nerion itu."Terlambat?" ulangnya. "Terlambat untuk apa?" tanyanya. Nerion mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah yang begitu dalam hingga Maris tanpa sadar turun dari batu tempatnya duduk dan sedikit mendekat ke arah Nerion. "Maaf,” ucap Nerion. Maris semakin kebingungan dengan permintaan maaf itu. Ia benar-benar tak mengingat apapun tentang Nerion. "Apa...""...kita pernah saling mengenal?"Nerion menunduk, ia tak berani menatap mata Maris secara langsung."Ya,” jawabnya. "Namun… kau sudah tidak mengingatnya lagi,” lanjutnya. Maris mencoba mencerna jawaban yang diberikan Nerion itu. Meskipun begitu, ia tetap gagal memahaminya, “aku tidak mengerti."Nerion masih menundukkan kepalanya, “memang seharusnya begitu.""Aku datang...""...terlalu lambat."Maris memiringkan kepalanya sambil menyipitkan matanya.“Apa kau bi
“Si...siapa di sana?!” teriaknya parau, suaranya pecah di tengah rasa takut yang menyesakkan dada.Suara ranting patah terdengar semakin jelas.Sosok itu perlahan berjalan keluar dari kegelapan di antara pepohonan dan semak-semak, mendekat ke arah Maris. Setiap langkahnya terdengar berat dan teruku
Ada rasa sesak yang menghimpit dada Maris, saat ia mencoba menarik napas. Ada sensasi terbakar yang menusuk di paru-parunya. Ia terbatuk hebat, meludahkan butiran-butiran kasar yang terasa tajam di lidahnya—Pasir.Perlahan Ia membuka mata. Segalanya gelap, tapi telinganya masih menangkap suara yang
“Lihat, si rambut hitam lewat,” cibir salah satu duyung dalam gerombolan yang berpapasan dengan Maris.“Jangan dekat-dekat, nanti kita bisa sial,” timpal yang lain dengan nada jijik.Maris hanya diam, meski hatinya mencelos. Panggilan ‘si rambut hitam’ atau ‘pembawa sial’ sudah menjadi teman akrabn
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara selain arus laut yang bergerak pelan di luar rumah dan detak jantung Maris sendiri yang terdengar terlalu jelas di telinganya.“…aku mulai membencinya,” gumamnya pelan.Beberapa hari terakhir terasa semakin berat untuk







