LOGINEn mi cumpleaños, me desmayé en casa, sola, durante más de dos horas. Mi Alfa, Augustus Brock, se llevó a nuestro cachorro y fue a un parque de diversiones con Christine Terra, quien acababa de romper su vínculo de compañeros. Alguien les tomó fotos, y las imágenes se volvieron virales en redes sociales. [El Alfa de la Manada Brock disfruta de una dulce salida familiar con su compañera y su heredero. ¡El rostro de su Luna se revela por primera vez!]. En la foto, Augustus sostenía a nuestro cachorro con un brazo mientras rodeaba con el otro a la mujer a su lado. Mi cachorro, Ethan Brock, que siempre había sido un maniático del orden y nunca me dejaba tocarlo, le había dado un beso a esa misma mujer en la mejilla. Él sonreía de oreja a oreja. Mientras tanto, yo yacía en el suelo. El resplandor áspero de la pantalla de mi teléfono me lastimaba los ojos. Entonces escuché la voz de Augustus a través de nuestro vínculo mental. «Iré a celebrar tu cumpleaños contigo cuando se llegue la fecha. Christine acaba de romper su vínculo de compañeros y no está de buen humor. La estoy sacando para animarla. Deja de hacer una escena». Justo después, la voz de Ethan siguió a través del vínculo mental. «¡Mamá, quiero que Christine sea mi nueva mamá! A partir de ahora, es suficiente con que me visites una vez al mes. Si vienes demasiado seguido, a ella no le va a gustar». Mi teléfono vibró. Era un mensaje de un número desconocido. [Sabes a quién ama de verdad. He recuperado mi libertad. Si sabes lo que te conviene, rompe el vínculo de compañeros por tu cuenta].
View More“Sudah aku katakan sejak lama, istrimu ini mandul. Kamu masih keras kepala membelanya.”
Ruangan itu cukup luas untuk menggemakan suara seorang wanita paruh baya yang duduk di ujung meja makan. Tatapannya tajam, memandang sinis pada sang menantu di kursi sebelah kanannya. “Kalau dulu kamu menikah dengan Diva, mungkin aku sudah memiliki dua cucu!” ucap Nyonya Mahestri penuh desakan dalam kalimatnya. “Bu, Ibu tahu seberapa besar usahaku untuk memberimu cucu, tapi … ,” Sakha, putranya menyahut. Dia bicara pada Nyonya Mahestri tapi lirikannya tajam tertuju pada Calluna. “Mungkin benar apa yang tertulis di dalam hasil tes hari ini.” “Apa kamu akhirnya sadar kalau istrimu ini mandul?” Nyonya Mahestri menekankan lagi. “Kita sudah melakukan semua pemeriksaan dengan baik, Dokter Juna juga temanku sejak SMA. Aku kenal baik dengannya dan dia memiliki reputasi sangat baik. Tidak mungkin dia melakukan kesalahan.” Di tengah perbincangan ibu dan anak itu, Calluna duduk sambil menenggelamkan wajahnya semakin dalam. Secarik kertas di tangan perlahan diremas. Isi catatan medis di lembaran kertas itu masih sama dengan hasil tiga bulan lalu. Kemandulan. Satu kata yang selalu membuat Calluna tertekan setiap kali pulang ke rumah dan sang mertua memberikannya secarik kertas keramat itu. Tanpa mengangkat kepala pun Calluna tahu bahwa dirinya kini sedang menjadi sorotan untuk sang mertua, dan pria tinggi dengan senyum sinis di wajah yang duduk tepat di seberang kursi makannya. Dua orang itu tak bisa disebut sebagai musuh meski kata-katanya berhasil mengguncang hebat mental Calluna selama ini, sebab, mereka adalah ibu mertua dan suami Calluna sendiri. Orang-orang seakan tidak pernah bosan mendesaknya melahirkan keturunan Keluarga Dewandaru. “Aku sudah sering memberi peringatan pada Calluna untuk menjaga pola makan dan memperhatikan kesehatan rahimnya. Tapi, dia terlalu keras kepala. Jadi, jangan hanya salahkan aku seorang, Bu.” Itu suara Sakha . Tegas, tapi