Masuk"Malam ini Pak Bos nggak bisa lagi jual mahal pada saya, karena malam ini Pak Bos akan menjadi milik saya seutuhnya!" Demi ambisi besar untuk mengubah nasib dan keluar dari jerat kemiskinan, Mawar tak punya pilihan selain menuruti rencana nekat sang Mama. Dia harus menyamar menjadi pembantu di rumah seorang pria, supaya bisa menjebaknya untuk tidur bersama. Tampan, berkarisma, dan tajir melintir—Robert adalah target sempurna. Namun, di balik pesonanya, pria itu ternyata dingin, keras, dan sulit didekati. Misi yang awalnya terlihat mudah, perlahan berubah menjadi permainan berbahaya yang menguji batas perasaan, logika dan mental Mawar. Akankah Mawar berhasil menaklukkan sang bos dan meraih apa yang dia inginkan? Atau justru terjebak dalam permainan yang menghancurkan dirinya sendiri? Temukan jawabannya dalam kisah penuh intrik, hasrat, dan kejutan ini!
Lihat lebih banyak"Mawar ... apa yang kau lakukan? Apa kau ... kau ingin memperkosaku??"
Suara Robert meledak keras, bergema di kamar yang semula sunyi. Getaran kemarahan dan kepanikan menyertai setiap kata. Pasalnya, dia baru saja membuka mata, dan mendapati pemandangan yang diluar nalar. Tubuhnya tergeletak di atas kasur yang empuk, namun kedua tangan dan kaki terikat erat dengan tali tebal yang mengelilingi besi ranjang. Tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Dia benar-benar telanjang bulat. Udara dingin kamar seketika menyentuh kulitnya, membuat dia merinding tapi bukan karena dingin, melainkan karena ketakutan yang membanjiri dada. Di depannya, Mawar berdiri. Lingerie merah menyala yang dikenakannya tipis seperti sutra, menyoroti bentuk tubuhnya yang meliuk-liuk. Jari-jarinya yang halus meluncur ke gagang pintu, dan menguncinya. Cahaya lampu meja di sudut kamar memantul pada rambutnya yang hitam mengkilap, membuat wajahnya tampak samar dan penuh misteri. "Malam ini Pak Bos nggak bisa lagi jual mahal pada saya, karena malam ini Pak Bos akan menjadi milik saya seutuhnya!" Dengan gerakan yang penuh kepercayaan diri, Mawar melangkah mendekat, lalu naik ke atas ranjang. Robert menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin membasahi dahi dan lehernya, menetes perlahan ke atas kasur. Tubuhnya mulai berontak, namun tali itu terasa terlalu kuat, tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk lepas. Baru kali ini dalam hidupnya, dia merasakan ketakutan yang luar biasa, bahkan lebih dari saat menghadapi bahaya terbesar. Dan yang paling mengagetkannya, ketakutan itu datang dari Mawar—pembantu barunya sendiri. "Jangan gila kau, Mawar! Aku bisa membu*nuhmu!" ancam Robert dengan nada tinggi, matanya melotot penuh emosi. "Hahaha ...." Bukannya takut, Mawar justru tertawa. Dia menganggap kata-kata ancaman Robert terlalu lucu, seolah omong kosong yang tidak berarti. Perlahan-lahan, dia naik ke atas tubuh Robert. Jari-jarinya yang hangat mulai meraba-raba dada bidangnya, melintasi tulang rusuknya, lalu meluncur perlahan ke bawah ke perutnya yang kotak-kotak. Tubuh Robert seketika berdesir. Sentuhan lembut Mawar seolah menyala di kulitnya, membuat panas tiba-tiba menyebar ke seluruh tubuh. Dan tanpa dia sadari, miliknya pun ikut bereaksi—suatu hal yang membuat dia malu dan marah pada dirinya sendiri. "Waahhh... apa-apaan ini? Pak Bos sudah terangsang saja, padahal saya belum ngapa-ngapain." Mawar langsung menyentuh ujung milik Robert. Pria itu terkejut, matanya membulat, dan napasnya terhenti sejenak. "Mau pemanasan dulu apa langsung nih, Pak?" *** Sebelumnya.... "Kamu nggak usah masuk kerja hari ini, Mama akan mengajakmu pergi." Langkah kaki Mawar yang baru saja hendak melangkah keluar