INICIAR SESIÓNWaktu berjalan dengan begitu cepat, dan entah bagaimana caranya kini Galuh sedang terkapar di atas padang ilalang.Tubuhnya dipenuhi luka lebam, sementara di pangkal kepalanya tedapat 3 benjolan.Beberapa gigi depan Galuh juga tanggal, wajah penyok, serta hidung mengucurkan banyak darah akibat patah, membuat wajah tampan lelaki itu menjadi tidak berbentuk.Sementara Arga, Kalayuda, Si Bodas, dan Si Hawuk tertawa terbahak bahak.Meski mereka juga mendapatkan luka yang hampir sama, tapi dengan tumbangnya Galuh, ke 4 mahluk konyol itu merasa sangat senang.Mereka tertawa riang selama beberapa saat sebelum pada akhirnya tumbang tidak sadarkan diri secara serentak.Sedangkan Batara Anjar Rasa kembali mematung di sisi Lintang, mulutnya mengaga dengan mata terbelalak lebar tidak percaya dengan apa yang telah disaksikannya.“A-a—apakah benar kalian semua berkeluarga?” tanya Batara Anjar Rasa terbata.“Hahaha, tentu saja,” jawab Lintang sembari tertawa.“Ta-tapi mengapa kalian malah saling ber
Galuh menyantap hidangan dengan sangat lahap, tanpa merasa malu kepada sang Hyang Herumaya yang terus menatapnya.Tentu saja, karena selain maniak bertarung, lelaki tampan itu juga sangat maniak dengan makanan.Dia tidak akan menolak setiap makanan lezat yang dihidangkan, tidak peduli siapa pun yang memberinya, Galuh tetap akan menyantap makanan itu.Selepas puas mengisi perut sampai buncit, Galuh segera membangkitkan Arga dan Lintang berikut Batara Anjar Rasa, membuat ketiganya terbelalak, tidak kuasa menahan keterkejutan mendapati mereka tengah berada di sebuah istana yang amat sangat megah.“Ayah?” Lintang berbinar.“Tu-tuan Galuh,” lutut Batara Anjar Rasa bergetar.“Lelaki berengsek!” sapa Arga ketus karena masih memendam rasa kesal.Sementara Galuh hanya menyeringai seakan tidak pernah terjadi apa-apa.Sedangkan sang Hyang Herumaya menggeleng melihat kelakuan bodohnya.Lintang akan bergerak ingin memeluk sang ayah, tapi Arga segera menghadangnya.“Tunggu kak! Tidak boleh ada yang
Langit begitu cerah di pagi itu, memberikan ruang bagi Mentari untuk menyapa dunia dengan kehangatannya.Cahaya jingga menyeruak dari ufuk timur, menerangi daratan, mengusik embun-embun pada ujung dedaunan dari sisa cerita malam.Sedangkan padang ilalang membentang luas masih menyembunyikan pesonanya, di mana saat petang menjelang, bunga-bunga putih di atasnya akan berterbangan menari diantara senandung angin.Sementara tidak jauh dari sana, terdapat sebuah istana megah yang menjulang menantang awan.Memberikan kesan arogan dengan setiap dindingnya bertaburkan emas berlian.Sehingga saat cahaya datang, istana itu akan tampak berkerlip memantulkan sinar indah berkilauan.Istana tersebut bernama Kedaton Tileum Kajayaan, tempat kediaman sang Hyang Herumaya, penguasa tunggal semesta Sawarga Maniloka.“Siapa kau sebenarnya kesatria? Mengapa memanggilku kakek guru sedangkan aku tidak pernah merasa memiliki murid. Dan mengapa kedua putramu kau buat tidak sadar padahal mereka merupakan kesatr
Tidak terima mendapatkan penghinaan dari orang asing yang telah mengacaukan semestanya, sang lelaki berjubah emas pun segera memberi perintah.“Serang!” serunya lantang.Mendengar itu, 50 juta pasukan langsung berhamburan menerjang Galuh dari berbagai sisi.Layaknya gelombang air bah, mereka datang secara bersamaan dengan kekuatan maha tinggi.Sehingga jika orang lain yang menghadapinya, mungkin dia akan tewas tepat ketika pasukan itu mendekat di mana aura energi mereka mampu menghancurkan gunung dalam sekali jalan.Tapi Galuh, dengan tenang dia menotok beberapa jalan darah di tubuhnya, membuka segel inti energi yang selama ini membatasi kekuatannya.Bruuuuuuusss! BUMMMM!Sebuah ledakan energi dari tubuh Galuh mampu mementalkan semua pasukan, membuat mereka segera membentuk perisai kuat untuk bertahan.Sementara sang lelaki berjubah emas mengaga melebarkan mata, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.“Aku sudah menegaskan ini kepada kalian. Tapi apa boleh buat, kal