dia memposisikan dirinya sebagai korban, tak terima disalahkan meski kenyataannya, melahirkan penerus Keluarga Dewandaru adalah bagian dari campur tangannya. Kini sorot mata dua orang itu semakin intens, terasa membakar tubuh Calluna yang duduk diam tanpa kata. “Kenapa kamu diam saja, Calluna? Perjelas saja jika kau memang mandul.” Nyonya Mahestri berkata lagi. Ucapannya yang setajam belati kontras dengan penampilan anggunnya hari ini. Bahkan paruh baya itu hanya diam di rumah, melakukan apapun sesukanya, termasuk menghabiskan uang warisan dan penghasilan dari usaha mendiang sang suami. “Aku yakin hanya belum waktunya saja. Tidak ada yang mandul diantara aku ataupun Sakha, Bu,” balas Calluna setelah sekian lama terdiam. “Kalau memang begitu, mengapa hasil tes kesehatan itu selalu tertulis kemandulan, Calluna?!” Nyonya Mahestri menghela napas kasar, amarahnya sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. Beban di pundak Calluna semakin berat. Bagi sebagian orang, usia pernikahan tiga tahun masih terbilang muda untuk pasangan suami istri baru seperti Calluna dan Sakha . Tapi, tidak demikian untuk Mahestri. Wanita yang mengenakan dres putih polos model V-neck itu mencebik sinis. Dia menatap sang menantu layaknya seorang musuh. “Kamu tahu, Calluna. Aku adalah pengusaha terkaya di desa ini, mau ditaruh mana wajahku tiap kali para kolega dan para tetangga kelas bawah itu bertanya kapan aku memiliki cucu?” Suara Nyonya Mahestri semakin keras. Sedikit bergetar seakan itu adalah luka paling dalam yang dia miliki. “Ini semua salahmu, Calluna. Kamu terlalu gila bekerja. Di luar sana kau bisa mengurus anak-anak dari kalangan rendah tapi untukku, bahkan satu anak pun tidak bisa kamu berikan,” kata Sakha menimpali . Calluna, di sudut matanya air mata sudah menganak sungai. Dadanya berdenyut pelan, nyeri seperti reaksi habis ditikam oleh benda tajam. Calluna tahu ada reputasi yang dipertaruhkan, tapi dia juga tahu dia hanya manusia biasa. Sebelah tangannya mengepal semakin kuat. Tekanan rumah tangga ini kian hari membuat Calluna hampir gila. Bersama dengan sisa energi yang dia miliki saat ini, perlahan Calluna mengangkat pandangannya. Membalas tatapan sengit suami dan ibu mertuanya kemudian berkata lirih pun tajam. “Apakah kalian pikir aku ini mesin pembuat anak?” sahut Calluna tenang, tapi kalimatnya menghunus. Tatapannya menyiratkan luka mendalam di balik gestur tegar yang dia tunjukkan. “Memiliki anak bukan hanya tugasku seorang diri. Kenapa kalian hanya mendesakku tanpa berkaca?” Di tempatnya, Nyonya Mahestri menurunkan pandangan sekilas pada gelas teh di depannya. Nampak acuh, menutup telinganya dari semua ucapan Calluna. Calluna beralih pada sang suami. Pria itu masih duduk santai, bersandar pada punggung kursi yang terbuat dari bahan kulit premium. “Kamu tahu seberapa keras aku menjaga kesehatan rahimku. Mengikuti semua aturan yang kau buat tapi kamu sendiri tidak bisa dipercaya. Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu mi—” “Calluna!” sela Nyonya Mahestri. Di balik sikap tenangnya, suaranya berhasil membuat ucapan Calluna menggantung di tengah kehampaan udara. “Tanggung jawab seorang wanita itu berat, dan melahirkan anak adalah tugas seorang istri. Kalau Sakha sudah memberikan benihnya di rahimmu, tapi kamu gagal memberikan cucu, apa itu masih salah Sakha ? Harusnya kamu yang berkaca, seberapa baik kualitasmu sebagai seorang istri!” Kalimat itu berhasil menampar Calluna dengan tangan tak kasat mata. Lidahnya kelu, mendadak mulutnya kehilangan kemampuan untuk bicara. Pada akhirnya dia hanya bisa membalas kalimat menyakitkan itu dengan tatapan pilu. Nyonya Mahestri berdiri, memandang rendah pada Calluna yang masih di tempatnya. “Seharusnya kamu sadar diri, Calluna. Dengan Sakha menikahimu, kini kamu menjadi seorang nyonya besar. Apa sulitnya kamu membalas budi kami dengan memberikan Sakha keturunan?!” Calluna menggeleng lemah. Dia berdiri di atas kakinya yang semakin lemas. Mulai kembali buka suara, nadanya bergetar. “Bu, kumohon berhenti hanya melihat dari satu sisi saja. Selama tiga tahun ini aku juga berjuang untuk hamil. Semua aturan yang kalian buat aku turuti. Pola makan, pola tidur, bahkan aku dengan senang hati membiarkan tubuhku dijamah Sakha setiap hari, setiap jam hanya demi memberimu cucu.” Calluna menjeda. “Bahkan Sakha tidak peduli jika tubuhku kesakitan atau merasa tak nyaman tiap kali kami selesai berhubungan badan. Semuanya aku telan sendiri. Tidak bisakah Ibu menghargai usahaku sedikit saja?” tutur Calluna. Semua keluhnya dia tumpahkan di hadapan Nyonya Mahestri dan Sakha tapi dua orang itu terlihat acuh tak acuh. “Dengar, Calluna.” Nyonya Mahestri menyahut, menghela napas jengah. “Aku sudah memberimu waktu tiga tahun untuk memberiku cucu. Jika kamu memang tidak sanggup, katakan saja. Aku bisa mencari cara lain yang lebih ampuh.” Mata Calluna memicing. “Apa maksudmu, Bu?” Lirikan sinis Nyonya Mahestri mengandung banyak arti. Wajahnya dihiasi oleh senyum licik. “Putraku masih sangat muda. Alih-alih berharap kau memberinya keturunan di saat usiamu yang semakin matang. Lebih baik aku mencari cara lain agar Sakha mendapatkan keturunan.” Ketegangan di ruangan itu semakin pekat. Dengan jantung berdebar kencang, Calluna menunggu sang mertua selesai dengan ucapannya. Berharap apa yang akan terucap bukanlah sebuah keputusan yang akan menyakitinya untuk kesekian kali. “Apa yang akan Ibu lakukan?” tanya Calluna. Disusul tatapan penuh rasa penasaran dari Sakha .Desde entonces, Augustus traía a Ethan en cada día festivo, pero yo solo permitía que Ethan entrara en la casa.Después de todo, seguía siendo mi cachorro.En cuanto al pasado, ya no lo culpaba tanto. Había sido demasiado pequeño en ese entonces. Sus valores aún no estaban completamente formados. Lo que sus abuelos hubieran dicho sobre mí frente a él y que hizo que yo le desagradara no era completamente su culpa.Pero el dolor fue real. Nunca podría amarlo como antes.Ahora, lo que sentía por él era un sentido de responsabilidad y deber. Yo era su madre. Si me necesitaba, le brindaría cuidado y compañía, pero nada más.Incluso se lo dije directamente:—Puede que nunca pueda amarte como otras madres aman a sus cachorros.Ethan mostró una sonrisa comprensiva.—Lo entiendo. Antes me amabas mucho, pero yo lo di por sentado. No supe valorarlo. Este es mi castigo. Me alegra que no me estés alejando.En su sexto cumpleaños, le compré un pastel y lo abracé.—Se siente tan bien. Por f
Augustus guardó silencio por un momento. Parecía haber tomado una decisión.—Puedes traer a Lilian de vuelta a la familia Brock. Podemos criar a los dos cachorros juntos.—¡No quiero! —gritó Ethan—. ¡No quiero que ella venga a nuestra casa!Lilian tembló de miedo y se escondió detrás de mí.Le tomé la mano y le di una mirada tranquilizadora.Luego miré a Augustus y a Ethan.—Lilian tiene su propio hogar. No necesita que alguien más le dé un lugar donde quedarse —dije con firmeza.—Hannah, eso no es lo que quise decir —dijo Augustus con ansiedad—. No puedes quedarte aquí con ella para siempre, ¿verdad?—¿Por qué no? Aquí es donde crecí. Es mi hogar, y también es el hogar de Lilian. Y estoy segura de que tú también lo viste. Ethan no quiere a Lilian en tu casa. Y justo da la casualidad de que yo tampoco quiero que viva bajo el techo de otros, teniendo que medir constantemente cada paso.—¡Nadie se atrevería a tratarla mal! —Afirmó Augustus con firmeza. Luego suavizó su tono—. Ha
