LOGINGerimis tipis di luar sana telah menjelma menjadi hujan yang menderu, menghantam atap seng dan jendela kayu tua bangunan kolonial di pedalaman Bogor tersebut. Di dalam kamar lantai dua, atmosfer terasa begitu pengap, dingin, namun sarat akan marabahaya yang kian mendekati titik kritis.Icha masih meringkuk di sudut kasur tua, memeluk kedua lututnya erat-rabat. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena hawa dingin pegunungan yang menusuk dari sela-sela ventilasi, melainkan karena sepasang mata lapar milik Robby yang sejak tadi tidak berhenti menatapnya dari ambang pintu.Cklek.Pintu kamar mendadak dibuka lebih lebar. Dua anak buah Robby yang bertubuh kekar dan bertato melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat, mengunci pergerakan Icha dari sisi kanan dan kiri ranjang. Di tangan salah satu anak buahnya, terdapat sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening yang baru saja dicampurkan ke dalam segelas air manis."Gimana, Bos? Nyonya Vivian belum ada kabar lagi soal transfer
Jarum jam di dasbor mobil van operasional Wibisono Group sudah menunjuk ke angka satu siang. Suasana di dalam kabin mobil benar-benar mencekam. Hanya ada suara deru mesin yang dipaksa bekerja keras dan detak jemari Endra yang mengetik di atas layar tablet. Noah duduk di kursi tengah dengan mata merah yang melotot tajam menatap kosong ke lantai mobil. Rambutnya berantakan, dan aura di sekelilingnya begitu pekat oleh kemarahan bercampur ketakutan yang luar biasa.BrakNoah tiba-tiba menghantam dinding interior van dengan kepalan tangannya hingga panel plastik di sana retak. "Sialan! Berjam-jam kita berputar-putar seperti orang bodoh di Jakarta, dan tidak ada satu pun informan kamu yang becus, Endra! Istri aku di mana?!""Tuan Noah, tolong tahan diri Anda!" Endra menoleh dengan wajah yang sama pucatnya. Keringat dingin membasahi kerah kemejanya. "Semua jaringan kita di dunia bawah sudah bergerak. Masalahnya, gerombolan yang dibawa Robby ini tipikal pembunuh bayaran yang tidak menggunaka
Ciiit!Ban minibus hitam itu berdecak kasar saat melewati jalanan tanah berbatu yang becek di pedalaman lereng Puncak, Bogor. Kabut tipis khas pegunungan mulai turun, menyelimuti sebuah rumah tua berarsitektur kolonial yang nampak terbengkalai di balik rimbunnya pohon pinus dan semak belukar yang menjulang tinggi. Rumah itu adalah salah satu aset kuno milik keluarga besar Vivian yang sudah puluhan tahun tidak ditinggali, terasing jauh dari jalur utama wisata, menjadikannya tempat persembunyian yang sangat sempurna.Robby mematikan mesin mobil, lalu meregangkan otot-otot lengannya yang kaku setelah menyetir semalaman suntuk menembus jalur tikus pinggiran kota. Ia menoleh ke belakang, menatap sosok Icha yang masih terkulai lemas di atas jok dengan kedua tangan yang terikat rantai tali nilon."Gimana, Bos? Langsung diturunin sekarang?" tanya salah satu anak buahnya yang bertato sembari membuka pintu geser mobil. Udara dingin Bogor langsung menerobos masuk, menusuk tulang.Robby tersenyum
Brak!Noah menendang kursi kerjanya hingga kursi kulit mewah itu terlempar ke belakang menghantam dinding kaca. Napasnya memburu kencang, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak teratur karena emosi yang kian membakar rongga dadanya seutuhnya."Menghilang?! Bagai asap yang menguap begitu saja?!" seru Noah histeris, sepasang mata elangnya berkilat penuh dendam yang berkobar. "Sudah aku duga! Penghilangan dirinya ini adalah bukti paling mutlak kalau dialah otak di balik penculikan Icha sore kemarin! Wanita iblis itu tahu aku menjatuhkan talak semalam, dan dia langsung menggunakan seluruh kaki tangannya untuk menyerang titik terlemahku!"Endra segera menyodorkan tablet digitalnya ke hadapan Noah. "Saya juga sudah berkoordinasi dengan pihak imigrasi bandara internasional dan pelabuhan, Tuan. Data paspor atas nama Vivian Wibisono ataupun nama gadisnya sama sekali tidak mendeteksi adanya pergerakan keluar dari wilayah republik Indonesia sampai jam tujuh pagi ini. Rekening bank utamanya j