rumah seketika terhenti tepat di ambang pintu. Suara itu—suara Aulia, mamanya. Dia datang dari arah dapur. Mawar menoleh, dahinya langsung berkerut rapat. Rasa curiga dan kekhawatiran seketika menyelimuti hatinya, mengingat apa yang pernah terjadi dalam seminggu yang lalu. "Ke mana? Kalau Mama memintaku jual diri lagi, aku nggak mau!" tegasnya. Mawar tentu saja masih ingat. Seminggu yang lalu, karena desakan ekonomi yang terus menghimpit, Aulia sempat memintanya umtuk jual diri. Dengan nada yang penuh keputusasaan dia mengatakan bahwa gaji Mawar yang bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran dirasa tidak cukup. Uang yang didapatkannya seolah hanya lewat sebentar, belum cukup untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, membayar hutang, apalagi untuk membayar sewa rumah kontrakan yang sudah beberapa bulan tertunggak. Tekanan hidup yang terus membebani membuat mamanya sampai berpikir ke arah itu, meski saat itu juga Mawar sudah menolaknya dengan tegas. "Tenang saja, Sayang. Ini bukan soal jual diri." Melihat raut wajah anaknya yang tegang, Aulia segera melangkah mendekat. Senyumnya melebar, seolah berusaha meyakinkan, lalu tangannya terulur menyentuh lembut pundak kanan Mawar, berusaha menenangkan. "Tapi kamu harus melakukan misi. Kalau misimu berhasil... bukan cuma kamu yang akan jadi kaya, tapi Mama juga," lanjutnya dengan nada yang terdengar penuh harapan. Mata Mawar menyipit, rasa curiganya makin bertambah. "Mama mau melakukan pesugihan?" tebaknya dengan nada ragu, mengingat cerita-cerita yang pernah dia dengar tentang cara-cara instan yang berbahaya dan salah. "Ih bukan, Sayang!" Aulia segera menggeleng cepat, wajahnya terlihat sedikit terkejut mendengar dugaan itu. "Mana mungkin Mama lakukan hal yang tidak baik begitu." "Terus apa?" tanya Mawar, nadanya masih belum sepenuhnya percaya. Dia ingin mendengar penjelasan yang jelas, agar hatinya bisa sedikit tenang. "Pokoknya kamu ikut saja, nanti kamu tau sendiri. Tapi sebelum itu ... kamu ganti baju dulu dan dandan yang cantik. Jangan sampai orang yang mau ketemu sama kita kecewa." "Tapi Mama nggak aneh-aneh, kan? Pokoknya aku nggak mau kalau ...." Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Aulia sudah lebih dulu menyambar tangannya, lalu menariknya masuk kembali ke dalam kamar. Gerakannya cepat dan antusias, seolah sudah tidak sabar untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Wanita itu segera berjalan menuju lemari pakaian milik Mawar, lalu membukanya lebar-lebar. Tangannya bergerak menyusuri setiap helai baju yang tergantung di sana, memilih satu per satu seolah sedang mencari sesuatu yang layak dipakai. Namun setelah dicari-cari dengan teliti, ekspresinya perlahan berubah menjadi kecewa. Ternyata, tidak ada satu pun baju yang terlihat bagus atau layak untuk dipakai ke acara penting. Semuanya terlihat sudah usang, ada yang warnanya sudah pudar, ada yang bahannya sudah menipis, bahkan sebagian besar adalah pakaian bekas yang dulunya dipakai oleh Aulia sendiri. Sejak dulu Mawar memang tidak pernah membeli pakaian baru, karena uang yang dimilikinya selalu dipakai untuk kebutuhan yang lebih mendesak. "Astaga... bajumu ternyata gembel semua, Sayang. Nggak ada yang bagus," ujar Aulia sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aku 'kan nggak pernah beli baju, Ma." Aulia pun berjalan menuju meja rias sang anak. "Kalau begitu kita pergi ke salon saja, buat sewa baju dan sekalian make up di sana. Alat make up-mu juga nggak lengkap, hanya bedak bayi dan lipstik doang, mana cukup untuk membuatmu terlihat menawan." Mawar diam sejenak, lalu menatap mamanya dengan