No me importó el comentario de Augustus de que esperaría tres días por mí.Incluso cuando se trataba de volver a estar juntos, él seguía esperando que yo tomara la iniciativa. En esta vida, nunca sería capaz de tratarme como a una igual.Ese no era el tipo de vínculo de compañeros que yo quería.La tercera noche, los dos aparecieron de nuevo en mi puerta.Ethan estaba allí, con una expresión severa.—Mamá, papá vino personalmente a recogerte. ¿Qué más quieres?Me agaché frente a él y expliqué con calma:—Ethan, tu padre y yo ya hemos roto nuestro vínculo de compañeros. Ya no podemos estar juntos. Y, si no recuerdo mal, la madre que querías era Christine, ¿no?Ethan infló las mejillas.—Ya no me gusta.Miré a Augustus.—¿No estás con Christine? Pensé que ustedes dos ya se habían convertido en compañeros.—¿Podemos hablar? —preguntó Augustus.Asentí y los dejé entrar.No tenía sentido seguir en un punto muerto. Era hora de dejar las cosas claras.Se sentaron en el sofá y l
Augustus dos años mayor que yo.La primera vez que nos conocimos fue porque él intervino para ayudarme en una ocasión.Ese día, compré unas frutas en la tienda de conveniencia del edificio de dormitorios. Cuando regresé, me di cuenta de que estaban todas podridas.Volví para enfrentar al dependiente. Pero, por desgracia, no tenía el recibo.El dependiente se negó a reconocer mi reclamo y me dijo que me fuera con las frutas para no afectar su negocio.Estaba tan nerviosa que ni siquiera podía articular bien las palabras.Augustus, que estaba haciendo fila para pagar, no pudo soportarlo más.Señaló al otro lado de la calle y dijo que esa tienda le pertenecía a un compañero suyo. La cámara en la entrada justo alcanzaba a cubrir este lado.—Iré a pedirle a mi amigo que revise las grabaciones. Si vemos a esta estudiante saliendo con frutas hace diez minutos, eso debería bastar.—Oh, debo haberme equivocado. —El dependiente cambió de tono de inmediato—. Tenemos tantos clientes todos
Miré al hombre frente a mí y empecé a dudar de mí misma.Parecía que nunca lo había entendido realmente, a pesar de haberlo querido durante tantos años.Quizá, siempre que Christine estaba involucrada, él perdía todo sentido de la razón y de los principios.—¡Augustus Brock! —Lo llamé por su nomb
Quizá era la primera vez que le hablaba a Ethan sin intentar complacerlo.Me miró fijamente, atónito. Lo había tomado con la guardia baja.Augustus lo hizo a un lado y me miró con el ceño fruncido.—¿Estás descargando tu enojo con él por nosotros? ¡Solo tiene cuatro años! —gritó.—No me estoy de
Augustus entró. Se frotaba las sienes mientras se dirigía a mí.—Prepárame una sopa para la resaca. Me tomé unas copas esta noche y me siento mal del estómago.Levanté la mirada hacia él.El Alfa que estaba frente a mí vestía ropa casual de colores claros, algo que rara vez usaba. Se veía relajad
Después de quedarme en blanco por un rato, de pronto caí en cuenta de que debía ir a la guarida del sanador.Últimamente me cansaba con facilidad. Hoy incluso me desmayé durante más de dos horas. Siempre había querido hacerme un chequeo completo, pero en casa siempre surgía algo. Por Augustus y E






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.