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Noah melangkah lebar memasuki lobi Polres Jakarta Selatan, disusul oleh Endra dan tiga pengacara seniornya. Wajah tampan Noah nampak teramat kuyu dan dingin, menyebarkan aura intimidasi yang membuat beberapa petugas jaga langsung menegakkan posisi duduk mereka. "Di mana Kepala Satuan Reserse?!" bentak Noah tanpa basa-basi begitu tiba di depan meja piket. "Tuan Noah, tolong tenang. Beliau sedang berada di ruang rapat koordinasi," ucap salah satu perwira jaga mencoba menenangkan. Sesaat kemudian, Kasat Reskrim keluar dengan wajah serius setelah mendapat laporan dari anggotanya. "Tuan Wibisono, kami sudah mengerahkan tiga unit tim buru sergap (buser) untuk melacak keberadaan minibus hitam berdasarkan ciri-ciri dari CCTV kampus fakultas hukum. Namun, Anda harus paham bahwa bukti permulaan yang mengarah kepada keterlibatan langsung Nyonya Vivian saat ini masih sangat lemah secara hukum." "Lemah Anda bilang?!" Noah maju satu langkah,
Di saat yang bersamaan, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam memotong marka jalan raya dengan sangat agresif, berbelok tajam memasuki pelataran luar fakultas hukum. Suara derit ban yang bergesekan keras dengan aspal terdengar nyaring, memecah ketenangan sore yang mulai menggelap.Pintu kemudi belum sepenuhnya berhenti bergoyang ketika sosok Noah Wibisono sudah melompat keluar dari dalam kabin. Wajah tampannya nampak teramat kuyu, tegang, dan dilapisi oleh gurat kecemasan yang sudah mencapai batas puncak absolut. Firasat buruk yang sejak siang mencengkeram ulu hatinya kini terasa semakin nyata dan mencekik rongga dadanya.Noah melangkah lebar membelah pelataran, disusul oleh Endra yang berlari kecil di belakangnya sembari memegangi komputer tablet."Tuan Noah!" panggil kepala tim pengawal yang baru saja berlari keluar dari dalam gedung dengan wajah yang sarat akan rasa bersalah yang teramat mendalam. Pria bertubuh tegap itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan sang
Waktu seolah merangkak lambat di lorong-lorong rumah sakit yang dingin. Bagi Icha, setiap detak jantung yang masih ia rasakan adalah sebuah keajaiban sekaligus kutukan. Setelah melewati operasi darurat dan pengurasan darah paksa yang dilakukan Noah, tubuhnya kini kurus dan pucat, kontras dengan sep
Suasana di dalam ruang UGD berubah menjadi medan tempur antara hidup dan mati. Bunyi flatline dari monitor jantung yang melengking panjang seolah menjadi melodi pencabut nyawa yang menggetarkan dinding ruangan. Para perawat berlarian, sementara seorang dokter senior naik ke atas brankar, memberikan
Malam yang semula hanya berisi kebencian, kini berubah menjadi mencekam. Bau karat di gudang tua itu seketika tertutup oleh aroma anyir darah yang semakin menyeruak. Noah terpaku, menatap noda merah yang merembes di kemeja mahalnya, lalu beralih pada wajah Icha yang pucat pasi. Gadis itu tampak sep
Malam semakin larut, namun gemuruh di dada Icha tak kunjung reda. Setelah mengganti pakaiannya yang basah kuyup dengan piyama usang, ia meringkuk di atas ranjang kecilnya di paviliun. Tubuhnya menggigil, bukan lagi karena dinginnya air hujan, melainkan karena demam yang mulai menyerang akibat syok







