LOGINMalam ini merupakan malam perayaan perusahaan keluarga Aluna. Dirinya terlihat sangat cantik dan elegan dengan gaunnya yang berwarna hitam.
Sambil berpegangan dengan lengan Ragil, mereka memasuki ballroom hotel yang menjadi tempat diselenggarakannya ulang tahun perusahaan. Sebelum duduk di kursi yang telah disediakan, Ragil mengajak Aluna untuk menemui beberapa rekan dan juga klien yang diundang dalam perhelatan itu. Semua orang yang ditemui tak henti memuji kecantikan istri Ragil. Hal itu tentu saja membuat Ragil, yang selalu haus akan pujian, merasa semakin bangga. Rasa percaya dirinya pun kian meningkat. MC acara mulai mengumumkan bahwa acara akan segera dimulai. Para tamu undangan pun dipersilakan untuk menempati kursi yang telah ditentukan. Ragil kemudian menggandeng Aluna menuju meja paling depan, tepat di dekat panggung. Tak lama, acara resmi dibuka oleh MC kondang tersebut. Nama Ragil pun disebut untuk maju ke depan dan memberikan kata sambutan. Selain sebagai Direktur, Ragil juga diminta mewakili Komisaris Utama, Pak Beni yang juga merupakan ayah mertuanya karena berhalangan hadir akibat harus memenuhi undangan dari sahabatnya di luar kota. Dengan langkah penuh percaya diri, Ragil naik ke atas panggung. Ia merapikan jasnya sejenak sebelum berdiri di depan mikrofon, menyapu seluruh ruangan dengan tatapan bangga. “Selamat malam, Bapak-Ibu dan para tamu undangan yang saya hormati,” ucapnya dengan suara tegas dan berwibawa. “Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kehadiran Anda semua dalam acara malam ini. Merupakan suatu kehormatan bagi kami dapat berkumpul bersama dalam momen yang penuh makna ini.” Ragil berhenti sejenak, memberi jeda, lalu melanjutkan dengan senyum tipis. “Atas nama manajemen, saya juga ingin menyampaikan permohonan maaf dari Komisaris Utama kami, Bapak Beni, yang pada malam ini tidak dapat hadir karena ada keperluan penting di luar kota. Namun, beliau menitipkan salam hangat dan harapan agar acara ini dapat berjalan dengan lancar.” Ia kemudian menatap para tamu dengan penuh keyakinan. “Acara ini bukan hanya sekadar pertemuan formal, tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan, memperkuat kerja sama, serta membuka peluang-peluang baru di masa yang akan datang.” “Harapan saya, semoga ke depan kita dapat terus tumbuh bersama, menghadapi tantangan dengan optimisme, dan meraih kesuksesan yang lebih besar.” Ragil kembali tersenyum, dan kali ini lebih lebar. “Akhir kata, saya ucapkan selamat menikmati rangkaian acara yang telah kami siapkan. Terima kasih atas perhatian Anda semua. Selamat malam.” Tepuk tangan pun menggema di seluruh ruangan saat Ragil menutup sambutannya, menandai dimulainya acara malam itu. Acara demi acara berlanjut. Aluna yang memang kurang menyukai acara formal dan ramai seperti ini sudah merasa gelisah dan tidak nyaman. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah kanan tepat dimana Ragil duduk. “Acaranya masih lama?” bisiknya. “Tentu masih. Acara baru saja dimulai,” jawab Ragil yang ikut berbisik. “Ada apa?” tanya pria itu lagi. “Nggak. Aku hanya bosan,” jawab Aluna pelan. Ia kemudian menegakkan tubuhnya kembali seperti semula. Ragil mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada seorang pramusaji yang sedang memegang baki berisikan minuman. Saat pramusaji itu sudah di dekatnya, Ragil mengambil sebuah gelas dari atas baki. “Ini minum.” Gelas itu ia berikan kepada istrinya. Tanpa rasa curiga Aluna langsung meneguk minuman itu dengan maksud untuk menghilangkan kegelisahannya. “Habisin aja,” ucap Ragil. Dahi Aluna mengernyit mendengar ucapan Ragil. Namun lagi-lagi, karena dirinya yang tidak menaruh curiga pun menghabiskan minuman itu. Ragil tersenyum saat melihat gelas kosong milik istrinya