LOGINVio menggeleng.
Dia kembali menatap lelaki di depannya. Wajahnya tenang tapi rahangnya mengeras. “Nama dokter siapa?” Tanya Vio pelan. “Adriel.” “Nama lengkap?” “Adriel Rakatama.” Jawabannya datar. Di balik nada stabil itu ada sedikit jeda napas yang nyaris tak terdengar. Vio menyipitkan mata. Dia menunjuk dirinya sendiri. “Nama aku?” “Viola Renata Fernandez.” “Umur aku?” “Dua puluh delapan.” “Golongan darah?” “B+.” Semua jawaban keluar tanpa jeda. Tanpa berpikir dan ragu. Vio membuang nafas. Oke. Ini mulai aneh. Dia mencoba pertanyaan yang lebih personal. “Kesukaan aku?” “Susu Coklat hangat. Tapi kamu pura-pura bilang suka Americano biar kelihatan dewasa.” Vio membeku. Itu benar. Tapi masih bisa dijelaskan. Bisa saja dokter ini stalking. Bisa saja Rocky yang memberi tahu. Alasannya masih bisa dijelaskan ilmiah. “Kamu takut Kecoa,” lanjut Adriel tenang. “Dan kamu selalu nyanyi lagu anak-anak kalau lagi panik di ruang operasi. Padahal tugas kamu cuma motong benang Sutura.” Vio menelan ludah. Rocky. Pasti Rocky. Kakaknya itu memang biang gosip. “Kamu punya tahi lalat kecil di—kedua gunung kembar sama—segitiga bermuda kanan.” Otak Vio menolak protes. Wajahnya pucat total. Adriel baru sadar dengan ucapannya sendiri. Dia melirik sekilas ke arah Mama, Papa, Eyang Kakung, dokter dan perawat yang sedari tadi jadi penonton. Ekspresi mereka campur aduk antara syok, malu, dan ingin tertawa. Terlambat. Adriel hanya membuang nafasnya menyesal. “Aku suami kamu, Vio. Itu bukti yang jelas. Rocky aja nggak mungkin tahu soal itu.” Vio langsung menarik selimut sampai dagu seperti benteng terakhir. “Itu nyeremin banget. Tapi aku masih belum yakin kita suami istri.” Adriel tidak langsung menjawab. Ia tersenyum getir. “Ya pokoknya aku suami kamu.” Jawaban itu sangat lelah dan pasrah. “Oke.” Vio menelan ludah. “Ada satu kemungkinan dokter emang suami aku.” “Ya emang begitu, sayang.” “Jangan panggil itu!” Vio memotong cepat. “Aku belum selesai ngomong.” Vio menarik nafas dalam. “Kita nikah karena hutang, ya? Bang Rocky punya hutang sama dokter, terus dia jual aku?” Mama, Papa, dan Eyang Kakung kompak memalingkan wajah. Dokter dan perawat menahan senyum. Adriel terdiam sepersekian detik. Kedua alisnya terangkat tidak percaya. “Itu masuk akal. Tapi kita nikah karena kemauan kamu sendiri. Aku jamin itu.” Vio menggeleng cepat. “Aku baru bangun koma. Aku butuh bukti nyata. Bukti sah, bukti yang nggak bisa dibantah.” “Kamu minta bukti?” “Iya.” Adriel terdiam beberapa detik. Menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar jawaban. “Oke. Setelah semua stabil kita pulang ke rumah. Aku punya seribu bukti buat nunjukkin kalau aku gak halusinasi.” Pulang berarti tinggal serumah dengan lelaki yang tidak ia kenal. Bangun setiap pagi melihat wajah yang tidak memicu kenangan apa pun. Berbagi kamar, ruangan dan hidup dengan orang asing. Dadanya terasa sesak. Vio membeku takut. Karena pulang berarti dia tidak bisa menghindar lagi. Dia harus tinggal seatap dengan lelaki yang tidak ia ingat pernah mencintainya. Ia tidak siap pulang. *** Beberapa hari ini Vio menatap pintu kamar rawat inap seperti itu portal menuju dunia lain. Dan selama itu pula tak ada sekelebat ingatan apapun soal lelaki yang mengaku sebagai suaminya. "Kita pulang ke rumah kita hari ini." Adriel muncul dari pintu yang sedari tadi Vio pandangi. Kata kita terdengar ilegal di telinga Vio. “Aku belum siap pulang. Aku masih pasien.” “Kondisi kamu stabil. Ini hari ke sembilan kamu bangun dari koma.” “Aku masih