Share

Bab 29 - Usaha Vio

Author: Rahmani Rima
last update publish date: 2026-05-31 09:07:08

Vio berdiri di meja jaga sambil menatap layar jadwal jaga dokter. Kursor berkedip di kolom nama: Adriel. Ia menoleh ke samping.

“Bang, jadwal weekend Adriel apa?”

Rocky bahkan tidak mengangkat kepala dari ponselnya. “Tanya aja langsung. Orangnya bisa ngomong, nggak stroke.”

Vio manyun. “Gue mau kasih kejutan. Lo bantuin dong.”

Rocky langsung menatapnya. Senyum jahil muncul pelan. “Yaudah jadi badut aja. Si Adriel pasti kaget.”

“Rocky!"

Rocky buru-buru angkat tangan tanda menyerah.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 75 - Cerita Sedih Adriel

    Hari itu ruang obstetri seperti tidak pernah tidur. Satu pasien baru masuk, satu pasien pindah ke ruang nifas, satu lagi tiba-tiba kontraksi aktif. Vio bahkan tidak sempat duduk lebih dari lima menit.Persalinan pervaginam, operasi sectio. Ada yang lancar. Ada yang bikin jantung nyaris copot.Keringat menempel di pelipis, masker terasa lembap, sarung tangan sudah entah ganti berapa kali. Tapi setiap kali suara itu muncul—tangisan bayi, selalu sama efeknya. Dada Vio menghangat, lelahnya seperti luruh sedikit demi sedikit."Halo adek cantik. Selamat datang di dunia." Vio berdiri di samping inkubator, memperhatikan bayi yang baru lahir dibersihkan perawat. Wajahnya merah, tangannya kecil mengepal.“Sehat ya, dok,” kata bidan.Vio mengangguk pelan, senyumnya terpancar tulus. “Sehat.”Hari itu banyak drama, banyak panik, banyak keputusan cepat. Tapi satu hal yang tertinggal di kepala Vio hanya satu: Semua bayi mereka sehat. Vio menatap bayi itu lebih lama dari seharusnya.Dulu semua

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 74 - Masalah Lagi

    Vio berkali-kali melirik jam tangannya. Visit pasien sudah selesai hampir dua puluh menit yang lalu. Berkas rekam medis yang tadi dibawanya juga sudah ia kembalikan ke meja jaga perawat. Seharusnya ia bisa makan siang atau menjenguk Rocky.Namun langkahnya justru berbelok ke koridor ruang operasi. Ucapan Elsa siang tadi masih mengganggu kepalanya.'Kalau lo jodohin dokter Sarah sama Rocky, lo bakal menyelamatkan dokter Sarah.'Semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal. Menyelamatkan dari apa?Vio mengenal Sarah sebagai dokter yang tenang, disegani, dan hampir tidak pernah terlihat memiliki masalah. Bahkan di depan pasien, senyumnya selalu sama. Kalau benar ada sesuatu yang disembunyikan, berarti selama ini Sarah sangat pandai menutupinya."Ngapain bengong di situ?"Vio menoleh.Qairo keluar dari ruang operasi sambil melepas masker bedahnya. Rambutnya sedikit berantakan, tanda operasi yang baru selesai berlangsung cukup lama."Gak ngapa-ngapain."Qairo mengangkat sebelah a

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 73 - Penolakkan Keras

    Rocky dan Elsa saling tatap. Mereka kompak melirik Vio yang tak merasa besalah sedikitpun. Orang terakhir yang mereka lirik adalah Adriel yang kini sudah benar-benar berhenti makan. "Gue gak salah denger?" Tanya Rocky."Nggak." Vio melirik Elsa. "Sa, lo mau 'kan jadi kakak ipar gue?"Elsa mendesah. "Vi, lo yang bener aja?""Bener. Kan lo suka bilang capek ketemu cowok brengsek terus. Lo kenal abang gue dengan baik. Dia gak brengsek, dan kalo dia macem-macem ada gue dan Adriel yang bisa tegur dia." Vio meraih sebelah tangan Elsa. "Sa? Mau ya?"Elsa menatap Rocky. "Bang, lo yang ngomong deh. Gak punya tenaga lagi gue."Mata Vio berbinar. "Kalian udah jadian diem-diem ya dibelakang gue sama Adriel?"Elsa membuang nafas pelan. "Vio?""Iya, calon kakak ipar?"Elsa melepaskan tangan Vio. "Gue mau operasi. Lo denger penjelasan abang lo aja."Elsa menenggak kopi sampai habis dan meremas gelasnya dengan kencang sebelum membuangnya dengan kasar ke tempat sampah."Sa? Jangan pergi d

