LOGINMereka pindah ke lorong sepi. Rocky langsung mode briefing tim perang.Adriel masih ragu. “Papa gak akan berubah pikiran cuma karena diajak ngomong. Gue tahu sifatnya.”Rocky langsung nyaut, “Ya karena yang ngajak ngomong bukan orang yang tepat.” Adriel melotot. “Maksud lo?”Rocky santai, “Lo anak pungut, makanya gak akur. Anak kesayangan beliau itu Vio.”Qairo langsung batuk nahan ketawa. Adriel mendengus. “Gue masih di sini, Ky.”Rocky tepuk bahu Vio. “Makanya yang ngomong harus dia.”Vio langsung tegang. “Gue.. harus ngomong apa?”Rocky angkat jari satu per satu. "Pertama, lo jangan bilang, ‘jangan nikahin Sarah’.”Vio mengangguk cepat.“Lo bilang, 'aku takut papa nanti kesepian.' Bikin beliau ngerasa lo mikirin kebahagiaannya, bukan ngelarang.”Adriel mulai memperhatikan serius."Kedua, singgung perbedaan usia secara halus. Bukan bilang papa ‘terlalu tua’. Itu bunuh diri. Yang ada lo ditendang dari ruangan."Qairo menimpali, “Kamu bilang fase hidupnya beda.”Rocky
Adriel buru-buru membantu Vio memakai lagi baju jaga yang tadi terbuka. Vio masih manyun sambil merapikan baju.Di belakang mereka, Rocky tepuk tangan pelan. “Yang kabur dari bangsal anak ternyata ada dua.”Qairo langsung nutup muka untuk tertawa.Vio menengok tajam. “Kalian tuh kenapa sih?!” Dia balik ke Rocky. “Serius. Rapat apa?”Rocky sok misterius. “Sini, gue bisikin.”Vio mendekat dengan wajah curiga. Rocky nunduk ke telinganya, lalu berbisik pelan.“Gue tau punya Adriel gede, tapi kalo lagi stress, punya dia akan menciut banget. Dan sekarang dia lagi stress."Vio melotot tajam. "Lo tuh ya!"Rocky ngakak sambil pegang perut. Tepat saat itu pintu terbuka lagi.Elsa muncul bawa map. “Dok, mau minta TTD berkas yang wak—”Belum sempat selesai kalimatnya, Vio langsung nyamperin, narik tangan Elsa keluar ruangan. "Kita keluar sekarang."Elsa bingung diseret. “Hah? Kena—”Pintu ditutup dari luar. Di dalam ruangan tinggal tiga pria yang masih tertawa tidak jelas.Ruangan ak
Lampu ruang operasi terang menyilaukan. Vio berdiri di sisi meja operasi sebagai asisten subs Ginekologi. Tangannya tetap bergerak sesuai instruksi, walau kepalanya mulai terasa berat dan berdenyut.'Sebentar lagi selesai, tahan sedikit lagi.' katanya dalam hati.Dokter senior, teman papanya—melirik sebentar sambil tetap fokus pada jaringan rahim. “Papa kamu gimana kabarnya?”Vio menelan ludah, memaksa suaranya stabil. “Baik, dok.”Beberapa menit berlalu. Suhu tubuhnya makin terasa panas. Pandangannya mulai berkunang.Dokter senior kembali bicara ringan, “Kamu sekarang—” Tubuh Vio tiba-tiba limbung. Dunia seperti gelap dalam satu kedipan. Sarung tangan di ujung jarinya mulai terasa dingin. Monitor terdengar semakin jauh.“Dok! Dok Vio pingsan!” teriak perawat instrumen.Suasana ruang operasi langsung berubah panik. Perawat buru-buru menopang tubuhnya dan membawanya keluar.Vio membuka mata pelan di IGD. Lampu plafon terasa terlalu terang. Refleks pertama yang dia lakukan: la
Vio menoleh cepat, panik.Rocky langsung berjalan cepat, memegang bahu Vio dan menariknya pelan menjauh. “Maaf, dok. Dokter sudah ditunggu di auditorium.”Papa hanya mengangguk kecil. “Papa tinggal simposium ya, Vi.” Beliau keluar ruangan tanpa menambah kata.Pintu tertutup.Ruangan mendadak sunyi. Tinggal Vio yang masih terisak dan Rocky yang menatapnya penuh khawatir.Rocky memegang bahu Vio pelan, mencoba menenangkannya. “Vi… jangan ikut campur urusan orang.”Vio langsung menggeleng keras. “Gue gak mau kak Sarah nikah sama papa."Rocky menghela napas panjang. “Lo pikir gue gak pernah berusaha bantu?"Vio menatap Rocky dengan mata merah. “Tapi dia kepaksa setuju karena gak punya pilihan.”Rocky menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Lo gak izinin karena takut Sarah ganggu Adriel?”Vio langsung menggeleng cepat. “Gue gak mikirin itu! Gue mikirin perasaan kak Sarah!"Vio menarik napas terburu-buru. “Lo punya tabungan 'kan? Gue pinjem buat bayar hutang kak Sarah ke orang tua
Begitu sampai IGD, Sarah langsung di tidurkan di ranjang pasien. Luka di dahinya sudah dibersihkan dan ditutup. Wajahnya masih pucat, tapi jauh lebih sadar.Jam praktik Vio masih lama, dan hari itu semua orang tahu satu hal: jangan ganggu Vio.Dia duduk di samping ranjang sejak awal. Dari jauh, Adriel berdiri di ujung ruangan. Tidak mendekat. Hanya memastikan semuanya berjalan baik.Sarah pelan menoleh ke Vio. Senyum kecil muncul. “Aku beneran gak papa, Vi.”Vio langsung menggeleng. “Kakak lemes banget.”“Aku cuma kaget. Itu aja.”Hening sebentar.Sarah menatap Vio lebih lama, lalu berkata pelan, “Yang harusnya dikhawatirin itu kamu.”Vio mengernyit. “Kenapa aku?”Sarah melirik Adriel yang memperhatikan mereka. "Driel, Vio mimisan."Adriel bergerak siaga. Ia merogoh sapu tangan dan membantu Vio menunduk. "Pusing?" Tanyanya berusaha tenang, padahal ia panik setengah mati.Vio tak menjawab.Sarah tersenyum lembut. “Tenang, Vi. Aku udah disini. Kamu istirahat gih.”Vio meng
Jam masih menunjukkan pukul sebelas malam, ketika Vio tiba-tiba membangunkan Adriel yang baru saja tidur setelah mereka perang kasur. "Sayang, bangun." Adriel mengerang. "Katanya capek." "Anterin aku ke apartemen Elsa." Adriel menoleh. "Ngapain?" "Dia butuh aku. Dia lagi patah hati karena hubungannya kandas." Vio turun dari ranjang. "Cepet." Mau tak mau Adriel bangun. Di mobil, Vio terus menelpon Elsa. Panggilannya tak ada yang dijawab. "Aduh, dia kemana sih?" Vio melirik Adriel, "Elsa gak akan minum cairan pembersih 'kan?" Adriel menggeleng pelan. "Dia lagi minum kopi. Americano. Percaya sama aku." "Tahu dari mana?" Adriel mengangkat bahu ringan. "Kamu udah kasih tahu berjuta kali. Kalo Elsa patah hati dia yang gak suka Americano, akan minum itu." "Oh." Mobil berhenti di depan lobi apartemen. "Aku tunggu di--" Vio cepat membuka sabuk pengaman, "Aku nginep. Dah, sayang." Langkah Vio sangat cepat menyusuri kamar Elsa. Dia tidak lagi panik memikirkan ap
“Rocky!” Suara Adriel menggema.Tidak sampai sepuluh detik, pintu kamar tamu terbuka keras.“Kenapa sih jam segini udah manggil tamu? Gak sopan ba—”Rocky berhenti bicara saat melihat Vio pingsan di pelukan Adriel. Wajahnya pucat, darah masih mengalir di bawah hidung. Ekspresinya langsung run
Koridor ruang rawat tiba-tiba terasa sempit. Rocky dan Adriel menatap Qairo. Qairo menatap Vio. Dan Vio menatap Qairo seperti menemukan sesuatu yang familiar dan membuatnya merasa aman.“Qai, kamu dateng?" Mata Vio berkaca-kaca. Nada suara itu hangat, lega, penuh harapan. Nada yang baru terdengar
“Kan-kandungan apa?”Tidak ada yang menjawab.Qairo baru sadar ucapannya salah. Wajahnya berubah pucat.Rocky mengusap wajahnya, Eyang berhenti menyiram Bonsai, dan Adriel tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang koper sampai jari-jarinya memutih karena terlalu kuat menekan.“Qai
Pagi datang terlalu cepat.Vio tidak benar-benar tidur semalaman. Ia hanya berpindah dari satu posisi ke posisi lain di ranjang lamanya, menatap langit-langit kamar yang penuh bekas glow in the dark bintang masa kecilnya.Ia ingat menempelkannya. Ia ingat Eyang Kakung memarahinya karena lemnya







