INICIAR SESIÓNPernikahan Sabrina dengan Sandi seharusnya menjadi awal bahagia. Tapi satu rahasia kelam sebelum pernikahan—mengubah segalanya. Saat Sandi mengetahui Sabrina tak lagi suci, cintanya berubah menjadi hinaan, dan poligami jadi pelariannya. Sabrina bertahan saat dicampakkan, bahkan ketika ia hamil. Namun pengkhianatan demi pengkhianatan dari Sandi akhirnya menggiring Sabrina pada keputusan besar: pergi. Di saat semua menjauh, seseorang menawarkan harapan… dan cinta.
Ver más"Aku yakin, Mas Rudi akan bermain seperti di film-film dewasa. Penuh gairah, dan semangat. Sehingga aku bisa segera berbadan dua," ucap Amanda sembari merias bibir mungil di depan cermin.
Langkah kaki Rudi semakin jelas terdengar memasuki kamar tidur. Dengan senyum sumringah, Amanda semakin centil di depan cermin. Memastikan dirinya sudah tampil sempurna. Ditambah pakaian dinas yang minim. Rasanya Rudi tidak akan pernah menolak untuk menggagahi Amanda. Bukan masuk, Rudi justru mengetuk pintu terlebih dahulu. Terdengar tiga kali ketukan, itu cukup membuat Amanda semakin tidak sabar untuk segera menjamu Rudi. Ingin terlihat seperti kejutan, Amanda berlari kecil ke depan pintu. Ia sudah siap untuk memeluk tubuh Rudi. Saat pintu kamar dibuka oleh Rudi. Dalam hitungan tiga, dua dan satu. Pintu kamar dibuka. Namun bukan Rudi yang masuk ke dalam kamar. Justru Alex yang datang ke kamar. Amanda yang sudah kadung memeluk Alex. Terlihat gugup saat hendak melepaskan pelukannya. Ia menggaruk kepalanya dengan wajah malu-malu. Apalagi, tanpa sengaja Amanda memegang rudal keras milik Alex. Itu jadi momen yang cukup canggung dirasakan oleh Amanda. "Maafkan aku Alex. Aku pikir tadi Mas Rudi," ucap Amanda dengan wajah malu. "Tidak apa-apa Mbak. Saya juga tadi sedikit terkejut," balas Alex. Amanda mencoba mencairkan suasana. Bersikap biasa saja, demi menghindari hal yang tidak diinginkan. "Oh, kamu mau apa Lex ke kamar Mbak?" tanya Amanda dengan santai. "Saya tadi disuruh Mas Rudi ambil kunci motor. Katanya ada di atas laci dekat kasur. Mas Rudi bilang suruh masuk saja. Makanya saya langsung masuk," jawab Alex sembari menunduk, menghindari dua gunung milik Amanda didepannya. Amanda berinisiatif mengambil kunci milik Rudi diatas. Sementara Alex menunggu di luar kamar. Sama seperti Amanda, Alex juga merasa begitu canggung saat Amanda tanpa sengaja memegang rudal miliknya. Untung Alex bisa mengontrol rudalnya. Sehingga tidak berdiri dengan remasan dari kakak iparnya sendiri. Amanda merasa kurang nyaman dengan pakaiannya. Sehingga ia kembali menemui Alex dengan pakaian yang lebih sopan. Ia menutup dua gunungnya dengan kain. Sehingga Alex tidak bisa dengan bebas menikmati pemandangan nikmat tersebut. "Nanti kamu bilang ke mas Rudi untuk datang ke kamar yah. Mbak mau bicara dengannya. Tolong sampaikan," pinta Amanda. Alex akhirnya bisa meluruskan lehernya. Amanda sudah menutup bagian terbaik di tubuhnya. Hingga Alex tidak akan gagal fokus kembali. Alex menerima kuncinya itu dengan tatapan tajam. Tanpa ada rasa canggung. Amanda tidak ingin melewatkan malam ini dengan kesepian. Rudi dan Alex dua manusia pencinta otomotif. Mungkin saja Rudi dan Alex akan menghabiskan waktu sampai pagi. Kenikmatan yang diharapkan oleh Amanda terancam sirna begitu saja. Sehingga Amanda pun meminta Rudi untuk melayaninya terlebih dahulu sebelum kembali bersama Alex melakukan modifikasi motor mereka. Tidak lama, Rudi yang sudah ditunggu oleh Amanda masuk ke dalam kamar. Amanda dengan penuh gairah, langsung melepaskan semua pakaiannya. Menari sejenak, sebelum langsung mencium manis bibir Rudi. Tidak mampu menolak, Rudi akhirnya larut dalam permainan dari Amanda. Ia pun melakukan aktivitas biologi bersama istri, sebelum kembali melakukan modifikasi pada motor. Rudi tampak bergairah dengan permainan dari Amanda. Tidak sampai dua puluh menit, permainan itu usai. Amanda mencoba kembali merayu Rudi. Berharap ia akan memberikan pelayanan yang lebih prima. Tetapi stamina Rudi sudah habis. Ia sudah tidak mampu melayani keinginan dari Amanda. "Aku rasa cukup. Ini sudah lebih dari cukup," ucap Rudi mendorong tubuh Amanda. Dengan wajah cemberut, Amanda menjawab. "Bagaimana kita bisa punya anak. Kalau kamu sendiri tidak bisa melakukan lebih baik. Aku melakukan semua ini untuk tujuan kita. Tujuan kita punya anak." Rudi menatap wajah Amanda dengan tatapan kecewa. Dia tidak menyangka Amanda akan berkata demikian pada dirinya. "Apa yang kamu bilang barusan?" Amanda tidak menjawab. Ia menutup telinganya dengan bantal. "Katakan lagi Amanda!" Rudi mendesak dengan suara tinggi. "Kamu lupa komitmen kita. Di mana kita akan selalu menguatkan satu sama lain. Tidak akan saling menyalahkan siapapun. Bukankah itu yang sudah kita sepakati. Bagaimana dengan janji kamu?" ucap Rudi dengan suara bergetar. Amanda yang merasa ucapannya menyakiti hati Rudi. Mulai menangis. Ia tidak menyangka Rudi akan kecewa dengan perkataannya. Tidak ada ucapan apapun dari Rudi. Ia pergi dari kamar, meninggalkan Amanda dengan perasaan bersalah diatas ranjang. Berharap Rudi akan memaafkan dirinya. Tetapi harapan lain juga terus dilambungkan oleh Amanda, di mana ia berharap Rudi akan perkasa seperti pria lainnya. Memuaskan dia sebaik mungkin.Tanpa sadar sandi berjalan kearah jembatan, tatapannya kosong...ingatan terakhirnya adalah saat dia melamar sabrinaWaktu itu Sabrina berdiri dan tersenyum. "Kak Sandi? Tumben datang ke sini." Sandi melirik ke arah dalam rumah, memastikan suasana sepi. "Aku ingin bicara serius denganmu. Boleh?" Sabrina mengangguk, sedikit penasaran. Mereka pun duduk di bangku teras. Sandi terlihat tenang, tetapi ada ketegangan samar di sorot matanya. "Aku sudah bekerja selama beberapa tahun dan posisiku di kantor semakin baik. Aku punya rumah sendiri, tabungan cukup, dan hidup yang stabil," katanya, seolah membaca daftar pencapaian. Sabrina mengangguk, masih belum menangkap maksudnya. "Aku ingin menikah," lanjut Sandi, tatapannya menusuk langsung ke mata Sabrina. Sabrina mengerjap. "Oh. Selamat ya, Kak." Sandi tersenyum kecil. "Maksudku... aku ingin menikah denganmu, Sabrina." Jantung Sabrina berdetak lebih cepat. "Apa?" Sandi menyesap napas sebelum melanjutkan, suaranya semakin ma
Sandi terduduk di kursi tua ruang tamu. Bu Rina menatapnya dengan prihatin dari dapur.“Kamu masih belum bisa merelakan, ya?” suara ibunya lembut, tapi langsung menusuk ke dalam hatinya.Sandi tidak menjawab. Ia hanya mengusap wajahnya yang terasa panas.“Dulu kamu memilih Karina, memilih Nadine, San. Sekarang kamu harus menerima kenyataan bahwa Sabrina juga sudah memilih jalannya sendiri.”Sandi menghela napas panjang. “Aku nggak menyalahkan siapa-siapa, Ma… Aku cuma… aku nggak pernah berpikir semuanya akan berakhir begini.”Bu Rina duduk di sampingnya. “Hidup nggak bisa ditebak. Tapi satu hal yang pasti, kalau kamu terus melihat ke belakang, kamu nggak akan pernah maju. Andro memang keterlaluan tapi dia juga anak ibu, ”Sandi diam. Kata-kata ibunya benar, tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang?Dunia sudah berubah. Semua orang sudah bergerak maju.Hanya ia yang masih tertinggal di tempat yang sama.-Malam itu, Sandi tidak bisa tidur. Ia bolak-balik di atas kasurnya, pikirannya dipen