yang terletak di atas meja. Ia juga mengelus pelan pipi Aluna sambil menyunggingkan senyum tipis. “Kalau kamu istirahat, nggak apa-apa,” kata Ragil selanjutnya yang semakin membuat Aluna bingung. Tidak biasanya Ragil mengizinkan Aluna untuk pergi di tengah-tengah acara. “Kamu yakin, Mas?” tanya Aluna meyakinkan kembali pendengarannya. “Tentu saja. Aku kasihan sama kamu yang nggak betah di tempat ramai seperti ini,” jawab Ragil. Aluna memang sering merasakan ketidaknyamanan saat berada di dekat banyak orang, dan dulu saat mereka masih berpacaran, Ragil sangat memakluminya. Namun semua mulai berubah saat Ragil diangkat menjadi Direktur oleh Papanya. Ia mulai dituntut untuk selalu hadir mendampingi Ragil disaat acara resmi seperti saat ini. Dan malam ini untuk pertama kalinya Ragil mengizinkannya meninggalkan acara yang masih berlangsung. “Aku minta tolong Anggun untuk mengantarkan kamu ke kamar, ya. Aku nggak bisa soalnya ninggalin acara,” ujar Ragil penuh perhatian. Aluna mengangguk sambil memberikan senyum manis yang sudah beberapa hari ini hilang dari bibirnya akibat pertengkaran terakhir dengan Ragil. “Terima kasih, Mas,” ucapnya tulus. “Sama-sama, Sayang.” Ragil kemudian mengeluarkan ponselnya, menghubungi sekretarisnya yang bernama Anggun untuk mengantarkan Aluna ke kamar hotel yang memang sudah di pesan Ragil untuk tempat mereka menginap malam itu. Tak lama wanita cantik dan seksi yang mengenakan gaun berwarna merah datang menghampiri keduanya. “Tolong antarkan istri saya ke kamar yang sudah saya pesan,” perintahnya. “Baik, Pak,” jawab Anggun. “Mari, Bu saya antar.” “Mas, aku pergi dulu,” pamit Aluna pada Ragil. “Hmm. Selamat beristirahat, Sayang.” Ragil mengelus pelan lengan istrinya yang terbuka sebelum akhirnya Aluna pergi bersama dengan Anggun. Senyum terlukis di bibirnya saat keduanya mulai menjauh hingga hilang dari pandangannya. Aluna akhirnya lega saat dirinya sudah keluar dari ballroom hotel. Mereka berdua langsung berjalan menuju lift dan kebetulan langsung terbuka saat Anggun memencet tombolnya. “Maaf aku merepotkanmu, Nggun,” ujar Aluna tulus menatap ke arah sekretaris suaminya yang tampak berbeda malam itu. “Tidak apa, Bu. Ini juga menjadi tugas saya,” jawab wanita itu diplomatis. Aluna kemudian tersenyum dan mengangguk tipis pada Anggun. Wanita itu sudah setahun terakhir menjadi sekretaris Ragil. Aluna sendiri tidak terlalu dekat dengannya. Namun yang pasti, malam ini Anggun tampak berbeda dari biasanya saat Aluna melihatnya di kantor. Malam ini, wanita itu bergaya terbuka dan… berani. Entah kenapa Aluna merasa jika lift tersebut berjalan sangat lama. Tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya yang membuatnya langsung bersandar di dinding. “Ibu kenapa?” Anggun langsung menghampiri Aluna dan memegang pundak istri atasannya itu. “Tidak apa. Aku hanya sedikit merasa pusing saja,” jawabnya. Ting. Pintu lift terbuka. Dengan dibantu oleh Anggun, Aluna keluar dari dalam lift dan berjalan menuju kamar yang telah dipesan oleh Ragil. Sebuah kamar tipe president suite telah di buka oleh Anggun menggunakan kartu akses yang dipegangnya. “Ini kuncinya, Bu. Saya pamit turun ke bawah lagi,” ucap Anggun saat mereka telah berada di dalam kamar. “Iya, terima kasih. Aku mau langsung tidur,” jawab Aluna. Mendengar ucapan Aluna, Anggun langsung undur diri. Ia tutup rapat pintu besar itu agar Aluna bisa segera beristirahat. Aluna yang merasakan sakit kepala dan rasa kantuk yang datang secara tiba-tiba memilih untuk langsung tidur tanpa membersihkan riasan wajahnya. “Nggak apa-apa kalau cuma sekali doang,” gumamnya. Dengan langkah yang pelan, Aluna berjalan menuju ranjang. Ia yang sudah tidak memiliki tenaga bahkan hanya untuk berganti pakaian memilih untuk menanggalkan gaun nya dan tidur dengan hanya menggunakan pakaian dalam saja. Segera ia masuk ke dalam selimut tebal itu, mengistirahatkan tubuhnya yang semakin merasa ingin segera terlelap. Tak butuh waktu lama akhirnya Aluna mulai terlelap. Tanpa ia sadari, malam itu sebuah petaka akan segera menghampirinya.