LUST ZONE

LUST ZONE

last updateLast Updated : 2026-06-14
By:  Marcelline AttohUpdated just now
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
10Chapters
111views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

WARNING: Strictly for Adults 18+ This collection dives straight into hardcore, no-holds-barred erotica that will leave you breathless and soaked. Graphic fucking, raw dirty talk, brutal dominance, total surrender, high-stakes risk, taboo lines shattered, cheating spouses, massive age differences, forbidden family relations, religious sin, blackmail, public sex, and relentless, shameless orgasms. These tales are built to make your pulse race, your body throb, and your mind crave more. If any of that crosses your limits, close this now. Once you start, you’ll devour every dripping, filthy detail until you’re completely spent. Crack it open and let the dark cravings take over. Zero forgiveness. Zero shame. Only thick, pulsing, addictive depravity. Rated 18+

View More

Chapter 1

Fucked raw by my professor

“Ra-Rasyid, akhirnya, kamu memenuhi janjimu.”

Setelah menyelesaikan doa, Ummi Zulaikha tersenyum melihat dengan penuh kasih sayang putra semata wayangnya yang telah menikah, namun ia harus segera mengalihkan perhatiannya ketika seorang tamu mendekat.

"Apa benar mereka telah resmi menjadi pasangan hidup, Ummi?"tanya tamu tersebut. Ummi Zulaikha sedikit bingung mendengarnya.

"Tentu saja, mereka baru saja menyelesaikan akad nikah, dan kau sendiri telah melihatnya, bukan?"jawab Ummi Zulaikha.

"Apakah Ummi tahu, seperti apa wanita yang telah Ummi pilih?" Pertanyaan tamu tersebut membuat Ummi Zulaikha merasa agak kesal, karena tamu itu dianggap terlalu ingin tahu tentang kehidupan pribadinya.

"Bagaimanapun juga, dia tetap menantu saya,"jawab Ummi Zulaikha dengan penuh keyakinan. "Meskipun dia seorang wanita penghibur?"tanya tamu tersebut. Ummi Zulaikha seketika menoleh mendengar ucapan tamu itu.

"Aku tidak berbohong Ummi. Aku adalah korban wanita itu, suamiku jadi tidak pulang dan menghabiskan banyak uang hanya untuk bersenang-senang dengan wanita itu," jelas tamu tersebut dengan mimik wajah serius.

Ucapan tamu itu menyebabkan tatapan Ummi Zulaikha tak dapat berpaling dari Shanum yang sedang berjalan mendekatinya bersama dengan Rasyid.

"Tidak mungkin," lirih Ummi Zulaikha. Dia begitu tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh tamu itu. Dan pada saat itu, Rasyid tiba sambil bergandengan tangan dengan Shanum. “Tidak mungkin anakku menikahi seorang lacur!”

“Ummi, kita sudah belasan tahun berada dalam majelis yang sama. Sumpah, Demi Allah, Ummi! Aku tidak bohong. Wanita itu adalah pelacur yang setahun terakhir bekerja di rumah bordir pinggiran kota!”

Belum sempat Ummi Zulaikha membalas, Rasyid lebih dulu datang dengan senyuman mengembang di bibirnya.

"Mohon doa restunya Ummi,"ucap Rasyid, lalu pria itu membungkuk ingin mencium tangan sang ibu.

Namun, Ummi Zulaikha sudah lebih dulu menarik tangannya sambil membuang pandangan ke sembarang arah.

"Ummi tidak akan memberikan restu dan doa sebelum kamu menceritakan kebenaran pada Ummi,"ucap Ummi Zulaikha dengan intonasi yang tenang namun penuh penekanan. Rasyid dan Shanum hanya bisa saling bertukar pandang ketika mendengar ucapan sang ibu.

"Katakan siapa dia, Rasyid! Siapa wanita ini sebenarnya?! Dan darimana kau mengenalnya?!"seru Ummi Zulaikha yang tiba-tiba meradang. Rasa takut di hatinya menyebabkan wanita sholehah itu kehilangan kendali.

Ekspresi kemarahan sang ibu membuat Rasyid dan Shanum dengan cepat memahami maksud dari ucapan Ummi Zulaikha.

Kedua pengantin baru itu menarik nafas dalam lalu saling melempar pandang. Perlahan, Rasyid bersimpuh di hadapan ibunya, diikuti oleh Shanum. Mereka mulai memegang kaki sang ibu dengan penuh rasa hormat.

"Ummi, dia adalah wanita yang pertama duduk di mobil Rasyid."

"Sesuai dengan janjiku, aku harus menikahinya tanpa memandang siapa pun dia dan bagaimana kehidupannya," ucapan Rasyid itu berhasil membuat Ummi Zulaikha semakin tak karuan.

Apalagi ketika melihat Shanum mulai terisak di bawah kakinya.

"Ummi, aku ini mantan wanita pelacur, tolong maafkan aku yang baru jujur pada Ummi..."ujar wanita itu lirih, mendengar pengakuan Shanum, Ummi Zulaikha refleks memegangi dadanya sambil beristighfar.

Beberapa hari yang lalu. Di sebuah rumah bordir, seorang wanita berpenampilan menarik, berwajah cantik, dan memiliki keindahan tubuh yang sempurna sedang merasa sangat kesal pada sang mucikari, Mamih Elish namanya.

"Mih, aku kan gundik yang paling berkelas di sini, kenapa aku diminta mencari pelanggan di pinggir jalan?!" keluh wanita cantik itu kepada pemilik rumah bordir.

"Ya ampuunn! Kamu itu cantik sekali, tapi sayangnya kurang berpikir! Coba pikirkan, Shanum! Saat ini sedang musim liburan, pasti akan banyak turis asing yang datang."

"Mamih ingin banyak turis asing berkunjung ke rumah ini, dan menurutku kamu sangat cocok untuk menarik perhatian mereka," ucap mami Elish sambil terus menyempurnakan riasannya dengan bedak mahal.

Mendengarkan penjelasan dari Mamih Elish membuat Shanum terdiam sejenak, memikirkan bagaimana teriknya sinar matahari di sana.

"Tapi Mih, nanti kulit aku yang indah ini akan terbakar jika terus berdiri di pinggir jalan," kata Shanum sambil mengerucutkan bibirnya.

Karena kesal, Mamih Elish memukul dahi Shanum hingga membuat wanita itu mengaduh kesakitan. "Aduh Mamih! Itu sakit sekali! Jika kecantikan Shanum berkurang, tanggung jawabmu lho," ucap Shanum sambil mengusap dahinya.

"Sudah berhenti dengan pemikiranmu yang konyol itu! Tidak mungkin ada wanita jalang yang berjalan-jalan di siang hari. Kamu benar-benar kacau Shanum," kesal mamih Elish yang membuat anak gundiknya tersenyum kikuk.

"Ayo segera bersiap! Malam ini kamu akan diantarkan ke lokasi oleh si Darmo," ucap mamih Elish lagi sebelum pergi ke panggung untuk menyambut tamu yang datang.

Di dalam ruangannya, wanita itu mulai duduk di depan meja rias, menatap wajahnya di depan cermin, lalu mulai mengaplikasikan make-up dari berbagai produk mahal ke wajahnya.

"Aku memang akan selalu terlihat cantik," bisik Shanum ketika wajahnya telah terhias dengan make-up yang begitu elegan dan mewah.

Sekarang, wanita cantik itu mulai membuka lemari pakaian, memilih sebuah gaun berwarna merah yang sangat menonjolkan lekuk tubuhnya meskipun tidak terlalu terbuka.

"Mamih! Aku sudah siap!" seru Shanum sambil berpose di depan pintu kamarnya. Dengan senyum yang memancar, Mamih Elish berjalan mengelilingi Shanum sambil berdecak kagum.

"Wow, wow! Kalau sudah cantik seperti ini, Mamih yakin kamu akan mudah mendapatkan banyak pelanggan," ucap Mamih Elish sambil mencubit gemas pipi Shanum.

Di sisi lain, seorang pria berkulit putih, bermata biru yang tampan rupawan, dengan tubuh yang tinggi dan atletis sedang berjalan di dalam bandara sambil menarik kopernya.

Pria itu mengenakan jas hitam, celana panjang dan peci di kepalanya, juga syal yang melingkar di lehernya.

Saat pria itu sedang berjalan, dia dihentikan oleh panggilan telepon dari ibunya. "Assalamualaikum, Ummi," sapa pria itu dengan lembut.

"Waalaikumsalam. Bagaimana Rasyid? Sudah adakah calon istri yang kau bawa dari Mesir?" tanya sang ibu. Pertanyaan yang kembali di lontarkan oleh sang ibu untuk kesekian kalinya, membuat Rasyid menghela nafas panjang.

"Ummi, aku baru saja pulang. Kenapa Ummi tidak mau menanyakan perjalananku dulu?" keluh pria sholeh itu kepada ibunya.

"Astaghfirullah... Ummi sampai lupa karena terlalu tidak sabar ingin memiliki menantu," ucap ibunya dari seberang sana. "Sabar ya, Ummi. Aku belum menemukan pasangan yang tepat," ucap Rasyid.

"Kapan menurutmu kamu akan membawakan Ummi menantu? Ummi ini sudah tidak muda lagi Rasyid.”

"Sampai kapan Ummi harus menunggu? Kamu sudah mengecewakan Ummi, Rasyid..." sahut sang ibu dengan suara parau di seberang sana, wanita itu terus mendorong anaknya untuk segera menikah.

"Yasudah kalau begitu Ummi, demi Allah, aku tidak ingin membuat Ummi kecewa."

Aku berjanji Ummi, atas dasar bakti ku pada Ummi dan atas izin Allah, wanita pertama yang duduk di mobilku saat perjalanan, dia adalah jodohku."

"Wallahi, Ummi, aku janji akan menikahi dia," ucap Rasyid tanpa berpikir panjang lagi ketika mendengar suara ibunya yang terdengar sedih.

Ketika sang Ummi hendak merespons, tiba-tiba panggilan tersebut terputus karena jaringan yang mendadak hilang.

Saat panggilan telepon terputus, Rasyid baru menyadari akan janji konyol yang telah dia buat.

Dengan cepat dia menghubungi ibunya kembali untuk meminta maaf atas janji yang tidak dapat ia tepati.

"Astaghfirullahalazim... Apa yang baru saja kau katakan, Rasyid? Bagaimana mungkin aku membuat janji seperti itu kepada Ummi?” Pria itu tertunduk lesu.

“Nadzar adalah janjiku pada Tuhan-ku. Aku tidak boleh ingkar!”

“Gadis yang duduk di mobilku, dia adalah calon istriku, tidak peduli walau dia sudah tua, meski pelacur sekalipun!” Rasyid memantapkan hatinya seraya berdoa dipertemukan dengan wanita terbaik.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Marcelline Attoh
Marcelline Attoh
Thank you for stopping by. This story is very special to me, and I’m excited to share it with you. I hope you enjoy every chapter and connect with the characters along the way.
2026-06-12 15:43:44
0
0
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status