tatapan yang penuh tanya dan ragu. "Sebenarnya kita mau ke mana sih, Ma? Kenapa sampai harus pakai baju bagus dan make up segala?" "Kita akan bertemu orang penting." "Siapa?" "Udah ayok ikut saja!" Tanpa memberi kesempatan bagi Mawar untuk bertanya lebih lanjut, Aulia langsung menggenggam tangan anaknya erat-erat, lalu menariknya berjalan cepat keluar dari rumah kontrakan yang sempit itu. Tak lama kemudian, sebuah angkot lewat di depan mereka, dan Aulia segera mengangkat tangan memberi isyarat agar kendaraan itu berhenti. Begitu pintu terbuka, dia segera menuntun Mawar masuk ke dalamnya. "Memangnya Mama ada uang, buat bawa aku ke salon? Kita makan aja setiap hari cuma pakai mie instan, sekalinya makan ayam ya ayam tiren." Baginya, apa yang dikatakan mamanya saat ini terdengar seperti lelucon belaka—sesuatu yang mustahil terjadi, mengingat kondisi keuangan mereka yang serba kekurangan. "Ada kok, Sayang." "Uang dari mana, Ma?" tanyanya pelan, suaranya terdengar penuh kekhawatiran. "Mama jangan ngutang terus sama orang ah, hutang kita 'kan udah banyak banget. Malu jadi omongan tetangga terus, Ma." Aulia hanya tersenyum mendengar kekhawatiran anaknya, lalu menepuk tangan Mawar dengan lembut seolah sedang menenangkan anak kecil. "Nggak apa-apa. Ini 'kan buat modal, Sayang," jawabnya dengan nada yang penuh keyakinan. "Asalkan misimu berhasil ... bukan cuma hutang ini, semua hutang kita saja pasti lunas, bahkan lebih dari itu. Kita akan jadi orang kaya, hidup enak, nggak perlu lagi memikirkan uang makan atau sewa rumah." Mawar hanya terdiam. Dia sama sekali tak mengerti misi apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh mamanya, namun untuk saat ini dia memilih untuk tidak menolak lebih jauh. Ada rasa penasaran yang tumbuh di hatinya, membuatnya ingin melihat ke mana sebenarnya mamanya akan membawanya, dan apa yang sebenarnya akan terjadi selanjutnya. *** selamat datang yang baru singgah, jangan lupa tinggalkan jejak komen, kasih ulasan bintang 5 dan gem-nya, biar Author semangat update.... ☺️☺️"Astaghfirullah... mikir apa aku!!" Robert langsung mengusap kasar wajahnya berkali-kali seolah ingin menghapus bayangan itu dari kepalanya, menepis paksa segala pikiran yang sempat melintas liar. "Bisa-bisanya aku berpikir mesum tentang Mawar. Nggak masuk akal." "Pak Bos ...." Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang memanggil pelan dari luar kamar. Suara itu—lembut, sedikit berat, dan sangat dikenali oleh telinganya. "Mawar??" Jantung Robert seakan berhenti berdetak sesaat. Dia bergegas keluar kamar dengan langkah lebar, matanya liar mencari asal suara itu. Menoleh ke arah dapur, tapi tak ada siapapun di sana. "Mawar! Keluar kamu! Aku tau kamu ada di sini!" teriaknya lantang, suaranya memantul di dinding rumah yang sepi. Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Sekelebat bayangan masa lalu melintas cepat—saat dia mengurung Mawar di dalam sana, betapa pucat dan lemah wajah perempuan itu saat pintu terbuka. Robert tersentak hebat, bulu kuduknya me
"Enggak! Itu bukan Mawar! Mawar nggak mungkin seperti itu!" Mama Aulia langsung membantah keras, menolak percaya. Tubuhnya mundur selangkah seolah tak sanggup melihat gambar di layar. "Ini buktinya sudah jelas!" tegas Robert tak mau kalah, tangannya mengangkat ponsel lebih tinggi seolah menekankan kebenaran yang dia pegang. "Bisa saja kamu merekayasanya, kamu edit pakai AI." Mama Aulia masih tak goyah, tetap mantap menolak tuduhan itu. "Kamu jangan keterlaluan gitu, Rob. Ini nggak lucu!" Daddy Joe menegaskan, urat di lehernya menonjol, wajahnya merah padam menahan emosi melihat tuduhan yang dianggapnya terlalu berlebihan itu. "Sumpah demi Allah ini bukan editan, apalagi AI. Ini asli, Dad!" Robert menegaskan dengan sungguh-sungguh, kali ini dia benar-benar ingin seluruh keluarganya percaya padanya. "Kalau emang Daddy masih nggak percaya, Daddy bisa minta sekertaris Daddy buat cek, apa ini foto asli atau bukan." "Kirim fotonya sekarang ke Daddy." "Iya." Robert mengangguk cepat, jar