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 72 - Jodoh untuk Rocky

    Sekarang sudah malam. Mama, ayah sambung, papa dan mama sambung sudah pulang. Dan sejak itu Vio jadi tidak banyak bicara. Ia masih memikirkan pertanyaan kapan ia akan mencoba hamil. Bukan tidak mau, tapi rasanya hanya ia yang berjuang sendiri untuk hamil.Perawat baru saja selesai mengecek tanda vital Rocky. Kondisinya membaik, tetapi dokter tetap meminta observasi satu malam lagi."Pulang gih." Usir Rocky.Vio masih duduk di samping ranjang. "Rumah gue disini sekarang. Gue 'kan wali pasien lo.""Elah, gak perlu di temenin. Banyak sahabat gue disini. Semua perawat dan dokter yang urus gue, itu anggota geng gue selama kita ko-as dulu."Vio mengendikkan bahu. "Gue bakal tetep disini."Rocky menyandarkan punggung ke bantal. "Gue ditinggal semalam nggak bakal mati, Vi."Mata Vio langsung memerah. "Lo tuh ya? Jangan ngomong kayak gitu.""Gue cuma--"Vio melirik Rocky. "Seumur-umur lo nggak pernah pingsan."Rocky terdiam."Lo selalu sehat, selalu kuat. Bahkan kalau sakit pun pali

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 71 - Dokter Sipir

    Di IGD, tim sudah bekerja cepat."Pasang infus! Cek gula darah. Ambil darah lengkap."Rocky masih belum membuka mata. Vio menerobos masuk. "Abang!" Dia berlutut di samping brankar melihat wajah kakaknya yang sama sekali tidak bereaksi. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan Rocky."Bangun."Tidak ada jawaban. Air mata Vio langsung pecah. "Rocky, bangun."Seorang dokter mendekat. "Dok Vio, tolong kasih kita ruang buat periksa dok Rocky."Vio menggeleng. "Bang, bangun, gue mohon.""Dok—"Vio menoleh ke semua orang yang sedang menangani Rocky. "Tolong selamatin kakakku, dok. Aku mohon." Suara Vio benar-benar hancur.Semua staf tahu Vio selalu terlihat benci pada Rocky. Dia selalu berusaha untuk tidak berurusan dengan kakaknya kalau bisa. Hari ini Vio hanya seorang adik yang ketakutan."Iya, tapi dok Vio tunggu diluar ya?"Vio terpaksa menurut. Dokter jaga selesai memeriksa hasil awal. Beliau menatap Vio yang duduk tidak tenang di kursi tunggu. "Dok?"Vio langsung be

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 70 - Beruntung?

    Senin pagi Vio sedikit santai. Ia bisa berangkat agak siang naik taksi karena Adriel ada panggilan darurat jam tiga pagi tadi.Vio memencet tombol lift. Isinya penuh. Perawat, koas, pasien, keluarga pasien—semuanya berdiri rapat seperti ikan pindang. Ia pun terpaksa masuk karena tidak mau menunggu lebih lama.Di antara belasan orang, diantaranya ada Rocky sedang makan roti sobek yang Vio tahu betul itu punya siapa.“Bang?”“Hm?”“Itu roti dari ruangan Adriel?”Rocky langsung menggigit roti lebih besar. “Bukti dulu.”"Tanggal expirednya dua hari lagi."Rocky mengangguk bijak. “Iya. Dan gue jaga-jaga supaya lo gak makan gula berlebihan.”Vio menoleh pelan. “Jadi bener itu punya gue?”Seorang bapak di pojok lift refleks menekan tombol open door padahal lift belum sampai lantai mana pun.“Sebagai dokter, gue melindungi pasien dari diabetes.”"Gue bukan pasien lo!"“Semua manusia pasien potensial.”Vio langsung mencoba meraih roti itu. Rocky mengangkat tangannya tinggi-tinggi

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 39 - Kontribusi Adriel

    Pulang dari rumah sakit ternyata tidak membuat keadaan menjadi lebih mudah. Justru lebih sulit. Adriel memaksa Vio untuk pulang, harapannya agar istrinya bisa punya waktu menenangkan diri. Vio tidak menolak. Bahkan ia langsung setuju begitu perintah itu keluar. Tapi yang terjadi ternyata lebih para

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 26 - Perjuangan Suami

    Di bangsal, Vio berdiri di samping ranjang pasien sambil pegang map rekam medis. Suaranya tenang, jelas, profesional. Mode dokter aktif.“Jadi ibu mengalami Abruption plasenta, atau plasenta lepas sebagian dari dinding rahim sebelum waktunya. Itu yang membuat perdarahan kemarin.”Anak koas di

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 24 - Berusaha Berubah

    Jam istirahat di kantin rumah sakit jauh lebih ramai dari biasanya. Meja panjang penuh dokter dan perawat dari berbagai departemen.Vio duduk di salah satu meja gabungan. Makan pelan, tanpa suara, fokus ke piringnya. Tidak heboh, tidak nyanyi, tidak komentar apa-apa. Cuma makan.Qairo lewat di

  • MAAF, DOK, KITA SALING KENAL?   Bab 23 - Bekas Luka Adriel

    Sabtu pagi, Adriel akhirnya muncul dari kamar. Rambut masih setengah basah, kemeja belum dikancing sempurna. Vio yang sudah dari tadi siap dengan tas di tangan langsung berhenti mondar-mandir. Manyunnya makin kelihatan jelas.“Kamu lama banget.” gumam Vio pelan, tapi cukup keras buat didengar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status