bingung.” “Kamu akan lebih bingung kalau masih di sini.” Vio membuka mulut, siap berdebat— BRAK. Pintu kamar terbuka keras. “Vio!” Rocky masuk dengan ekspresi yang sulit di artikan. Rambutnya berantakan. Napasnya ngos-ngosan entah sudah lari dari jarak berapa kilo meter. Satu yang aneh, matanya sembab. Rocky berhenti tepat di depan ranjang. Mereka saling tatap. Rocky menunjuk wajah Vio gemetar. “Lo… masih hidup?” Vio mendengus. “Kok sambutan sama orang hampir mati begitu sih?!” Rocky langsung memeluk adiknya. “Gue seneng akhirnya nggak jadi anak tunggal!” “Lepas! Gue habis kecelakaan, bukan habis gym!” Rocky mundur. Menatap wajah Vio serius. “Lo inget gue 'kan?” “Iya lah. Rocky. Dokter obgyn sub Fertilitas-Endokrinologi Reproduksi, si biang gosip yang sialnya adalah kakak gue.” Rocky menoleh pelan ke arah Adriel. Ekspresinya langsung berubah tegang. Vio menyipit curiga. “Kenapa?” Rocky beradu pesan telepati dengan Adriel. Vio menarik lengan Rocky. “Bang, kata dokter itu dia suami gue.” Rocky langsung menutup wajah. “Ya Tuhan.” “Kenapa lo kayak orang kebingungan?!” Rocky menatap Adriel sebentar. Lalu menarik napas panjang. Seolah jawaban yang akan dia berikan adalah jawaban maha rahasia. “Vi, lo jangan menyangkal omongan gue, ya?” “Kenapa openingnya begitu?” Rocky menunjuk Adriel. “Dia emang suami lo.” Vio membeku. Mencoba mencerna serangkaian ucapan orang-orang dan beberapa bukti sederhana yang diterimanya selama ini. Adriel tidak bicara. Dia hanya menatap Vio menunggu reaksinya. “Lucu.” Vio menunggu tawa Rocky. Dia berharap kakaknya sedang bercanda. Tidak ada tawa atau ledekkan. Wajah Rocky sangat serius dengan bahu turun. “Lo serius?” Vio mulai waspada menunggu jawaban Rocky. Rocky mengangguk pelan. “Pernikahan kalian udah mau dua tahun.” Dunia Vio kembali goyang. Rocky memang sering bercanda tapi kali ini jawabannya meyakinkan. “Jadi gue beneran nikah?” Rocky mengangguk lagi. “Sama dia?" Vio menunjuk Adriel. "Iya." “Satu pertanyaan terakhir.” Rocky menelan ludah. Dia kesal kenapa adiknya tidak berhenti bertanya. “Ini prank, 'kan?” Pertanyaan itu muncul ringan. “Prank apaan nikah dua tahun?!” Rocky habis kesabaran. "Udahlah, Vi. Si Adriel itu suami lo! Titik tanda seru!" Vio tidak memberi respon apapun. Dia hanya berkedip bingung. Dua tahun hidup seseorang hilang begitu saja dari kepalanya. Dan korbannya berdiri tak bergairah didepannya. “Kita pulang sekarang?” suara Adriel pelan. Vio menoleh pasrah. “Abang harus ikut.” “Kenapa gue?!” “Lo saksi kunci. Kalau ini penculikan minimal ada saksi.” Rocky mencengkram rambutnya frustasi. Dia melirik Adriel yang terlihat bingung harus melakukan apa. “Lo yang sabar, ya.” “Gue udah sabar sejak belasan tahun lalu.” Jawaban Adriel membuat Vio bingung. Mata Vio dan Adriel bertemu. 'Dokter ini beneran suami gue? Kasian banget dia gue lupain. Nggak-nggak, gue yang kasian karena gak inget sama dia.' Adriel meraih koper dan membereskan barang-barang Vio di nakas. Gerakannya otomatis, seperti seseorang yang sudah melakukan ini ratusan kali sebelumnya, dan Vio tidak ingat apapun. Vio turun dari ranjang hendak mengambil sisa barang di sofa meski rasanya dia enggan meninggalkan rumah sakit. Pintu ruang ranap yang tak ditutup sepenuhnya terbuka semakin lebar. "Vio?" Semua orang menoleh ke pintu. Mata Vio membulat antara senang, lega, dan terkejut melihat lelaki itu ada disini. Perasaan hangat yang muncul spontan di dadanya datang alami. Sesuatu yang tidak ia rasakan sedikit pun pada lelaki yang mengaku suaminya. "Qairo?"Senin pagi Vio sedikit santai. Ia bisa berangkat agak siang naik taksi karena Adriel ada panggilan darurat jam tiga pagi tadi.Vio memencet tombol lift. Isinya penuh. Perawat, koas, pasien, keluarga pasien—semuanya berdiri rapat seperti ikan pindang. Ia pun terpaksa masuk karena tidak mau menunggu lebih lama.Di antara belasan orang, diantaranya ada Rocky sedang makan roti sobek yang Vio tahu betul itu punya siapa.