LOGINSetelah selesai berkunjung ke salon, di mana Mawar sempat dibuat terkejut dan canggung dengan semua perubahan yang terjadi pada penampilannya, perjalanan mereka pun berlanjut.
Hingga akhirnya, kendaraan yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan besar yang tampak megah dan berkelas. Saat melihat tulisan di depan gedung itu, mata Mawar terbelalak tak percaya—mereka berada di depan sebuah restoran bintang lima. Tempat itu terlihat begitu mewah, bersih, dan penuh dengan nuansa kemewahan yang sama sekali tak pernah dia rasakan sebelumnya, sangat jauh berbeda dengan restoran kecil tempat dia bekerja setiap hari. "Mama, ini restoran mewah banget. Pasti harga satu porsi makanan di sini seharga ginjal kita, Ma!" seru Mawar dengan nada penuh kekhawatiran. Dia bahkan berhenti melangkah, enggan masuk ke dalamnya, merasa tempat ini bukanlah tempat untuk rakyat jelata seperti mereka. Namun, reaksi Aulia justru berbeda. Wanita itu terlihat kesal dengan keraguan anaknya, lalu tanpa banyak bicara dia menarik tangan Mawar dengan agak kuat, memaksanya untuk terus berjalan masuk. "Kita ke sini bukan mau makan, tapi mau ketemu orang. Udah kamu nurut aja, nggak usah bawel!" tegas Aulia sambil melotot, wajahnya terlihat tidak sabar karena merasa Mawar sejak tadi terlalu banyak bertanya dan ragu. Mawar tak punya pilihan lain selain mengikuti langkah mamanya. Mereka berjalan menyusuri lorong yang luas dan rapi, hingga akhirnya berhenti di salah satu meja yang terletak di sudut ruangan. Di sana sudah ada dua orang yang sedang duduk, seorang pria dan seorang wanita, yang terlihat sudah berumur. Raut wajah mereka dipenuhi kerutan sebagai tanda usia, dan bentuk mata mereka terlihat berbeda dari kebanyakan orang yang biasa ditemui Mawar (sipit), seolah-olah mereka berasal dari negara lain. Meski begitu, ada sesuatu yang membuat Mawar merasa tak berani menatap mereka terlalu lama. Dari cara mereka duduk, pakaian yang mereka kenakan, hingga suasana yang menyelimuti keduanya, terlihat jelas bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan—sesuatu yang sangat jauh dari kehidupan sehari-hari yang dijalani Mawar dan Aulia. "Selamat pagi Tuan dan Nyonya. Maaf kami lama," ucap Aulia segera, suaranya terdengar lembut dan penuh rasa hormat. Dia bahkan sedikit membungkukkan badannya sebelum segera merangkul bahu anaknya, menariknya lebih dekat agar terlihat jelas oleh kedua orang itu. "Perkenalkan... ini anak saya, namanya Mawar." Kedua orang itu, yang bernama Paul dan Yeri, langsung mengalihkan perhatian mereka sepenuhnya kepada Mawar. Mereka memandangnya dari ujung kaki hingga ke atas kepala, seolah sedang memeriksa barang dagangan yang akan dibeli. Tatapan mereka terasa begitu menilai, membuat Mawar merasa tidak nyaman. Jantungnya berdegup makin kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. "Bagaimana Tuan, Nyonya? Anak saya Mawar masuk kriteria, kan?" tanya Aulia kemudian. Suaranya terdengar berbeda dari sebelumnya, seolah ada nada memohon yang terselip di dalamnya, membuatnya terlihat begitu berharap. Paul dan Yeri saling memandang sebentar, lalu saling mengedipkan mata seolah sedang berkomunikasi tanpa suara, sebelum akhirnya keduanya kembali menatap ke arah Mawar. "Dari luarnya sih masuk kriteria," ujar Yeri perlahan, suaranya terdengar datar dan berat. "Tapi dalamnya gimana?" Mendengar pertanyaan itu, Aulia segera menjawab dengan cepat, seolah sudah siap dengan jawaban apapun yang akan diajukan. "Mawar ini anak yang baik hati, penurut dan pintar memasak, Tuan, Nyonya. Dijamin kalian nggak akan menyesal kalau memilih dia," katanya dengan nada meyakinkan, berusaha agar mereka melihat kelebihan yang ada pada anaknya. Namun, dia berbohong dengan mengatakan Mawar pintar memasak. Padahal yang sebenarnya gadis itu hanya bisa memasak air biar mateng saja, selain itu tidak bisa, karena Mawar sendiri jarang berada di rumah, apalagi di dapur. Dia terlalu sibuk bekerja diluar. "Maksudku, apakah dia masih perawan?" Mendengar pertanyaan itu, mata Mawar seketika membulat lebar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dengan cepat dia mengangkat kepalanya, lalu menatap lurus ke wajah Yeri dengan raut wajah yang jelas-jelas tersinggung. Baginya, pertanyaan itu menyentuh hal yang sangat pribadi dan sensitif, sesuatu yang seharusnya tidak pernah diucapkan di hadapan orang lain, apalagi ditanyakan oleh orang yang baru saja dikenalnya. "Kenapa Nenek nggak sopan sekali, bertanya seperti ... Mmmppptt!?" Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, tangan Aulia sudah bergerak cepat dan menekan mulutnya rapat-rapat, membungkam setiap kata yang hendak keluar. Suara protes Mawar hanya terdengar teredam, membuatnya semakin bingung dan marah dalam hati. "Tentu saja anakku ini masih perawan tingting, Nyonya. Dia pacaran saja nggak pernah," sahut Aulia segera, suaranya terdengar mantap. "Serius?? Anak zaman sekarang, nggak pernah pacaran??" Yeri membalas dengan nada yang penuh keraguan. Matanya menyipitkan pandangan, seolah sedang meneliti apakah ucapan Aulia itu benar atau hanya kebohongan belaka. "Mmmppptt!!" Suara Mawar kembali terdengar, kali ini terdengar lebih keras seolah dia berusaha sekuat tenaga untuk berbicara, namun tangan mamanya tetap tak bergerak dari mulutnya. "Serius lah, Nyonya," tegas Aulia lagi, tak mau memberi ruang bagi keraguan itu untuk tumbuh. "Berarti dia masih polos dong?" "Betul, Nyonya." Aulia mengangguk cepat beberapa kali, seolah ingin memastikan bahwa kata-katanya benar-benar didengar dan dipercaya. "Namanya juga masih perawan tingting, tentu saja dia masih polos." "Mmmppptt!!" Mawar semakin gelisah. Dia ingin sekali berbicara, ingin bertanya apa sebenarnya maksud dari semua percakapan ini, apa tujuan mereka menanyakan hal-hal seperti ini, dan apa sebenarnya misi yang dimaksudkan mamamya. Namun, bibirnya masih tertutup rapat oleh tangan Aulia. "Diam dulu, Mawar!!" tekan Aulia, lalu membungkuk sedikit dan berbisik di telinga anaknya dengan nada yang terdengar lembut namun penuh tekanan. "Biarkan Mama bicara dengan tambang emas kita." 'Tambang emas katanya?? Apa-apaan sih Mama ini. Dan kenapa nenek-nenek bermata sipit ini nanya masalah aku perawan atau bukan? Nggak sopan banget!' batin Mawar, hatinya dipenuhi rasa kesal dan bingung yang semakin memuncak. "Kalau anakmu polos berarti dia nggak masuk kriteria. Dia tidak terpilih," ucap Yeri tiba-tiba dengan nada yang datar. "Lho kok gitu sih, Nyonya? Janganlah ...." Aulia kaget seketika. Dia segera melangkah lebih dekat ke arah meja tempat mereka duduk, refleks melepaskan cengkeramannya dari mulut Mawar, lalu tubuhnya kembali membungkuk dalam-dalam, seolah sedang memohon dengan sekuat tenaga. Wajahnya yang tadinya penuh harapan kini berubah menjadi cemas, takut semua harapannya akan hancur begitu saja. "Bukannya di informasi tertera jelas kalau Nyonya dan Tuan mencari perempuan yang cantik, masih muda dan perawan, ya? Itu semua 'kan ada pada diri Mawar," lanjutnya dengan nada yang terdengar sedikit tergesa-gesa, berusaha mengingatkan mereka agar tidak membuat keputusan yang salah. Dia benar-benar tidak mengerti, jika semua syarat itu sudah terpenuhi, mengapa sekarang justru dikatakan tidak sesuai. "Iya, aku tau. Tapi yang kami cari bukan yang polos, apalagi nggak pernah pacaran sama sekali. Kan misinya di sini supaya bisa menjebak cucuku. Kalau Mawarnya polos, gimana dia bisa memperkosa cucuku?" "Memperkosa??" Mata Mawar kembali membelalak lebar. Dia merasa terkejut, bingung, sekaligus tidak percaya. Bagaimana mungkin ada seorang nenek yang meminta orang lain melakukan hal sekejam itu terhadap cucunya sendiri? Rasanya hal itu terdengar konyol, bahkan seolah orang yang berbicara ini sudah kehilangan akal sehatnya. Namun, Yeri maupun Paul tentu saja memiliki alasan tersendiri mengapa mereka sampai nekat melakukan hal seperti ini."Astaghfirullah... mikir apa aku!!" Robert langsung mengusap kasar wajahnya berkali-kali seolah ingin menghapus bayangan itu dari kepalanya, menepis paksa segala pikiran yang sempat melintas liar. "Bisa-bisanya aku berpikir mesum tentang Mawar. Nggak masuk akal." "Pak Bos ...." Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang memanggil pelan dari luar kamar. Suara itu—lembut, sedikit berat, dan sangat dikenali oleh telinganya. "Mawar??" Jantung Robert seakan berhenti berdetak sesaat. Dia bergegas keluar kamar dengan langkah lebar, matanya liar mencari asal suara itu. Menoleh ke arah dapur, tapi tak ada siapapun di sana. "Mawar! Keluar kamu! Aku tau kamu ada di sini!" teriaknya lantang, suaranya memantul di dinding rumah yang sepi. Langkah kakinya terhenti di depan pintu kamar mandi yang tertutup. Sekelebat bayangan masa lalu melintas cepat—saat dia mengurung Mawar di dalam sana, betapa pucat dan lemah wajah perempuan itu saat pintu terbuka. Robert tersentak hebat, bulu kuduknya me
"Enggak! Itu bukan Mawar! Mawar nggak mungkin seperti itu!" Mama Aulia langsung membantah keras, menolak percaya. Tubuhnya mundur selangkah seolah tak sanggup melihat gambar di layar. "Ini buktinya sudah jelas!" tegas Robert tak mau kalah, tangannya mengangkat ponsel lebih tinggi seolah menekankan kebenaran yang dia pegang. "Bisa saja kamu merekayasanya, kamu edit pakai AI." Mama Aulia masih tak goyah, tetap mantap menolak tuduhan itu. "Kamu jangan keterlaluan gitu, Rob. Ini nggak lucu!" Daddy Joe menegaskan, urat di lehernya menonjol, wajahnya merah padam menahan emosi melihat tuduhan yang dianggapnya terlalu berlebihan itu. "Sumpah demi Allah ini bukan editan, apalagi AI. Ini asli, Dad!" Robert menegaskan dengan sungguh-sungguh, kali ini dia benar-benar ingin seluruh keluarganya percaya padanya. "Kalau emang Daddy masih nggak percaya, Daddy bisa minta sekertaris Daddy buat cek, apa ini foto asli atau bukan." "Kirim fotonya sekarang ke Daddy." "Iya." Robert mengangguk cepat, jar
"Kalau Oma tau ya namanya dia nggak kabur dong, Rob. Kamu gimana sih."Oma Yeri mendengus kesal, bahunya terangkat tinggi menatap cucunya yang masih tampak linglung."Eh iya, maaf Oma. Maklum ... aku baru bangun tidur, jadi nggak konek." Robert mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan."Sekarang kamu turun ke bawah, samperin Daddymu. Daddymu lagi ngecek cctv hotel.""Iya." Robert mengangguk cepat, jantungnya berpacu makin kencang di dalam dada.Dia bergegas melangkah lebar menuju lift, menekan tombol panggil berulang kali dengan tangan yang sedikit gemetar hingga pintu terbuka. Begitu masuk, dia menatap pantulan dirinya di dinding kaca—wajah pucat dengan tatapan yang penuh kecemasan.Begitu sampai ke lantai dasar, suasana lobi terasa mencekam. Daddy Joe tampak sedang berdiri di dekat meja resepsionis, wajahnya serius sambil menatap layar monitor di tangan satpam.Penasaran sekaligus cemas, Robert langsung berlari menghampiri dengan langkah yang berat. "Dad, bagaimana? Mawar ke man
Dan kali ini usahanya tidak sia‑sia. Bunyi kunci diputar terdengar jelas, pintu pun terbuka perlahan—menampakkan sosok Mama Aulia yang berdiri di ambang pintu menatapnya."Mana si Mawar?" tanya Robert langsung tanpa basa‑basi, matanya menelisik tajam ke segala sudut ruangan di belakang wanita itu, berusaha mencari sosok istrinya."Udah tidur si Mawarnya, Rob.""Ih, kok tidur?" Robert berdecak kesal, bibirnya mengerucut tak terima. "Coba bangunkan, aku mau bicara sama dia soalnya.""Besok saja, Rob. Mama nggak tega banguninnya, dia kelihatan kecapean.""Tapi aku mau bicara sama dianya sekarang." Robert tampak tidak sabar, tubuhnya sedikit maju ke depan seolah hendak memaksa masuk begitu saja ke dalam kamar."Kenapa, Rob?"Tiba‑tiba suara berat Daddy Joe terdengar dari kamar sebelah. Pria itu berjalan mendekat ke arah Robert, tampak bingung melihat wajah anaknya yang merah padam, urat‑urat di pelipisnya pun menonjol jelas menahan emosi."Ini Robert mau bicara sama Mawar katanya, tapi Ma
"Rob! Bangun, Rob!"Suara lembut namun tegas milik Oma Yeri memecah keheningan, disertai sentuhan tangan keriput yang menggoyangkan bahu Robert pelan.Pria itu tadinya hanya duduk bersandar santai di sofa tunggu sambil membolak‑balik halaman majalah, namun karena waktu perawatan Mawar dan Oma Yeri terasa begitu panjang dan lama, rasa bosan perlahan menyergapDia pun akhirnya berbaring memanjangkan kaki yang kaku. Keadaan yang tenang dan nyaman itu membuat matanya perlahan terpejam—tanpa disadari, dia pun terlelap dalam tidur yang sangat dalam."Robert!!"Goyangan pada lengan sang cucu kini terasa lebih kuat. Seketika mata Robert terbuka lebar, napasnya sedikit tersentak kaget. Dalam sekejap kesadaran kembali penuh, dan dia tersadar sepenuhnya: segala kejadian yang begitu nyata dan mendebarkan itu tadi... ternyata hanyalah sebuah mimpi belaka."Ih... kenapa cuma mimpi?" gumamnya pelan, nada suaranya penuh rasa kecewa yang mendalam. Dia masih bisa merasakan samar‑samar detak jantung yan
Mata Mawar seketika membulat lebar, penuh keterkejutan yang nyata mendengar tuduhan dan asumsi liar yang terlontar begitu saja dari mulut suaminya. Rasa tak percaya itu terpancar jelas dari sorot matanya yang terbelalak."Enggak."Singkat, padat, namun seolah tak cukup berarti bagi Robert yang sudah tertutup prasangka."Jangan bohong!" tekan Robert dengan nada tinggi dan penuh ketidakpercayaan, tak mau menerima penyangkahan itu.Mawar menghela napas panjang yang terasa begitu berat, seolah seluruh tenaganya tersedot habis oleh kelelahan batin menghadapi sikap suaminya yang keras kepala. Perlahan dia bangkit berdiri dari tempat duduknya, tangannya bergerak tenang meraih tas yang tergantung di sana, berniat pergi secepatnya dari ruangan yang terasa makin sempit dan menyesakkan itu."Kalau nggak percaya ya sudah."Langkahnya telah sampai tepat di depan pintu, tangannya hampir menyentuh gagang untuk membukanya — namun belum sempat dia melangkah keluar, lengan halusnya tiba‑tiba tertahan k
"Mau apa kau, Mawar??" teriak Robert seketika begitu tersadar dengan apa yang dia lihat.Pandangannya tajam menusuk melihat gerak-gerik Mawar yang berani mendekatkan wajah. Tanpa ragu sedetik pun, dia segera menolak gadis itu dengan kasar. Sekuat tenaga dia mendorong bahu Mawar menggunakan kedua ta
"Nggak lama kok, Oma, biasa saja. Tapi ngomong-ngomong Oma bawa LC dari mana?"Pelukan hangat itu perlahan terlepas, dan seketika pandangan tajam nan dingin Robert langsung tertuju sepenuhnya pada sosok Mawar yang berdiri mematung di sana. Tatapannya begitu menusuk, seolah sedang menelisik setiap d
"Oh ya, Sayang ... Video tutorial dari Mama kemarin sore sudah kamu tonton sampai selesai, kan?"Kemarin sore Aulia memang mengirimkan sebuah video, yang menurutnya itu akan menjadi panduan bagaimana cara memperkosa pria dengan benar anti gagal."Video tutorial apaan, orang yang Mama kirim padaku i
Mawar hanya menggeleng perlahan. Di dalam hatinya, dia sama sekali tidak merasa tertarik, bahkan mendengar kata-kata itu justru membuatnya semakin tidak nyaman.Menurutnya, apapun yang dijanjikan tidak akan bisa menghapus rasa sakit dan kecewa yang dia rasakan saat ini. Namun, meski melihat sikap a







