LOGIN“Dirga menemani kamu pergi ke rumah sakit, membelikanmu roti, dan mengirimkan makanan-makanan itu ke rumah setiap hari… itu semua karena aku yang membayarnya!”Aluna menggeleng keras, melangkah mundur satu langkah demi menolak mempercayai ucapan sang suami yang melesat bagai anak panah beracun. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa ngilu yang merambat ke seluruh tubuh.“Nggak. Nggak mungkin. Kamu pasti bohong, Mas. Kamu sengaja mengarang cerita ini hanya untuk membuatku membencinya, kan?” Suara Aluna mulai melemah, bergetar hebat menahan badai kehancuran yang siap meluluhlantakkan fondasi kewarasannya.Ragil kembali tertawa sinis dan hambar yang terdengar begitu memuakkan di dalam kesunyian kamar tidur mereka. Ia berdecak pelan, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Aluna dengan binar kepuasan yang tampak keji.“Kamu tahu, kan, kalau Budenya Dirga sakit keras dan harus segera dioperasi? Kalau dia pakai asuransi pemerintah, dia harus antri dulu. Kal
Brak…!Aluna menoleh pelan ke arah pintu kamar yang baru saja dibuka paksa dengan kasar. Sejujurnya ia sudah tahu siapa pelakunya sejak awal. Tidak mungkin ada satu pun asisten rumah tangga di kediaman ini yang memiliki keberanian untuk mendobrak pintu dan membantingnya sekuat itu, kecuali pria yang statusnya masih menjadi suaminya.Ragil melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam kamar. Napasnya memburu kasar, menggambarkan amarah yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Pria itu langsung berdiri tegak menjulang di samping Aluna yang saat ini tengah duduk santai memainkan ponselnya di atas sofa sudut.“Kamu ngadu apa saja ke Ayah?!” cecar Ragil dengan suaranya yang menggelegar.“Ngadu apa emangnya, Mas? Perasaan aku nggak mengadu apa-apa deh,” jawab Aluna dengan nada yang begitu santai. Arah pandangannya sama sekali tidak beralih dari layar ponsel.“Kamu bilang nggak ngadu apa-apa?!” Ragil mendengus jengkel dengan matanya menyipit berbahaya.“Terus kenapa barusan Ayah menelepon aku sambil
Baru saja kaki Aluna memijak lantai marmer ruang tengah rumahnya, ponsel yang sejak tadi terus berada dalam genggaman eratnya bergetar panjang. Nama ‘Ayah’ terpampang jelas di layar kaca.Aluna menarik napas pelan, mencoba menetralkan sisa-sisa sesak di dadanya sebelum menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.“Halo, Yah…”“Nak, Ayah dengar dari orang rumah katanya kamu di rumah sakit?! Gimana kondisimu sekarang? Apa yang sakit? Bagian mana yang kram?” tanya Pak Beni beruntun tanpa jeda dengan suara baritonnya. Dari suaranya terdengar jelas bagaimana paniknya pria tua itu.Aluna tertawa pelan dan tipis yang ia paksakan untuk menyembunyikan rasa lelahnya yang luar biasa setelah mendengar suara kepanikan sang ayah. Ia melangkah lunglai menuju sofa ruang tengah, mendudukkan diri sembari menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi yang empuk. Mbak Sri yang berdiri tidak jauh darinya hanya menatap iba, lalu pamit ke belakang untuk membuatkan Aluna teh hangat.“Sabar, Yah. Ta
“Halo…”“Al, kamu lagi di mana?” tanya pria di seberang telepon itu dengan nada suara yang lembut, namun tetap terdengar tegas.“Emm…”Aluna menggantung kalimatnya. Ia perlahan mengangkat pandangannya ke atas, menatap ke arah Mbak Sri yang berdiri di samping ranjang IGD dan tengah menatapnya dengan raut wajah penuh kecemasan. Menyadari bahwa majikan mudanya itu membutuhkan ruang privasi untuk berbicara sendiri, Mbak Sri mengangguk paham. Wanita paruh baya itu melangkah pelan keluar dari balik tirai bilik perawatan dan meninggalkan Aluna.“Al…” panggil Dirga lagi setelah beberapa detik hanya mendapati keheningan di seberang sana.“Eh, aku… aku lagi di rumah, Kak,” jawab Aluna sedikit terbata-bata. Ia meremas ujung selimut rumah sakit yang menutupi kakinya, mencoba menutupi kegugupan yang mendadak menyerang pertahanannya.Hening seketika melanda di ujung telepon sana. Keadaan itu entah bagaimana langsung membuat Aluna merasa ketar-ketir. Jantungnya berdegup tidak beraturan, takut jika D
