Mag-log inRosemary masuk ke dalam arena anggar disusul Oliver setengah langkah di belakangnya.
Aula itu kosong. Tanpa mahasiswa dan suara pedang yang beradu, tempat itu terasa lebih besar dan lebih dingin. Lantai kayunya yang aus berkilat samar-samar terkena cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela tinggi. Di sudut ruangan, Master Alden sedang duduk di bangku, mengelap sebilah pedang dengan gerakan yang lambat. Ia mendongak saat mendengar langkah kaki mBeberapa detik setelah Benedict mengucapkan kata itu, tidak ada yang bicara.Duke Harrington menatap putranya. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada kemarahan, tidak ada tanda bahwa kedatangan ini di luar perhitungannya. Hanya tatapan tenang yang sama seperti sebelumnya.Di sekitar mereka, para bangsawan masih berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Alice masih mencengkeram lengan Oliver. Oliver masih belum mengeluh.“Selesai berdansa?” tanya Duke Harrington akhirnya.“Ya.”Harrington mengangguk. Lalu ia mengalihkan pandangannya kembali ke Rosemary, seolah kedatangan Benedict tidak mengubah apa pun.Benedict tidak pergi.
Ashworth belum beranjak. Di depannya, Duke Harrington berdiri setenang sebelumnya.Rosemary berada di antara mereka. Henry tetap di sisinya.Para bangsawan di sekitar mereka tidak menoleh secara terang-terangan. Itu bukan cara orang-orang ini bereaksi terhadap sesuatu yang menarik. Cara mereka adalah dengan menurunkan gelas lebih pelan dari sebelumnya, memperlambat langkah tanpa tujuan yang jelas, memiringkan kepala ke arah yang secara kebetulan menghadap ke titik di mana dua Duke berdiri. Mereka sudah sangat terlatih untuk memperhatikan tanpa terlihat memperhatikan, dan malam ini semua keahlian itu digunakan sepenuhnya.Musik waltz masih mengalun. Tarian belum berhenti. Tapi perhatian sudah terbelah sejak langkah pertama Duke Ashworth mendekat.Ashworth yang
Rosemary tidak langsung menjawab. Dua pilihan yang baru saja diberikan Ratu terasa seperti dua jalan yang sama-sama menuntut sesuatu yang tidak sanggup ia lepaskan.Lalu ia teringat semua yang sudah ia lakukan selama ini. Arsip-arsip yang ia baca sampai larut, nama-nama yang ia tulis ulang berulang kali di kertas catatan, percakapan di koridor dan perpustakaan dan kamar 504. Bukti-bukti kecil yang belum cukup untuk menjatuhkan Ashworth, tapi cukup untuk membuatnya terus mencari.“Yang Mulia,” katanya pelan. “Bagaimana kalau keduanya?”Ratu mengangkat alis.“Aku bantu Yang Mulia memperjuangkan Kingsley. Aku bisa menjadi contoh yang Yang Mulia butuhkan—perempuan yang sudah membuktikan bahwa ia bisa melakukan apa yang dilakuka
Pintu tertutup di belakangnya, dan dunia berubah.Bukan karena ruangan ini lebih besar atau lebih megah dari aula. Justru sebaliknya, ruangan ini lebih kecil, lebih hangat, dengan perapian yang menyala di sudutnya dan hanya satu kursi yang dipersiapkan untuk tamunya. Tapi di aula, ada musik yang mulai dimainkan, ada lusinan pasang mata, ada bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berhenti. Di sini, tidak ada semua itu. Hanya sunyi. Hanya suara api yang berderak pelan. Hanya Ratu yang duduk di kursinya.Rosemary membungkuk. Gerakannya sedikit canggung, separuh ingatan tubuhnya masih mengikuti cara seorang pria memberi hormat, separuh lainnya mencoba mengingat kembali cara yang sudah lama tidak digunakan. Tapi otot-ototnya mengingat lebih banyak dari yang ia duga.“Angkat wajahmu,” kata Ratu. Suaranya te
Pintu besar di belakang mereka tertutup. Suara kayu berat yang bertemu dengan rangkanya menggema pelan di seluruh aula, dan bersamaan dengan itu, semua suara di ruangan itu perlahan mereda. Satu demi satu. Seperti gelombang yang surut.Mereka yang tadinya tertawa, mengobrol, menyesap anggur—kini menoleh. Melihat. Menunggu.Lord Benedict Harrington berjalan masuk dengan seorang perempuan di lengannya. Gaun biru tua. Rambut cokelat sebahu. Kalung perak dengan liontin kecil berbentuk bunga. Wajah yang asing bagi hampir semua orang di ruangan ini.Tapi tidak bagi semua orang.Di sudut aula, Vane menegakkan punggungnya. Gelas di tangannya berhenti di udara. Hanya sesaat. Lalu sudut bibirnya perlahan kembali terangkat. “Berani juga.” Vane memutar gelas di tan
Benedict tidak langsung menjawab pertanyaannya. Rosemary sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa diam itu bukan berarti tidak peduli. Diam itu berarti ia sedang berpikir.“Kau serius,” kata Benedict akhirnya.“Aku serius.”“Mereka akan menatapmu. Semua orang. Bukan hanya Ratu.”“Aku tahu.”“Vane dan Ashworth mungkin sedang menunggu momen seperti ini.”Rosemary berhenti berjalan. Di sekitar mereka, festival terus bergerak, tapi ia tidak memperhatikannya. “Aku tahu. Tapi selama ini aku terus bersembunyi. Untuk apa? Ratu sudah tahu. Ayahmu tahu. Kingsley tahu. Kamu tahu. Henry tahu. Oliver tahu. Bahkan Alic
Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari
Rosemary menoleh.Benedict berdiri di sampingnya. Entah sejak kapan ia ada di sana. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi ada sesuatu di matanya yang tidak cocok dengan ekspresi itu.
Benedict sudah berada di arena latihan anggar sebelum matahari terbit. Ini kebiasaannya—selalu begitu, bahkan sebelum Rosemary muncul dalam hidupnya dan mengacaukan segalanya. Arena yang kosong dan gelap, hanya diterangi beberapa lilin yang ia nyalakan sendiri. Lantai kayu yang din
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l