“Tuan Lintang!” Batara Anjar Rasa mengangga membelalakan mata khawatir terjadi sesuatu yang buruk kepada Lintang.“Kakak …!” Arga jatuh berlutut dengan berderai air mata.Sementara guncangan gelombang energi ledakan tidak kunjung reda, membuat Arga kembali bangkit penuh amarah.Rasa sakit tidak ingin kehilangan membuat kesedihan pemuda itu sirna berganti rasa kecewa terhadap ayahnya.Arga segera menarik pedang kebalikan, membuka segel energi sejati Kegelapan berniat menghancurkan kubah energi milik kakaknya.Bruuusssh!Gelombang energi mengerikan menyeruak dari tubuh Arga, menghantam Batara Anjar Rasa, membuat tubuh sesepuh perguruan Air Mata Budha tersebut terpental sejauh ribuan meter menuju ke dalaman semesta.“Apa yang …? Aaaaaaa!” Batara Anjar Rasa terkejut, sebelum akhirnya berteriak kencang melayang memuntahkan darah segar.Sementara Arga berdiri di selimuti Kegelapan, matanya berkilat dipenuhi amarah kepada dia yang telah menyiksa kakaknya.Sring! Sring! Sring!Arga melepaskan
“Kekuatan ayah kalian mungkin akan sangat membahayakan, kau harus membuat perisai pertahanan untuk melindungi kita semua, tuan Lintang,” tutur Batara Anjar Rasa.“Aku mengerti Batara,” angguk Lintang sembari langsung mengibaskan tangan, menciptakan kubah energi raksasa dari kekuatan cahaya.“Jadi ini alasan mengapa dirimu membawa kami ke batas semesta, Batara?” tanya Arga.“Benar, tuan Arga. Aku pernah diperingati oleh kakek agar tidak bertindak gegabah. Dunia manusia akan hancur jika kekuatan tuan Galuh muncul secara mendadak,” jelas Batara Anjar Rasa.“Begitu rupanya,” ujar Arga mengerti.Namun jauh di dalam hati, Arga mengumpati ayahnya, “Sial! Ternyata kekuatannya begitu sangat hebat.”“Apa kemungkinan yang akan terjadi jika kita membangkitkannya di batas semesta?” tanya Lintang.“Alam atas akan berguncang dan mungkin pembesar kerajaan dewa akan turun ke mari untuk mencari kita,” jawab Batara Anjar Rasa.“Hmm, cukup adil dari pada harus mengorbankan satu alam. Baiklah! Ayo kita la
“Begitu rupanya, tidak apa paman, aku mengerti. Baiklah! sudah kuputuskan kita akan pergi dulu ke alam Madyapada,” ucap Arga.Alam Madyapada adalah alam manusia yang terletak paling dekat dengan alam para dewa. Sehingga nama mereka hampir mirip satu sama lain. Mayapada dan Madyapada.Mendengar Arga
“Bawana? Sial! Ternyata kau juga datang, hahaha,” Samhu ikut tertawa.Sebetulnya Samhu selalu kesal dengan Bawana karena dahulu dia pernah beradu nyawa dengannya. Tetapi sejak berpisah, entah mengapa dia mulai merindukannya.Wushh!Samhu melesat menghampiri Bawana, dia mengepalkan tangan untuk kemu
Sebagai salah satu komandan terkuat dari pasukan dewa kegelapan. Tentu saja Talope memiliki energi jauh lebih besar dari pada komandan lain.Bahkan Kuradala sendiri berada di bawahnya, sehingga Jaya Angkara kini berada dalam masalah.Tetapi alih-alih takut, entah mengapa Jaya Angkara malah tertawa
Menyaksikan Lintang akan mengeluarkan jurus yang mematikan, ketiga pemimpin pasukan musuh juga tidak tinggal diam.Dengan segenap kemampuannya mereka berusaha menggabungkan kekuatan, memadukan energi agar dapat menciptakan satu serangan maha dahsyat yang dapat membunuh lawan.“Menjauh!” teriak Atma