“Mas… Mas bisa tidak, kamu sekarang datang ke rumah sakit untuk menemaniku di sini?”Hening beberapa saat diujung telepon sana membuat Aluna tersenyum tipis. Bahkan sebelum suaminya itu sempat menjawab, Aluna sudah tahu jawabannya.“Nggak usah, Mas. Kalau memang Mas Ragil nggak bisa, nggak apa-apa. Aku sendiri aja disini,” katanya dengan nada bicara yang tenang.“Maaf, Lun,” ucap Ragil yang terdengar tidak merasa bersalah sama sekali.“Hm. Aku matiin dulu, Mas. Dokternya sudah datang.” Tanpa menunggu jawaban, Aluna segera memutuskan panggilan itu.Rasa sakit yang sebelumnya terasa begitu menyakitkan di bagian perutnya, kini telah hilang berganti dengan rasa sakit di dadanya. Entah karena Anggun atau Ragil sendiri yang memang tidak mau datang, Aluna tidak mau memikirkannya lagi.“Sekarang aku sudah sangat yakin, Mas untuk meninggalkanmu walaupun kamu tidak punya hubungan gelap sekalipun dengan Anggun,” gumamnya.Bagaimana tidak, Aluna sudah berkorban sebesar ini untuk hubungan keduanya
“Kamu ngapain masih tiduran saja? Biasanya juga kamu sudah kelayapan pagi-pagi. Entah keliling kompleks atau sibuk di taman baru kamu itu.”Suara bariton Ragil memecah keheningan kamar mereka yang masih remang. Aluna yang meringkuk di balik selimut tebalnya hanya memejamkan mata erat-erat. Rasa pening menjalar di kepalanya tiba-tiba pagi itu.“Lagi tidak enak badan saja, Mas,” jawab Aluna lirih dengan suara serak di balik kain katun tebal itu.“Kenapa? Ngapain kamu kemarin seharian? Jalan-jalan lagi?” tanya Ragil lagi dengan nada menuduh.Tangannya bergerak sibuk memakai dan merapikan simpul dasinya di depan cermin meja rias. Pria itu tidak menoleh sedikitpun, seakan tidak mempedulikan istrinya.“Aku nggak ngapa-ngapain, Mas. Aku cuma di rumah saja seharian kemarin,” jawab wanita itu jujur sebab memang sudah dua hari ini dirinya menghabiskan hari hanya dengan di rumah saja.“Kalau kamu nggak ngapa-ngapain, nggak mungkin kamu kelelahan seperti ini,” ujar Ragil lagi, nadanya terdengar s
“Aku ikut ke kantor ya, Yah,” pinta Aluna sambil menatap sang ayah dengan mata berbinar penuh harap.Pak Beni mengalihkan pandangannya yang semula ke arah halaman rumah kini menatap ke arah Aluna. Dahi pria itu berkerut tipis menatap putri tunggalnya.“Mau ngapain kamu ke kantor? Hari ini Ayah sama
Aluna masuk ke dalam rumah sambil menenteng kantong makanan yang diambilnya dari depan. Ia duduk di ruang tengah dan langsung membuka bungkusan itu.Kali ini Dirga mengirimkan sop iga lengkap dengan jus alpukat. Dan seperti biasa, beberapa menit kemudian pesan dari Dirga masuk.‘Dipaksa habisin min
Motor Dirga akhirnya berhenti tepat di depan rumah Pak Beni menjelang sore. Matahari mulai turun, meninggalkan langit jingga yang samar di atas pepohonan halaman rumah.“Sudah sampai, Nyonya Bumil,” ujar Dirga bercanda kecil sambil mematikan mesin motornya.Aluna tersenyum tipis lalu perlahan turun
Pusat perbelanjaan itu cukup ramai di siang hari. Aluna dan Ririn berjalan santai menyusuri deretan toko di lantai dua sambil sesekali berhenti melihat barang-barang yang menarik perhatian mereka.“Aku heran deh,” gumam Ririn sambil melirik beberapa kantong belanja di tangan Aluna. “Baru hamil dua