“Bang?”“Hm?”“Itu roti dari ruangan Adriel?”Rocky langsung menggigit roti lebih besar. “Bukti dulu.”"Tanggal expirednya dua hari lagi."Rocky mengangguk bijak. “Iya. Dan gue jaga-jaga supaya lo gak makan gula berlebihan.”Vio menoleh pelan. “Jadi bener itu punya gue?”Seorang bapak di pojok lift refleks menekan tombol open door padahal lift belum sampai lantai mana pun.“Sebagai dokter, gue melindungi pasien dari diabetes.”"Gue bukan pasien lo!"“Semua manusia pasien potensial.”Vio langsung mencoba meraih roti itu. Rocky mengangkat tangannya tinggi-tinggi
Setelah puas bermain ala suami istri di kamar, mereka berdiri di depan jendela besar ruang keluarga, kerja sama membersihkan kaca. Vio bagian lap kaca, Adriel bagian semprot cairan pembersih. Setiap semprotan selalu terlalu dekat ke wajah Vio.“Adriel!”“Oops.”Tawa kecil terus muncul di sela-sela kerjaan.“Kalau robotnya rajin, weekend kita ngapain?” tanya Vio.Adriel menjawab santai. “Cari kerjaan lain.”“Contohnya?”Adriel menatap sebentar. Senyum pelan muncul. “Kayak beberapa menit lalu.”Vio langsung salah fokus, kain lapnya berhenti di kaca.Di belakang mereka, dari arah pintu dapur, seseorang sudah berdiri sekitar lima menit. Bibir atasnya terangkat pelan dengan ekspresi muak.Belinda berdeham keras.Keduanya langsung kaget dan menoleh bersamaan.Vio refleks hampir menjatuhkan botol pembersih. “Kamu dari kapan di situ?!”Belinda bersandar santai di pintu. “Dari kalimat kalo robotnya rajin, weekend kita ngapain.” Tatapannya pindah ke dua robot yang lagi muter di lan
Sejak semalam, Vio berjanji akan jadi istri yang lebih baik untuk Adriel. Ia berusaha menerima ketidaktahuannya soal masa lalu. Mungkin itu hanya pertengkaran biasa.Pagi ini, menjadi istri baik dimulai dengan masak di akhir pekan. Semesta seolah mendukung, tapi tidak dengan kompor."Ini kok gak nyala?" Bunyi kompor terus berulang beberapa kali. Membuat Adriel yang sedang membersihkan seluruh figura foto, melongokkan kepalanya ke arah dapur."Sayang? Kenapa?""Apinya gak mau keluar. Ini rusak deh kayaknya.""Mungkin gas nya abis. Cek aja."Sepi. Vio mengambil ponsel dan mencari tahu cara mengecek gas yang habis. Ia begitu fokus sampai tidak sadar Adriel sudah berdiri di sisinya."Itu ada meterannya, kamu bisa liat.""Oh?"Adriel jongkok. Ia melihat angka di regulator. "Iya, abis. Aku ganti dulu."Pelan, Vio melangkah keluar rumah membawa ponsel dan botol minumnya. Adriel memasang gas dengan terlatih. Ia mengecek kompor. Apinya keluar biru. "Udah, sayang."Tidak ada jawa
Adriel menaruh berkas di meja jaga. Ia menandatanganinya dengan tidak fokus. Ada Vio disana. Ia ingin bicara tapi takut istrinya tidak merespon dan membuat suasana jadi tambah buruk."Dok Vio, tolong bikinin order pasien bed 327 ya. Saya mau kasih obat baru permintaan dok Rocky tadi.""Oke, sus." Kata Vio masih fokus mengetik."Oke, makasih, dok. Oyah, saya boleh mintak tolong lagi?"Vio menggeleng. "Nggak. Minta tolong orang aja. Aku sibuk.""Tapi ini soal dok Rocky."Vio berhenti mengetik sebentar. Perasaannya mulai tidak enak. "Ada apa sama mahluk satu itu?""Dia pinjem uang saya buat borong roti anak kecil di parkiran. Katanya mau diganti jam empat. Sekarang udah jam enem, orangnya malah kabur ke ruang operasi. Mana beres operasinya jam delapan lagi. Saya butuh buat ongkos, dok. Kan gajian masih lama."Vio membuang nafas pelan. Ia merogoh saku di tas ranselnya yang tergeletak di lantai. "Berapa, sus?""Dua ratus tiga puluh ribu, dok."Mata Vio mendongak ketika ia menc