"Kalau Oma tau ya namanya dia nggak kabur dong, Rob. Kamu gimana sih."Oma Yeri mendengus kesal, bahunya terangkat tinggi menatap cucunya yang masih tampak linglung."Eh iya, maaf Oma. Maklum ... aku baru bangun tidur, jadi nggak konek." Robert mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan."Sekarang kamu turun ke bawah, samperin Daddymu. Daddymu lagi ngecek cctv hotel.""Iya." Robert mengangguk cepat, jantungnya berpacu makin kencang di dalam dada.Dia bergegas melangkah lebar menuju lift, menekan tombol panggil berulang kali dengan tangan yang sedikit gemetar hingga pintu terbuka. Begitu masuk, dia menatap pantulan dirinya di dinding kaca—wajah pucat dengan tatapan yang penuh kecemasan.Begitu sampai ke lantai dasar, suasana lobi terasa mencekam. Daddy Joe tampak sedang berdiri di dekat meja resepsionis, wajahnya serius sambil menatap layar monitor di tangan satpam.Penasaran sekaligus cemas, Robert langsung berlari menghampiri dengan langkah yang berat. "Dad, bagaimana? Mawar ke man
Dan kali ini usahanya tidak sia‑sia. Bunyi kunci diputar terdengar jelas, pintu pun terbuka perlahan—menampakkan sosok Mama Aulia yang berdiri di ambang pintu menatapnya."Mana si Mawar?" tanya Robert langsung tanpa basa‑basi, matanya menelisik tajam ke segala sudut ruangan di belakang wanita itu, berusaha mencari sosok istrinya."Udah tidur si Mawarnya, Rob.""Ih, kok tidur?" Robert berdecak kesal, bibirnya mengerucut tak terima. "Coba bangunkan, aku mau bicara sama dia soalnya.""Besok saja, Rob. Mama nggak tega banguninnya, dia kelihatan kecapean.""Tapi aku mau bicara sama dianya sekarang." Robert tampak tidak sabar, tubuhnya sedikit maju ke depan seolah hendak memaksa masuk begitu saja ke dalam kamar."Kenapa, Rob?"Tiba‑tiba suara berat Daddy Joe terdengar dari kamar sebelah. Pria itu berjalan mendekat ke arah Robert, tampak bingung melihat wajah anaknya yang merah padam, urat‑urat di pelipisnya pun menonjol jelas menahan emosi."Ini Robert mau bicara sama Mawar katanya, tapi Ma
"Mau apa kau, Mawar??" teriak Robert seketika begitu tersadar dengan apa yang dia lihat.Pandangannya tajam menusuk melihat gerak-gerik Mawar yang berani mendekatkan wajah. Tanpa ragu sedetik pun, dia segera menolak gadis itu dengan kasar. Sekuat tenaga dia mendorong bahu Mawar menggunakan kedua ta
Robert—adalah cucu pertama mereka, sosok yang paling mereka sayangi dan kasihi sepenuh hati. Sebagai pewaris utama, kelak dia akan mewarisi seluruh kekayaan keluarga yang melimpah, baik dari pihak kakek-neneknya maupun dari orang tuanya sendiri.Secara finansial, hidup Robert sangatlah sempurna. Di
Setelah selesai berkunjung ke salon, di mana Mawar sempat dibuat terkejut dan canggung dengan semua perubahan yang terjadi pada penampilannya, perjalanan mereka pun berlanjut.Hingga akhirnya, kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan besar yang tampak megah dan berkelas.Saa
"Mawar ... apa yang kau lakukan? Apa kau ... kau ingin memperkosaku??" Suara Robert meledak keras, bergema di kamar yang semula sunyi. Getaran kemarahan dan kepanikan menyertai setiap kata. Pasalnya, dia baru saja membuka mata, dan mendapati pemandangan yang diluar nalar. Tubuhnya tergeletak d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak