Home / Male Adult / Marlon Menantu Terhebat / BAB 14: OBROLAN DI DALAM ALPHARD

Share

BAB 14: OBROLAN DI DALAM ALPHARD

last update publish date: 2026-06-18 23:13:37

“Apakah kamu akan berhenti menuntut Marlon di penjara, Al?” tanya Wenny pada Albert saat di lobi hotel itu hanya tinggal mereka berdua, setelah Marlon dan yang lainnya pergi.

“Kamu kan sudah kenal aku lama, masak enggak tahu sifatku, Wen? Kalau aku sudah punya keinginan, apapun caranya akan aku lakukan agar semua keinginanku bisa tercapai,” jelas Albert pada Wenny.

“Tapi kenyataannya, Marlon itu bukan orang sembarangan, banyak yang mendukungnya, bahkan wanita yang sudah menghajarmu di restoran
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 57: KEKALAHAN YANG MEMALUKAN

    “Apa syarat yang kamu inginkan?” tegas Marlon pada Beno yang sepertinya tidak ingin menerima kekalahan pertaruhan dengannya.“Apa gunanya mengundang seorang designer kalau hanya untuk datang ke sini, rasanya setiap orang di sini pasti bisa melakukannya, ya tentu saja harus ada embel-embel keluar modal sedikit,” ucap Beno coba menyindir Rafael, hingga membuatnya bertambah kesal.“Lama-lama Bapak ini menjengkelkan juga ya? Sekali lagi aku tegaskan, aku ke sini karena aku menginginkannya dan aku bukan orang yang bisa dipengaruhi dengan uang. Paham kamu...!” tegas Rafael merasa sangat emosional berhadapan dengan orang seperti Beno yang berotak dangkal itu.“Oke... oke... tenang dulu Kak Rafael... biarkan aku selesai bicara dulu,” ucap Beno coba menenangkan Rafael. “Jadi maksudku, aku baru mengaku kalah pertaruhan dengan Marlon dan bisa menerima dengan tangan terbuka dirinya sebagai Technical Advisor kalau Kak Rafael mau menandatangani kontrak kerjasama dengan departemen garmen perusahaan

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 56: PIJAT KERING ATAU PIJAT BASAH? 

    “Eh kamu, Galih, bikin aku kaget saja?” ucap Andhika menyadari adiknya sudah berada di belakangnya, tentu saja dirinya merasa tertangkap basah, namun dia berusaha tenang menghadapinya dan sebisa mungkin menyembunyikan keterkejutannya.“Mau apa Kak Ndik masuk ke ruangan Ayah? Bukankah Ayah sedang meeting di luar kantor?” tegas Sugalih menatap penuh curiga pada kakaknya.“Jangan berpikiran macam-macam, dong, Galih... aku hanya ingin membereskan ruangan Ayah, kamu kan tahu sendiri sekarang aku karyawan bawahan. Kerja ku kan sekarang serabutan, apa saja yang disuruh Ayah pasti akan aku kerjakan, termasuk menyikat closet di ruang kerjanya,” jelas Andhika mencari-cari alasan, Sugalih pun langsung mempercayainya.“Oh iya, tadi aku sudah ketemu menantumu, Marlon, aku cukup kaget melihat perubahan dirinya dan dia juga punya attitude yang sangat baik, saat berpapasan denganku dia sangat ramah, bahkan baru beberapa menit saja ngobrol dengannya, aku bisa merasakan kalau menantumu itu orang yang c

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 55: BENO YANG LICIK DAN INGKAR JANJI

    “Aku datang ke sini, karena diundang oleh kawanku, Marlon, katanya hari ini hari pertamanya bekerja di perusahaan megah ini sesuai namanya Megah Hardiyata,” ucap Rafael menjelaskan kehadirannya. “Walaupun belum lama mengenal Marlon, aku langsung bisa melihat kalau dirinya adalah orang selalu optimis dan bersemangat dalam melakukan pekerjaan. Jadi, Bapak dan Ibu sekalian, percaya kah kehadiran Marlon di perusahaan MHG ini akan membuat nama perusahaan Anda akan bertambah besar dan terus berkembang dari waktu ke waktu,” tambah Rafael untuk mendukung Marlon agar diterima dengan baik bekerja di kantor barunya.“Kak Rafael, boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Erinka yang berdiri di samping Rafael.“Iya, silakan saja Erin, ada apa?” balas Rafael sambil menengok ke arah Erinka di samping kirinya.“Sebenarnya suamiku meminta Kak Rafael datang ke sini sebenarnya atas desakan Pak Beno yang ingin bertaruh dengan Marlon, karena dia underestimate dengan kemampuan Marlon bekerja di MHG dan dia ber

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 54: MENOLAK KALAH PERTARUHAN 

    “Pasti lelaki tua bangka itu menyimpan resep itu di mejanya, aku harus segera mendapatkanya agar rencanaku dengan Pak Adam berjalan lebih cepat dari yang direncanakan,” gumam Andhika saat dirinya sudah berada dalam lift menuju lantai terakhir.Tanpa Andhika sadari, rupanya Sugalih memperhatikan gelagat mencurigakan yang dilakukan oleh kakak nomor duanya itu, terutama saat dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Andhika dengan Marlon mengenai resep obat yang sedang menjadi proyek unggulan di bawah kendalinya. Selain itu, Sugalih juga merasakan ada sesuatu yang tidak logis, Andhika mau berbicara secara baik-baik dengan Marlon, sedangkan dia tahu kakaknya itu sangat membenci seluruh anggota keluarganya, terutama Marlon yang telah menyebabkan dirinya tercoret dari keluarga besar Hardiyata.Sugalih memperhatikan tanda panah di atas pintu lift yang sedang dinaiki oleh Andhika, dia tampak mengangguk-angguk kecil saat tahu Andhika naik ke lantai 5, tempat kantor presdir dan bagian keuangan.

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 53: Menjalankan Rencana Jahat

    “Wah, gagah sekali kamu... sampai pangling Om melihatnya,” ujar Andhika saat bertemu dengan Marlon di lantai tiga kantor MHG yang merupakan kantor manajemen untuk departemen perobatan. Di lantai itu pula ruang kerja Marlon beserta bapak mertuanya.“Terima kasih, Om,” balas Marlon sambil tersenyum ramah.Sebenarnya Marlon agak terkejut dengan sambutan Andhika yang di luar ekspektasinya. Dia membayangkan Andhika akan bermuka masam saat bertemu dan menunjukkan sikap tidak senang karena dia telah menyebabkan keluarga Andhika dicoret dari daftar keluarga Hardiyata. Tapi yang terjadi sebaliknya, lelaki berperut buncit itu sangat ramah dan memberi sambutan hangat terhadapnya, tidak ada tanda-tanda dia membenci Marlon sedikit pun.Marlon pun jadi teringat dengan perlakuan putri Om Andhika, Jayanti, yang tadi ramah padanya. Walaupun dia merasakan ada sedikit kejanggalan pada sikap anak dan bapak itu, tapi dia lebih memilih berprasangka baik, mungkin saja keduanya menyadari kekeliruan mereka se

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 52: TANTANGAN UNTUK MARLON 

    “Ada apa itu terdengar ribut-ribut?” tanya Marlon pada Erinka ketika keduanya berjalan mendekati sebuah ruangan yang berukuran besar di lantai empat MHG tower.“Itu ruang meeting, mungkin sedang ada rapat di dalam,” ujar Erinka menjelaskan.“Kenapa suaranya gaduh sekali, sih, seperti di terminal saja,” ucap Marlon merasa tidak nyaman dengan suara bising yang didengarnya.“Jangan heran, seperti itulah petinggi perusahaan cabang kalau bertemu, masing-masing saling berdebat mengenai pencapaian masing-masing,” jelas Erinka agar suaminya tidak terkejut dengan keadaan yang biasa terjadi di kantor barunya.Saat melintas pintu ruang rapat keluar seorang karyawan bawahan yang dikenali Erinka, dia langsung menyapa wanita berkacamata yang tertunduk hormat saat berpapasan dengannya.“Sedang meeting apa mereka di dalam sampai ribut begitu?” tanya Erinka.“Maaf Ibu, mereka sedang membicarakan staff baru yang ditunjuk oleh Pak Hardiyata,” jelas wanita itu.“Maksudnya mereka membicarakan suamiku ini?

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 12: KEDUA BERANDAL BERTEMU MARLON

    “Maafkan kesalahanku, Pak Marlon...” “Iya, aku juga sama, Pak, aku minta maaf...”Ucap Hendrik dan Tony secara bergantian sambil berlutut di depan Marlon dan Erinka. Tentu saja Albert yang berada di tempat itu sangat terkejut melihat putra pimpinannya itu mau berlutut di hadapan Marlon.“Pak Hendr

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 11: BERTEMU SANG PENYELAMAT

    “Kalau kamu tidak punya rokok kretek lagi untukku, aku siap menghisap rokokmu yang lain, aku tunggu ya di kamar 708, ini kartu namaku...” bisik wanita itu seperti desis ular di telinga Marlon, lalu dia pergi setelah memberikan sebuah nomor telepon. Tertera namanya di sana Mawar...“Sayang, kamu di

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 10: JERAT WANITA BERGINCU TEBAL

    Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 9: KETAHUAN BERBOHONG

    Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status