Share

Bab 31

Author: Mumu Mooi
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-24 17:07:39

Aluna perlahan menurunkan ponselnya. Tatapannya kosong menatap meja di depannya beberapa detik.

Hanya respon singkat dan begitu sederhana yang didapatkannya dari Ragil. Tadinya Aluna berharap jika Ragil akan menanyakan keadaannya atau apakah dirinya sudah makan siang atau belum. Pria itu langsung saja mematikan panggilan dengan alasan ada rapat yang penting.

Selain karena Ragil, Aluna juga sedikit terganggu dengan pandangan Dirga ketika tadi mereka sempat bersitatap saat panggilan itu berakhir.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   96

    “Kamu ngapain masih tiduran saja? Biasanya juga kamu sudah kelayapan pagi-pagi. Entah keliling kompleks atau sibuk di taman baru kamu itu.”Suara bariton Ragil memecah keheningan kamar mereka yang masih remang. Aluna yang meringkuk di balik selimut tebalnya hanya memejamkan mata erat-erat. Rasa pening menjalar di kepalanya tiba-tiba pagi itu.“Lagi tidak enak badan saja, Mas,” jawab Aluna lirih dengan suara serak di balik kain katun tebal itu.“Kenapa? Ngapain kamu kemarin seharian? Jalan-jalan lagi?” tanya Ragil lagi dengan nada menuduh.Tangannya bergerak sibuk memakai dan merapikan simpul dasinya di depan cermin meja rias. Pria itu tidak menoleh sedikitpun, seakan tidak mempedulikan istrinya.“Aku nggak ngapa-ngapain, Mas. Aku cuma di rumah saja seharian kemarin,” jawab wanita itu jujur sebab memang sudah dua hari ini dirinya menghabiskan hari hanya dengan di rumah saja.“Kalau kamu nggak ngapa-ngapain, nggak mungkin kamu kelelahan seperti ini,” ujar Ragil lagi, nadanya terdengar s

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 95

    Di tengah isak tangis Aluna yang perlahan mulai mereda, benda persegi di atas meja kaca kafe itu tiba-tiba bergetar panjang. Layar ponsel Aluna menyala terang, memecah keheningan yang sempat mencekam di antara kedua wanita tersebut. Sepasang mata sembab Aluna melirik ke arah layar, dan jantungnya berdesir halus saat melihat nama ‘Kak Dirga’ berkedip di sana.Aluna menatap Ririn dengan pandangan bimbang, seolah meminta petunjuk dari sahabatnya itu. Ririn yang masih mencerna situasi dan syok akibat pengakuan gila Aluna tadi langsung menegakkan tubuhnya. Matanya yang tajam menunjuk ke arah ponsel dengan gerakan dagu yang tegas.“Angkat, Lun. Angkat saja. Aku mau tahu bagaimana sikap pria itu setelah semua kejadian ini,” desak Ririn dengan volume suara yang tertahan.Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Aluna menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponsel pintar itu ke telinganya. Ia berdeham kecil, mencoba menstabilkan intonasi suaranya yang serak agar tidak terdengar menc

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 94

    “Sebenarnya… kamu ada hubungan apa sama Kak Dirga?”Aluna tersentak ketika mendengar pertanyaan dari bibirnya Ririn. Jantungnya terasa berdetak jauh lebih kencang dari biasanya. Selain karena beban rahasia yang teramat besar, wajah Ririn yang mendadak menuntut penjelasan dan menatap tajam ke arahnya turut menjadi alasan mengapa Aluna terpaksa memaksakan sebuah senyuman tipis dan berusaha bersikap setenang mungkin.“Hubungan apa emangnya? Biasa saja, nggak ada yang spesial,” elak Aluna.Walau sudah berusaha sekuat tenaga untuk meredam kegugupannya, suara yang keluar dari bibir Aluna masih saja bergetar samar, mengkhianati ketenangan palsu yang ia pamerkan dihadapan sang sahabat.“Jangan bohong, Lun! Aku tahu pasti ada sesuatu yang besar di antara kalian berdua. Kak Dirga itu bersikap seperhatian itu ke kamu, lho. Bahkan… ketika kamu pergi kontrol kehamilan kamu yang terakhir kali di rumah sakit, dia juga ada di sana dan menemani kamu masuk ke dalam ruangan, kan?”Mata Aluna seketika me

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 93

    “Lun, kita ketemuan di kafe dekat rumah sakit aku, bisa nggak? Siang jam dua.”Aluna membaca pesan yang masuk di layar ponselnya kala dirinya baru saja melangkah keluar dari kamar mandi. Tubuhnya terasa jauh lebih segar setelah cukup lama bergelut dengan tanah dan tanaman hias barunya di halaman belakang rumah.Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Aluna langsung mengetik pesan balasan di papan tombol.“Memangnya kamu lagi libur hari ini?”Tidak butuh waktu sampai satu menit, sebuah notifikasi balasan kembali diterima oleh ibu hamil itu dari seberang sana.“Kelar jam dua praktik aku, Lun. Makanya aku mau mengajak kamu nongkrong lagi sebentar. Nanti malam aku ada jadwal operasi besar. Lumayan, kan, buat recharge pikiran biar nggak stres di dalam ruang operasi.”Aluna mengulas senyum tipis ketika membaca penuturan sahabat karibnya yang tengah menempuh spesialis saraf itu.“Oke deh. Jam dua-an kita ketemuan di sana langsung, ya. Aku mau istirahat dulu bentar di kamar.”Ririn

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   92

    “Mbak, kenapa dikerjakan sekarang?” tanya Tini sembari membawa ember kecil berisi air. Ia menatap heran ke arah majikannya yang sudah berkeringat sepagi ini.“Nggak apa-apa, Tin. Mumpung aku lagi rajin hari ini,” jawab Aluna santai.Jemari lentiknya tetap bergerak telaten, mengaduk-aduk tanah hitam gembur di dalam sebuah pot terakota besar tanpa mempedulikan noda yang mengotori kulitnya.“Saya bantu ya, Mbak Luna? Biar saya saja yang memindahkan tanahnya,” tawar Tini yang merasa tidak enak melihat wanita hamil itu melakukan pekerjaan kasar sendirian.“Tidak usah, Tin. Kamu bantu-bantu di dalam saja. Tolong siapkan menu sarapan terbaik buat Mas Ragil. Sebentar lagi pasti dia turun dari kamar,” jawab Aluna tanpa menoleh. Fokusnya tetap terkunci pada akar-akar tanaman hias di depannya.Dan benar saja, tidak lama setelah Tini melangkah masuk ke dalam rumah, suara berat Ragil terdengar menggema dari arah tangga utama, sedikit berteriak memanggil-manggil nama istrinya dengan nada tidak saba

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 91

    Obrolan penuh taktik dan candaan di antara kedua sahabat itu mendadak terhenti saat tiba-tiba nada dering yang nyaring dari ponsel Ririn berbunyi, memecah ketegangan di meja sudut kafe tersebut.“Bentar, ya,” kata Ririn yang langsung merogoh tasnya, mengambil ponsel yang masih terus menyala dan bergetar riuh.Begitu melihat nama yang tertera di layar, bahu Ririn langsung merosot lambat.“Hah…” Ia menghembuskan napasnya dengan sangat berat, seolah baru saja memikul beban lima puluh kilo.“Kenapa, Rin? Siapa?” tanya Aluna penasaran, dengan dahinya yang mengernyit tipis.Ririn tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Wanita itu malah membalikkan layar ponselnya dan memperlihatkan nama kontak yang sedang memanggil itu langsung ke depan wajah sahabatnya. Begitu membaca nama ‘Dokter Kepala Ruangan Sp.N’, Aluna yang semula murung langsung tertawa kecil tanpa bisa ditahan.“Halo, selamat siang, Dok,” ucap Ririn akhirnya menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan itu dengan nada suara ya

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 40

    Aluna masuk ke dalam rumah sambil menenteng kantong makanan yang diambilnya dari depan. Ia duduk di ruang tengah dan langsung membuka bungkusan itu.Kali ini Dirga mengirimkan sop iga lengkap dengan jus alpukat. Dan seperti biasa, beberapa menit kemudian pesan dari Dirga masuk.‘Dipaksa habisin min

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 32

    Motor Dirga akhirnya berhenti tepat di depan rumah Pak Beni menjelang sore. Matahari mulai turun, meninggalkan langit jingga yang samar di atas pepohonan halaman rumah.“Sudah sampai, Nyonya Bumil,” ujar Dirga bercanda kecil sambil mematikan mesin motornya.Aluna tersenyum tipis lalu perlahan turun

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 30

    Pusat perbelanjaan itu cukup ramai di siang hari. Aluna dan Ririn berjalan santai menyusuri deretan toko di lantai dua sambil sesekali berhenti melihat barang-barang yang menarik perhatian mereka.“Aku heran deh,” gumam Ririn sambil melirik beberapa kantong belanja di tangan Aluna. “Baru hamil dua

  • Maaf, Kurebut Istrimu!   Bab 26

    Dua bulan usia kandungannya berjalan, kondisi Aluna masih belum benar-benar membaik. Mual di pagi hari masih sering datang, bahkan terkadang sampai membuat tubuhnya lemas seharian. Seperti pagi itu saat waktunya sarapan di akhir pekan, Aluna duduk di meja makan sambil memandangi semangkuk sup hanga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status