“Dirga menemani kamu pergi ke rumah sakit, membelikanmu roti, dan mengirimkan makanan-makanan itu ke rumah setiap hari… itu semua karena aku yang membayarnya!”Aluna menggeleng keras, melangkah mundur satu langkah demi menolak mempercayai ucapan sang suami yang melesat bagai anak panah beracun. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa ngilu yang merambat ke seluruh tubuh.“Nggak. Nggak mungkin. Kamu pasti bohong, Mas. Kamu sengaja mengarang cerita ini hanya untuk membuatku membencinya, kan?” Suara Aluna mulai melemah, bergetar hebat menahan badai kehancuran yang siap meluluhlantakkan fondasi kewarasannya.Ragil kembali tertawa sinis dan hambar yang terdengar begitu memuakkan di dalam kesunyian kamar tidur mereka. Ia berdecak pelan, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Aluna dengan binar kepuasan yang tampak keji.“Kamu tahu, kan, kalau Budenya Dirga sakit keras dan harus segera dioperasi? Kalau dia pakai asuransi pemerintah, dia harus antri dulu. Kal
Brak…!Aluna menoleh pelan ke arah pintu kamar yang baru saja dibuka paksa dengan kasar. Sejujurnya ia sudah tahu siapa pelakunya sejak awal. Tidak mungkin ada satu pun asisten rumah tangga di kediaman ini yang memiliki keberanian untuk mendobrak pintu dan membantingnya sekuat itu, kecuali pria yang statusnya masih menjadi suaminya.Ragil melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam kamar. Napasnya memburu kasar, menggambarkan amarah yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Pria itu langsung berdiri tegak menjulang di samping Aluna yang saat ini tengah duduk santai memainkan ponselnya di atas sofa sudut.“Kamu ngadu apa saja ke Ayah?!” cecar Ragil dengan suaranya yang menggelegar.“Ngadu apa emangnya, Mas? Perasaan aku nggak mengadu apa-apa deh,” jawab Aluna dengan nada yang begitu santai. Arah pandangannya sama sekali tidak beralih dari layar ponsel.“Kamu bilang nggak ngadu apa-apa?!” Ragil mendengus jengkel dengan matanya menyipit berbahaya.“Terus kenapa barusan Ayah menelepon aku sambil
Baru saja kaki Aluna memijak lantai marmer ruang tengah rumahnya, ponsel yang sejak tadi terus berada dalam genggaman eratnya bergetar panjang. Nama ‘Ayah’ terpampang jelas di layar kaca.Aluna menarik napas pelan, mencoba menetralkan sisa-sisa sesak di dadanya sebelum menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.“Halo, Yah…”“Nak, Ayah dengar dari orang rumah katanya kamu di rumah sakit?! Gimana kondisimu sekarang? Apa yang sakit? Bagian mana yang kram?” tanya Pak Beni beruntun tanpa jeda dengan suara baritonnya. Dari suaranya terdengar jelas bagaimana paniknya pria tua itu.Aluna tertawa pelan dan tipis yang ia paksakan untuk menyembunyikan rasa lelahnya yang luar biasa setelah mendengar suara kepanikan sang ayah. Ia melangkah lunglai menuju sofa ruang tengah, mendudukkan diri sembari menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi yang empuk. Mbak Sri yang berdiri tidak jauh darinya hanya menatap iba, lalu pamit ke belakang untuk membuatkan Aluna teh hangat.“Sabar, Yah. Ta
“Halo…”“Al, kamu lagi di mana?” tanya pria di seberang telepon itu dengan nada suara yang lembut, namun tetap terdengar tegas.“Emm…”Aluna menggantung kalimatnya. Ia perlahan mengangkat pandangannya ke atas, menatap ke arah Mbak Sri yang berdiri di samping ranjang IGD dan tengah menatapnya dengan raut wajah penuh kecemasan. Menyadari bahwa majikan mudanya itu membutuhkan ruang privasi untuk berbicara sendiri, Mbak Sri mengangguk paham. Wanita paruh baya itu melangkah pelan keluar dari balik tirai bilik perawatan dan meninggalkan Aluna.“Al…” panggil Dirga lagi setelah beberapa detik hanya mendapati keheningan di seberang sana.“Eh, aku… aku lagi di rumah, Kak,” jawab Aluna sedikit terbata-bata. Ia meremas ujung selimut rumah sakit yang menutupi kakinya, mencoba menutupi kegugupan yang mendadak menyerang pertahanannya.Hening seketika melanda di ujung telepon sana. Keadaan itu entah bagaimana langsung membuat Aluna merasa ketar-ketir. Jantungnya berdegup tidak beraturan, takut jika D
“Mas… Mas bisa tidak, kamu sekarang datang ke rumah sakit untuk menemaniku di sini?”Hening beberapa saat diujung telepon sana membuat Aluna tersenyum tipis. Bahkan sebelum suaminya itu sempat menjawab, Aluna sudah tahu jawabannya.“Nggak usah, Mas. Kalau memang Mas Ragil nggak bisa, nggak apa-apa. Aku sendiri aja disini,” katanya dengan nada bicara yang tenang.“Maaf, Lun,” ucap Ragil yang terdengar tidak merasa bersalah sama sekali.“Hm. Aku matiin dulu, Mas. Dokternya sudah datang.” Tanpa menunggu jawaban, Aluna segera memutuskan panggilan itu.Rasa sakit yang sebelumnya terasa begitu menyakitkan di bagian perutnya, kini telah hilang berganti dengan rasa sakit di dadanya. Entah karena Anggun atau Ragil sendiri yang memang tidak mau datang, Aluna tidak mau memikirkannya lagi.“Sekarang aku sudah sangat yakin, Mas untuk meninggalkanmu walaupun kamu tidak punya hubungan gelap sekalipun dengan Anggun,” gumamnya.Bagaimana tidak, Aluna sudah berkorban sebesar ini untuk hubungan keduanya
“Kamu ngapain masih tiduran saja? Biasanya juga kamu sudah kelayapan pagi-pagi. Entah keliling kompleks atau sibuk di taman baru kamu itu.”Suara bariton Ragil memecah keheningan kamar mereka yang masih remang. Aluna yang meringkuk di balik selimut tebalnya hanya memejamkan mata erat-erat. Rasa pening menjalar di kepalanya tiba-tiba pagi itu.“Lagi tidak enak badan saja, Mas,” jawab Aluna lirih dengan suara serak di balik kain katun tebal itu.“Kenapa? Ngapain kamu kemarin seharian? Jalan-jalan lagi?” tanya Ragil lagi dengan nada menuduh.Tangannya bergerak sibuk memakai dan merapikan simpul dasinya di depan cermin meja rias. Pria itu tidak menoleh sedikitpun, seakan tidak mempedulikan istrinya.“Aku nggak ngapa-ngapain, Mas. Aku cuma di rumah saja seharian kemarin,” jawab wanita itu jujur sebab memang sudah dua hari ini dirinya menghabiskan hari hanya dengan di rumah saja.“Kalau kamu nggak ngapa-ngapain, nggak mungkin kamu kelelahan seperti ini,” ujar Ragil lagi, nadanya terdengar s
“Aku ikut ke kantor ya, Yah,” pinta Aluna sambil menatap sang ayah dengan mata berbinar penuh harap.Pak Beni mengalihkan pandangannya yang semula ke arah halaman rumah kini menatap ke arah Aluna. Dahi pria itu berkerut tipis menatap putri tunggalnya.“Mau ngapain kamu ke kantor? Hari ini Ayah sama
Aluna masuk ke dalam rumah sambil menenteng kantong makanan yang diambilnya dari depan. Ia duduk di ruang tengah dan langsung membuka bungkusan itu.Kali ini Dirga mengirimkan sop iga lengkap dengan jus alpukat. Dan seperti biasa, beberapa menit kemudian pesan dari Dirga masuk.‘Dipaksa habisin min
Motor Dirga akhirnya berhenti tepat di depan rumah Pak Beni menjelang sore. Matahari mulai turun, meninggalkan langit jingga yang samar di atas pepohonan halaman rumah.“Sudah sampai, Nyonya Bumil,” ujar Dirga bercanda kecil sambil mematikan mesin motornya.Aluna tersenyum tipis lalu perlahan turun
Pusat perbelanjaan itu cukup ramai di siang hari. Aluna dan Ririn berjalan santai menyusuri deretan toko di lantai dua sambil sesekali berhenti melihat barang-barang yang menarik perhatian mereka.“Aku heran deh,” gumam Ririn sambil melirik beberapa kantong belanja di tangan Aluna. “Baru hamil dua