Keesokan harinya, tidak ada perubahan yang benar-benar terlihat. Vio tetap masuk ke ruangan Adriel seperti biasa. Saat melihat Adriel sedang menuang kopi, ia hanya mengangguk pelan."Siang.""Siang." jawab Adriel.Hanya itu, tidak ada senyum, tidak ada tatapan tajam, tidak ada pertengkaran. Justru itu yang membuat Adriel jauh lebih gelisah."Makan siang bareng?" Tanya Adriel."Boleh. Elsa udah nungguin. Yuk."Selama perjalanan ke kantin, tidak ada pembicaraan. Vio sibuk menjilat kojek sambil membaca jadwal operasi.Di meja kantin, makanan Vio sudah Elsa pesankan. "Kok cuma buat Vio?" Adriel pura-pura merajuk."Gue mana tahu ada tambahan member. Pesen sendiri lah."Adriel manyun. Ia duduk dan makan bagian Vio."Dagingnya punya aku. Jangan pernah sentuh itu sedikit pun!" Gertak Vio galak."Pelit banget. Tadi pagi kamu makan daging bagianku.""Jangan suka ungkit pemberian, gak baik." Elsa yang duduk di depan mereka beberapa kali melirik bergantian. Vio dan Adriel makan sa
Adriel tidak langsung menjawab.“Keputusan apa, Adriel? Hari itu aku ngapain?”Adriel menurunkan pandangannya sebentar, lalu kembali menatap Vio. “Kamu bilang kamu butuh waktu sendiri.”“Itu bukan keputusan besar. Aku cuma bilang begitu?” tanyanya.Adriel tidak menjawab.Vio menatap wajah suaminya lama. “Aku sempat buka satu hal dari hape lama. Riwayat panggilan terakhir.” Vio menelan ludah. “Banyak panggilan masuk sama keluar dari kamu. Jamnya deketan, durasinya pendek-pendek.”Rocky yang sejak tadi berdiri beberapa langkah dari mereka menggeser berat badan, jelas ikut menegang. Elsa melirik ke arah Adriel, lalu kembali ke Vio.“Aku tanya sekarang,” kata Vio, matanya tak lepas dari Adriel. “Kita waktu itu sering teleponan kenapa?”Adriel menjawab cepat, seolah sudah menyiapkan jawaban itu sejak tadi. “Kerjaan.”Vio mengangkat alis. “Kerjaan?”“Iya.”“Kerjaan sampai puluhan kali? Dengan durasi satu menit, dua menit, tiga menit?” Vio tertawa kecil, “Kita dokter, Adriel. Kala
Rocky salah. Ia pikir Vio mulai menyadari bagaimana Adriel berusaha merebut hatinya selama belasan tahun. Ternyata persepsi Vio berbeda.“Vi,” suaranya melunak, “Adriel tuh… ancur banget waktu lo kecelakaan.”Napas Vio tertahan.Rocky menatapnya serius sekarang.“Dia bahkan gak tidur sama
Vio memainkan jari jemarinya tegang. "Mereka kayaknya masih saling nyimpen perasaan."Qairo tertawa kecil, membuat Vio menoleh karena merasa teorinya di ledek."Kok ketawa?""Adriel cinta banget sama kamu, Vi. Gak mungkin dia masih nyimpen perasaan buat Sarah.""Sok tahu. Kamu gak liat tadi
Vio belum bicara lagi dengan Adriel sejak kejadian tadi. Ia merasa Adriel dan Sarah menyembunyikan sesuatu darinya.Jadwal jaga Vio baru selesai. Ia sudah berganti baju dan berjalan pelan di koridor. Mengacuhkan panggilan Rocky yang memanggilnya seperti preman pasar pada temannya."Eh, harusnya
Di bangsal, Vio berdiri di samping ranjang pasien sambil pegang map rekam medis. Suaranya tenang, jelas, profesional. Mode dokter aktif.“Jadi ibu mengalami Abruption plasenta, atau plasenta lepas sebagian dari dinding rahim sebelum waktunya. Itu yang membuat perdarahan kemarin.”Anak koas di