Sandi melemparkan tubuhnya ke atas kasur tua, menatap langit-langit kamar yang penuh dengan noda lembab. Hari ini sama seperti kemarin—panas, melelahkan, dan penuh dengan rasa kecewa. Ia sudah mencoba berbagai cara untuk bangkit, tapi dunia seolah tak lagi menginginkannya. Tiba-tiba, suara dari televisi di ruang tamu menarik perhatiannya. Suara riuh penggemar, teriakan histeris, dan dentuman musik memenuhi rumah kecil itu. Sandi bangkit perlahan, berjalan menuju ruang tamu dengan rasa penasaran. Di layar, sebuah konser besar sedang disiarkan secara langsung. Lampu sorot berkedip, dan di tengah panggung, seorang pria muda berdiri dengan penuh percaya diri. Seorang pria yang sangat ia kenal. Andro. Adiknya yang dulu selalu tertinggal di sekolah. Yang dulu sering dihina karena tidak secerdas Sandi. Yang dulu selalu berlindung di balik bayangannya. Kini, Andro berdiri di atas panggung megah, dikelilingi oleh ribuan penggemar yang meneriakkan namanya. Dengan jaket kulit, rambut
Langit sore memancarkan warna jingga yang suram ketika Sandi melangkahkan kakinya ke halaman rumah orang tuanya. Sudah bertahun-tahun ia tidak menginjakkan kaki di sini, dan kini, pulang dalam keadaan seperti ini terasa seperti kekalahan. Dulu, ia adalah kebanggaan keluarga. Si jenius yang selalu menjadi nomor satu di sekolah, yang membangun bisnisnya sendiri dari nol dan pernah masuk dalam jajaran pengusaha muda paling berpengaruh. Sekarang? Ia hanya seorang mantan narapidana yang bahkan tidak bisa mencari pekerjaan. Sandi mengetuk pintu dengan ragu. Tak lama, pintu terbuka, menampilkan wajah ibunya—Bu Rina. Mata perempuan itu membesar, seolah tak percaya dengan sosok yang berdiri di hadapannya. "Sandi..." suaranya bergetar. Sandi menunduk, merasa terlalu malu untuk menatap ibunya. "Ma... Boleh aku tinggal di sini sebentar?" Bu Rina menutup mulutnya dengan tangan, matanya mulai berkaca-kaca. "Ya Allah, anakku..." Tanpa banyak tanya, ia langsung menarik Sandi ke dalam pelukan
Di sebuah sore yang mendung, Sandi duduk termenung di beranda rumah megahnya. Di tangannya, secarik surat tagihan dan laporan keuangan yang menunjukkan betapa beratnya beban keuangan yang harus ia pikul. Nafkah 2 bayi kembar dengan ibu matrenya yang bahkan kalau sandi bertemu, dia harus merogoh uan
Di sebuah sore yang hangat, di ruang tamu bergaya kontemporer dengan sentuhan minimalis, Nadine duduk di kursi empuk sambil menatap keluar jendela lebar. Cahaya matahari senja menyinari wajahnya yang anggun dan penuh tekad. Di hadapannya, Sandi, dengan raut wajah yang masih tersisa sisa kehangatan,
Kembali ke masa kini,sandi merasa dejavu.. "Nadine…" Sandi berjalan mendekat, matanya menelusuri tubuh istrinya yang baru selesai menyusui. Piyama yang dikenakan Nadine sedikit longgar, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang semakin matang setelah melahirkan. Nadine tersenyum kecil, menyadari tatap
Di suatu malam yang dingin, ketika hujan turun dengan derasnya dan angin menerpa celah-celah jendela rumah megah itu, Karina duduk terkulai di kamar kecilnya yang remang. Di dinding yang kusam, terpampang bayangan masa lalu yang tak pernah bisa ia hapus. Dalam keheningan itu, ingatan tentang masa l






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas